
Happy reading guys and jangan lupa untuk menekan tombol like like π
βοΈβοΈβοΈβοΈ
Dokter dan polisi membahas kondisi Rachel, di dalam kamar. Rachel berusaha untuk melarikan diri dengan cara membujuk kedua suster untuk membantunya kabur melalui jendela kamar.
"Suster, ayolah. Tolong bantu aku, aku tidak pernah melakukan kejahatan seperti yang dikatakan oleh polisi itu. Mereka sengaja menjebak aku" ucap Rachel yang berusaha membujuk kedua suster.
"Maaf miss, jika anda merasa tidak bersalah. Anda katakan terus terang pada pihak polisi, jangan mengelak dengan cara mau melarikan diri. Sampai kapan juga kasusnya tidak akan selesai, dan anda akan menjadi buronan polisi. Hidup anda tidak akan tenang" ucap Suster menasehati Rachel.
"Diam kau..! aku tidak butuh ceramah mu itu...!" sergang Rachel dengan wajah yang marah.
"Sudah, tidak usah diberikan nasehat. Biar saja, dia yang menanggung akibat dari perbuatannya sendiri" ucap Suster yang yang diam sedari tadi, dia hanya menatap kearah Rachel dengan tatapan mata yang sinis.
Kedua polisi masuk kembali kedalam kamar bersama dengan dokter.
"Miss Weisz, karena anda dalam keadaan kondisi tidak memungkinkan untuk dibawa kekantor polisi. Kami akan mengintrogasi anda di rumah sakit, dan anda tidak diperkenankan untuk keluar dari dalam kamar ini. Tanpa seizin pihak polisi. Dan satu lagi, didepan kamar ini sudah kami tempatkan dua orang polisi," ucap polisi pada Rachel.
"Kenapa saya harus di jaga? saya tidak bersalah..!" emosi Rachel kembali tinggi, setelah mendengar dia tidak diperkenankan untuk keluar dari ruang perawatannya.
"Karena anda ditakutkan akan melarikan diri Miss Weisz."
"Sekali lagi aku katakan..! aku tidak bersalah, aku tidak ingin mencelakai Axelo Godfrey. Itu kecelakaan," ucap Rachel.
"Kami banyak memiliki bukti, anda ada hubungan dengan Andre Maurice. Anda mengenal pria yang bernama Andre Maurice kan ?" selidik polisi.
"Dia yang menyuruh saya menggoda Axelo, saya tidak ada hubungannya dengan Andre. Aku hanya orang yang dibayarnya, aku butuh uang." ujar Rachel dengan panik, wajahnya pucat.
"Apa wanita ini anda Miss Weisz?" polisi mengeluarkan gambar dari saku jaketnya.
Rachel memandang gambar dengan lekat, keningnya mengeryit.
"Itu.." Rachel seperti sangat familiar dengan wajah orang yang ada didalam gambar itu, tapi dia lupa. Di mana pernah melihatnya.
"Apakah ini anda miss Weisz?" polisi mengulangi pertanyaannya kembali.
"Tidak, itu bukan aku..!" tolak Rachel dengan tegas.
"Kami juga merasa, ini bukan anda miss Weisz. Karena gambar ini diambil lebih kurang 10 tahun yang lalu" ucap polisi.
"Anda ingin menjebak saya, padahal anda sudah tahu. Itu bukan saya..!" ucap Rachel dengan ketus.
"Mungkin anda tahu siapa wanita yang ada dalam gambar tersebut?"
"Tidak..! saya tidak tahu..!"
__ADS_1
"Maaf Tuan-tuan, pasien harus beristirahat," ucap dokter, setelah melihat raut wajah Rachel yang pucat.
"Baiklah, dua hari lagi kami akan datang untuk menanyai anda kembali miss Weisz" kata polisi.
Sepeninggal polisi dan dokter, Rachel turun dari ranjang. Tiang infus dipegangnya.
Rachel berjalan hilir mudik didalam kamarnya, keningnya sesekali mengeryit.
"Apa yang harus aku lakukan? siapa yang bisa aku mintai tolong, Andre..! kemana dia? emh...aku harus menghubungi mama."
Rachel mengambil ponselnya, yang disimpannya dibawah bantal.
Dengan duduk di ranjang, Rachel menghubungi Mamanya.
"Maa" ucap Rachel begitu ponsel Vanya sang Mama diangkat oleh Mamanya.
"Ada apa Rach? Mama sore baru kerumah sakit," ucap Vanya dari sambungan telepon.
"Maa, di sini ada polisi." beritahu Rachel pada Vanya.
"Polisi..!" pekik Vanya dari sambungan telepon.
