The Tyrant'S Desire (Hasrat Cinta Sang Penguasa)

The Tyrant'S Desire (Hasrat Cinta Sang Penguasa)
Menyamar


__ADS_3

**Happy reading guys 🥰


🏃🏃🏃**


Jovanka berdiri gagah didepan para bodyguard yang berbadan besar dan kekar, Jovanka tidak menunjukkan ekspresi wajah yang takut. Walaupun jantungnya sudah berdetak tidak karuan, namun Jovanka berusaha untuk menutupi rasa gugupnya.


Wajah para bodyguard, menatap Jovanka dengan tatapan yang sangat menakutkan. Badan mereka yang besar membuat, Jovanka seperti kurcaci di antara para raksasa.


"Badan mereka sangat mengerikan? apa yang mereka makan, sehingga badan mereka semua seperti badan raksasa" gumam Jovanka.


"Miss, anda sudah bosan hidup? anda cari mati !" seru pria kekar yang berdiri didepan Jovanka, sepertinya. Pria tersebut adalah pemimpinnya.


"Aku bukan mencari mati, Tuan! aku mencari temanku yang bernama Arisa Maurer" ucap Jovanka.


"Tidak ada orang yang bernama Arisa meller!" ucap pria tersebut.


"Arisa Maurer Tuan! bukan Arisa Meller" ujar Jovanka, karena pria berbadan kekar tersebut. Salah menyebut nama Arisa.


"Badan saja yang besar, tapi tuli" dalam benak Jovanka, seraya menatap kearah orang-orang berbadan kekar didepannya.


"Arisa Maurer..Arisa meller tidak ada disini! silakan pergi miss, jangan sampai kami berbuat kasar. Dengan menyeret dari anda depan mansion, disini daerah terlarang. Bagi orang yang tidak berkepentingan" ucap pria berbadan besar dengan kedua tangannya bersedekap didadanya, membuat otot-otot di lengannya menonjol.


"Jangan bohong ! aku tahu. Pemilik rumah ini telah menculik temanku Arisa, lepaskan temanku. Kalau tidak, aku akan menghancurkan tempat terkutuk ini!" seru Jovanka dengan suara yang keras dan lantang.


Pria kekar saling pandang, dan terlihat senyum meremehkan dibibir mereka.


"Sial! mereka menganggap aku tidak ada apa-apanya" kesal Jovanka, melihat pria badan kekar tersebut menganggap sepele memandangnya.


Dengan perasaan yang kesal, tiba-tiba. Jovanka melayangkan kakinya menendang pria berbadan besar didepannya.


Brukk...


Kaki kecil Jovanka berhasil merobohkan badan kekar tersebut dengan sekali tendangan.


"Aduh..!" pria yang mendapatkan tendangan kaki Jovanka, langsung terduduk di atas kerikil.


"Hei...!" teman-teman pria kekar yang jatuh ditendang Jovanka, menghampiri temannya dan ada yang mendekati Jovanka.


"Ja'far, kau tidak apa-apa?" tanya temannya.


"Tidak apa-apa, tangkap gadis itu!" serunya.


"Kau mencari mati miss!" seru pria berbadan kekar kepada Jovanka.


Jovanka tidak menanggapi ucapan pria tersebut, dia masih merasakan sakit dikakinya.


"Duh...duh...!" Jovanka juga merasakan sakit dikakinya, Jovanka mengurut kakinya.


"Keras sekali badannya, seperti menendang batu besar. Tidak sia-sia kak Tian menyuruh aku belajar beladiri" ujar Jovanka.


"Kau..! tamat riwayatmu !" ujar pria yang ditendang oleh Jovanka.


"Serang!" ujar pria yang ditendang oleh Jovanka, karena merasa kesal dan sedikit malu.


"Berhenti!" suara keras menghentikan para pria kekar yang ingin menyerang Jovanka.


"Miss Lin" ucap pria kekar kepada wanita setengah baya.


