
Happy reading guys π₯°.
βοΈβοΈβοΈ
Erick menuntun Jovanka untuk duduk, tangan Erick tidak lepas dari jemari Jovanka. Membuat Jovanka risih, ingin melepaskan tautan jemari Erick disela-sela jemari tangannya. Jemari Erick mencengkram jemari Jovanka dengan erat, membuat Jovanka akhirnya pasrah. Walaupun jemarinya terasa basah berkeringat.
"Karena kandungan Mrs Godfrey masih sangat riskan, saya harap Mrs Godfrey untuk hati-hati. Karena dalam rahim Mrs Godfrey tidak hanya satu, ada tiga nyawa," ucap dokter Sonia sigh.
"Apa tidak ada keluhan Mrs Godfrey?" tanya dokter Sonia dengan menatap Jovanka, sambil membetulkan kacamata yang turun.
"Tidak ada, seperti yang saya katakan tadi. Saya hanya ingin meninju orang yang tidak saya sukai," ucap Jovanka.
"Dok, saya sangat tidak suka dengan orang yang belagu. Saya melihat orang itu, ingin..." Jovanka tidak melanjutkan ucapannya, tetapi tangannya saling meremas. Bibirnya mengatup rapat dan mengerucut.
Deg..
Erick spontan menoleh kearah Jovanka, menatap Jovanka dengan intens.
Dokter Sonia tertawa kecil, dan mengusap keningnya.
"Hormon Mrs Godfrey sedang naik, biasa begitu. Tiba-tiba nangis, bisa juga tiba-tiba gembira. Tapi, selama saya menjadi dokter kandungan sudah hampir 30 tahun. Tidak pernah ada pasien saya yang ingin meninju orang, pada saat hamil," kata dokter Sonia sigh.
"Mungkin hormon berkelahi saya besar Dok," ucap Jovanka.
"Apa tidak apa-apa Dok, dengan hormonnya yang naik turun begitu?" tanya Erick.
"Tidak apa-apa Tuan muda, asal jangan dilakukan apa yang ada di pikirannya saja," ucap dokter Sonia.
Jovanka mendengar perkataan dokter Sonia dengan serius.
"Saya resepkan obat anti mual, jika nanti ada rasa mual ingin muntah. Dan juga vitamin," ucap dokter Sonia sambil menulis di selembar kertas yang ada di atas mejanya.
"Ini Tuan, bisa di ambil di apotek yang ada di rumah sakit ini. Bisa juga diluar," ucap dokter Sonia, memberikan kertas yang di tulisnya pada Erick.
"Apa obat ini sudah yang bagus dan mahal dokter?" tanya Erick, dengan membaca resep obat yang diberikan oleh dokter Sonia untuk Jovanka.
Jovanka spontan melirik Erick, dia heran dengan perkataan Erick.
"Dasar orang aneh." batin Jovanka.
"Maaf Tuan muda, obat mahal. Belum tentu bagus, begitu juga dengan obat murah. Bukan berarti obat itu tidak bagus," ucap dokter Sonia.
"Dok, saya tidak suka minum obat. Bisa di ganti saja obatnya?"
"Mau di ganti apa? di ganti candy? tidak-tidak, harus minum obat. Di dalam sini ada tiga babies," ujar Erick tidak mau di bantah.
"Kalau tidak mau muntah, tidak perlu di minum obat mualnya. Jika nafsu makan tidak normal, tidak perlu minum vitamin. Cukup konsumsi sayuran dan buah-buahan, dan juga daging atau ikan," ucap dokter Sonia.
"Saya tidak perlu minum obat kan Dok?" tanya Jovanka sembari melirik Erick dan melengos padanya.
"Tidak perlu, asal vitamin dari makanan sudah tercukupi," jawab dokter Sonia.
__ADS_1
"Dok, bagaimana dengan bercinta. Apa tidak ada larangan ?" tanya Erick , tanpa ada rasa sungkan pada dokter Sonia.
Plakk..
Tangan Jovanka menerpa lengan Erick, dia tidak mengira pertanyaan yang begitu keluar dari dalam mulut Erick.
"Aduh..! ada apa ? kenapa kau memukulku ?" tanya Erick yang merasa tidak ada yang salah padanya.
"Kenapa hal begituan kau tanyakan?" tanya Jovanka dengan suara yang pelan.
"Aku harus tahu, kalau tidak aku tanyakan. Bagaimana jika nanti anak-anakku nanti tidak nyaman didalam sini, saat kita bercinta," ucap Erick yang merasa apa yang ditanyakan, tidak ada yang salah.
Dasar pria otak mesum, hal begituan juga ditanyakan." batin Jovanka.
"Tidak ada Tuan, tapi harus dilakukan dengan sangat hati-hati. Dan jangan dilakukan sesering mungkin," jawab dokter Sonia.
"Apa nanti jika kami bercinta, anak dalam kandungan istri saya tidak bertambah Dok?"
Jovanka bengong menatap Erick.
"Saat ini tiga, setelah kami bercinta. Apa mungkin bertambah satu lagi, hingga hamil kembar 4 ?" sambung Erick dengan pertanyaan anehnya.
