The Tyrant'S Desire (Hasrat Cinta Sang Penguasa)

The Tyrant'S Desire (Hasrat Cinta Sang Penguasa)
Ulah bumil


__ADS_3

Happy reading guys.


πŸ‚πŸ‚πŸ‚


Semua duduk dengan wajah tegak, menghadapi semangkuk bubur gandum. Dan diatasnya ditaburi strawberry utuh.


Erick, Ardan dan Arisa menelan ludahnya berkali-kali. Bukan karena sangat berselera untuk memakan bubur yang sangat cantik di tata didalam mangkuk, tetapi untuk rasa tidak dapat dibayangkan.


"Jo.." Erick mendorong mangkuk bubur dari hadapannya.


"Makan, jangan hanya mau membuat babies triplets ada didalam perutku..!" Jovanka memicingkan mata memandang Erick.


"Baiklah," ucap Erick.


"Jo, apa aku harus memakan ini juga?" tanya Arisa dengan wajah memelas.


"Iya, kau kan aunt my babies," ucap Jovanka.


"Ardan, kau uncle triplets kan ?"


Ardan menganggukkan kepalanya.


Vannesa yang baru datang, langsung duduk. Dan mengambil roti untuk menjadi menunya sarapan pagi.


"Hei..!" Jovanka menarik roti yang ingin diolesi Vannesa dengan selai kacang.


"Ini roti ku..!" seru Vannesa dengan menarik kembali roti yang diambil oleh Jovanka.


"Hari ini semua harus makan bubur gandum..!" seru Jovanka dan memberikan bubur gandum miliknya pada Vannesa.


"What..! oh tidak ! aku tidak mau, kau saja makan itu. Kau yang sudah menyuruh aku untuk memasaknya, jangan minta aku untuk memakannya. Tidak...tidak..!!" seru Vannesa dengan tegas.


"Mereka semua mau memakannya," ucap Jovanka dan menunjuk kearah Erick, Arisa dan Ardan.


"Kalian mau..?" tanya Vannesa dengan wajah yang heran.


Erick, Ardan dan Arisa menganggukkan kepalanya dengan tatapan mata yang tidak berdaya. Untuk menolak keinginan Jovanka.


"Aku tidak..!" dengan membuat kedua tangannya menyilang didepan dadanya.


"Kau harus mau, ini semua keinginan babies triplets," kata Jovanka.


"Kenapa harus aku juga? aku bukan Papanya?"


"Kau itu aunt Vannesa tersayang babies triplets," ujar Jovanka dengan menampilkan senyum lebar dibibirnya.


"Oh.. Tuhan! kenapa aku terjebak di sini? aku besok akan pulang, aku tidak mau lagi tinggal di sini..!" seru Vannesa.


"Kau tidak bisa kemana-mana, kau sudah janji dengan mommy untuk merawat Jovanka," ucap Erick.


"Aku akan menghubungi aunt Maria," kata Vannesa.


"Besok aunt Maria akan datang," ucap Ardan.


"Aunt akan ke sini?" terdengar senang dari nada bicara Vannesa.


"Mommy akan tinggal di sini, sampai Jovanka melahirkan. Dan kau, tidak bisa kemana-mana!" telunjuk Erick terarah kepada Vannesa.


"Cukup bicara! sekarang makan bubur gandum itu." titah Jovanka.


"Kami makan ini, kau makan apa Jo?" Arisa membuka suaranya, setelah sedari tadi matanya fokus melihat mangkuk bubur gandum didepannya.


"Aku mau makan apel saja." Jovanka mengambil apel, mengelapnya.

__ADS_1


Dan


Crop...


Gigi Jovanka langsung mengigit apel, dan mengunyah pelan dengan penuh penghayatan.


"Ayo, tunggu apa lagi? silakan... jangan malu-malu.." ucap Jovanka.


"Awas kau Jo, aku akan membalas pada saat aku hamil nanti." batin Arisa.


"Daddy lakukan untuk triplets ya, saat sudah lahir nanti. Daddy harap, Kalian bertiga akan menjadi sekutu Daddy. Awas, jika kalian lebih sayang dengan mommy kalian yang sudah berulang kali mengerjai Daddy." batin Erick.


"Dasar keponakan, belum lahir saja sudah menyusahkan orang." batin Ardan.


"Sama dengan Jovanka, sangat mengesalkan. Anaknya juga sungguh-sungguh mengesalkan." batin Vannesa.


Keempatnya mulai menyuapkan sesendok bubur kedalam mulut masingmasing, beragam ekspresi terlihat dari wajah mereka. Ada yang mengeryitkan kening, ada yang mengerucutkan bibirnya. Segala ekspresi tercermin diwajah masing-masing.


"Hoek..!" Arisa menutup mulutnya, dan berlari meninggalkan meja makan.


Hoek..huk..


Giliran Vannesa berlari dengan menutup mulut.


"Kenapa mereka?" Jovanka menghentikan kegiatannya memakan apel.


"Jo, bubur ini rasanya nano-nano. Manis, gurih dan sedikit asam," ucap Ardan mengenai rasa bubur yang baru sesuap masuk kedalam lambungnya.


"Enak kan?" tanya Jovanka dengan mata berbinar.


