The Tyrant'S Desire (Hasrat Cinta Sang Penguasa)

The Tyrant'S Desire (Hasrat Cinta Sang Penguasa)
Melarikan diri


__ADS_3

**Jangan lupa untuk selalu menekan tombol like like like like like like ya, agar author semangat untuk selalu update.


Terima kasih atas dukungannya 🙏


🌟🌟🌟**


Tuan Fred lari dengan menarik tangan Arisa, setelah merasa cukup aman. Baru Tuan Fred berhenti berlari.


"Tuan, kita harus kembali!" seru Arisa kepada Tuan Fred.


"Tidak saat ini miss, orang-orang dari pertambangan pasti masih berada didalam goa. Kita harus mencari jalan untuk menyelamatkan Jovanka" ujar Tuan Fred.


"Siapa yang membawa Jovanka?" tanya Arisa.


"Pasti Tuan Exan, penjaga pertambangan" jawab Tuan Fred.


"Apa yang terjadi pada Jovanka? apa dia akan dibunuh?" Arisa panik, begitu membayangkan. Apa yang dihadapi Jovanka saat ini.


"Aaarrgghhh!" geraman dari dalam mulut Arisa, karena kesal.


"Kak Tian belum ketemu, kini Jovanka juga menghilang" ujar Arisa.


"Bagaimana ini Tuan? apa yang harus kita lakukan?" tanya Arisa sembari memandang wajah pria setengah baya tersebut.


"Kita kembali pulang" kata Tuan Fred.


"Kita tinggalkan Jo, tidak. Aku harus kembali kesana!" seru Arisa.


Arisa ingin kembali masuk kedalam goa, tetapi tangannya ditarik oleh Tuan Fred.


"Jangan gegabah, kita kembali dulu. Saya ada teman yang bekerja di pertambangan, saya akan tanyakan kepada dia. Dimana temanmu itu ditawan" kata Tuan Fred.


"Sungguh Tuan, jangan bohong" kata Arisa.


"Iya, ayo kita kembali kerumah" ucap Tuan Fred.


***


Di tempat berbeda, seorang gadis tidur diranjang. Disisi ranjang, duduk seorang pria. Tangan pria tersebut mengelus pipi mulus Jovanka dengan lembut. Kemudian wajah pria tersebut mendekati wajah Jovanka, dan terjadi kecupan yang dilakukan pria tersebut kepada bibir Jovanka.


"Lembut" gumam pria tersebut, setelah selesai memberi kecupan dibibir merah muda Jovanka.


Pria tersebut bangkit dari duduknya, dan beranjak keluar dari dalam kamar.


"Jaga, jangan sampai dia keluar" titah pria tersebut.


"Baik Tuan" sahut wanita yang berdiri didepan kamar, dengan menundukkan kepalanya.


Erick berjalan menuju ruang kerjanya, sebelum masuk kedalam ruang kerjanya. Ardan memanggilnya.


"Erick" panggil Ardan.


Erick menghentikan langkahnya, menunggu Ardan mendekat.


"Siapa yang kau bawa tadi? apa gadis itu?" tanya Ardan.


"Kau tidak perlu tahu" ketus Erick, dan meninggalkan Ardan diluar ruang kerjanya.

__ADS_1


"Hei Erick, aku ini ditugaskan Om Axelo untuk mengawasimu " kata Ardan.


"Untuk apa aku diawasi, bilang kepada orang tua itu. Istrinya, tolong diawasi. Jangan terus mengangguku" kata Erick.


"Kau harus tegas kepada wanita rubah itu" kata Ardan.


"Apa aku kurang tegas, aku sudah berulang kali mengusir wanita itu dari pulau ini. Dia tetap datang juga, pria tua itu lengah. Wanita itu bergegas ke sini" ucap Erick.


"Mungkin, Om Axelo tidak kuat lagi melayani napsunya diatas ranjang" ucap Ardan sembari ngekeh tertawa, membayangkan Rachel bergulat diatas ranjang dengan Om Axelo yang sudah hampir berumur 60 tahun.


"Menjijikkan ! apa dikiranya aku berminat dengan sisa-sisa orang tua itu, ciihh..!" geram Erick.


"Mungkin saja, kau dikiranya belum bisa move on darinya. Karena kau belum menikah juga sampai saat ini" kata Ardan.


"Aku tidak butuh pernikahan!"


"Dengan wanita itu, apa kau tidak ingin menikahinya?" tanya Ardan.


"Aku menikahinya, hanya untuk memberikan aku keturunan saja" ujar Erick.


"Bagaimana, jika kau jatuh hati pada dia?"


"Hal itu tidak mungkin terjadi, aku hanya butuh pewaris!"


"Pewaris? bagaimana jika wanita itu hanya dapat melahirkan anak perempuan, apa kau akan membuangnya?" tanya Ardan dengan serius.


