
Terima kasih yang sudah mau mampir dan membaca cerita recehan ini, lope... lope.. sekebon singkong 🤩🙏
Selamat membaca kakak-kakak reader 🥰
🍂🍂🍂
Arisa menyeret tubuh Jovanka dengan sekuat tenaga yang dia punya.
"Kan sudah aku katakan tadi Jo, kita duduk saja. Jika pingsan, kita masih berada dikursi" Arisa ngedumel, sembari membawa Jovanka ke sofa.
"Miss, biar aku bantu" ujar Erick.
"No..! jangan berani-beraninya tangan kalian menyentuh tubuh Jovanka, aku kutuk tangan kalian menjadi tangan boneka!" ancam Arisa dengan galak.
"Biar aku saja miss" Ardan menawarkan diri, walaupun mata Erick memberikan tatapan mata yang tajam. Ardan tidak menanggapi, saat melihat Arisa sulit untuk membawa Jovanka.
"Tidak! tidak ada yang boleh mendekat, aku bisa sendiri membawa temanku ini. Tampang kalian seperti tidak kena air selama berbulan-bulan, akan membuat temanku ini akan pingsan selama-lamanya!" tolak Arisa dengan tegas, tidak ada rasa takut didalam setiap perkataan yang keluar dari mulutnya. Dalam keadaan terpaksa, jiwa pemberani Arisa keluar.
"Akhirnya" Arisa merebahkan tubuh Jovanka keatas sofa, dengan penuh perjuangan dia berhasil membawa Jovanka.
"Selesai!" Arisa lega, berhasil membawa Jovanka ke sofa.
Arisa berlutut di samping Jovanka, jemarinya menepuk-nepuk pipi sahabatnya itu.
"Jo.. Jo... bangun, kau jangan pingsan..!" ujar Arisa.
Tanpa sepengetahuan Arisa, Erick Godfrey yang berada tidak jauh dari tempat Jovanka pingsan. Menggerakkan tangannya memanggil seseorang.
Miss Lin, yang berada didepan pintu. Langsung masuk, dan mendekati Jovanka.
"Mari saya bantu miss" kata miss Lin.
Arisa mendongak menatap Miss Lin.
"Akhirnya, ada orang yang normal berada dalam ruangan ini !" seru Arisa, melihat Miss Lin berdiri didekatnya.
Miss Lin membungkukkan badannya kearah Jovanka, tangannya memegang minyak yang cukup menyengat penciuman Arisa. Sehingga jemarinya menutup hidungnya.
"Minyak apa itu? kenapa baunya begitu menyengat, jangan sampai nanti Jovanka pingsan kembali. Akibat efek dari minyak itu?" tanya Arisa pada Miss Lin.
"Ini minyak biasa miss Arisa, tidak akan menimbulkan dampak apapun pada Miss Reuel" jawab Miss Lin.
Miss Lin mendekatkan botol kecil tersebut kearah hidung Jovanka, sedetik kemudian Jovanka langsung bangkit dan berteriak dengan keras.
"Aaarrgghhh..!" teriakan Jovanka membuat siapa saja yang berada didalam ruangan menutup telinganya, termasuk Erick.
__ADS_1
"Rick, sepertinya. Kalau ada perlombaan olimpiade teriak, Miss Reuel akan mendapatkan piala" kata Ardan, sembari tertawa kecil.
"Diam kau!" ujar Erick menatap wajah sepupu, Ardan.
Hanya tersenyum kecil, sembari menutup mulutnya dengan jemari tangannya.
Jovanka bangkit dari sofa, dan berjalan mendekati Erick Godfrey. Tidak ada rasa takut, yang ada hanya kemarahan menatap wajah Erick.
"Kau..kau.. sampai kapanpun aku tidak akan mau menjadi simpanan mu!" ucap Jovanka seraya menunjuk kearah wajah Erick Godfrey.
"Aku tidak ingin menjadikan kau sebagai simpanan Miss Reuel, aku ingin kau menjadi Mrs Godfrey. Sebagai pendamping Penguasa pulau Saint Angel, sebagai istri " kata Erick Godfrey.
"Hahaha.. mimpi..! jangan harap, aku tidak akan pernah menjual tubuhku ini. Camkan itu Tuan Penguasa pulau Saint Angel yang terhormat!" seru Jovanka, dan terlihat raut wajah Jovanka yang memerah menahan marahnya.
"Kenapa miss Reuel? aku ini orang kaya, kau pasti tidak akan mengalami hidup kekurangan" kata Erick Godfrey dengan santai saja, tidak ada kemarahan didalam ucapan yang keluar dari dalam mulutnya. Walaupun Jovanka sudah menolak keinginan Erick.
"Hei.. Tuan! aku bukan gadis gila harta dan gila hormat, aku tidak perduli dengan kekayaanmu itu. Kau cari saja gadis yang gila harta diluaran sana, jangan ganggu aku !" seru Jovanka.
