
Happy reading guys π₯°
ππππ
Erick menuntun Jovanka menuju kamar mandi.
"Sampai sini saja, aku bisa sendiri" ujar Jovanka, saat Erick ingin ikut masuk kedalam kamar mandi.
"Tidak, aku akan ikut. Bagaimana jika kau pingsan didalam kamar mandi," ucap Erick kekeuh ingin menemani Jovanka masuk kedalam kamar mandi.
"Erick..! aku baik-baik saja, sana." Jovanka mendorong Erick, Jovanka kemudian menutup pintu kamar mandi dan menguncinya
"Jo, jangan dikunci..!" seru Erick, saat mendengar suara Jovanka mengunci pintu kamar mandi.
Tok..tok.. tok...
"Jovanka...!" terdengar keras suara Erick memanggilnya.
"Tunggu saja, aku tidak apa-apa..!" balas Jovanka.
"Dasar Erick, dia ikut. Bukannya meriksa aku hamil apa tidak, jangan-jangan dia akan melahap ku di sini" gerutu Jovanka.
"Bagaimana caranya ?" Jovanka membolak-balik test pack, untuk mencari cara menggunakannya.
"Baiklah, kita coba dulu. Semoga aku tidak hamil" gumam Jovanka.
Tok...tok...tok..
"Jo..!" panggil Erick.
"Sabar..! kalau kau mengganggu aku terus, tidak akan keluar air seni ku ini" balas Jovanka dari dalam kamar mandi, kesal Jovanka karena Erick terus mengetuk pintu kamar mandi.
Dokter Amarta tersenyum dalam hati, mendengar Jovanka memarahi Erick.
"Ternyata istri Tuan muda, sangat galak" batin dokter Amarta.
Tok .tok..
"Jo.." kembali Erick mengetuk pintu kamar mandi.
Cklek...
Pintu kamar mandi terbuka, Jovanka keluar dengan membawa gelas kecil berisi air seni dan test pack didalamnya.
"Ini, lihat sendiri.." cetus Jovanka dengan jutek dan memberikan gelas berisi air seni kepada Erick.
Jovanka kembali naik keatas ranjang, meninggalkan Erick dengan gelas berisi air seni dan test pack.
"Ini, bagaimana melihatnya?" Erick memegang gelas tersebut, melihat dengan lekat test pack yang ada didalamnya.
"Pelototi terus, ada benihmu didalam gelas itu" ujar Jovanka dari atas ranjang.
Jovanka tertawa melihat Erick bingung memandang gelas berisi air seninya.
Tuan muda, berikan pada saya. Biar saya yang melihatnya" ucap dokter Amarta.
"Lihatlah, aku harap berita baik yang kau sampaikan..!" seru Erick dan memberikan gelas tersebut pada dokter Amarta.
Dengan kepala masih menunduk, dokter Amarta menerima gelas dari tangan Erick.
__ADS_1
"Dokter, saya tidak akan membunuhmu. Tegakkan kepalamu !" titah Erick pada dokter Amarta.
"Baik..!" seketika kepala dokter Amarta tegak, matanya terserobok dengan mata Erick.
"Ternyata Tuan muda sangat gagah" batin dokter Amarta yang memuji Erick, karena tidak pernah melihat wajah Erick dengan sangat dekat. Seperti saat ini.
"Dokter..!"
Suara Erick menyadarkannya dari keterpukauan memandang sosok Erick.
"Dokter Amarta sepertinya terpukau dengan Erick, emh..." batin Jovanka.
"Apa hasilnya? lihat gelas itu, bukan di sini !" seru Erick dengan dingin.
"Maaf Tuan.." ucap dokter Amarta dengan malu, karena ketahuan mengagumi orang nomor satu di pulau Saint Angel.
Dokter Amarta mengambil test pack dan melihatnya.
"Selamat Tuan, Mrs Godfrey hamil" beritahu dokter Amarta.
"Hamil..? hamil anak..?" tanya Erick.
"Iya Tuan, untuk lebih pastinya. Saya sarankan untuk menemui spesialis obgyn," ucap dokter Amarta.
Erick langsung naik keatas ranjang dan memeluk Jovanka dengan erat, dan memberikan kecupan dibibir dan wajah Jovanka.
"Hamil? tokcer juga Erik, batu menikah belum dua bulan. Sudah hamil saja aku." batin Jovanka.
"Cukup Erick..! sesak aku kau peluk begitu erat. Anakku nanti pingsan.," ucap Jovanka seraya mendorong tubuh Erick yang memeluknya.
"Dia juga anakku, bukan milikmu saja" ucap Erick saat Jovanka menyebutkan, bayi dalam kandungannya sebagai anaknya.
"Dokter, terima kasih," ucap Erick dan mengulurkan tangannya pada dokter Amarta.
Dokter Amarta kaget, melihat Erick mengulurkan tangannya dan mengucapkan terima kasih padanya.
