
Happy reading guys, and jangan lupa untuk menekan tombol like ya kakak-kakak reader π₯°π
***
Suster Abigail bimbang, ingin masuk kedalam. Tapi dia khawatir, akan ketahuan. Dan ada kemungkinan, tempat penyekapan Maria akan berpindah tempat.
"Tidak, aku harus menunggu mereka datang" gumam suster Abigail.
Saat menunggu kedatangan Erick, suster Abigail terus berdoa. Tangannya tidak lepas dari kalung yang ada di lehernya.
"Oh Tuhan, jauhkan pikiranku dari ajakan iblis agar aku masuk kedalam sana" Doa suster Abigail.
Suster Abigail berhasil mengenyahkan godaan iblis, agar dia masuk kedalam gedung tempat Maria di sekap. Dia masih setia bersembunyi dibalik tong dengan mata terbuka sempurna, karena suster Abigail takut. Para penjahat berpindah tempat tanpa sepengetahuannya.
Mobil yang membawa rombongan Erick dan Ardan mulai memasuki lokasi pelabuhan.
"Berhenti di sini..!" titah Erick pada sopir.
"Kenapa kita berhenti di sini ? apa sudah sampai? tidak ada terlihat tempat penyimpanan, seperti yang dikatakan oleh suster Abigail?" Ardan melihat keluar jendela kacang.
"Kita jalan kaki, jika kita naik mobil. Akan mengundang perhatian" kata Erick.
Tok..tok..
Jendela mobil bagian Erick duduk diketuk, Erick membuka sedikit.
"Sudah diketahui tempatnya ?" tanya Erick pada Marcio.
"Sudah Tuan, seratus meter dari sini. Banyak terlihat orang yang berpakaian serba hitam di depan bangunan" beritahu Marcio.
"Bagus, kita harus berpencar" kata Erick.
"Ardan, kirim pesan pada suster. Kita sudah sampai di sini" ucap Erick pada Ardan.
"Aku telpon saja" kata Ardan.
"Jangan..! kirim pesan saja" kata Ardan.
Ardan mengeluarkan ponselnya, dan mengetikkan pesan untuk suster Abigail. Tidak lama kemudian, masuk balasan dari suster Maria. Yaitu gambar tempat Maria di sekap.
"Lihat" Ardan menunjukkan gambar yang dikirim suster Abigail kepada Erick.
Erick mengambil ponsel Ardan, dan memberikannya kepada Marcio.
"Marcio, bawa yang lain ketempat ini" titah Erick pada Marcio.
"Baik" sahut Marcio.
"Ayo kita beraksi" ucap Erick seraya mengambil senjata api yang selalu ada ditempat tersembunyi di jok belakang.
"Ini" Erick memberikan senjata api pada Erick.
Dalam ruangan tempat Maria berada, Andre baru saja tiba.
__ADS_1
Mata Andre berkaca-kaca, saat melihat wanita yang terbaring di ranjang yang ada dalam ruangan tersebut.
Andre duduk disisi ranjang, tangannya terulur kearah pipi Maria.
"Merah..!" Andre kaget melihat pipi Maria yang memerah dan bengkak.
"Siapa yang melakukannya?" Andre bangkit, dan berjalan keluar dari ruangan tempat Maria berada.
"Hei...! kemari kalian semua..!" teriakan Andre yang menggelegar membuat kaget sebagian anak buahnya yang mendengarnya.
"Ada apa Tuan..?" Arm, tangan kanannya yang datang terlebih dahulu.
"Siapa yang berani membuat wajah wanitaku merah dan bengkak..?" tanya Andre dengan suara yang datar, terlihat dari matanya. Andre dalam keadaan emosi.
"Merah..?" gumam Arm.
"Di pipinya, terlihat bekas tangan. Siapa yang berani melayangkan tangan kewajahnya..!?" tanya Andre dengan teriak keras.
"Maaf Tuan, mungkin sewaktu dibawa masuk kedalam mobil. Mrs Godfrey meronta-ronta" ucap Arm.
"Jangan sebut wanitaku dengan nama itu, namanya Maria Angelo. Ingat..!" mata Andre merah menatap wajah Arm.
"Maaf.." ucap Arm.
"Panggil orang yang membawa Maria..!" titah Andre.
Arm berjalan cepat memanggil orang yang bertanggung jawab menculik Maria.
Arm kembali dengan membawa dua pria, yang terlihat sangat ketakutan akan mendapat masalah dari majikannya yang terkenal dengan tempramental.
"Siapa yang membekap mulut wanitaku, sehingga pipinya memerah?' tanya Andre.
