
Erick bangga, karena akan mempunyai bayi kembar. Apalagi kembar tiga.
"Lihatlah, dia bangga. Aku yang akan membawa ketiganya, badanku akan bengkak." ngedumel Jovanka.
"Jo, jika kau ngedumel seperti itu. Tandanya kau tidak menghargai anugerah terindah yang Tuhan berikan padamu, Jo. Kakak akan ceritakan satu cerita padamu," ucap Bastian dengan memandang Jovanka dengan intens.
"Kakak tahu ini dari cerita Mama, kau tidak tahu Jo. Sebenarnya, kau itu terlahir kembar. Tetapi saudara kembarmu, seorang bayi laki-laki meninggal saat dilahirkan. Mama sangat menyesal, karena tidak menjaga kandungannya dengan baik," ucap Bastian.
"Kembar? aku punya saudara?" tanya Jovanka dengan mata yang membesar menatap wajah Bastian.
"Iya, dia lahir setengah jam setelah kau dilahirkan. Kau itu lahir, saat mama dan papa sedang melakukan penelitian di Mongolia. Fasilitas yang tidak memadai di camp, membuat Jonathan lahir tidak tertolong." sambung Bastian.
"Jonathan, namanya Jonathan?" terlihat kesedihan diraut wajah Jovanka.
Erick berdiri dari sofa, dia melangkah mendekati Jovanka. Dan kemudian Erick memeluk Jovanka yang terlihat sedih mendengar kisah saudara kembarnya.
Jovanka melingkarkan tangannya memeluk pinggang Erick yang berdiri disampingnya.
"Iya, Jonathan. Aku tidak melihat Jonathan, karena dia di makamkan di tempat mama dan papa melakukan penelitian. Aku saat itu tinggal di asrama, penyesalan terbesar Mama. Kenapa waktu itu mama tidak kembali ke sini, kenapa mama ikut dengan Papa. Jika mama kembali, mungkin Jonathan masih ada. Itu yang mama ceritakan Jo, kau juga begitu Jo. Jangan gegabah, turuti apa yang dikatakan oleh dokter. Ketiganya itu anugrah terindah yang dititipkan Tuhan padamu dan Erick, bagaimanapun bentuk tubuhmu nanti. Itu semua sebanding dengan apa yang akan kau terima Jo," ucap Bastian.
"Banyak orang yang ingin sepertimu Jo, tapi tidak tidak diberi." sambung Bastian kembali.
"Aku juga mau." Sandra menimpali perkataan Bastian.
Bastian tersenyum kepada Sandra.
"Honey, sudah jangan sedih," ucap Erick sembari mengusap-usap punggung Jovanka.
Deg...
Dada Jovanka berdesir, jantungnya berdetak lebih kencang. Saat mendengar suara Erick memanggilnya dengan sebutan honey.
"Honey? apa Erick sasar dengan yang dikatakannya. Mungkin saja, karena aku sedang sedih. Karena itu dia memanggilku dengan honey." batin Jovanka.
"Tidak akan ada yang mengatakan padamu walaupun badanmu seperti gajah, karena aku si belalai gajah yang membuatmu menjadi besar. Akan marah kepada orang itu," ucap Erick.
Jovanka melepaskan pelukannya, dan mendongak menatap wajah Erick.
"Aku sudah tenang, kau mengingatkanku dengan..!" Jovanka tidak melanjutkan ucapannya, dengan bibir manyun Jovanka mendelik menatap Erick.
Bastian dan Sandra ngekeh, melihat Jovanka kesal kembali pada Erick.
"Maaf," ucap Erick.
"Kak, bisa kita ke Mongolia. Bagaimana makamnya, apa bisa kita pindahkan ke sini," ucap Jovanka.
"Sulit Jo, sudah 20 tahun. Mama dan Papa tidak mengatakan dengan jelas di mana Jonathan di makamkan," ucap Bastian.
"Biar aku suruh orang untuk melacak keberadaan makamnya, asal ada orang yang mengetahuinya. Tidak akan sulit untuk mencari," kata Erick.
__ADS_1
"Sungguh ! kau ingin mencari makamnya?" tanya Jovanka.
"Iya, tapi kau harus janji. Jaga tiga babies triplets kita," kata Erick.
"Tidak perlu kau katakan, aku akan menjaganya. Dia anakku," ucap Jovanka.
"Dia juga anakku, belalai ku yang menanamnya didalam rahimmu ini," ucap Erick sembari membelai perut Jovanka.
Debat kusir kembali terjadi antar keduanya, Bastian dan Sandra hanya menatap. Tanpa ada yang ingin melerainya.
"Apa kita biarkan saja mereka berdua?" tanya Sandra pada Bastian.
"Biarkan saja, anggap saja kita sedang menonton film di TV. Kapan lagi kita bisa melihat Boss kita kalah bicara, hanya Jovanka yang berani membantahnya," kata Bastian.
"Betul, aku dengar. Tidak ada orang yang berani menatap wajah Erick Godfrey, kita sungguh beruntung. Kita bisa melihatnya." balas Sandra sembari tertawa kecil, takut Erick tahu. Dia menertawakannya.
ππππ
Setelah sehat, Rachel dipindahkan ke penjara wanita. Untuk menunggu sidang.
