The Tyrant'S Desire (Hasrat Cinta Sang Penguasa)

The Tyrant'S Desire (Hasrat Cinta Sang Penguasa)
Happy ending


__ADS_3

"Aku mau melahirkan...!" seru Jovanka dengan suara keras, dan terlihat wajahnya yang meringis menahan sakit.


Kepanikan terjadi, para undangan tidak fokus menatap kearah pengantin yang baru saja mau melakukan ritual pernikahan.


Arisa yang mendengar teriakkan Jovanka, kaget. Dengan spontan membalas teriakan Jovanka.


"Jo..! ini pernikahan ku, jangan melahirkan dulu..!" balas Arisa dengan berteriak juga.


"Sakit..! anakku mau keluar..! kau teruskan saja pernikahanmu, jangan pedulikan aku..!" seru Jovanka yang tidak ingin menganggu jalannya pernikahan temannya.


"Pendeta, lanjutkan. Tapi percepat, langsung tukar cincin dan ciuman," ucap Arisa Kepada pendeta yang bingung.


"Pendeta, bagaimana jika di loncat saja. Tidak ada tukar cincin, langsung ke ciuman," ucap Ardan dengan tersenyum menatap Arisa.


Pendeta makin bingung menatap Ardan dan Arisa.


Di tempat Jovanka, Erick juga panik.


"Marcio! panggil dokter...!" teriakkan Erick bergema di tengah kepanikan para undangan.


Mendapatkan titah Erick, Marcio langsung berlari. Tanpa berpikir, yang seharusnya Jovanka yang dibawa. Bukan dokter yang di panggil.


"Tahan napas Jo...!" seru Erick yang jongkok didepannya.


"Tahan napas? kalau tahan napas, aku mati berengsek..! kau ingin mencari mommy baru untuk ketiga babies..?" mata melotot, bibir meringis menatap Erick dengan kesal.


"Bukan tahan napas selamanya, begini," Erick memperagakan cara bernapas wanita melahirkan yang belakangan ini, yang sering dilihatnya di Entube.


Maria dan Axelo baru tiba, langsung memarahi Erick, karena bukan membawa Jovanka menuju ruang bersalin yang sudah disediakannya di dalam Mansion. Dokter juga sudah standby saat kandungan Jovanka memasuki bulan kedelapan.


"Kenapa masih di sini, kalau sudah terasa sakit bawa ke rumah sakit. Apa ingin lahir didepan para undangan..!" seru Maria.


"Oh iya, Ardan..! suruh pilot siapkan helikopter..!" seru Erick seraya mendorong kursi roda Jovanka.


Ardan bingung, meninggalkan Arisa di altar. Atau memenuhi keinginan Erick untuk melakukan titahnya.


"Erick, kau sudah melakukan persiapan untuk Jovanka melahirkan di sini. Untuk apa pilot..?" perkataan Maria membuat Erick tersadar, dan menepuk jidatnya.


"Lupa ," sahut Erick, yang terlihat sangat gugup.


"Bawa Jovanka, biar mommy mengurus tamu di sini." titah Maria.


Erick mendorong kursi roda Jovanka, sedangkan Jovanka meringis memegang perutnya.


"Masih sakit sayang?" tanya Erick yang tanpa sadar memanggil Jovanka dengan sayang.


"Sakitnya tidak terus-menerus, sepertinya babies triplets ini ikut acara pernikahan Arisa. Mendengar musik iringan pengantin, mereka bertiga sepertinya kompak menari," ucap Jovanka.


Dalam perjalanan menuju tempat bersalin yang telah di sediakan oleh Erick, mereka bertemu dengan Jonathan yang selalu ditempeli Vannesa.


"Mau kemana?" tanya Jonathan.


"Apa pernikahannya telah selesai, padahal kami berdua ingin numpang nikah juga," ucap Vannesa.


"Minggir..!" titah Erick pada keduanya.


"Aku mau melahirkan," ucap Jovanka.


"Melahirkan, ketiga babies triplets apa sudah ingin keluar?" tanya Vannesa.


"Iya, kau nanti akan menjadi babysister," ucap Jovanka, walaupun dalam keadaan perut yang sakit. Jovanka masih sempat-sempatnya menjahili Vannesa.


"Sakit..!" pekik Jovanka


"Tuan, dokter sudah menunggu..!" teriak Marcio dari depan pintu ruang bersalin khusus untuk Jovanka.