Dokter Sonia tidak dapat menahan tawanya, begitu juga dengan suster yang berdiri disamping dokter Sonia. Karena takut Erick tersinggung, dokter Sonia dan suster tertawa dengan menunduk dan menutup mulutnya dengan jemari.
"Kenapa Erick menjadi seperti orang bodo? pertanyaan yang aneh-aneh saja, mungkin saking eforia mendapatkan tiga babies. Otaknya menjadi korslet." batin Jovanka seraya menatap Erick.
"Tidak mungkin bertambah lagi Tuan muda, jangan khawatir. Jika anda besok bercinta, jangan khawatir kandungan Mrs Godfrey bertambah menjadi 4 babies.
"Apa ada yang ingin ditanyakan lagi?" tanya dokter Sonia.
"Cukup dokter..," ucap Jovanka cepat, takut Erick menanyakan hal-hal yang aneh kembali.
Jovanka berdiri, diikuti oleh Erick.
"Permisi dokter" ucap Jovanka, sedangkan Erick hanya menganggukkan kepalanya.
Keluar dari ruang dokter Sonia, Jovanka melihat seorang wanita hamil yang sudah sangat besar melintas dari hadapannya.
Mata Jovanka terus menatap kearah wanita tersebut, sampai wanita itu hilang dari pandangannya.
"Ada apa?" tanya Erick.
"Wanita itu hamil, berapa anak dalam kandungannya? kalau satu anak saja sudah sebesar itu, bagaimana dengan aku nanti? tiga babies..! mungkin badanku akan besar seperti induk gajah," kata Jovanka.
"Mungkin," jawab Erick.
"Kau...!"
Puk..puk..puk...
Pukulan tangan Jovanka mendarat dilengan Erick bertubi-tubi, karena kesal. Erick mengiyakan apa yang dikatakannya mengenai badannya akan sebesar induk gajah.
__ADS_1
"Hei.. kenapa kau marah?" Erick menghindari pukulan tangan Jovanka.
"Kenapa kau bilang aku besar seperti induk gajah?" tanya Jovanka dengan mata melotot pada Erick.
"Aku tidak ada mengatakannya, aku hanya mengatakan mungkin."
"Seharusnya, kau mengatakan. Tidak Jo, tubuhmu tidak seperti itu. Bukan bilang mungkin..!" seru Jovanka, dengan perasaan yang kesal Jovanka pergi meninggalkan Erick.
"Apa salahku?" Erick bingung, melihat Jovanka marah dan pergi meninggalkannya.
"Jo..! pelan-pelan jalannya, ingat. Tiga babies kita..!" Erick mengejar Jovanka dengan langkah lebar, hingga dia dengan cepat dapat mensejajarkan langkahnya disamping Jovanka.
Tiba didepan kamar Erick, Jovanka langsung membukanya. Dan melihat keberadaan Sandra didalam kamar Bastian.
"Kalian sudah kembali?" tanya Bastian.
"Kak Tian lihat, Jo ada di sini kan. Pasti sudah kembali lah..!" jawab Jovanka jutek sembari mendudukkan dirinya di kursi disamping ranjang.
Mendengar ucapan Jovanka, Bastian melihat Erick. Erick hanya mengangkat kedua bahunya. Tandanya, dia tidak tahu apa yang terjadi pada Jovanka.
Melihat bibir Jovanka yang manyun, duduk disisi ranjang Bastian. Sandra ingin pulang.
"Tian, aku kembali ke kantor ya," ucap Sandra.
"Bukannya kau tadi katakan, bahwa kau cuti," kata Bastian.
"Aku.."
"Kenapa ingin pulang ? jangan takut, aku tidak makan orang. Aku hanya ingin menguliti pria yang telah membuat aku akan seperti induk gajah, 4 bulan kedepannya. Dalam perutku ini ada tiga babies...!" seru Jovanka
Bastian dan Sandra ternganga, mendengar perkataan Jovanka.
"Aku akan mempunyai tiga babies," ucap Erick bangga.
"Dan aku akan mempunyai tubuh sebesar induk gajah," ucap Jovanka.
"Induk gajah yang... yang sangat menggiurkan." puji Erick, agar Jovanka tidak ngambek dan marah.
"Tiga..!" Bastian belum yakin dengan apa yang didengarnya.
"Sungguh membahagiakan, selamat," ucap Sandra yang turut senang.
"Aku akan mempunyai keponakan tiga ?" senyum menghiasi bibirnya.
"Ya tiga, pria ini membuat aku hamil bayi kembar tiga. Bisa kak Tian bayangkan, bagaimana besarnya tubuhku nanti," kata Jovanka.
"*Kau akan punya bayi kembar Jo, kalau kembaranmu masih hidup. Kita tidak tinggal berdua, setelah kedua orangtua kita meninggal." batin Bastian.
"Maa, Paa. Jovanka seperti Mama, akan punya anak kembar juga." dalam batin Bastian.
π Nextπ
__ADS_1
Terima kasih atas dukungannya terhadap cerita ini, yang berupa like, vote dan komentar terima kasih. π₯°π