The Tyrant'S Desire (Hasrat Cinta Sang Penguasa)

The Tyrant'S Desire (Hasrat Cinta Sang Penguasa)
Hilang


__ADS_3

Happy reading guys 🥰


☘️☘️☘️


Dengan perlahan-lahan, Erick membuka pintu kamar. Kemudian masuk.


"Ah..! Aku sudah seperti pencuri dalam kamarku sendiri." gumam Erick seraya melangkah masuk kedalam kamar mandi untuk membersihkan diri.


Bukan Erick ingin menghindari Jovanka, karena dia bosan. Tetapi dikarenakan Jovanka yang terlalu sensitif, jika keinginannnya tidak terpenuhi. Wajah Jovanka akan muram, untuk mencari aman. Erick sebisa mungkin menghindari Jovanka.


Kehadiran Bastian, membuat Jovanka tidak menyadari Erick menghindarinya.


Setelah selesai membersihkan diri, Erick keluar dari dalam kamar mandi .Kemudian naik keatas ranjang.


"Susunya tidak di minum." gumam Erick, saat melihat segelas susu masih penuh di atas nakas.


Dengan bertumpu pada siku tangannya, Erick melihat Jovanka yang tidur dengan lelap.


Jemari Erick merayap membelai perut Jovanka yang sudah terlihat buncit.


"Anak-anak Daddy jangan nakal didalam sini ya," ucap Erick sembari mengusap perut Jovanka.


Tiba-tiba...


"Apa ini?" Erick spontan bangkit dari ranjang, dan turun. Karena merasa ada yang menggigit tubuhnya.


Erick membuka selimut dan melihat, ada semut yang merayap di atas ranjang.


"Semut?"


Mata Erick terbelalak, melihat semut berbaris dengan membawa potongan kecil.


"Kenapa ada semut?" Erick heran, karena semut tidak pernah menyerang tempat tidurnya.


Erick mengangkat bantal, dan Erick seketika langsung kaget.


"Oh God!? siapa yang menyimpan bluberi di bawah bantal..?" Erick berkacak pinggang menatap semut berbaris dengan membawa potongan kecil bluberi yang sudah hancur.


"Jovanka...!" Erick menatap Jovanka.


Tersangkanya, tidur dengan pulas membelakangi Erick.


"Bagaimana ini?" Erick bingung, tidak mungkin dia membiarkan semut berada di atas ranjang. Dan memindahkan Jovanka untuk pindah kamar di tengah malam.


Akhirnya...


"Jo.. bangun." Erick membangunkan Jovanka dengan memanggil dan menepuk-nepuk pundaknya.


Jovanka membuka matanya dan menoleh kearah Erick dibelakangnya.


"Bangun." titah Erick.


"Sudah pagi?" tanya Jovanka.


"Bangun dulu, banyak semut di tempat tidur," ucap Erick.


"Semut?" Jovanka langsung bangkit dan duduk.


"Mana?" tanya Jovanka.


"Lihatlah, siapa yang menyimpan bluberi dibawah bantal?" tanya Erick.


"Bluberi?"


"Bluberi ku...!" seru Jovanka, dan ingin mengambil sisa-sisa bluberi yang belum hancur.


"Jangan diambil lagi!" Erick mencegah Jovanka yang ingin menyelamatkan bluberi yang sudah kerumutin semut.


"Itu bluberi ku," ucap Jovanka.

__ADS_1


"Sudah tidak bisa di makan, kenapa diletakkan dibawah bantal," kata Erick.


"Siapa yang meletakkannya? aku tidak," sahut Jovanka.


"Apa bluberi jalan sendiri keatas ranjang?" tanya Erick.


"Awas kau semut...!" ucap Jovanka pada semut dengan perasaan kesal.


"Pindah dulu, biar ganti sprei," ucap Erick.


Dengan bibir manyun, Jovanka turun dari ranjang dengan memeluk guling.


Erick hanya dapat menggelengkan kepalanya, melihat Jovanka yang cemberut.


"Kenapa cemberut? kerjaan siapa ini semua?"


"Babies mau makan bluberi," jawab Jovanka dengan suara yang pelan sembari melangkah menuju sofa.


"Kenapa bisa ada diatas ranjang?" tanya Erick.


"Makan sembari tiduran, tapi tadi sudah aku letakkan keatas nakas. Suer...!" Jovanka mengacungkan dua jarinya, dengan raut wajah tanpa rasa bersalah.


"Bluberi ini ada kakinya," kata Erick.


"Tunggu di sini, jangan kemana-mana," ucap Erick.


"Mau kemana?" tanya Jovanka.


"Apa kita tidur tidak menggunakan alas?"


"Aku bisa memasang alasnya, tidak perlu memanggil pelayan," kata Jovanka.


"Tidak boleh! duduk saja, ini tugas maid. Untuk apa mereka di gaji, jika kita harus menggantinya sendiri," ucap Erick, dan kemudian keluar dari dalam kamar.


"Ih.. arogan, ganti alas ranjang saja harus suruh orang lain. Apa guna tangan ini, kalau tidak di pergunakan." Jovanka ngedumel sendiri.