Erick mendorong kursi roda Jovanka kembali, Jonathan dan Vannesa termangu menatap punggung Erick yang mendorong kursi roda Jovanka.


Pernikahan Ardan dan Arisa tetap dilakukan, walaupun tanpa kehadiran Jovanka dan Erick.


"Dasar babies triplets, mereka memilih hari ini untuk keluar. Kenapa tidak tunggu akhir bulan saja," ucap Arisa.


Resepsi pesta pernikahan tetap diadakan, tapi tanpa dihadiri sang pengantin. Para tamu undangan ditemani oleh granny dan kedua Tante Anne dan Tante Natasa yang baru datang, hingga tidak melihat kehebohan yang terjadi.


Dalam ruang bersalin, Jovanka sudah berada di atas ranjang. Erick duduk disisi ranjang, kedua tangannya menggenggam erat tangan Jovanka.

__ADS_1


"Sakit...!" rintih Jovanka.


"Dokter, kenapa belum sembilan bulan sudah mau melahirkan? apa ada masalah dengan babies triplets?" tanya Erick yang khawatir.


"Tidak ada masalah dengan baby-nya Tuan, berat babies juga juga sudah bisa untuk dilahirkan. Jangan khawatir, sering terjadi bayi itu lahir belum genap sembilan bulan." ucap dokter Sonia.


"Sakit." teriak Jovanka.


"Tuan, semua persiapan untuk operasi sudah dipersiapkan." ucap dokter Sonia.


Karena Jovanka hamil kembar, Erick tidak ingin mengambil resiko untuk Jovanka melahirkan normal.


"Rick." mata Jovanka menatap Erick.


"Aku akan tetap di sini, jangan cemas." Erick berdiri didekat kepala Jovanka.


Saat dokter melakukan operasi Caesar, Erick memberikan ciuman berkali-kali di kening Jovanka. Agar Jovanka tenang.


"Tenang sayang, anak kita akan keluar. Aku mencintaimu Jo." bisik Erick ditelinga Jovanka.


Spontan Jovanka melirik Erick.


"I love you my wife." bisik Erick.


"Sangat... sangat mencintaimu.." ucap Erick dan melabuhkan kecupan dibibir Jovanka yang terbuka.


Keduanya tidak tahu, saat bayi pertama dikeluarkan dari perut Jovanka. Karena kalimat cinta dari mulut Erick, membuat keduanya saling menatap penuh cinta.


"Baby girl" ucap dokter Sonia.


"Baby boy" ucap dokter Sonia sekali lagi.


Erick dan Jovanka masih dalam posisi saling pandang, hingga tidak sadar dengan apa yang dikatakan oleh dokter Sonia.


"Yang terakhir, baby boy." ucap dokter Sonia.


"Tuan...!" dokter Sonia melihat kearah Erick.


"Mereka melupakan baby-nya, karena saling pandang." batin dokter Sonia.


Suara tangisan berjamaah ketiga babies triplets, membuat saling pandang penuh cinta berakhir.


"Babies...!" teriak Jovanka dan Erick.


"Ketiga babies lahir dengan kondisi sehat Tuan, satu girl dan dua boy." beritahu dokter Sonia.


"Mereka sudah lahir? kenapa aku tidak tahu perutku di buka untuk mengeluarkan ketiganya?"


"Karena anda berdua asik saling pandang ." goda dokter Sonia.


Wajah Jovanka memerah.


"Mana anakku?" tanya Erick.


"Kamar sebelah Tuan, silakan anda kesana Tuan. Biar kami membersihkan Mrs Godfrey dulu." ucap suster.


"Sayang, aku melihat anak-anak kita dulu ya. Love you," ucap Erick, dan mengecup bibir Jovanka.


Jovanka menganggukkan kepalanya.


☘️☘️☘️


Setiap hari dalam Mansion penuh dengan kegembiraan, ketiga babies membuat suasana mansion yang berbeda.


"Mana babies .?" tanya Erick, saat masuk kedalam kamar babies. Dia tidak melihat ketiga babies triplets.


"Mereka dibawa mommy," sahut Jovanka.


"Kenapa mommy dan Daddy selalu menguasai babies kita, aku cepat pulang karena ingin bermain dengan mereka." gerutu Erick.


"Malam waktumu dengan babies."


