
Happy reading guys 🥰
Guling terus mendarat di tubuh Erick yang telentang, mendapatkan serangan mendadak yang bertubi-tubi. Erick spontan membuka matanya lebar-lebar, dan menangkap guling dari tangan Jovanka dan kemudian membuangnya jatuh ke lantai.
Kemudian..
Erick menarik tangan Jovanka, hingga Jovanka jatuh keatas tubuh Erick yang polos. Tangan Erick melingkar di pinggang Jovanka dengan erat, hingga dada kembar Jovanka menempel erat ke dada Erick yang keras dan kekar.
"heii..! lepas Tuan mesum..!" seru Jovanka sembari mendaratkan cubitan ke dada Erick.
"Hei.. kenapa marah pagi-pagi? apa yang tadi malam tidak puas?" goda Erick seraya memainkan bola matanya menatap wajah Jovanka, yang berada diatas tubuhnya.
"Menyebalkan..!" umpat Jovanka dengan kesal.
"Hukuman, karena telah berani memukul suami di pagi hari" ujar Erick.
Kemudian...
Erick berguling, tadinya Jovanka berada diatas badannya. Kini berbalik, Jovanka berada dibawah Kungkungan tubuh polos Erick. Erick melenguh, saat merasakan dua gundukan kembar Jovanka yang tidak ditutupi selimut menempel rapat didada Erick..
Mulut Erick menyambar gundukan menantang didepan matanya, bibir Erick mengisap dan mengulum. Seperti sedang ngemut permen lollipop.
"Manis.." ucap Erick disela-sela isapannya, dengan suara yang serak.
"Hah..hah..hah..!" Jovanka mendesah dan menggeliat, kemarahannya berganti dengan kenikmatan yang diberikan Erick melalui sentuhan bibir dan tangannya.
Jovanka menutup matanya, napasnya tersengal. Jovanka merasa tenaganya habis, sedangkan Erick masih dengan keasikannya mengisap kedua pucuk gundukan Jovanka yang mengeras secara bergantian.
Mulut Erick melepaskan mainan barunya tersebut, kini dia beralih kearea bawah Jovanka yang sudah basah. Erick memposisikan diri ditengah-tengah paha jenjang Jovanka, dan langsung membenamkan benda tumpulnya sedalam mungkin. Jovanka mengerang dan berdesih, saat tubuh Erick menekan tubuhnya dengannya pelan dan lembut. Semakin lama, gerakan Erick semakin cepat. Hingga tubuh Jovanka terguncang mengikuti pergerakan Erick. Tangan Jovanka mencengkram pinggul Erick yang mengguncang tubuh Jovanka dengan maju mundur.
Dan sekali lagi, lahar putih Erick berenang masuk kedalam tubuh Jovanka. Mencari tempat ternyaman untuk menjadi bentuk penerus keluarga Godfrey.
Erick menarik tubuhnya keluar dari tempat ternyaman didalam tubuh Jovanka.
"Sangat nikmat." gumam Erick yang tepar disebelah sisi Jovanka, sedangkan Jovanka tidak bisa berkata apapun juga. Tubuhnya lunglai, seakan-akan badannya tidak bertulang. Untuk meluruskan kedua pahanya saja, Jovanka sulit untuk melakukannya.
Erick melirik kearah Jovanka, terlihat senyum dibibirnya. Erick mengangkat sedikit badannya, kemudian tangannya terjulur untuk meluruskan dan merapatkan kedua kaki Jovanka.
Erick mendekatkan wajahnya ke wajah Jovanka, lalu memberikan kecupan bibir Jovanka.
"Tidurlah, jangan marah lagi" ucap Erick seraya membelai pipinya.
__ADS_1
Drerrt... derrt..
Ponsel Erick yang berada diatas nakas berbunyi, Erick dengan cepat bangkit dan mengambilnya.
"Marcio.." Erick melihat nama Marcio yang menghubunginya.
"Ada apa?" tanya Erick pada Marcio yang menghubunginya dari sambungan telepon.
"Dalam cctv terlihat, Tuan besar sedang bertengkar dengan Mrs Rachel" beritahu Marcio, yang di tugaskan Erick untuk memeriksa cctv di rumah besar.
"Kurang ajar..!" seru Erick yang marah mendengar laporan dari Marcio.
"Apa ada unsur kesengajaan?" tanya Erick.
"Dari cctv tidak terlihat Tuan, karena cctv berada disamping. Tidak terlihat, karena ada bunga yang menutupi. Dan suara dari cctv juga kurang jelas terdengar." kata Marcio.
"Bawa cctv ke lap, biar pihak IT yang melihatnya" titah Erick pada Marcio.
"Baik Tuan" sahut Marcio.
Erick mengakhiri pembicaraannya dengan Marcio.
"Awas perempuan..! jika aku tahu kau ada hubungannya dengan kecelakaan itu. Aku akan menghukum langsung, aku tidak akan menyerahkan mu kekantor polisi. Tapi.." terlihat smirk disudut bibirnya.