Dengan cepat, pria yang satunya menunjuk kearah rekannya yang menunduk dan gemetar.
Dor...
Suara tembakan terdengar, dengan jatuhnya pria yang membuat pipi Maria merah dan bengkak.
"Aww...!" teriak pria yang kena sasaran peluru, tangannya mengeluarkan darah.
"Kali ini, tanganmu yang kena sasaran senjataku ini. Lain kali, jika kau berani melakukannya lagi. Nyawamu yang akan melayang." ancam andre.
"Bawa dia, jauhkan dia dari pandangan mataku..!" seru Andre.
Pria yang terluka, diangkat oleh rekannya keluar.
"Awasi semua keamanan sini, dan jangan ada kesalahan. Malam ini kita harus segera keluar dari negara ini.." titah Andre pada Arm.
"Baik Tuan" Arm keluar.
Andre kembali masuk kedalam ruangan tempat Maria terbaring, Andre duduk disisi ranjang. Tangannya kembali mengusap wajah Maria.
"Ternyata, kau masih hidup. Kenapa kau pura-pura mati, apa karena kau tidak ingin bersama dengan laki-laki itu. Jangan khawatir sayang, aku akan membawamu pergi. Kita akan meninggalkan negara ini. Kita akan bahagia selamanya sayang, di tempat baru nanti. Tidak ada orang yang bernama Axelo Godfrey, yang ada hanya Andre Maurice dan Maria Maurice. Kau pasti suka dengan nama barumu kan sayang" ucap Andre dengan perasaan yang bahagia.
__ADS_1
Andre merebahkan tubuhnya disamping Maria, tangannya mengangkat kepala Maria dan menjadikan lengannya menjadi bantal kepala Maria.
"Tidurlah sayang, begitu terbangun keesokan harinya. Kita sudah sampai, dimana hanya ada kita berdua. Tidak akan ada orang yang akan menganggu kita lagi, Hanya ada Andre dan Maria.." ucap Andre seraya mengelus rambut Maria.
Mata Andre terpejam, dia tidak mengetahui. Anak buahnya satu persatu telah terkapar.
Erick dan Ardan telah berhasil masuk, mereka melumpuhkan anak buah Andre dengan satu kali pukulan saja. Hingga tidak terjadi keributan.
Didalam Erick, Ardan dan Marcio beraksi. Di luar, Danny Liu dan anak buahnya melumpuhkannya. Suster Abigail tidak ketinggalan, dia ikut beraksi.
"Suster, please. Jangan buat aku berdosa, karena telah memukul wanita dan seorang suster lagi" ucap anak buah Andre pada suster Abigail.
"Kalau kau tidak ingin berdosa, bertobatlah. Pulang, tinggalkan tempat ini. Cari kerja yang halal" nasihat suster Abigail.
Danny Liu yang berada dibelakang pria yang sedang diberi nasihat oleh suster Abigail, tidak sabar.
Dan..
Danny Liu mendaratkan tangannya di tengkuk pria itu, akhirnya pria itu tumbang.
"Hei.. kenapa kau memukulnya? dia tadi mau bertobat" ucap suster Abigail.
"Suster, jangan percaya dengan orang seperti ini akan bertobat " kata Danny Liu.
"Maaf, semoga kau tenang di alam sana " ucap suster Abigail.
"Suster, saya tidak membunuhnya. Dia hanya pingsan" kata Danny.
"Suster kembali saja ke mobil, biar didalam kami yang urus" kata Danny, saat melihat suster Abigail mengikutinya.
"Aku ingin membantu" ucap suster Abigail.
"Suster, bantu kami dengan Doa saja ya, Zain. Antarkan suster ke mobil" titah Danny Liu pada anak buahnya.
"Apa aku tidak bisa ikut?" tanya suster Abigail pada Danny.
"Tidak..!" sahut Danny tegas.
"Zain..!" seru Danny.
"Mari suster" ucap Zain.
"Baiklah"
"Mana Tuanmu?" tanya Erick seraya menempelkan senjata api kebelakang kepala Arm.
Arm menunjuk kearah ruangan yang berada didepan mereka.
Ardan dengan cepat berjalan menuju ruangan yang ditunjuk oleh Arm, Ardan sedikit membuka pintu. Kemudian Ardan memberikan tanda, bahwa orang yang di carinya berada dalam kamar.
Puk...
Gagang senjata Erick mendarat di tengkuk Arm, membuat Arm tersungkur .
__ADS_1
π Nextπ
Bantu like ya kakak-kakak reader dan bantu beri vote jika berkenan, terima kasih atas dukungannya π₯°π