"Aku semakin menyukaimu Miss Reuel, aku suka dengan gadis yang tidak suka dengan harta dan jabatan. Hemh..aku semakin ingin memilikimu" ucap Erick kepada Jovanka.
Dalam ruangan, tidak ada yang berani berkomentar. Semua membisu, hanya menjadi pendengar yang baik. Begitu juga dengan Arisa, dia terus berada dibelakang Jovanka. Dia takut, Jovanka akan kembali pingsan.
"Bagaimana jika aku katakan, bahwa aku sudah menikah!" kata Jovanka.
"Kau tidak akan mengenalnya, dia orang biasa. Dia pemuda yang gagah, dan tidak seperti dirimu. Kau sepertinya sudah seumuran dengan papaku, jika dia masih hidup" kata Jovanka, dan perkataannya mengejek Erick Godfrey.
"Miss Reuel, jangan lihat orang dari casingnya. Belum tentu casingnya rusak, dalamnya. Belum tentu rusak" kata Erick.
"Aku curiga, Jangan-jangan kak Tian tidak melakukan kesalahan apapun juga. Karena ambisi, kau ingin menjerat gadis-gadis untuk menjadi simpananmu..! Pasti.. tidak salah lagi.." ucap Jovanka.
"Miss Reuel, kau.." Marcio Black menegur Jovanka, karena kata-katanya selalu menyudutkan Erick Godfrey dan menghinanya.
Tangan Erick terangkat, Marcio Black tidak melanjutkan apa yang ingin dikatakannya.
"Baiklah Miss Reuel, aku tidak akan memaksamu lagi. Marcio, segera eksekusi Bastian Reuel. Dan mayatnya, buang kedalam kandang buaya!" titah Erick Godfrey kepada sang tangan kanan, Marcio Black.
Jovanka dan Arisa terbelalak, mendengar perkataan Erick untuk mengeksekusi Bastian Reuel.
"Kau..kau.. ingin membunuh kak Tian!?" panik Jovanka.
"Gila..dia gila Jo! orang itu tidak seharusnya menjadi pemimpin, dia sepantasnya berada dalam perawatan rumah sakit jiwa. Karena dia sakit mental!" Arisa juga marah, mendengar Erick ingin mengeksekusi Bastian Reuel.
"Miss Maurer, jaga ucapan anda! apa anda ingin bersama dengan Bastian Reuel, menjadi santapan buaya-buaya peliharaan Tuan Godfrey!" Marcio Black menegur Arisa yang emosional.
Arisa sontak terdiam, badannya merapat kebelakang punggung Jovanka.
__ADS_1
"Kalian beraninya mengancam kami, mengancam wanita!" seru Jovanka.
"Marcio, lakukan cepat!" titah Erick Godfrey kepada Marcio.
Air mata Jovanka luruh, dia tidak tahu apa yang harus dilakukannya. Jika dia menolak keinginan Penguasa pulau Saint Angel. Bastian, saudaranya satu-satunya akan celaka. Tetapi jika dia menerima keinginan Erick Godfrey, apa dia sanggup melakukan apa yang diinginkan Penguasa pulau Saint Angel.
"Jo, tenanglah" Arisa memeluk Jovanka, dia juga menangis.
"Rick, apa yang kau lakukan ini. Apa sangat tidak keterlaluan?" tanya Ardan dengan berbisik.
"Lihatlah, gadis ini seorang yang tangguh. Dia cocok menjadi pendampingku" jawab Erick.
"Kau mengujinya?" tanya Ardan.
"Diamlah " kata Erick pada Ardan.
"Tuan, kandang buaya yang mana mayat Bastian Reuel kita buang?" tanya Marcio kepada Erick Godfrey.
"Cari buaya yang benar-benar lapar, biar sekali telan. Mayat Bastian Reuel langsung berada dalam perutnya" kata Erick Godfrey.
"Jo, apa yang harus kita lakukan?" tanya Arisa.
"Baik Tuan" jawab Marcio, kemudian dia ingin meninggalkan ruangan.
"Tunggu..! tunggu..!" Jovanka berteriak.
"Ada apa Miss Reuel? apa anda ingin bertemu terakhir kali dengan saudara anda, untuk berpamitan?" tanya Erick.
"Baiklah, aku akan memenuhi keinginanmu Tuan" ucap Jovanka dengan suara yang lirih dan bergetar, bola matanya sudah basah.
"Jo..! apa yang kau katakan?" Arisa kaget mendengar perkataan Jovanka.
"Ris, aku akan melakukan apapun. Agar kak Tian selamat" kata Jovanka.
"Keputusan yang bijak miss Reuel, Miss Reuel seorang adik yang sangat melindungi saudaranya. Aku sangat suka" kata Erick memuji Jovanka.
"Kau harus janji, kau harus membebaskan kak Tian" kata Jovanka.
"Erick Godfrey tidak pernah ingkar janji" kata Erick Godfrey.
🌟🌟🌟🌟
**Next...
Jangan lupa untuk memberikan Like like like n like ya kakak-kakak 🙏**
__ADS_1