The Tyrant'S Desire (Hasrat Cinta Sang Penguasa)

The Tyrant'S Desire (Hasrat Cinta Sang Penguasa)
Bertemu


__ADS_3

Happy reading,menuju ending 🀩


☘️☘️☘️


"Rick, kemana kita harus mencarinya?" tanya Ardan yang berdiri disampingnya.


"Apa kita berpencar saja," ucap Bastian.


"Tidak! kita harus tetap bersama, mungkin saja ini semua jebakan," ucap Erick.


"Tian, kau di sini saja." titah Erick pada Bastian.


"Aku ingin ingin mencari adikku Jovanka, aku tidak bisa duduk berdiam diri di sini saja." Bastian menolak keinginan Erick, agar dia tidak ikut mencari Jovanka.


"Bastian! dengan kondisimu seperti ini, akan membuat kesembuhan kakimu itu tertunda. Lihat, kau berjalan saja masih menggunakan tongkat. Ini hutan, banyak binatang buas didalam sana menunggu kita. Belum lagi kita tidak tahu, siapa yang mengirimkan SOS itu. Seperti dikatakan Erick, bisa saja itu jebakan. Keluarga Godfrey itu banyak musuh," ucap Ardan panjang lebar.


"Tunggu di sini, jika sampai setengah jam kami tidak kembali. Pergi ke Mansion, beri kabar pada Marcio," ucap Erick.


"Saya Tuan?" tanya pilot helikopter.


"Tetap di sini bersama dengan Bastian, setengah jam kami tidak kembali. Kembali kalian berdua ke mansion."


Tiba-tiba...


Buk...


Lemparan batu hampir mengenai Erick.


"Siaga..!" titah Erick, sembari mengeluarkan senjata dari balik punggungnya. Begitu juga dengan Erick.


Bastian dan pilot berlari bersembunyi dibalik pohon yang ada didekatnya.


"Rick, dari sana..!" tunjuk Ardan kearah asal lemparan batu.


"Rick..!" panggil Bastian.


"Tetap di situ, kami akan mengejar orang itu," ucap Erick.


Erick dan Ardan pergi memasuki hutan dengan berlari dan waspada, apa yang akan menyambut mereka.


"Rick, berhenti. Lihatlah, sepertinya orang itu menginginkan kita mengikutinya." Ardan menunjuk ranting yang putus, seperti memberi tanda kepada Erick dan Ardan kearah mana mereka harus mereka tuju.


"Tetap waspada," ujar Erick.


Dengan berjalan perlahan, Erick dan Ardan mengikuti ranting pohon yang putus.


"Jo..!" seru Erick.


Erick berlari menuju tempat Jovanka yang bersandar di sebatang pohon, Erick jongkok didekatnya.


"Jo..!" Erick memanggil Jovanka, dan menangkup kedua pipi Jovanka.


"Bagaimana?" Ardan berdiri dibelakang Erick.


"Masih bernapas." Erick mendekatkan jemarinya didepan hidung Jovanka.


"Bagaimana dengan kedua orang itu?" tanya Erick.

__ADS_1


"Tewas, siapa yang melakukannya? apa orang yang menolong Jovanka? Sepertinya, orang yang membunuh kedua orang ini sangat terampil menggunakan pisau. Lihatlah, lemparan pisaunya tepat mengenai sasaran."


"Jo, bangun." jemari Erick mengusap pipi Jovanka.


Tiba-tiba


Tap..


Jemari Jovanka memegang jemari Erick dan memasukkan kedalam mulutnya dan menggigitnya, sehingga Erick kaget dan berteriak seraya menarik jemarinya dari gigitan Jovanka.


"Awww..!" teriak Erick dan menarik jemarinya yang digigit Jovanka.


"Ada apa!?" Ardan juga kaget, mendengar teriakkan Erick tiba-tiba.


"Dagingku...!" seru Jovanka sembari menjulurkan tangannya, mencari-cari sesuatu didepannya dengan mata terpejam.


Ardan spontan tertawa, melihat tingkah Jovanka.


"Bisa-bisanya dia memimpikan makan daging..," ujar Ardan.


"Wanita aneh..!" seru Erick seraya mengamati jemarinya yang merah bekas gigitan Jovanka.


"Mungkin dia lapar Rick," ujar Ardan.


"Jo, bangun." Erick kembali berusaha untuk membangunkan Jovanka.


"Berisik, aku capek..!" Jovanka membuka matanya sedikit, dan kembali memejamkan matanya.


"Rick, angkat saja. Sepertinya Jovanka sangat letih, dia lagi hamil begitu," ucap Ardan.


"Babies, kalian baik-baik saja kan?" Erick mengusap perut Jovanka.


"Bagaimana dengan kedua orang ini?" tanya Ardan.


"Cari identitasnya, biar kita tahu. Siapa kedua orang ini, ambil gambarnya keduanya." titah Erick pada Ardan.


