
Selamat membaca kakak-kakak reader dan bantu untuk menekan tombol like ππ₯°
πΊπΊπΊ
Mrs Cho mengamati Jovanka dari atas sampai bawah, pandangannya menelisik badan Jovanka.
"Coba berputar" titah Mrs Cho.
"Berputar? untuk apa?" heran Jovanka, disuruh berputar.
"Lakukan saja" titah Erick.
"Baiklah, berputar. Ya berputar, menari ya menari. Apa ada yang mau melemparkan kacang untukku" gerutu Jovanka, mulutnya manyun karena kesal.
Kemudian Jovanka berputar, kakinya menjinjit. kedua tangannya direntangkannya diatas kepalanya.
Jovanka berputar, bergaya seperti seorang balerina. Senyumannya terukir indah dibibirnya. Bibirnya tersenyum, tetapi. Matanya mendelik menatap wajah Erick.
Arisa dan Ardan tersenyum, melihat tingkah laku Jovanka. Begitu juga Erick, tapi Erick tidak memperlihatkan senyumannya.
"Bagus..bagus, walaupun bokongnya tidak besar. Tapi membawa hoki, Tuan muda bagus mencari istri" kata Mrs Cho sembari menepuk pundak Erick.
"Jo, kau diramalkan membawa hoki" bisik Arisa.
"Cukup, kita langsung kerumah sakit" kata Erick, yang kemudian berjalan menuju mobil yang sudah menunggu mereka.
"Tidak kerumah dulu?" tanya Mrs Cho.
"Tidak, nanti ceritakan Mrs Cho. Kenapa bisa jatuh orang tua itu" kata Erick pada Mrs Cho.
Erick, Ardan dan Mrs Cho berjalan didepan. Jovanka dan Arisa berada dibelakang ketiganya.
"Ris, kita bisa kabur" bisik Jovanka.
"Apa..! kabur..? kau sudah tidak waras, sudah dapat suami tajir. Ganteng, kau mau kabur?" Arisa terperangah mendengar ide Jovanka untuk kabur.
"Hih..aku bukan kabur selamanya, aku mau kabur sebentar. Aku mau beli pakaian dalam, pakaian yang aku pakai ini. Cuci kering, sudah gatal bokongku" ucap Jovanka kesal.
"Di lemarimu apa tidak ada pakaian dalam?" tanya Arisa, karena dia juga diberikan Miss Lin pakaian dalam mode terbaru.
"Itu semua bukan pakaian dalam, pakaian dalam itu hanya dipakai wanita panggilan. Hih.." bergidik Jovanka membayangkan dirinya memakai pakaian dalam yang minim dan bolong di mana-mana.
"Itu pakaian dalam mode terbaru, dan mahal" kata Arisa.
"Tidak perduli, mau mahal. Aku nggak nyaman, aku lebih nyaman pakaian dalam seharga 1 USD dapat tiga" ucap Jovanka kesal.
"Hahaha...!" Arisa ngakak tanpa sadar, hingga ketiga orang yang berada didepan mereka menoleh kearah mereka dibelakang dan berhenti berjalan.
"Apa ada yang lucu?" tanya Erick dengan wajah datarnya menatap kearah Jovanka dan Arisa.
"Tidak... tidak..!" ucap Jovanka seraya mengerakkan kedua tangannya.
"Cepat!" titah Erick dan kembali melanjutkan langkahnya.
"Baik Tuan muda, gila hormat" gumam Jovanka.
πππ
Tiga puluh menit dalam perjalanan, akhirnya mereka tiba di rumah sakit Royal. Begitu turun dari mobil, Erick sudah disambut oleh Danny Liu.
Danny Liu mengulurkan tangannya, disambut oleh Erick dan Ardan.
__ADS_1
"Bagaimana?" tanya Erick seraya masuk kedalam rumah sakit.
"Tuan besar mengalami cedera kepala, ada pendarahan. Saat ini sedang dilakukan operasi" kata Danny Liu.
"Kenapa uncle bisa jatuh dari tangga?" tanya Ardan.
"Aku juga tidak tahu? Mrs Cho melihat, Tuan sudah berada dibawah. Sedangkan dilantai atas, hanya ada wanita itu" kata Danny Liu.
"Cctv?" tanya Ardan.
