
Happy reading guys π₯°
πππ
Altan berdiri termangu ditepi dermaga, pandangannya jauh lurus kedepan. Pulau Saint Angel, mata Altan fokus tanpa berkedip melihat pulau yang baru ditinggalkannya.
Perasaan sedih sangat terlihat dari raut wajah Altan Batuhan, walaupun berat untuk pergi. Tapi Altan tetap harus pergi, karena janjinya pada ibu angkatnya yang tidak akan meninggalkannya walaupun dia sudah mengetahui keberadaan keluarganya. Rasa sayang pada ibu angkatnya yang telah membesarkannya, walaupun dia tahu. Mereka telah mengambil dia dari keluarga aslinya, tapi Altan akan tetap menjadi anak suku Dukha.
"Aku akan mengunjungi makam Mama dan papaku." gumam Altan.
Di sinilah dia berdiri, didepan dua gundukan tanah. Tempat kedua jasad orangtuanya terbaring untuk selamanya.
"Paa, Maa. Altan marah, sangat marah. Kenapa kalian bisa tidak menyadari keberadaan ku yang masih hidup, kenapa kalian terima saja. Perkataan orang, saat mengatakan bayi kembar kalian salah satunya meninggal."
Altan berlutut didepan kedua makam orang tuanya, air matanya mengalir. Suara paraunya terdengar sangat pelan.
"Aku melihat kedua saudaraku, mereka sangat bahagia karena hidup dengan saling menjaga. Altan akan pergi, ketempat takdir hidup Altan di mulai dari kecil," ucap Altan.
Altan membayangkan hidupnya dari kecil, selalu tinggal berpindah-pindah. Mengikuti rombongan suku Dukha yang tinggal nomaden.
Altan berdiri dari berlutut, jemarinya mengusap pusara Mamanya.
"Altan pergi, untuk pertama dan terakhir Altan berkunjung ke sini." gumam Altan.
Altan berjalan meninggalkan area pemakaman, diiringi dengan daun kering yang berguguran. Altan berjalan meninggalkan pemakaman kedua orangtuanya, tangannya menghapus air yang mengenangi sudut kedua bola matanya.
"Altan, jangan nangis. Ini sudah takdirmu, tinggal berjauhan dari keluarga kandungmu." Altan menyemangati diri sendiri.
πππ
Jovanka sudah dibolehkan untuk pulang, Erick langsung membawanya kembali ke pulau Saint Angel.
"Kenapa kita harus kembali ke pulau Saint Angel, kenapa kita tidak di sini saja?" tanya Jovanka yang keberatan, Erick membawanya pulang ke saint Angel.
"Kerjaku di sana," jawab Erick.
"Dari sini kau juga bisa mengontrol pekerjaan mu," kata Ardan.
"Please..! Erick, biarkan aku di sini. Aku mau tinggal dengan kak Tian, kak Tian bisa menjagaku." bujuk Jovanka.
"Tidak bisa, Bastian juga belum cukup sehat. Dia tidak mungkin bisa menjagamu, di mansion saja banyak penjaga. kau bisa hilang," ucap Erick.
"Jo, dengarkan Erick," ucap Bastian.
"Semua harus mendengarkan dia, kapan ada yang mendengar ucapanku?"
"Tunggu babies triplets lahir, mereka bertiga akan mendengarkan ucapanmu," kata Bastian seraya tertawa.
"Kesal..kesal..!" Jovanka melampiaskan kekesalannya dengan mengomel, mulutnya manyun dan mengerucut. Membuat Erick yang melihatnya menjadi gemas.
Erick berdiri dari duduknya, dengan langkah lebar menuju ranjang tempat Jovanka baring.
Tap...
Erick menangkup pipi Jovanka, dan meraup bibirnya. Bibir dan lidah Erick berlama-lama mengekplorasi bibir Jovanka, gigitan Erick membuat Jovanka membuka mulutnya. Hingga lidah Erick bebas bermain didalam mulut Jovanka.
__ADS_1
Pukulan tangan Jovanka tidak membuat Erick melepaskan tautan bibirnya, hingga akhirnya Jovanka pasrah.
Bastian dan Ardan kaget melihat kelakuan Erick didepan matanya mereka.
"Ayo kita keluar," ucap Ardan pada Bastian.
"Kenapa?" tanya Bastian.
"Apa kau ingin melihat adikmu bercumbu dihadapmu?" tanya Ardan.
"Ohh..." Bastian bergegas berdiri dan keluar dari dalam ruang inap Jovanka.
Erick melepaskan tautan bibirnya.
"Kau sungguh menyebalkan, menciumiku sampai aku kehabisan napas," ucap Jovanka sembari memegang bibirnya yang terasa bengkak, akibat ******* bibir Erick.
"Mana kak Tian dan Ardan?" Jovanka baru menyadari, keduanya tidak ada di dalam kamar.