Seorang wanita setengah baya, yang memakai baju model cheongsam menghampiri pria kekar tersebut. Dan berbicara dengan pelan.


Mendengar apa yang dikatakan oleh wanita tersebut, para pria kekar langsung berubah menatap kearah Jovanka.


"Mencurigakan? apa yang mereka bincang kan? heemm..aku harus waspada" gumam Jovanka.

__ADS_1


Walaupun masih merasakan sakit dikakinya, Jovanka berdiri siaga. Menunggu serangan dari para pria berbadan kekar.


"Miss, ikut saya" ujar wanita itu kepada Jovanka.


"Aku?" Jovanka menunjuk kearah diri sendiri.


"Iya" sahut wanita tersebut.


Jovanka berjalan mengikuti wanita tersebut dengan kewaspadaan yang penuh, begitu tiba didepan pria badan kekar yang menjadi korban kakinya. Jovanka melambatkan langkah kakinya.


"Badan dibesarin, tapi tidak ada tenaga. Weekk " ejek Jovanka, seraya menjulurkan lidahnya kepada pria yang menjadi korban kakinya.


Pria yang berbadan besar, mendengus. Dan membalikkan badannya, dia kesal melihat Jovanka meledeknya.


Rekan-rekannya juga senyum tersembunyi, karena takut menyinggung rekanya yang ditendang oleh Jovanka.


Begitu Jovanka dan miss Lin tidak kelihatan lagi, pria tersebut langsung menghentak-hentakkan kakinya dengan kesal.


Tawa terdengar dari mulut rekan-rekannya.


"Sebel..sebel..!" seru pria yang bernama Ja'far.


"Badan besar, tenaga kurang" ledek temannya.


"Ja'far, kau harus menjadi pria macho yang sesungguhnya. Jangan merasa kesal keluar sifat manismu itu" goda temannya.


"Aku pria tulen!" seru Ja'far dengan membusungkan dadanya.


"Macho.." ujar seorang temannya sembari menowel pipi Ja'far yang chubby.


"Awas Kalian ya!" ancam Ja'far.


"Aku tadi tidak siaga" Ja'far membela diri.


"Ya..ya.. tidak siaga" ledek rekannya yang lain.


Dengan perasaan yang kesal, Ja'far meninggalkan rekan-rekannya.


"Awas gadis itu, aku akan membuat hidupnya menderita didalam Mansion" gumam Ja'far.


Miss Lin membawa Jovanka kesatu ruangan yang cukup besar, dan mempersilakan Jovanka untuk duduk.


"Saya kesini bukan untuk duduk! mana laki-laki itu, jangan beraninya menculik seorang wanita. Keluar dia, hadapi aku !" seru Jovanka tanpa terlihat rasa takut.


"Sabar miss, Tuan akan datang. Tuan masih ada urusan yang dikerjakan" kata wanita tersebut.


"Mrs.."


"Panggil saya Miss Lin, saya yang mengelola mansion ini" ucap Miss Lin.


"Bukan dia saja yang ada urusan, saya juga ada urusan" ujar Jovanka.


"Cepat, bebaskan Arisa dan kak Tian!" ujar Jovanka dengan emosi, kakinya menendang kaki meja kecil didekatnya.


"Silakan duduk miss" Miss Lin tetap tenang menghadapi Jovanka yang emosi.


Tiga orang pria masuk kedalam ruangan tempat Jovanka berada, Miss Lin menundukkan kepalanya. Saat tiga pria tersebut lewat didepan miss Lin.


Pria yang berjalan didepan, mengibaskan tangannya. Kemudian miss Lin keluar.


Jovanka melihat ketiga pria tersebut, satu orang dikenali oleh Jovanka. Yaitu pria yang datang kerumahnya dikota dan di penginapan.


"Apakah pria yang berjanggut panjang dan jorok itu Penguasa pulau ini?" dalam benak Jovanka, saat melihat pria yang berjalan didepan. Raut wajahnya sangat mengerikan, janggutnya panjang, kulitnya coklat. mungkin karena tidak pernah kena air..

