The Tyrant'S Desire (Hasrat Cinta Sang Penguasa)

The Tyrant'S Desire (Hasrat Cinta Sang Penguasa)
Berusaha lari


__ADS_3

**Cerita hanyalah hasil penulis semedi diatas kasur πŸ˜›, dibawa santai saja bacanya ya kakak-kakak reader.


Happy reading guys πŸ₯°


☘️☘️☘️☘️☘️**


Jovanka dan Arisa tidak bisa memejamkan matanya sedetikpun, pikiran keduanya melayang kemana-mana. Yang pasti, keduanya berpikir. Dengan pikiran yang sama, yaitu. Apakah besok mereka bisa meninggalkan pulau ini, melihat kesempatan untuk meninggalkan pulau ini sangat kecil. Hanya ada satu jalan untuk keluar dari pulau Saint Angel, yaitu naik kapal. Seperti saat mereka datang pertama sekali ke pulau Saint Angel.


"Jo, apa kau sudah tidur?" tanya Arisa, seraya menatap kearah Jovanka.


Jovanka membuka matanya, dan melirik kearah Arisa.


"Aku tidak bisa tidur, bagaimana jika besok pagi kita terlambat bangun. Sudah pasti, kita tidak bisa keluar dari pulau ini" kata Jovanka.


"Bagaimana sosok Penguasa pulau ini Jo? apa masih muda?" tanya Arisa.


"Mana aku tahu, pulau ini saja baru aku tahu keberadaannya. Apalagi pemimpinnya" jawab Jovanka.


"Dalam benakku, sosoknya dengan janggut panjang. Rambutnya keriting gimbal, warna kulit yang coklat pekat karena tidak pernah tersentuh dengan air" ucap Arisa, menggambarkan sosok Penguasa pulau Saint Angel.


"Kenapa bayangan kita sama? umurnya pasti sudah puluhan tahun" Jovanka menimpali perkataan Arisa mengenai sosok Penguasa pulau Saint Angel.


"Dia pasti seorang mantan bajak laut, yang menemukan pulau ini. Dan mendirikan kekuasaan di pulau ini" sambung Arisa lagi.


"Mungkin saja, hasil kekayaannya, hasil dari merampok" sambung Jovanka lagi


"Sungguh mengerikan, sudah berapa orang yang menjadi korbannya?" ucap Arisa, dia bergidik membayangkan. Mayat-mayat bergelimpangan di bunuh oleh pengusaha pulau Saint Angel.


"Ris, apa kak Tian sudah tidak ada lagi di dunia ini?" Jovanka bangkit dari rebahan, dia duduk. Wajahnya menatap Arisa yang terbaring disisinya.


"Kak Tian baik-baik saja Jo! kau tidak percaya dengan apa yang aku katakan. Dia segar bugar, tidak kekurangan apapun juga. Jangan khawatirkan kak Tian, nasib kita yang harus dikhawatirkan. Apa besok kita masih bisa menghirup udara bebas" ujar Arisa.


"Apa kita akan di eksekusi mati oleh orang itu?" tanya Jovanka khawatir dengan nasib mereka berdua.


"Sebelum dia mengeksekusi kita, aku kutuk Tuan itu menjadi kodok" kata Arisa.


"Sok berani" ujar Jovanka pada Arisa.


"Pegang ini" Arisa menarik tangan Jovanka, melekatkan tangan Jovanka ke lengannya.


"Dingin!" seru Jovanka kaget, saat memegang tangan Arisa yang dingin.


"Aku sangat takut, tapi aku pura-pura berani. Kalau aku tunjukkan ketakutanku, bisa-bisa aku tidak akan bisa bergerak. Apa kau sanggup menggendong aku" ujar Arisa.


"Maaf, aku melibatkanmu dalam masalahku ini" kata Jovanka.


"Ayo kita tidur dulu, ini sudah pukul dua belas tengah malam. Biar besok ada tenaga untuk keluar dari pulau ini, sungguh sayang. Bikini yang aku bawa tidak terpakai" ujar Arisa dengan mata terpejam.


"Maaf" ucap Jovanka sekali lagi, dengan suara yang lirih.


"Tidak apa-apa, anggap saja. Aku sedang berpetualang" ngekeh Arisa.


🌟🌟🌟

__ADS_1


Axelo yang ingin mengikuti sendiri Rachel, tertidur dengan nyenyak di kursi kerjanya. Kelicikan Rachel dan kecerobohan Axelo membuat dia terus mengalami nasib sial.


"Tidurlah dengan nyenyak Axelo, aku jalan-jalan sebentar" ujar Rachel sembari melekatkan jemarinya dibibir Axelo Godfrey yang sedikit terbuka.


"Muahh!" bibir merah Rachel memberikan kecupan di kening Axelo sebelum keluar dari dalam ruang kerja Axelo.


Dengan cepat Rachel keluar, didepan pintu ruang kerja Axelo. Rachel melihat bayangan Mrs Cho berada ditangga.


"Sial! perempuan tua itu masih berjalan-jalan, aku akan membuatmu tidur selamanya" gumam Rachel dengan geram.


Rachel segera berlari bersembunyi diantara tiang dan bunga.


"Semoga mata rabun wanita tua itu tidak melihat keberadaan aku disini" ucap Rachel yang duduk bersembunyi dibalik rimbun bunga.


Seperti biasa, Mrs Cho mengantarkan kopi untuk Axelo Godfrey. Tapi sepertinya, hari ini Mrs Cho ketinggalan selangkah. Rachel sudah memberikan kopi yang berisi obat tidur untuk Tuan nya, sehingga Axelo tidur dengan tenang.


Mrs Cho masuk, karena pintu ruang kerja Axelo tidak tertutup rapat.


