The Tyrant'S Desire (Hasrat Cinta Sang Penguasa)

The Tyrant'S Desire (Hasrat Cinta Sang Penguasa)
Periksa


__ADS_3

Happy reading guys πŸ₯°


πŸ€πŸ€πŸ€πŸ€


Arisa uring-uringan didalam kamar, ponselnya terus bergetar. Siapa lagi yang menghubunginya di saat malam begini, kalau tidak Ardan.


"Sepertinya, aku ingin membuang ponsel ini. Baru satu hari aku memegang ponsel kembali, kepalaku sudah pusing mendengar suara deringnya.


Arisa meraih ponselnya, dan menjawab tanpa melihat siapa yang menghubunginya. Karena dia sudah tahu, Ardan yang menghubunginya. Karena hanya Ardan yang mengetahui nomor ponselnya yang baru. Jovanka juga belum tahu.


"Hei..! kenapa kau menghubungi aku terus..! apa kau tidak mau tidur, jika tidak mau tidur. Pergi temani satpam untuk jaga malam," cerocos Arisa tanpa sempat lawan dari seberang telepon untuk bicaranya, kemudian Arisa mematikan ponselnya dan menonaktifkannya.


"Sial..! menganggu saja, telepon saja cewek genit itu..!" ketus Arisa.


Ardan didalam kamarnya menatap ponselnya.


"Ada apa dengannya? aku ingin tanya apa dia lapar, karena dia tadi melewatkan makan malam," ucap Ardan seraya meletakkan ponselnya diatas meja kecil, di samping ranjang.


"Wanita sangat memusingkan." Ardan mengambil guling untuk menutup wajahnya.


☘️☘️☘️


"Tuan, please..! tolong berikan ponselku, aku ingin menghubungi mamaku.." Rachel merayu petugas yang menjaganya.


"Maaf Miss, kami tidak bisa melakukannya," ucap petugas dari depan pintu kamar inap Rachel.


"Aduh..! perutku sakit..!" seru Rachel tiba-tiba, dengan memegang perutnya.


Ada apa Miss?" petugas yang menjaga Rachel bergegas mendekati ranjang Rachel.


"Perutku..! sepertinya bekas operasi terbuka, tolong panggilkan dokter." pinta Rachel dengan wajah yang menahan sakit.


"Tekan saja bel," ucap penjaga ingin menekan bel untuk memanggil petugas medis.


"Bel rusak, please..! tolong panggilkan dokter..!" teriak Rachel dengan wajah meringis menahan sakit.


"Baiklah, tunggu di sini. Aku akan segera kembali," ucap petugas polisi.


Begitu polisi keluar dari kamar rawatnya, bibir Rachel tersenyum lebar. Dia langsung membuka jarum infus yang terpasang ditangannya.


"Aku harus secepatnya pergi, jangan sampai polisi itu kembali. Ah..aku tidak ada baju ganti. Pakai baju ini saja." Rachel turun dari ranjang, dengan masih memakai baju rumah sakit.


"Jaket siapa ini? mungkin jaket mama. Pakai ini saja untuk menutupi baju rumah sakit." Rachel memakai jaket, kemudian bergegas menuju pintu.


Cklek...


Rachel membuka pintu, begitu pintu terbuka. Mata Rachel bulat sempurna, menatap dua orang polisi berdiri didepan pintu seperti patung membelakangi pintu.


"Kalian..!"


Kedua polisi berbalik secara bersamaan.


"Kalian kembar..!"


Kedua polisi berwajah sama, menatap Rachel dengan tanpa ekspresi. Wajah keduanya datar.


"Bisakah kalian berdua minggir, aku ingin keluar," ucap Rachel dengan menampilkan senyum dibibirnya.

__ADS_1


Kedua polisi tidak terpengaruh dengan senyum menggoda yang ditampilkan Rachel, keduanya menatap Rachel dengan pandangan yang aneh.


"*Keduanya kenapa tidak terpengaruh dengan senyum menggoda ku? apa keduanya tidak suka dengan wanita? oh my God...!?" mulut Rachel terbuka lebar.


"Apa keduanya kaum itu..?" otak Rachel membayangkan pria yang suka sejenis*.


"Ada apa twins..?" polisi yang memanggil dokter sudah kembali dengan membawa perawat.


Polisi twins bergeser dari depan pintu.


"Miss Weisz ingin keluar sir" ucap polisi twins.


"Keluar? bukankah tadi anda katakan, perut anda sakit Miss Weisz?"


"Saya...saya ingin keluar untuk mencari dokter, karena anda lama sekali datang. Perut saya teramat sakit," ucap Rachel dengan memegang perutnya kembali, wajahnya meringis.


"Ayo kembali keranjang miss Weisz," ucap perawat yang datang bersama polisi.


"Ahh..batal kaburnya." batin Rachel ngedumel.


Rachel naik kembali ke atas ranjang, wajah terlihat kesal.