"Enak, sampai aku ingin..." Ardan berdiri dari tempatnya duduk, dan menyusul Arisa dan Vannesa.


"Enak, kenapa dia lari?"


Jovanka berdiri dari duduknya.


"Mau kemana?" tanya Erick.


"Aku mau melihat mereka, kau lanjutan makanmu. Kau Daddy yang baik, mau memakan buburnya," ucap Jovanka.


"Pergilah, jangan kemana-mana," kata Erick.


"Iya," sahut Jovanka.


"Akhirnya..!" Erick menghela napas lega, menghentikan makannya.


"Aku harus melakukan sesuatu." gumam Erick sambil berpikir.


"Ide yang bagus." gumam Erick.


Erick bergegas mengangkat mangkuk buburnya, dan membaginya ke mangkuk bubur milik Ardan. Arisa dan mangkuk milik Vannesa, sehingga mangkuk buburnya ludes tak tersisa.


Erick kembali duduk, pura-pura makan buburnya.


Jovanka, Ardan dan Arisa kembali. Diikuti oleh Vannesa dengan wajah ditekuk.


"Kau sudah menghabiskan bubur mu Rick?" tanya Ardan, melongo melihat mangkuk bubur Erick yang bersih.


"Iya, demi ketiga babies. Apapun akan aku lakukan," ucap Erick bangga.


Jovanka mendekati Erick, melihat mangkuknya kosong. Jovanka berdiri disisi kursi, tangannya melingkar di pundak Erick.


"Suami dan Daddy yang membanggakan," ucap Jovanka seraya menepuk-nepuk lengan Erick.

__ADS_1


"Daddy triplets," ucap Erick bangga.


"Rick, apa kau masih lapar? bantu aku menghabiskannya," kata Vannesa.


"Punyaku juga Rick" kata Ardan.


"Aku juga" ucap Arisa.


"Maaf, perutku sudah tidak sanggup lagi. Lihatlah, perutku sudah full," kata Erick.


"Hei.. kenapa kalian menyuruh Erick untuk menghabiskan, itu sudah sisa-sisa kalian," kata Jovanka.


"Makan! aku sudah selesai." Jovanka meninggalkan ruang makan.


Sepeninggal Jovanka, semua buru-buru berlarian kearah samping. Dan membuang bubur gandum kedalam kolam, sehingga kolam ikan berubah warna menjadi kecoklatan.


"Kalian mau membunuh isi kolam ini?" tanya Erick.


"Rick, ikan bisa dibeli lagi jika mati. Kami yang mati, tidak ada gantinya," kata Ardan.


"Aku satu-satunya di dunia ini Rick." timpal Vannesa.


"Jika aku mati, Granny ku akan tinggal sendirian," ucap Arisa.


"Cukup! jika ikan didalam kolam ini mati, tanggung jawab kalian bertiga." kemudian Erick meninggalkan ketiganya.


"Selamat ," ucap Arisa.


"Besok apa lagi yang akan dilakukan oleh mommy triplets?" Arisa melihat Ardan dan Vannesa.


"Aku tidak mau tahu, Ardan. Ayo kita pulang, kita mengantarkan nyawa di sini. Bagaimana kalau besok kita disuruhnya untuk membersihkan kolam buaya? ih...!" Vannesa bergidik, membayangkan dia masuk kedalam kolam buaya. Dan Jovanka tertawa dipinggir kolam menontonnya.


πŸƒπŸƒπŸƒ


Marcio masuk kedalam ruang kerja Erick, untuk melaporkan penemuan bangkai musang didalam mansion.


"Apa ada orang yang kau curigai didalam mansion ini?" tanya Erick.


"Saat ini tidak ada Tuan, saya usulkan Tuan. Bagaimana jika didalam mansion di pasang cctv?"


Selama ini, Erick tidak memasang cctv didalam mansion. Cctv hanya terpasang diluar Mansion.


"Apa itu perlu?"


"Tuan, saya rasa perlu. Apalagi, Mrs Godfrey sedang hamil Tuan. Saya takut, ada yang tidak menginginkan kelahiran penerus keluarga Godfrey," kata Marcio.


"Baiklah, pasang. Dan tambah lagi petugas keamanan, rekrut orang yang bisa bela diri." titah Erick pada Marcio.


"Baik Tuan, satu lagi Tuan. Orang kita yang mencari makam saudara Mrs Godfrey, tidak menemukannya. Tempat Mrs Godfrey lahir, tidak ada bayi meninggal pada saat itu. Di desa itu ada pemakaman, tapi pemakaman orang dewasa. Tidak ada bayi dimakamkan di sana," kata Marcio.


"Apa mungkin dia tidak di makamkan di sana?" kata Erick.


"Mungkin saja Tuan, orang kita masih melacaknya."


"Teruskan, suruh orang untuk bertanya pada Bastian dan pria itu," kata Erick.


"Pria yang mana Tuan?"


"Dokter, siapa namanya? aku lupa, Shid. Entah Shid apa, aku lupa. Tanyakan pada Bastian." Erick pura-pura lupa dengan nama dokter Rashid.


Marcio tahu, Erick jengkel dengan orang yang bernama dokter Rashid.


🌜 NextπŸŒ›

__ADS_1


__ADS_2