"Mungkin" jawab Erick santai, tanpa beban.


"Gila! kau sudah gila!" seru Ardan, lalu meninggalkan ruang kerja Erick.


***


"Dimana ini?" gumamnya, seraya mengelus kepalanya yang sedikit pusing.


"Tadi aku didalam goa, dan sepertinya aku tadi jatuh kedalam lobang. Siapa yang menolongku. Apa aku ditolong oleh pekerja tambang yang mengejar aku tadi"


Jovanka bangkit dari ranjang, dan beranjak menuju pintu. Jovanka memegang handel pintu dan mengerakkan agar pintu terbuka.


"Tidak bisa, sial! aku ditawan oleh mandor sangar itu. Aku harus melarikan diri, mungkin saja aku akan menjadi pemuas napsu badaknya" pikiran kotor Jovanka sudah traveling kemana-mana.


Tidak salah juga, Jovanka sampai berpikir begitu. Setiap orang menjadi korban penyekapan, ujung-ujungnya berakhir menjadi pemuas napsu badak cula satu para kaum pria.


Jovanka melihat sekeliling kamar, untuk melihat. Dari mana dia bisa melarikan diri.


"Bingo..!" mata Jovanka melihat jendela kamar yang terbuka lebar, Jovanka bergegas mendekati jendela.


"Untung tidak tingkat, aku bisa kabur dari jendela" ujar Jovanka.


Jovanka naik keatas jendela, dan meloncat keluar. Dia tidak menyadari ada sepasang mata yang terus memandang apa yang dilakukannya melalui layar televisi.


Orang yang memandangnya tersenyum, sembari mengelus dagunya yang sudah ditumbuhi bulu-bulu halus.


"Menarik, aku suka dengan gadis pemberani. Dan nakal" smirk terlihat disudut bibirnya.


"Mari kita bersenang-senang, Baby" ucap pria tersebut, senyum smirk terus terlihat dibibir pemuda tersebut.


Jovanka berjalan mengendap-endap, dengan waspada.

__ADS_1


"Ini sepertinya tidak berada di lokasi pertambangan? arah mana rumah Tuan Fred?" setelah berhasil keluar, Jovanka bingung. Dimana dia saat ini.


Jovanka terus berjalan menyusuri jalan dengan waspada, wajahnya menunduk. Sampai, dia mendengar suara derap langkah kaki kuda.


"Sial! pasti Conan, lagi jalan-jalan. Aku harus menjauh dari jalan ini" Jovanka memutar badannya dan setengah berlari menjauh dari jalan.


Brukk..


Karena kurang hati-hati, Jovanka menabrak tubuh orang yang datang berlawanan arah dengannya.


"Aduh..!" karena tubuh yang ditabraknya begitu kokoh, Jovanka terdorong kebelakang. Dan jatuh terduduk.


"Maaf Miss..maaf!" ucap pria tersebut kepada Jovanka, dan menolong Jovanka untuk berdiri.


"Tuan! kau membuat bokongku sakit!" seru Jovanka seraya mengelus bokongnya.


"Maafkan saya Miss" ucap pria tersebut.


"Apa bokongnya masih sakit?" pria tersebut menatap kearah bokong Jovanka.


"Hei..! jaga mata anda Tuan, bokongku bukan tontonan!" seru Jovanka dengan mata mendelik tajam, kedua tangannya menutupi bokongnya.


"Hehehe! maaf Miss, saya hanya ingin bantu. Mungkin saja, bokong Anda terluka. Biar saya antarkan kerumah sakit" kata pria itu lagi.


"Hanya jatuh begitu, bokongku tidak mungkin terluka. Bokongku bukan terbuat dari silikon, tidak akan pecah. Jatuh begitu saja" ucap Jovanka dengan jutek.


"Maaf!" pria tersebut mengatupkan kedua tangannya di depan dadanya.


"Maaf saya terima, minggir Tuan" ucap Jovanka, karena pria tersebut menghalangi jalannya.


"Silakan Miss" pria tersebut minggir, Jovanka melewati tubuh pria tersebut. Tanpa melirik kearah pria sedikitpun.


"Aku harus kemana?" dipertigaan, Jovanka bingung. Harus mengambil jalan yang mana.


"Kiri kanan, kanan kiri" bingung Jovanka.


"Miss, ada yang bisa saya bantu?" tiba-tiba suara terdengar dari belakang, membuat Jovanka yang sedang berpikir kaget.


"Awwww..! Tuan, kau membuat aku kaget saja!" seru Jovanka sembari memegang dadanya.


🌟🌟🌟**Next..


Jangan lupa untuk menekan tombol 👇👇


Like


Like


Like


Like


Hadiah


Hadiah


Vote

__ADS_1


Vote


Banyak bener permintaan author 🤭🙏**


__ADS_2