"Miss, kenapa infusnya di buka. Dari sini akan disuntikkan obat penghilang rasa sakit," ucap suster seraya menatap Rachel dengan lekat.


"Tidak sakit lagi, aku tidak perlu di infus lagi," kata Rachel.


"Anda ingin menipu polisi Miss Weisz, dengan berpura-pura sakit ? Miss Weisz, di rumah sakit ini sudah ditempatkan polisi untuk menjaga-jaga. Agar anda tidak kabur, jangan lakukan itu lagi Miss Weisz. Nanti hukuman yang akan anda terima semakin berat, jika anda berusaha untuk kabur dengan menipu polisi."


"Sudah cukup kalian bicara, aku mau tidur." Rachel memejamkan matanya.


Polisi dan perawat keluar, diluar kamar tempat Rachel di rawat. Vanya, mama Rachel sudah lama berdiri. Menunggu untuk di izinkan masuk membesuk Rachel.


"Apa boleh saya mengunjunginya Tuan?" tanya Vanya.


"15 menit," ucap polisi.


"Terima kasih," ucap Vanya.


"Tunggu mrs, apa yang anda bawa itu?" polisi melihat Vanya membawa paper bag.


"Hanya roti, periksa saja." Vanya memberikan paper bag yang dibawanya untuk diperiksa.


Setelah diperiksa, polisi menyerahkan kembali kepada mama Rachel.


Cklek..


Vanya masuk kedalam, dan melihat Rachel tidur.


"Keluar..! aku tidak ingin apapun juga..!" seru Rachel dengan mata masih terpejam.


"Kenapa kau marah ?"


"Mama..!" mata Rachel terbuka, mendengar suara Mamanya.


"Ada apa? kenapa kau marah?"


"Aku bosan ma, lihatlah. Didepan kamar, dua polisi berdiri terus menjagaku. Aku ingin keluar..!" seru Rachel.

__ADS_1


"Itulah ganjaran yang kau terima," ucap Vanya.


"Maa, tolong hubungi Andre," kata Rachel.


Wajah Vanya spontan berubah sedih, mendengar Rachel menyebutkan nama Andre.


"Maa...!"


"Andre sudah tidak ada," ucap Vanya.


"Dia meninggalkanku..! kurang aja orang itu, gara-gara dia aku dalam masalah. Kemana dia pergi maa ? aku akan buat perhitungan dengannya."


"Kau tidak akan bisa membuat perhitungan dengan orang itu Rach," ucap Vanya.


"Kenapa? aku akan mencari orang itu sampai ke ujung dunia..!" geram Rachel.


"Dia tidak ada didalam dunia ini lagi," kata Vanya.


"Maksudnya?"


"Andre sudah meninggal." beritahu Vanya dengan perasaan sedih, karena Andre adalah cinta pertamanya. Walaupun dia dan Andre tidak terikat pernikahan, tapi keduanya hidup seperti sepasang suami istri.


"Meninggal? dia tidak ada di dunia lagi? sial..! kenapa dia harus mati?" Rachel kecewa mendengar kabar kematian Andre.


Vanya menceritakan, tentang kematian Andre yang didengar Vanya dari seorang anak buahnya yang lolos dari penangkapan.


"Oh Tuhan..! aku akan membusuk didalam penjara, gara-gara membantu orang itu. Dia sudah bebas."


"Rachel, bertobatlah. Pikirkan penyakitmu," kata Vanya.


Pintu terbuka.


"Waktu besuk sudah berakhir," ucap polisi twins.


πŸ€πŸ€πŸ€


Turun dari mobil, Jovanka tetap berwajah manyun. Erick berjalan didepan, Jovanka berjalan dibelakangnya dengan bibir komat-kamit menggerutu.


"Kenapa jalan dibelakang?" Erick menghentikan langkahnya, menunggu Jovanka yang berjalan dengan lambat.


"Aku tidak mau ke dokter, jika aku tidak dibelikan ponsel. Arisa sudah ada ponsel, aku tidak ada..!" seru Jovanka sembari menatap wajah Erick dengan kesal.


"Hanya gara-gara ponsel? kau berwajah masam ?" tanya Erick heran, dia mengira Jovanka marah. Karena Vannesa mencium pipinya di meja makan saat sarapan pagi.


"Terus..! kau kira gara-gara apa?" tanya Jovanka.


"Mungkin karena Vannesa mencium pipiku," ucap Erick.


"Aku tidak marah lagi masalah ciuman, karena aku juga akan mencium pria lain di depanmu..!" balas Jovanka sembari melewati Erick yang berdiri didepannya.


"Apa..!?" kaget Erick.


"Awas kau Jovanka..! jika berani melakukannya, aku akan mengurungmu selama di pulau Saint Angel." ancam Erick.


"Terserah..!" balas Jovanka.


🌜 NextπŸŒ›

__ADS_1


__ADS_2