__ADS_1


"Silakan duduk miss Jovanka Lovata Reuel" ucap pria yang berjanggut panjang kepada Jovanka.


Jovanka tetap berdiri, dia menatap wajah ketiganya dengan intens.


"Rick, lihat tatapannya. Sepertinya, dia ingin menendangmu. Seperti yang dilakukannya pada bodyguard mu didepan tadi " bisik Ardan, karena dia melihat Jovanka menendang bodyguard Erick sampai jatuh terduduk.


Erick tersenyum, namun senyumannya tidak terlihat. Karena ditutupi oleh janggut dan kumis lebatnya.


"Silakan miss" Marcio Black yang berdiri di dekat Erick Godfrey duduk, mentitahkan Jovanka untuk duduk.


"Biar kita bisa berbicara dengan santai, duduklah" ujar Erick Godfrey.


"Aku bukan ingin bersantai datang kesini, aku ingin mencari temanku Arisa Maurer !" seru Jovanka masih dalam posisi berdiri, kedua tangannya terkepal erat disamping kedua pahanya.


"Oh..saudaraku kak Tian, bukannya kalian menculiknya juga?" tanya Jovanka.


"Duduk dulu miss Jo" ujar Erick Godfrey.


"Jovanka! bukan Jo, Jo. Khusus untuk teman-temanku saja" tegaskan Jovanka.


"Oke, Miss Jovanka Lovata Reuel. Benar, tidak salahkan?" tanya Erick Godfrey.


"Silakan miss Jovanka Lovata Reuel" Ujar Marcio Black.


Jovanka meletakkan bokongnya di ujung sofa, dia siaga.


"Duduklah dengan benar miss, aku tidak akan mengganggumu'" kata Erick, saat melihat Jovanka duduk sedikit saja di sofa.


Jovanka menggeser bokongnya kebelakang sedikit, dan sedikit menyandarkan punggungnya.


"Sekarang kita bisa berbincang-bincang" ujar Erick.


"Cepat bebaskan saudara dan temanku !" seru Jovanka.


"Aku bisa saja membebaskan keduanya, tapi ada syaratnya" ucap Erick kepada Jovanka.


"Syarat? apa salah saudaraku dan Arisa? kami tidak mengenalmu " ucap Jovanka.


"Saudaramu telah melakukan kesalahan miss Jovanka, aku tidak bisa mentolerir kesalahannya itu" kata Erick Godfrey.


"Tunjukkan" Erick Godfrey menyuruh Marcio Black memberikan map kepada Jovanka.


Marcio Black memberikan map yang dipegangnya kepada Jovanka.


"Apa ini?" Jovanka menerima map yang diberikan Marcio Black.


"Lihatlah" titah Erick.


Jovanka membuka map dengan sedikit bergetar, Jovanka takut. Apa yang ada didalam map tersebut mengenai keadaan saudaranya Bastian Reuel.


Jovanka melihat ada gambar saudaranya sedang duduk didalam kamar yang tidak berisi barang apapun juga, Bastian terlihat sangat kurus dan lusuh.


"Apa kalian lakukan pada kak Tian?" Jovanka melempar map yang dipegangnya, dan jatuh tepat di kaki Erick Godfrey.


"Kakakmu telah melakukan perkosaan pada seorang gadis di pulau ini" beritahu Erick Godfrey.


Ardan langsung melihat kearah Erick, begitu Erick menyebutkan kesalahan Bastian Reuel kepada Jovanka.


"Kau benar-benar sudah tidak waras Erick, bisa-bisanya kau menipu gadis ini untuk memilikinya " batin Ardan.


"Perkosa!? Jovanka sontak kaget, badannya seketika lemah. pandangan matanya buram


Dan...

__ADS_1


Next...


Erick kau benar-benar jahat 🤔🤔


__ADS_2