
Happy reading and ending 🤩
☘️☘️☘️
"Kau ingin pergi, tanpa bertemu dengan saudaramu ini?" Bastian berdiri didepan Altan, dengan air bening sudah mengalir terlebih dahulu. Saat melihat punggung Altan dari belakang.
Altan mematung dalam kebisuan, dia tidak tahu apa yang harus dilakukan. Pertemuan tiba-tiba dengan Bastian, membuat mulutnya tidak bisa mengatakan apapun juga. Hanya matanya yang memancarkan cahaya, yang mengatakan. Saat ini dirinya gembira.
Selangkah demi selangkah, Bastian menapakkan kakinya mendekati Altan yang masih mematung. Bingung ingin melakukan apa.
Setelah hanya berjarak satu langkah, Bastian meraih tubuh Altan dan menariknya masuk kedalam pelukannya.
Akhirnya dua saudara berpelukan, hanya ada air mata dan suara isakan.
"Jangan sedih, mereka sudah bersatu," ucap istri Chinua.
"Aku tidak bersedih, aku senang. Di hati ini tidak ada rasa khawatir, akan dosa masa lalu," ucap Chinua sembari merangkul pundak istrinya.
"Bagaimana dengan rencana tempat tinggal kita? apa sudah pasti, kita akan menetap di sini?" tanya istrinya.
"Kita sudah tua, sudah seharusnya kita tinggal menetap. Biar suku Dukha di pimpin oleh orang muda," ucap Chinua.
"Terima kasih," ucap istri Chinua.
Keduanya menatap Bastian dan Altan yang masih berpelukan untuk melepaskan kerinduan.
Bastian mengurai pelukannya, dan menatap wajah Altan yang sekarang bersih. Tanpa ada janggut dan kumis, kini Altan terlihat seperti Jovanka versi laki-laki.
"Aku senang, punya saudara laki-laki," ucap Bastian.
"Apa saudari kita tahu tentang keberadaan ku ini ?" tanya Altan.
"Dia tahu, punya saudara kembar. Tapi dia tidak tahu, bahwa Jonathan saudara kembarnya masih hidup," ucap Bastian.
"Jonathan? apa namaku Jonathan?" tanya Altan.
"Iya, namamu Jonathan. Dan kembaranmu bernama Jovanka," jawab Bastian.
"Dan aku, kenalkan. Kakak tertua, panggil saja kak Tian," ucap Bastian.
Altan senang, tangannya mengusap sudut bola matanya yang tidak berhenti mengalir.
"Jangan nangis lagi, anak laki-laki tidak boleh menangis," ucap Bastian.
"Kak Tian nangis." Altan menunjuk sisa-sisa air mata di pipi Bastian.
"Ini, bukan air mata. Tapi air hujan," ucap Bastian sembari tertawa.
Keesokan harinya, Bastian kembali ke negaranya dengan membawa Altan. Yang sudah berganti nama menjadi Jonathan Lovato Reuel, berkat kecakapan Danny Liu mengurus. Akhirnya urusan dokemun tentang Jonathan selesai dalam satu hari, lagi-lagi uang dan nama dapat menyelesaikan segalanya.
Walaupun ada perasaan tidak rela, tetapi kedua orangtua angkatnya pasrah. Karena mereka juga bersalah, telah memisahkan Altan dengan orangtua biologis dengan mengatakan putranya telah meninggal.
"Maa, paa. Altan akan sering melihat kalian, apalagi. Papa mengambil keputusan untuk tidak berpindah-pindah tempat tinggal," ucap Altan sebelum ikut Bastian.
"Maafkan Papa," ucap Papa Altan.
"Sudah paa, maa. Lupakan semua, Altan ingin kalian tinggal dengan Altan. Kak Tian juga mengizinkan," ucap Altan.
__ADS_1
"Tidak Altan, biarkan kami tinggal dengan suku Dukha di sini." tolak Papa dan Mama, saat Altan mengutarakan maksudnya untuk membawa kedua orangtuanya tinggal bersama di saint Lucia.
"Hubungi Altan, jika ada apa-apa. Altan tetap putra ketua suku Dukha," ucap Altan.
Keduanya menatap punggung Altan yang semakin menjauh dari tempat mereka berada.
"Jangan sedih, dia tidak akan melupakan kita. Dia hanya kembali ketempat asal keluarganya," ucap Chinua pada istrinya.
"Selamat jalan puteraku ." batin istri Chinua.
☘️☘️☘️
"Aaaa...!" teriak Vannesa yang baru saja keluar dari dalam kamar Jovanka.
"Huuss..! kenapa kau berteriak seperti baru saja melihat hantu!" Bastian kesal mendengar teriakkan Vannesa.
"Jovanka? tapi di dalam ada Jovanka? kenapa ini Jovanka tidak hamil?" bingung Vannesa, yang belum mengetahui bahwa Jovanka mempunyai saudara kembar.
"Ini pria?" Vannesa mendekati Jonathan, dan memegang dada Jonathan yang rata
"Awas..!" Jonathan menepiskan tangan Vannesa yang meraba dadanya.
"Siapa kau?" Vannesa mundur, dan mengamati wajah Jonathan dengan seksama.