Ardan melakukan apa yang diperintahkan oleh Erick.


"Apa kita tinggalkan mereka di sini?" tanya Ardan.


"Biarkan saja, berani-beraninya dia menggusik milik Erick Godfrey. Tidak ada tanah untuk mengubur jenazah keduanya, biar perut binatang buas menjadi tempat makam kedua jasadnya." Erick melangkah menggendong Jovanka, meninggalkan kedua tubuh yang sudah terbujur kaku.


πŸ€πŸ€πŸ€


Jovanka masih dalam keadaan tidur, dia tidak menyadari. Ada beberapa pasang mata yang cemas menunggu dia tersadar.


"Kenapa lama sekali dia sadar?" tanya Bastian dengan perasaan yang sangat khawatir.


"Tubuhnya lemah, sehingga dokter memberikan obat dalam infus. Dan obat itu ada obat tidurnya," ucap Erick, seperti yang dikatakan oleh dokter kepada Erick tadi.


Tok.. tok..


Pintu terbuka dengan masuknya Marcio dan Vannesa.


"Maaf Tuan, Miss Angelo memaksa untuk ikut," ucap Marcio, takut mendapat kemarahan Erick. Karena membawa Vanessa.


"Aku yang memaksa ikut, jangan salahkan dia," ucap Vannesa.

__ADS_1


"Pelankan suaramu, Jovanka masih tidur," ucap Erick pada Vannesa.


"Apa sudah tahu, identitas kedua orang itu?" tanya Erick.


"Yang wanita bernama Rebecca Jones, dan yang pria bernama Joey Badin. Yang wanita baru saja keluar dari dalam tahanan, dan Tuan muda. Rebecca dan Rachel menempati sel yang bersebelahan, sepertinya. Keduanya orang suruhan Rachel," ucap Marcio.


"Rachel, sepupu Sandra. Yang berselingkuh dengan mantan tunangan Sandra, didalam penjara juga dia masih memikirkan untuk melakukan kejahatan..!" seru Bastian, yang tidak habis pikir dengan isi otak Rachel.


"Hanya kematian yang akan membuat dia bertobat," ucap Erick dengan dingin.


"Masih berani dia menganggu, Marcio. Beri dia kenang-kenangan, agar dia senang." titah Erick.


"Baik.." Marco meninggalkan ruangan tempat Jovanka di rawat.


"Marcio..!" panggil Erick.


"Ya Tuan," sahut Marcio yang baru ingin membuka pintu kamar, untuk keluar.


"Apa sudah ketemu dengan identitas orang yang membunuh keduanya?" tanya Erick.


"Belum Tuan, tapi.." Marcio membatalkan ucapan, yang ingin mengatakan kecurigaan terhadap Altan Batuhan.


"Jangan aku katakan dulu, belum ada bukti jika Altan yang membunuh kedua orang itu." batin Marcio.


"Ada apa ?" tanya Erick dengan menatap wajah Marcio dengan intens.


"Tidak ada Tuan," sahut Marcio.


"Permisi." Marcio keluar dari dalam kamar inap Jovanka.


πŸ€πŸ€πŸ€


Dalam penjara terjadi kehebohan, karena Rachel tiba-tiba jatuh pada saat sedang mengantri mengambil makanan.


"Sipir...!" teriak para napi yang melihat Rachel terbaring dengan mulut berbusa.


"Awas..! jangan berkerumun di sini..!" teriak sipir penjara yang ingin memeriksa keadaan Rachel.


"Meninggal," ucap sipir, setelah memeriksa denyut nadi Rachel.


Mendengar ucapan sipir, seorang napi tersenyum puas sembari meninggalkan ruang makan.


Para napi kaget, walaupun mereka belum kenal betul dengan Rachel. Tetapi jika ada teman sesama napi yang meninggal, ada perasaan sedih.


"Kenapa dia meninggal? dia tidak mengeluh ada yang tidak enak dengan tubuhnya," ucap seorang napi.


"Tidak kau lihat tadi, mulutnya berbusa. Sepertinya dia tidak sakit, tapi dia dibuat sakit dan meninggal. Mungkin dia sudah menyinggung seseorang," ucap rekannya yang lain.


"Jangan ada yang membahas apa yang kita lihat hari ini, jika masih ingin bernapas," ucap rekan sesama napi.


Semua mengatupkan mulutnya, dan satu demi satu kembali mengantri untuk mengambil makanan yang sempat tertunda. Karena kejadian yang menimpa Rachel..


☘️☘️☘️


Altan Batuhan berdiri di tepi dermaga, setelah turun dari atas kapal yang membawanya dari Saint Angel.


"Selamat tinggal," ucap Altan dengan menatap kearah pulau Saint Angel yang terlihat kecil dari tempat dia berdiri.

__ADS_1


🌜 NextπŸŒ›


__ADS_2