"Tidur" gumam Mrs Cho, melihat Axelo tidur.


"Kopi? siapa yang memberikannya?" ucap Mrs Cho, saat ingin meletakkan kopi bawaannya. Dia melihat ada secangkir kopi yang tersisa sedikit lagi.


"Apa ini kopi tadi pagi?" pikir Mrs Cho.


"Tapi, setelah Tuan pergi. Aku membersihkan ruang kerja, apa aku lupa membawa keluar?" Mrs Cho terus berpikir mengenai cangkir kopi yang ada diatas meja kerja Axelo.


"Mungkin aku lupa untuk membawa keluar"


Mrs Cho mengambil selimut didalam lemari yang ada dalam ruang kerja, dan menyelimuti Axelo.


Setelah menyelimuti Axelo, Mrs Cho keluar.


Rachel, sudah selamat keluar dari dalam rumah besar. Petugas keamanan tidak ada yang bertanya, kemana Rachel pergi.


Rachel sudah tiba ditempat dia bertemu dengan orang yang diajaknya bertemu.


Rachel duduk di bangku yang ada ditaman, disebelahnya. Sudah duduk seseorang yang memakai jaket hodie, menutupi seluruh tubuhnya.


"Ada apa? kenapa kau memanggilku?" terdengar suara pria.


"Axelo Godfrey tidak takut lagi dengan ancaman yang aku katakan, apa mungkin chip memori gambar itu sudah diketemukannya?" tanya Rachel.


Pandangannya pria itu terus menatap danau didepan mereka duduk.


"Tidak mungkin, gambar itu tersimpan di tempat yang aman. Hanya mengunakan mata ini, orang baru bisa masuk mengambilnya untuk masuk kedalam tempat itu. Mataku masih ada ditubuh ini, jika mata ini hilang. Baru gambar asli hilang" ucap pria tersebut kepada Rachel.


"Kau harus hamil secepatnya, biar anak itu akan menjadi pewaris keluarga Godfrey" kata pria tersebut.


"Pewaris? apa kau sudah gila! di dalam keluarga Godfrey, ada Ardan Godfrey" kata Rachel.


"Sekarang dia ada, mungkin saja besok.. besoknya lagi. Ardan Godfrey sudah berada diatas, seperti Maria Godfrey." ujar pria tersebut.


"Oh ya, Erick sedang mencari wanita baik-baik untuk mengandung pewaris keluarga Godfrey" ucapan pria tersebut membuat Rachel sontak terkejut.

__ADS_1


"Pewaris? kenapa tidak aku saja yang hamil dari anak Erick?" tanya Rachel pada pria.


"Tidak!" tegaskan pria tersebut.


"Kau harus hamil anak Axelo Godfrey! dia pewaris tunggal, jika kedua Godfrey itu sudah tidak ada. Anakmu yang akan menjadi pewaris tunggal keluarga Godfrey" kata pria tersebut dengan keras.


"Apa kau akan melenyapkan keduanya?" tanya Rachel dengan suara yang pelan, karena dia takut ada yang mendengar rencana jahat mereka berdua. Karena di taman tempat mereka berada, tidak hanya mereka berdua saja. Banyak orang yang duduk bercengkrama dengan pasangan masing-masing.


Pria tersebut tidak menjawab pertanyaan Rachel, dia bangkit dari duduknya dan berjalan meninggalkan Rachel sendiri.


"Orang gila, kalau tidak karena aku butuh uang untuk hidup senang. Tidak mungkin aku mau melakukan ini semua" gerutu Rachel.


Derrt... derrt...


Ponselnya bergetar, Rachel mengeluarkan ponselnya dari tas kecil yang selalu dibawanya. Dan melihat siapa yang menghubunginya.


"Mama!" kesal Rachel melihat siapa yang menghubunginya.


"Uang..! pasti uang yang dibutuhkannya!" seru Rachel, dia tidak perduli. Perkataannya didengar oleh orang yang ada ditaman.


Rachel memasukkan ponselnya, dia tidak membalas pesan dari mamanya.


🌟🌟🌟


Di pulau Saint Angel, Jovanka dan Arisa sudah keluar dari dalam penginapan. Keduanya mengendap-endap berjalan menuju pelabuhan.


Walaupun suasana jalan masih temaram, penduduk pulau sudah mulai keluar dari rumah. Untuk melakukan aktifitas yang mereka mereka sehari-hari.


"Jo, sepertinya. Kita telat keluar, lihatlah. Orang sudah ramai di jalanan" kata Arisa.


"Tenang saja, orang-orang ini tidak ada yang mengenali kita" kata Jovanka.


"Cepat, pelabuhan sudah dekat" kata Jovanka.


Jovanka berjalan dengan cepat, Arisa mengikutinya dari belakang.


"Awww..!" seorang membekap mulut Arisa dengan sapu tangan, sehingga Arisa tidak bisa memanggil Jovanka.


Tetapi, Arisa tidak kehilangan akal. Tangannya mengambil ponselnya....


Pletak...


Arisa melempar ponselnya, lemparan Arisa tepat mengenai pundak Jovanka.


"Heii...!" seru Jovanka sembari memutar badannya menghadap kearah belakang.


Jovanka melihat, Arisa diseret oleh dua orang pria yang berbadan besar dan kekar.


"Arisa...!" teriak Jovanka.


"Tolong ....!" Jovanka meminta pertolongan dari orang yang ada didekatnya, tetapi tidak ada yang merespon. Seakan-akan, teriakan Jovanka tidak terdengar oleh telinga mereka.


πŸ‚πŸ‚Next...πŸ‚πŸ‚πŸ‚

__ADS_1


jangan lupa untuk menekan like like ya kakak-kakak reader, terima kasih atas dukungannya πŸ™


__ADS_2