"Malam mereka tidur, kenapa babies kita malam tidur dan siang mereka bangun? kata orang-orang, babies malam sering terbangun. Mereka juga tidak menyusu saat malam, hanya sesekali. Apa yang dikatakan orang itu membuat aku khawatir, kau tidak bisa istirahat malam hari" kata Erick.


"Bagaimana dia tahu anaknya tidak bangun di malam hari, dia tidur pulas didalam kamar. Aku yang terbangun karena mendengar tangisan mereka, untung ada Vannesa yang tidur dikamar bayi." batin Jovanka.

__ADS_1


"Sayang, jika begitu mudah mengurus bayi. Bagaimana jika kita buat sepasang lagi."


"Jahitan ini saja belum kering, kau sudah berpikiran untuk membuat anak lagi..!" Jovanka melotot.


"Jadi kapan kita bisa membuat bayi lagi?" tanya Erick.


"Tunggu saja menantu dan anak kita melahirkan cucu untuk kita," ucap Jovanka, kemudian meninggalkan Erick didalam kamar. Untuk menjemput babies triplets dikamar granny dan grandpa Axelo.


"Apa! kalau itu bukan aku yang buat, tapi babies triplets yang menghasilkan keturunan." gumam Erick.


"Aku ingin menambah anak Jo." gerutu Erick.


🍀🍀🍀


Skip...


Dua tahun berlalu, hari ini pernikahan Bastian dan Sandra di gelar. Ketiga babies triplets menjadi pengiring pengantin dengan sang princess Alice Godfrey di tengah membawa keranjang bunga, di kiri dan kanan kedua saudaranya Aaric Godfrey dan Archard Godfrey sebagai pendamping.


Senyum lebar selalu menghiasi bibir Alice, berbeda dengan kedua saudaranya. Bibir manyun dan tidak bersemangat, selalu ditunjukkan keduanya.


Bukan tanpa sebab kedua Prince Godfrey manyun dan tidak bersemangat, di karenakan keduanya ingin memegang keranjang untuk menabur bunga. Tapi sang princess menjadi pemenang.


Ketiganya berjalan dengan baik, hanya bibir manyun masih tercetak dibibir sang prince. Sang princess senyum manis selalu terlukis dibibirnya.


Tiba-tiba, tangan Aaric memegang keranjang bunga. Hingga jalan ketiganya berhenti.


"Lepas..!" seru Alice.


"Tidak..!" balas Aaric.


Melihat Aaric memegang keranjang bunga, Archard sang bungsu mengikuti apa yang dilakukan kedua saudaranya.


Sehingga ketiganya saling menarik keranjang untuk memiliki, sehingga ketiganya jatuh dengan bunga yang bertebaran dimana-mana.


Para tamu tertawa diam-diam, melihat drama yang dilakukan oleh putra dan putri sang penguasa. Erick Godfrey.


Bastian dan Sandra yang tepat dibelakang mereka terperangah, hanya dapat menghela napas.


"Oh my God! apa mereka akan mengacaukan pernikahan Bastian seperti mereka mengacaukan pesta pernikahan kita dulu..?" tanya Arisa pada Ardan yang duduk disampingnya.


"Mungkin," sahut Ardan seraya mengelus perut buncit Arisa .


"Triplets...!" teriak Erick menengahi pertengkaran ketiganya.


Ketiganya langsung terdiam, dengan wajah dan baju yang berantakan.


"Daddy, jahat...!" Alice menunjuk kedua saudaranya.


"Apa yang kalian lakukan?" Jovanka menarik kedua putranya untuk berdiri.


"Mau bunga mommy," ucap Aaric.


"Mau bunga," timpal Archard.


"Sama-sama ya," ucap Jovanka.


Karena bunga sudah berantakan dan tak berbentuk, ketiganya akhirnya duduk dengan wajah cemberut.😃


"Pernikahan kita, jangan dilakukan di sini," kata Vannesa pada Jonathan, yang luluh dengan dengan kegigihan Vannesa mengejar cinta Jonathan.


"Kita di Las Vegas saja," sahut Jonathan.


"Kita menikah diam-diam." balas Vannesa.


Jonathan menganggukkan kepalanya.


Akhirnya pernikahan Bastian dan Sandra terlaksana, dengan diawali drama triplets.


Fin...



Mampir ke cerita author yang lain👇👇


__ADS_1



__ADS_2