Ponsel Erick kembali berbunyi.
"Siapa lagi, mengganggu saja.." kesal Erick.
"Ada apa kau mengangguku?" tanya Erick tanpa basa-basi kepada Ardan yang menelponnya.
"Danny menghubungiku, kau dihubunginya tidak bisa. Dia menyuruh kita segera kerumah sakit" sahut Ardan dari sambungan telepon.
Tanpa menunggu Ardan berkata lagi, Erick memutuskan sambungan telepon, dan secepatnya Erick berlari menuju kamar mandi. Tak lama kemudian Erick keluar, dan mengambil bajunya dari dalam lemari. Setelah berpakaian, Erick menuliskan pesan kepada Jovanka. Baru kemudian Erick keluar dari dalam kamar dengan tergesa-gesa.
Karena lokasi rumah sakit bersebelahan dengan hotel tempat dia menginap, Erick berlari secepatnya. Erick terus berlari menuju ruangan tempat Axelo berada. Perasaannya campur aduk, dia khawatir. Sang Daddy, Axelo pergi. Tanpa sempat berbicara dengannya.
Bagaimana pun hubungan mereka selama sepuluh tahun ini, tapi Erick merasa sedih. Melihat kondisi Axelo saat ini, terbaring. Dengan sekujur tubuh di penuhi dengan alat-alat medis.
Erick membuka pintu ruang ICU khusus untuk Axelo Godfrey, sehingga. Axelo Godfrey tidak campur dengan pasien yang lain, sehingga keamanannya sangat terjaga.
"Danny..! apa yang terjadi?" tanya Erick dengan ekspresi wajah yang khawatir.
__ADS_1
Belum Danny menjawab pertanyaan Erick, Ardan tiba dengan wajah yang khawatir juga.
"Ada apa?" tanya Erick dengan napas yang tersengal-sengal, yang tiba setelah Erick.
Erick berjalan menuju ruangan tempat Axelo di rawat, dari luar. Dia melihat ada dua wanita di dalam, seorang memakai baju biarawati dan yang seorang memakai baju biasa dan menutup kepalanya dengan selendang.
"Danny, siapa orang itu? mereka bukan aunt Anne dan Aunt Natasa?" tanya Ardan.
"Tunggu saja keduanya keluar" ucap Danny Liu.
Tanpa sepengetahuan Maria, Danny Liu menghubungi Erick dan Ardan. Dia ingin menyatukan kembali keluarga yang terpecah belah, akibat perbuatan orang yang iri.
Setelah selesai mendoakan Axelo, Maria dan suster Abigail segera keluar dari dalam ruang ICU. Maria tidak menyadari siapa yang ada diluar, karena kaca tempat Axelo dirawat tidak bisa melihat keluar.
Tiba diluar, Maria kaget. Karena melihat Erick tepat berdiri didepannya.
"Erick..!" seru Maria kaget, karena tidak mengira berjumpa dengan Erick. Karena sebenarnya, Maria belum berniat untuk bertemu dengan keluarganya. Keluarga dari pihak Godfrey, maupun pihak dari Angelo. Hanya suster Helena yang mengetahui, bahwa Maria belum meninggal. Itu juga karena tanpa kesengajaan, orang yang menolong Maria saat hanyut membawa Maria ketempat suster Helena yang sedang melakukan bakti sosial.
"Mommy..!" Erick juga kaget, melihat sosok yang berada dihadapannya. Yang dikiranya telah tiada, kini berada didepannya dalam keadaan sehat.
"Aunt Maria..!" begitu juga dengan Ardan, sangat kaget.
Maria memandang Erick dan Ardan, kemudian pandangannya beralih kearah Danny Liu yang berdiri dibelakang Erick.
"Maaf Mrs Godfrey, putra dan keponakan anda harus tahu mengenai keadaan anda" kata Danny, tanpa merasa bersalah. Karena telah membertemukan Maria dengan Erick.
Erick langsung memeluk tubuh Maria dengan erat, air mata keduanya mengalir. Begitu juga dengan Ardan dan Danny Liu, mata keduanya berembun.
Erick mengurai pelukannya, dan mengamati wanita yang telah melahirkannya ke dunia ini
"Kenapa..? kenapa mommy melakukan ini semua? apa mommy tidak sayang dengan kami semua?" tanya Erick.
"Maaf.. maafkan mommy.." ucap Maria sembari menangis.
"Aunt, Ardan sangat merindukan mu" ucap Ardan.
Maria menghampiri Ardan, dan memeluknya.
"Maafkan aunt, maafkan aunt..!" seru Maria kepada Ardan.
"Kenapa aunt..? kenapa aunt pura-pura meninggal?" tanya Ardan.
__ADS_1
🌜**Next 🌛
Terus bantu penulis untuk menekan tombol like like ya kakak-kakak reader, terima kasih atas dukungannya terhadap cerita ini 🥰🙏**.