The Tyrant'S Desire (Hasrat Cinta Sang Penguasa)

The Tyrant'S Desire (Hasrat Cinta Sang Penguasa)
Bimbang


__ADS_3

Happy reading guys 🥰


☘️☘️☘️


Langkah lebar Erick mengejar Jovanka yang berjalan didepannya.


"Ingat Mrs Godfrey, ancaman ku tidak main-main. Jika kau berani mencium pria lain, aku akan plester bibirmu itu," ucap Erick meraih pinggang Jovanka dengan erat, sehingga Jovanka sulit untuk melangkah.


Jovanka berhenti, dan menatap wajah Erick dengan lekat.


"Kau sudah di cium wanita itu, aku harus mencium pria juga. Agar kita seri, satu sama," ujar Jovanka.


"Kau mau membuat ciuman sebagai perlombaan..!" seru Erick dengan kesal.


"Hemh..bisa juga, bagaimana. Jika yang banyak di cium atau mencium, dia menang?" Jovanka menaik turunkan alisnya dan bibirnya ngerucut, hingga membuat Erick gemas melihatnya.


Dan...


Dengan sekali sentak, Erick menarik tengkuk Jovanka dan langsung melekatkan bibirnya ke bibir Jovanka. Bibir Erick meraup bibir Jovanka yang merucut, terlihat sangat menggoda pandangan mata Erick. Sehingga Erick kehilangan kendali, tidak perduli di mana saat ini mereka berada.


Mendapatkan serangan mendadak, Jovanka kaget. Tangannya memukul dada Erick untuk melepaskan tautan bibirnya, tetapi bibir Erick seperti ada lem. Membuat Jovanka tidak bisa melepaskan bibirnya.


Jovanka akhirnya pasrah, menerima bibir Erick bermain-main dibibir dan rongga mulutnya. Awalnya Jovanka diam tak merespon belaian lidah Erick, kini. Dia luruh, kedua lidah berperang memberikan kenikmatan bagi keduanya. Keduanya lupa, mereka saat ini berada di lapangan parkir. Berdiri ditengah-tengah mobil yang terparkir, jika mobil bisa berkata. Mungkin saja mobil akan marah, karena berbuat mesum didepan mobil yang terparkir di bawah panas matahari.


Ehemm...


Suara dehem, membuat kenikmatan yang mereka rasakan terlerai, Jovanka merasa malu. Tapi tidak dengan Erick, wajah Erick terlihat biasa-biasa saja. Sepertinya, apa yang dia lakukan. Sudah biasa dilakukannya. Berbeda dengan Jovanka, Jovanka langsung bergegas meninggalkan Erick. Dengan mulut komat-kamit menggerutu.


"Dasar pria gila..!" seru Jovanka meninggalkan Erick.


"Main nyosor saja, negara kita tidak tabu bercumbu didepan umum. Tapi itu bagi mereka yang punya otak mesum, otakku masih wajar." gerutu Jovanka.


Sedangkan Erick, sebelum pergi. Menyempatkan diri untuk memberikan tatapan mematikan kepada orang yang telah mengganggunya.


Orang yang mengganggunya, menunduk. Karena tatapan Erick seperti ingin membunuhnya.


"Jo..!" panggil Erick dengan langkah panjang, mengejar Jovanka yang sudah masuk kedalam rumah sakit.


Erick berhasil menyamakan langkahnya dengan Jovanka, Erick meraih jemari Jovanka dan menggandengnya.


"Lepas..!" Jovanka menarik jemarinya, tapi jemari Erick mencengkram jemarinya dengan erat.


"Jangan marah..! apa ingin lagi, apa yang kita lakukan diluar tadi?" ancam Erick.


"Ayo, kita ketempat Bastian dulu."


Erick membawa Jovanka keruangan tempat Bastian di rawat, bertepatan Bastian baru kembali dari CT scan ulang.

__ADS_1


"Kak Tian..!" Jovanka berlari dan memeluk Bastian yang duduk di kursi roda.


"Hei..Jo ! jangan lari..!" teriak Erick melihat Jovanka lari menghampiri Bastian.


Tetapi peringatan Erick diabaikan oleh Jovanka.


"Jo, kau sedang hamil. Kenapa kau lari seperti ingin lomba lari saja," ujar Bastian.


"Hehehe..! maaf.." Jovanka mengacungkan dua jarinya.


Erick menghela napasnya, sesaat tadi. Napas Erick seakan terhenti sesaat, melihat Jovanka berlari tanpa memikirkan keselamatannya dan baby dalam kandungannya.


"Serahkan pada saya suster," ucap Jovanka, mengambil alih kursi roda dari tangan perawat.


Erick mengangkat Bastian naik keatas ranjang.


"Terima kasih," ucap Bastian pada Erick.


"Bagaimana kak, apa punggung kak Tian masih terasa sakit?" tanya Jovanka.


"Sedikit, menurut dokter dari hasil CT scan ulang. Tidak ada keretakan pada tulang punggung, hanya ada memar. Mungkin karena waktu jatuh, punggung kakak dulu jatuh."