"Mana Jovanka?" tanya Bastian, tidak menjawab pertanyaan Vannesa.
"Dalam, bersama Erick. Ada dokter didalam," jawab Vannesa dengan mata masih mengawasi Jonathan.
"Ayo," ajak Bastian pada Jonathan.
"Siapa dia kak Tian? apa kloningan Jovanka? satu Jovanka saja sudah mengesalkan, ini ada satu lagi." gumam Vannesa.
"Lepas..!" seru Jonathan dengan mendelikkan matanya.
"Fix, ini kloningan Jovanka. Sama-sama menyebalkan." gerutu Vannesa sambil mengikuti keduanya.
Tok..tok..
Pintu terbuka, Erick berdiri didepan pintu. Matanya menatap wajah Jonathan yang berdiri dibelakang Bastian.
"Rick, aku membawanya," ucap Bastian.
"Welcome brother." sambutan hangat dari Erick dengan memeluknya, membuat Jonathan bahagia. Karena dia sempat khawatir, kepergiannya dari pulau ini dulu tanpa pemberitahuan, takut membuat Erick tidak senang.
Erick mengurai pelukannya.
"Wajah yang sama, semoga aku tidak salah peluk," ucap Erick yang menatap wajah Jonathan yang sangat mirip dengan Jovanka, rambut hitam yang panjang.
Jonathan tertawa kecil, begitu juga dengan Bastian.
"Rick, dia...?" tanya Vannesa pada Erick.
"Apa otakmu terlalu banyak traveling, hingga tidak bisa mengambil kesimpulan. Ini Jonathan, saudara kembar Jovanka," ucap Erick pada Vannesa.
Bastian dan Jonathan tertawa, melihat Vannesa bengong.
"Mana Jovanka?" tanya Bastian.
__ADS_1
"Sedang senam, masuklah." Erick mempersilakan kedua untuk masuk kedalam kamar.
"Kak Ti...!" ucapan Jovanka terhenti, saat melihat orang yang berdiri disamping Bastian.
"Jonathan..!" seru Jovanka dengan gembira.
Jovanka ingin berdiri, tapi perut besarnya menghalanginya.
Jonathan tahu, kesulitan Jovanka untuk berdiri. Dia duduk disampingnya dan memeluk Jovanka.
"Hai sis." sapa Jonathan dengan lembut, sekali lagi air bening mengalir dari sudut matanya.
"Hai brother." balas Jovanka.
"Rick, kau mengatakan pada Jovanka. Bahwa Jonathan masih hidup?" tanya Bastian
"Iya, aku takut. Dia akan syok, jika tiba-tiba Jonathan muncul dihadapannya secara tiba-tiba."
"Betul juga."
"Kenapa kau tidak mencari kami, jika kau tahu. Kau bukan putra mereka?" tanya Jovanka.
"Sebenarnya, aku sudah pernah kesini," ucap Jonathan.
Jonathan menceritakan, tentang kedatangannya ke pulau Saint Angel. Tapi dia tidak mengatakan tentang keterlibatannya dalam penyelamatan Jovanka dari penculikan.
"Kau orang jelek, butek dan kusam itu...!?" tanya Vannesa.
"Hei Vannesa, kau mengatakan saudaraku jelek dan butek...!" seru Jovanka tidak terima mendengar perkataan Vannesa.
"Jo, aku tidak asal bicara. Dulu dia tidak ganteng seperti sekarang ini, dulu kumis dan jenggotnya membuat wajahnya seperti bajak laut. Sangat mengerikan," ucap Vannesa.
Jonathan tersenyum kikuk, jemarinya menggaruk tengkuknya.
"Lihatlah Jo, dia saja tidak marah. Tandanya, dia mengakui bahwa tampangnya dahulu sangat mengerikan," ucap Vannesa.
"Apa benar yang dikatakan oleh Vannesa?" Jovanka menatap wajah Jonathan, menunggu apa yang dikatakannya.
Jonathan hanya menganggukkan kepalanya.
"Nah.. betulkan," kata Vannesa.
"Kenapa kau membuat wajahmu jelek?" tanya Bastian.
"Lihatlah, bagaimana aku bisa menunjukkan wajah mirip dengan Jovanka. Orang akan heran," kata Jonathan.
"Betul juga, aku tadi saja kaget. Melihat Jovanka ada dua," kata Vannesa.
"Tapi, Jovanka yang ini sangat ganteng." puji Vannesa sembari berlutut menatap wajah Jonathan dengan intens.
Jonathan yang merasa risih dengan tatapan Vanessa, menampilkan wajah jutek kepada Vannesa.
"Awas kau! menggangguku saja." tolak Jonathan.
"Jo, bagaimana jika aku kau angkat menjadi adik ipar. Sepertinya, cintaku sudah beralih pada saudara kembarmu," ucap Vannesa tidak perduli malu, banyak orang yang mendengar apa yang dikatakannya.
"Tidak...!" seru Jovanka dan Jonathan bersamaan.
__ADS_1
"Jawaban yang sama, tidak diragukan lagi. Kalian saudara kembar." gumam Vannesa.
🌜 Next🌛