Dokter Amarta menyambut uluran tangan Erick.
Erick kembali naik keatas ranjang, sedangkan dokter Amarta keluar.
"Bagaimana Dok? apa yang terjadi pada Mrs Godfrey?" Miss Lin yang sedari tadi berdiri didepan kamar Erick, langsung bertanya pada dokter Amarta yang baru keluar.
"Sembilan bulan lagi, pulau Saint Angel akan mendapatkan kebahagiaan" ucap dokter Amarta, untuk menjawab pertanyaan Miss Lin.
"Hamil? Mrs Godfrey hamil? Tuan muda akan mendapatkan penerus?" tanya Miss Lin dengan beruntun.
"Iya, istri Tuan muda sedang hamil sekarang ini. Tapi belum bisa dipastikan, apakah seorang penerus atau bukan" ucap dokter Amarta.
"Apa maksudmu dokter?"
"Mrs Godfrey hamil, tapi belum dapat dipastikan. Apakah jenis kelaminnya, mungkin saja baby girl" ucap dokter Amarta.
"Apakah seorang wanita tidak bisa dikatakan sebagai penerus, dia juga anak Tuan muda" kata Miss Lin yang tidak menyukai ucapan dokter Amarta.
"Tuan muda membutuhkan penerus laki-laki untuk meneruskan gelar Godfrey," ucap dokter Amarta.
"Mereka masih muda, Mrs Godfrey masih bisa melahirkan banyak anak" ucap Miss Lin.
"Bagaimana jika anak perempuan terus yang lahir?"
__ADS_1
"Itu bukan urusan anda dokter Amarta, silakan dokter. Anda tidak dibutuhkan lagi di sini." Miss Lin mempersilakan dokter Amarta untuk keluar dari Mansion.
"Ben, tolong antarkan dokter pulang" titah Miss Lin.
"Baik, ayo dokter" ucap Ben.
"Karena sudah berhasil masuk kedalam mansion, dia sudah merasa berhak mengomentari kehidupan Tuan muda. Siapa dia rupanya dia, dia dipanggil karena dokter Samuel keluar pulau. " Miss Lin benar-benar tidak suka dengan perkataan dokter Amarta..
βοΈβοΈβοΈ
Rachel terbangun, begitu menyadari ada orang lain didalam ruang inapnya di rumah sakit Colombia.
"Siapa kalian? mana mamaku..?" tanya Rachel sembari bangkit dari berbaring.
"Kami dari kepolisian Miss Weisz"
"Polisi?" Rachel panik, dua tidak mengira. Polisi bisa menemukannya di sini.
"Ada apa Tuan?" Rachel pura-pura tidak mengetahui, bahwa dia masuk dalam daftar DPO.
"Ada surat penangkapan atas nama anda miss Rachel Weisz" ucap polisi pada Rachel.
"Penangkapan? apa salah saya ?" Rachel panik, dia berusaha untuk turun dari ranjang rumah sakit. Infus yang ada ditangannya terbuka, karena Rachel berusaha untuk turun dari ranjang.
"Miss Weisz, lihat infus anda terlepas" ucap polisi.
"Saya tidak perduli, biarkan saya pergi. Anda-anda semua tidak bisa menangkap saya..!" seru Rachel.
"Anda di curigai telah mencelakai Tuan Axelo Godfrey Miss Weisz" ucap polisi.
"Tidak...! itu tidak benar..!" Rachel menepiskan tangan polisi yang memegangnya.
Rachel terus meronta dan berteriak.
"Ada apa ini?" pintu terbuka, dengan kedatangan dokter dan dua orang perawat.
"Dokter, mereka ingin membawa saya..!" seru Rachel dan berlindung dibalik tubuh dokter.
"Anda semua siapa? kenapa menganggu pasien ?" tanya dokter.
"Kami dari kepolisian? Miss Weisz di curigai sebagai orang yang ingin mencelakai Tuan Axelo Godfrey, dan kami diberi tugas untuk membawa miss Weisz kekantor. Untuk di mintai keterangan" ucap polisi.
"Suster, tolong bawa Miss Weisz kembali ketempat tidur" titah dokter pada dua suster yang datang bersamanya.
"Bisa kita bicara di luar," ucap dokter pada kedua polisi tersebut.
Dokter keluar dan diikuti oleh kedua polisi.
"Tuan, pasien belum bisa dibawa keluar dari rumah sakit" kata dokter.
"Tapi kami butuh keterangan Miss Weisz"
"Miss Weisz sakit kanker serviks, dan besok akan dilakukan operasi" terangkan dokter pada kedua polisi.
"Anda tidak berusaha untuk melindungi Miss Weisz dokter?" selidik polisi.
"Anda kira saya dokter yang bisa dibeli..!"
"Kalau anda tidak percaya, lihatlah. rekam medis Miss Weisz" dokter memberikan map yang dibawanya kepada polisi.
__ADS_1
π Nextπ