"Mereka keluar," sahut Erick.
"Dasar pria mesum, tidak lihat ada orang. Main bungkam bibir saja," ujar Jovanka.
"Tidak ada yang salah, ini negara bebas. Hanya berciuman, bebas untuk dilakukan," ucap Erick.
"Cari pembenaran." Jovanka mencebikkan bibirnya, dan membalingkan wajahnya dari pandangan mata Erick.
πππ
"Kenapa wajahmu kusut? apa kau tidak senang melihat aku kembali?" tanya Jovanka pada Arisa yang baru kembali dari bekerja.
"Terakhir? apa maksudmu?" tanya Jovanka dengan menatap wajah Arisa dengan intens.
"Aku akan kembali kerumah Jo." beritahu Arisa.
"Pulang! kau ingin kembali dan meninggalkan aku di sini?" tanya Jovanka dengan raut wajah yang sedih.
"Aku sudah enam bulan di sini, granny juga sudah kembali kerumah."
"Granny sudah biasa sendiri, apa ada yang kau sembunyikan? sudah beberapa hari kau terlihat tidak bersemangat?" Jovanka menarik jemari Arisa dan menggenggamnya.
"Ada apa?" selidik Jovanka.
"Tidak ada apa-apa Jo, sungguh. Aku rindu rumah, walaupun aku tidak di sini. Nanti jika keponakanku lahir, aku akan segera datang," ucap Arisa.
"Apa ini ada hubungannya dengan Ardan yang dekat dengan gadis Jepang itu?" tanya Jovanka.
"Tidak jo, tidak ada hubungan dengan siapapun. Ini murni karena aku rindu rumah," kata Arisa.
"Baiklah, walaupun aku sedih. Jika kau ingin kembali bekerja di sini katakan, aku akan meminta Erick untuk mencari posisi yang kosong di kantor," kata Jovanka.
"Kapan kau ingin pergi?" tanya Jovanka.
"Besok," sahut Arisa.
"Apa kau berani naik kapal sendiri, kau mabuk laut." Jovanka mengingat, saat mereka datang kepulau ini, saat pertama sekali. Arisa mabuk laut sangat parah.
__ADS_1
"Jangan khawatir, aku akan terbiasa. Aku akan berusaha untuk tidak mabuk laut, biar bisa lebih sering mengunjungimu."
πππ
Jovanka terbangun dari tidurnya, setelah merasa ada tangan yang bergerak diperutnya dan menjalar makin Keatas. Kedaerah dua tanjakan yang terlihat makin membesar.
"Ih...!" jemari Jovanka mencubit tangan yang bergerak nakal tanjakan sumber kehidupan untuk babies triplets saat mereka lahir nanti.
"Aduh ..!" teriak Erick, karena kuku jemari Jovanka menusuk tangannya.
"Kenapa kau terus menganiaya aku, orang-orang takut denganku. Kau sedikitpun tidak," ucap Erick.
"Apa kau tidak takut aku marah?" tanya Erick.
"Baguslah, jika kau marah. Ada alasanku untuk pergi meninggalkanmu, membawa ketiganya."
Mendengar ucapan Jovanka, Erick memegang dagu Jovanka. Dan menatap wajah Jovanka dengan ekspresi wajah yang tidak bisa ditebak.
"Jika kau lakukan itu, aku akan membuat kau menyesal seumur hidup. Dengan tidak mengatakan rahasia yang aku ketahui tentang keluargamu " kata Erick.
"Rahasia? tentang keluargaku?" tanya Jovanka.
" Ya, rahasia," jawab Erick santai.
"Rahasia apa?" penasaran Jovanka.
"Belum saatnya kau tahu, sekarang tidur." titah Erick.
"Aku tidak mau tidur..! katakan dulu, rahasia apa yang kau ketahui tentang keluargaku? apa papaku ada istri yang lain? atau Bastian punya kelainan?" tanya Jovanka dengan menggoyang lengan Erick, agar mengatakan rahasia yang Erick ketahui.
Tak...
"Aduh...!" seru Jovanka.
Jemari Erick memukul kening Jovanka, membuat Jovanka mengasuh kesakitan.
"Sakit..!"
Karena kesal, Jovanka menarik lengan Erick dan melabuhkan giginya dilengan Erick.
"Aaww...! kenapa kau mengigitku..!" seru Erick sembari mendorong wajah Jovanka, dari lengannya.
"Kenapa kau memukul kepalaku? katakan, rahasianya..!" ucap Jovanka dengan mata setengah melotot.
"Jonathan tidak meninggal..!"
Deg...
Jovanka termangu mendengar perkataan Erick
π Nextπ
Jangan lupa untuk menekan tombol like like ππ₯°
Happy reading, menuju ending π€©
__ADS_1