☘️☘️☘️


"Beratnya normal Tuan," sahut dokter Sonia.


"Sepertinya, Mrs Godfrey sangat disiplin. Sehingga berat babies tidak berlebih," ucap dokter Sonia.


"Apa ada keluhan Mrs Godfrey?" tanya dokter Sonia.


"Ada Dok, Apa saya tidak bisa mengkonsumsi cokelat atau makan yang manis-manis sama sekali?" tanya Jovanka.


"Saya ingin makan es krim." sambung Jovanka.


"Boleh Mrs Godfrey, tapi. Ada tapinya, asal jangan berlebih. Apapun yang berlebih itu tidak bagus," kata dokter Sonia.


"Dengarkan." titah Erick.


Jovanka mencebikkan bibirnya, dan memainkan bola matanya menatap Erick.


"Dok, apa sudah kelihatan jenis kelamin babies?" tanya Erick.


Dokter Sonia menggerakkan alat USG di atas perut Jovanka.


"Sepertinya, mereka tidak ingin menunjukkannya. Oh... sepertinya, ada putri yang yang membangkang. Lihatlah..." dokter Sonia menunjuk pada baby yang menghadap depan.


"Putri?" terlihat wajah Erick gembira.


"Apa ketiganya putri semua?" tanya Jovanka.


"Belum terlihat Mrs Godfrey, kedua baby sepertinya pemalu," ucap dokter Sonia.


***


Jovanka berada dihalaman belakang, dia berjalan-jalan. Setelah menghabiskan dua burger, dan satu gelas susu.

__ADS_1


Bastian datang menghampiri Jovanka, dengan menenteng tas ransel dipundaknya.


"Kak Tian sudah mau berangkat? bersama siapa?"


"Bersama Erick, apa kau lupa. Hari ini dia akan menjemput kedua aunt Maria dan uncle Axelo" kata Bastian.


"Oh lupa, Jo selama hamil sering lupa. Mungkin otak Jo diambil babies,, hingga Jo menjadi pikun" ucap Jovanka seraya tertawa.


"Jo jaga kesehatan ya. Ikuti apa yang dikatakan oleh dokter," ucap Bastian.


Bastian memeluk Jovanka, dan memberikan kecupan dikedua belah pipinya.


"Kak Tian harus sering datang ya, dan bawa calon kakak ipar." goda Jovanka.


"Kalau kakak ipar, masih jauh."


"Jangan terlalu lama kak Tian, nanti di ambil orang calon kakak ipar" kata Jovanka.


"Do'akan, agar hatinya terbuka untuk hubungan yang baru," ucap Bastian.


Begitu Bastian pergi, Jovanka berdiri dan menghampiri kolam ikan yang ada di halaman belakang. Halaman belakang merupakan tempat favorit Jovanka untuk duduk sembari memandang bunga-bunga yang sedang bermekaran.


Tiba-tiba...


"Tolong...!" terdengar suara rintihan orang meminta tolong.


"Siapa?"


Dengan langkah yang pelan dan hati-hati, Jovanka mendekati suara yang minta tolong.


Tiba-tiba, satu tangan menutup mulut Jovanka dengan sapu tangan dari belakang. Membuat Jovanka tidak berkutik, dan pingsan.


Begitu tersadar...


Jovanka menggeliat, matanya sedikit demi sedikit terbuka.


"Huu..hh.." gumam Jovanka seraya memegang pelipisnya.


"Pusing" ucap Jovanka.


Jovanka membuka mata dengan lebar, kaget. Di mana dia saat ini, karena tadi dia membantu seorang maid yang pingsan di dekatnya.


"Kenapa aku di sini," ucap Jovanka.


Jovanka bangkit dari berbaring, karena masih merasa pusing menerpa kepalanya. Jovanka duduk dipinggir tempat tidur yang terbuat dari kayu.


"Di mana ini?"


Jovanka berusaha untuk berdiri, setelah merasa pusingnya sedikit berkurang.


Dengan perlahan, Jovanka melangkahkan kakinya menuju pintu.


Tangan Jovanka memegang handel pintu dan berusaha untuk membukanya.


"Di kunci."


"Hee..! buka..!" teriak Jovanka sembari memukul pintu dan menendang.


"Apa aku di culik?"


"Siapa di luar!" teriak Jovanka, tetapi tidak ada yang menjawabnya.


"Aaahh..!" teriak Jovanka dengan perasaan kesal.


"Aduh...!" Jovanka memegang perutnya yang terasa sakit tiba-tiba.


"Babies, jangan nakal ya. Sepertinya, ada yang ingin bermain-main dengan kita," ucap Jovanka seraya mengelus perutnya.


Seakan-akan tahu apa yang dikatakan oleh Jovanka, perut Jovanka yang terasa sakit tadinya. Kini berangsur-angsur hilang sakitnya.

__ADS_1


"Kalian anak-anak yang pengertian, kalian harus bantu mommy untuk berpikir ya. Agar kita bebas," ucap Jovanka sembari mengitari tempat di mana dia saat ini berada.


🌜 Next🌛


__ADS_2