"Maa, mereka menuduh aku telah mencelakai Axelo. Padahal itu tidak benar, jatuhnya Axelo itu karena kecelakaan Maa. Mama harus percaya pada Rachel, Mama harus mengeluarkan Rachel dari rumah sakit maa. Rachel tidak mau di penjara..!" ucap Rachel dengan suara yang panik dan bergetar.
"Maa, hubungi Andre. Dia pasti bisa mencari jalan untuk aku melarikan diri, bilang padanya. Aku akan mengatakan pada polisi, jika dia tidak mau mengeluarkan aku dari masalah ini. Aku begini karena membantunya, katakan Maa...!" tanpa menunggu apa dikatakan oleh Mamanya, Rachel memutuskan sambungan teleponnya.
"Rach..! Rachel...!" Vanya masih memangil-manggil Rachel.
"Dasar anak membuat susah saja..! sudah penyakitnya membutuh dana yang banyak, sekarang. Dia berurusan dengan polisi, Andre juga. Kemana dia? sudah seminggu ini, dia hilang. Ponselnya juga tidak aktif"
"Aaarrgghhh...! mati saja kalian semua..!" pekik Vanya dengan kesal.
πππ
Berita kehamilan Jovanka membuat Erick semakin posesif, Jovanka tidak diperbolehkan untuk berjalan-jalan keluar dari Mansion.
"Kenapa nasibku seperti ini?" Jovanka memegang pagar gerbang utama, wajahnya menempel diterali pagar. Wajahnya terlihat sangat sedih menatap keluar.
Jovanka mengantarkan Arisa yang mulai bekerja kembali, setelah dua hari libur. Karena kondisi Jovanka yang muntah terus menerus, sedangkan Erick pergi menuju saint Lucia. Sehingga Erick meminta agar Arisa untuk meliburkan diri, untuk menemani Jovanka.
Setelah Arisa berangkat, Jovanka masih berdiri dipintu gerbang utama. Sampai mobil yang membawa Arisa hilang dari pandangan matanya.
"Jo..!" sapa Ja'far seraya mendekati tempat Jovanka berada.
"Aku seperti narapidana ya, kalian bisa berjalan-jalan diluar sana. Sedangkan aku terhalang pagar besi ini." gumam Jovanka.
__ADS_1
"Apa yang dilakukan Tuan muda, juga sebagai kebaikanmu Jo. Walaupun musuh Tuan muda sudah keatas, kita tidak tahu. Mungkin ada musuh yang lain mengintai keamanan keluarga Godfrey" ucap Ja'far dengan bijak.
"Apa hubungannya dengan aku? aku tidak mengenal mereka," ucap Jovanka.
"Jo, didalam perutmu itu ada keturunan keluarga Godfrey, banyak musuh di luar sana," ucap Ja'far.
"Kau sama saja dengan Tuan muda mu itu, sangat-sangat menyebalkan...!" seru Jovanka sembari balik badan meninggalkan Ja'far.
"Lihatlah, semua mengkhawatirkan kita. Tapi itu sangat menyesakkan" ucap Jovanka sambil memberikan elusan di perutnya yang belum terlihat membesar.
***
Bastian dan Sandra pulang dengan naik sepeda, karena jarak rumah tinggal para karyawan dan kantor yang dekat. Membuat para karyawan yang tinggal di rumah yang di sediakan oleh perusahaan pulang dengan naik sepeda.
"Tian, aku mau singgah ke market dulu. Kau pulang saja" kata Sandra.
"Kita sama-sama saja, aku juga mau ke market," sahut Bastian.
Dengan beriringan keduanya mengayuh sepedanya sembari berbincang-bincang dan tertawa.
"Tian, kenapa kau cepat kembali?" tanya Sandra yang mengetahui bahwa Bastian pulang kerumahnya.
"Adikku Jovanka tidak ada di rumah" jawab Bastian.
"Apa tetanggamu tidak ada yang tahu keberadaannya?" tanya Sandra.
"Tidak ada yang tahu, mungkin saja dia liburan. Jovanka itu gadis yang tidak bisa tinggal diam, karena sejak masih dalam kandungan. Dia selalu ikut kemanapun kedua orangtua kami pergi, bisa dikatakan. Jovanka itu lebih lama tinggal didalam tenda ditengah hutan. Daripada didalam rumah." cerita Bastian.
"Untung dia tidak menjadi gadis hutan" ucap Bastian sembari tertawa.
"Dia pasti gadis yang manis ya?" tanya Sandra.
"Iya, Jovanka gadis yang sangat menyenangkan. Dan sangat lembut" ucap Bastian.
"Aku sangat ingin berkenalan dengannya" ucap Sandra.
"Aku akan mengenalkan kau..."
Brak...
Belum selesai Bastian menyelesaikan apa yang ingin dikatakannya, tubuhnya terpental jauh bersama dengan sepeda yang dinaikinya.
"Bastian....!" pekik Sandra.
π Nextπ
__ADS_1