"Sial..! kenapa aku bisa berakhir di sini, dasar Andre. Dia sudah tinggal di neraka, tidak mungkin dia tinggal di surga," gumam Rachel yang berbaring didalam ruang tempat dia tinggal, sampai putusan diberikan. Apakah dia bersalah atau tidak.
"Aaarrgghhh...!" teriak Rachel dan berdiri di atas ranjang.
Teriakkan Rachel, membuat suara gaduh terdengar dari sel-sel yang satu lorong dengan ruang Rachel.
"Hei..Miss! apa yang kau lakukan? apa kau ingin membuat kami terkena serangan jantung, mendengar teriakanmu..!" seru wanita penghuni sel sebelah.
"Hahahaha..! baru tikus sudah kau takuti, setelah tikus. Kau harus hati-hati, sebentar lagi akan ada ular. Jika ada ular, kau pukul ya. Biar menjadi cemilan kita nanti, kau harus tahu Miss. Binatang itu sangat bermanfaat untuk menambah gizi kita, karena di sini. Daging sangat jarang kita temukan menjadi menu wajib, jika ingin makan daging. Harus pandai-pandai menangkap binatang yang nyasar masuk kedalam sel," ucap penghuni sel sebelah.
"Hoek...!" Rachel memuntahkan isi perutnya, yang sedari tadi di tahannya. Dia merasa jijik mendengar apa yang dikatakan oleh wanita penghuni sel sebelah.
"Hei..! jangan kau ganggu dia..!" seru wanita penghuni sel didepan sel Rachel.
"Diam kau wanita tua..!" balas wanita yang menakut-nakuti Rachel.
"Kau yang diam...!" balas penghuni sel didepan sel Rachel.
Keributan terjadi, suara cangkir di pukul-pukulan ke jeruji oleh penghuni sel masing-masing. Membuat suasana menjadi bising.
"Gila..! aku akan gila bila berada di sini..!" seru Rachel dengan ekspresi wajah yang frustasi, Rachel mengambil bantal untuk menutupi telinganya.
"Diam!" teriakkan suara sipir penjara, membuat hening seketika. Semua kembali hening.
"Dasar orang tidak berguna, sudah menjadi penghuni penjara. Tetap tidak berubah, apa tunggu kalian menjadi penghuni tetap dalam tanah baru berubah..!" seru sipir dengan memukul-mukul pentungan yang dipegangnya ke jeruji yang dilewatinya.
Tidak ada yang menyahut, semua duduk membelakangi jeruji.
"Hei..kau anak baru, bangun..!" titah sipir pada Rachel.
__ADS_1
"Ya." Rachel langsung berdiri tegak menghadap sipir.
"Kau yang mulai keributan ini, apa yang ingin mendapatkan hukuman dengan tinggal di kamar gelap?"
"Tidak, tadi saya ketakutan. Ada tikus masuk kedalam ruang ini," ucap Rachel.
"Gara-gara tikus, kau membuat keributan," ucap sipir penjara.
"Bukan itu saja, wanita yang sebelah mengatakan yang membuat saya muntah."
Rachel menceritakan apa yang dikatakan oleh wanita penghuni sel sebelah.
Setelah mendengar apa yang dikatakan oleh Rachel, sipir beranjak menuju wanita yang menakut-nakuti Rachel.
"Jika kau membuat masalah lagi, Minggu depan kau akan pindah ke sel isolasi," ancam sipir kepada wanita tersebut.
Setelah sipir pergi, wanita penghuni sel sebelah berdiri dari ranjang dan berjalan ke sisi samping tempat sel Rachel.
"Hei Miss, kau sudah mencari masalah padaku. Hati-hati kau," ucap wanita tersebut kepada Rachel.
"Baru beberapa jam di sini, aku sudah mendapat musuh" gumam Rachel.
πππ
Eforia menyambut kehamilan triplets babies Jovanka sangat terasa dikediaman keluarga Godfrey.
"Selamat Jo..!" seru Arisa dengan memeluk sahabatnya tersebut dengan gembira.
"Selamat ya sayang, akhirnya mommy akan menjadi Granny juga dan Axelo akan menjadi grandpa. Dan Axelo harus semangat untuk berlatih berjalan, biar bisa membawa cucu-cucu kita mendaki bukit di saint Angel," ucap Maria pada Axelo yang masih duduk di atas kursi roda.
Axelo menganggukkan kepalanya, matanya terlihat gembira mendapatkan kabar bahagia dari Erick dan Jovanka.
"Selamat ya Rick," ucap Vannesa pada Erick dan memberikan kecupan di pipi Erick, tanpa sempat Erick menghindar.
"Kurang ajar, ini orang yang membuat aku emosi." batin Jovanka kesal, saat melihat Vannesa mencium pipi Erick.
Erick yang menyadari Jovanka ingin marah, dengan cepat memeluknya dan membawanya untuk duduk.
"Ayo duduk, ingat. Jangan marah-marah." bisik Erick.
"Aku tidak akan marah, jika wanita itu tahu batasannya." balas Jovanka.
"Hanya pipi," ucap Erick.
"Baiklah, hanya pipi. Aku akan meminta pria untuk mencium pipiku. HANYA PIPI..!" tekankan Jovanka, hanya pipi.
"Jangan main api," ancam Erick.
"Aku suka main api." balas Jovanka tidak mau kalah.
__ADS_1
π Nextπ