"Kurang ajar orang yang menabrak kak Tian, jika Jo jumpa dengan orang itu. Jo akan hajar, hingga dia tidak akan bisa jalan selamanya..!"


"Jo, kenapa kau seperti bandit saja gaya bicaramu?" Bastian heran, melihat Jovanka yang biasanya bicara dengan lembut dan teratur. Kini berbicara dengan frontal dan menggebu-gebu.


"Baru sadar, adikmu Jovanka sangat ganas dan galak." batin Erick.


"Kita harus mengikuti jaman kak Tian, jika kita lemah. Akan selalu tertindas," ucap Jovanka seraya melirik Erick sekilas.


Bastian tahu, arah pembicaraan Jovanka. Karena Bastian melihat, lirikan mata Jovanka kearah Erick.


"Aku keluar sebentar," ujar Erick, meninggalkan Jovanka dan Bastian.


"Jo, apa dia menindasmu? kenapa kau mau menikah dengannya?" tanya Bastian, setelah Erick keluar dari kamar.


"Aku melakukan ini demi kak Tian, aku tidak tahu. Ternyata, dia menjebakku," ucap Jovanka.


"Maaf, kak Tian sudah membawamu terlibat masalah. Tapi Jo, kakak tidak pernah terlibat kejahatan dengan teman kakak itu. Dia bertindak sendiri, dengan memeras perusahaan Erick Godfrey."


"Kenapa kak Tian berteman dengan orang itu?"


"Kakak dan orang itu bergabung dalam organisasi kemanusiaan bergerak dalam lingkungan, kakak tidak mengira teman kakak itu selalu memeras perusahaan yang di curigai merusak lingkungan." cerita Bastian.


"Terus, kenapa kak Tian bisa bekerja di perusahaan Erick?" tanya Jovanka.


"Kau tahu, kak Tian itu suka menggambar. Seperti almarhum mama, perusahaan Erick menawarkan kakak untuk menjadi desainer perhiasan. Kakak menerima tawaran itu, akhirnya kakak bekerja di perusahaan cabang di kota Valle " cerita Bastian.

__ADS_1


"Kak Tian ada hubungan dengan gadis itu?"


"Gadis mana?" tanya Bastian.


"Gadis yang menunggu kak Tian diluar, saat kak Tian didalam ruang operasi," kata Jovanka.


"Hubungan pertemanan, kakak pernah menolong saat dia ribut dengan mantan tunangannya," kata Bastian.


"Mantan tunangannya yang selingkuh dengan Rachel," kata Jovanka.


"Sandra pernah cerita, kau mengenalnya Jo?"


"Iya, wanita itu seorang iblis betina kak."


"Hus .! kau ini, ingat Jo. Saat ini kau lagi hamil," kata Bastian.


"Hups...!" Jovanka tertawa dan menutup mulutnya.


"Kenapa kau mengatakan bahwa dia iblis? apa kau cukup mengenalnya?"


Jovanka menceritakan semua apa yang diketahuinya mengenai hubungan Rachel dengan Erick dan, hubungan Rachel dengan Axelo.


"Betul-betul wanita tidak beraklaq, pasti uang yang membuatnya melakukan itu semua. Jo, jika kau tidak nyaman menjadi istri Erick. Tinggal saja," ucap Bastian.


Erick yang berada didepan kamar ingin masuk, menghentikan tangannya yang ingin mendorong pintu yang tidak tertutup rapat.


"Kurang ajar kau Bastian, berani-beraninya kau menyuruh istriku untuk meninggalkan aku. Kau ingin merasakan tidur dengan buaya, baiklah. Tunggu saja, jika Jovanka meninggalkanku. Kau juga siap-siap menghuni perut buaya." batin Erick dengan tangan terkepal.


"Pergi, meninggalkan anakku." gumam Jovanka.


"Iya, jika kau sudah lelah," ujar Bastian.


"Apa aku bisa kak, meninggalkan anakku?"


"Jo, apa kau tidak ada rasa cinta pada Erick? kakak lihat, Erick sepertinya mencintaimu. Karena dia sampai melakukan apapun agar bisa menikah denganmu," kata Bastian.


"Jo tidak tahu kak," jawab Jovanka.


"Jo, lebih baik kita menikah dengan orang yang mencintai kita. Daripada menikah dengan orang yang kita cintai terlalu dalam, karena jika kita tersakiti oleh orang yang kita cintai. Pasti akan teramat sakit. Karena kita terlalu mencintainya,"


"Pikirkan Jo, pupuk hatimu sedikit demi sedikit. Biar rasa cinta akan tumbuh didalam hatimu terhadap Erick, bagaimanapun. Kalian akan memiliki anak.


🌜 Next🌛


Apa yang akan di pilih Jovanka, seperti perjanjian awal. Jika memiliki anak laki-laki, Jovanka akan pergi.


Emhh...apa kita buat sad ending, Jovanka pergi. Anaknya tinggal pada Erick??

__ADS_1


__ADS_2