"Saat kejadian kami sibuk menyelamatkan Tuan besar, hingga belum memeriksa cctv" kata Danny Liu.
Danny Liu membawa Erick dan Ardan kesatu ruangan, dalam ruangan itu terlihat Rachel berdiri menatap kearah kaca. Dibalik kaca terlihat pria terbaring dikelilingi oleh orang yang berbaju warna biru.
Melihat kedatangan Erick, dengan cepat. Rachel berlari menghamburkan tubuhnya menempel kebadan Erick.
"Erick..! akhirnya kau datang" ucap Rachel sembari menangis memeluk Erick.
"Jo, siapa gadis itu?" tanya Arisa pada Jovanka.
"Aku tidak tahu,"kata Jovanka.
Tangan Erick berada disisi kedua pahanya dengan terkepal, wajahnya mengetat.
"Erick, Axelo terluka parah. Aku takut akan menjadi janda" ucap Rachel dengan tersedu-sedu.
"Daddy ku tidak akan meninggal, jaga mulutmu Mrs..!" ucap Erick dengan dingin.
"Badannya penuh darah" ucap Rachel kembali.
"Walaupun badannya penuh dengan darah, tetapi seorang Godfrey tidak akan meninggal hanya karena badannya penuh darah. Apa lagi Axelo Godfrey, tidak akan meninggal secepat itu" ucap Erick dengan tegas.
"Janda? Jo, gadis itu Mamanya ? begitu muda" heran Arisa.
"Lepaskan Tuan muda, mrs Rachel" kata Danny Liu pada Rachel.
"Siapa kau ? sehingga berani melarang aku memeluk Erick, aku teman Erick" kata Rachel masih memeluk Erick.
Erick tidak dapat melakukan perbuatan yang kasar terhadap Rachel, karena didalam ruangan. Tidak hanya mereka, ada beberapa orang Tim dokter yang mengamati jalannya operasi terhadap Axelo Godfrey.
"Menjauh lah, jika saat ini berada di pulau Saint Angel. Kau sudah aku lempar ke kaca itu " ucap Erick dengan geram.
"Pergi kau Rachel, jangan sampai kau dipermalukan disini" ucap Ardan.
"Diam kau Ardan, aku tidak ada urusan denganmu" ketus Rachel.
"Jo, sepertinya suamimu tidak nyaman dengan Mamanya. Mungkin saja itu istri muda bapaknya" bisik Arisa.
"Oke, istrimu siap beraksi Tuan muda" ucap Jovanka.
Kemudian Jovanka menghampiri Erick, dan langsung menarik tangan Rachel. Sehingga pelukan Rachel langsung terlepas dari tubuh Erick.
"Mrs, lepaskan suami saya" ucap Jovanka dengan suara yang pelan.
"Kau..!" Rachel menatap Jovanka kesal.
Jovanka membalas menatap Rachel dengan tajam.
"Tuan, ayo kita tanyakan kepada Tim dokter yang mengoperasi Tuan besar" ucap Danny Liu pada Erick.
Erick meninggalkan Jovanka dan Rachel yang saling mengeluarkan taringnya.
__ADS_1
Sepeninggal Erick, Rachel berbisik kepada Jovanka.
"Aku kekasih Erick, kau hanya istri sementara" ucap Rachel kepada Jovanka.
"Walaupun sementara, aku pemilik tubuhnya sekarang ini. Week.." ledek Jovanka dan kemudian meninggalkan Rachel yang terdiam mendengar perkataan Jovanka.
"Kau gadis sialan..! kau tidak cocok dengan Erick!" balas Rachel.
Jovanka kembali mendekati Rachel, setelah mendengar umpatan Rachel.
"Tidak cocok Mrs katakan? tapi Erick merasa aku cocok untuk melahirkan penerus baginya." Jovanka berlalu menuju tempat Erick melihat operasi Axelo Godfrey. dari balik kaca.
"Minggir stepmother" ujar Arisa.
"Apa stepmother? sial..!" kesal Rachel kepada Jovanka dan Arisa.
Jovanka mendekati Erick, dan mendengar dokter menjelaskan mengenai kondisi Axelo Godfrey.
"Pendarahan di kepalanya tidak mengandung resiko yang berat Tuan, seperti saat jatuh. Tuan besar melindungi kepalanya. Hanya tulang leher patah atau fraktur servikal" beritahu dokter.
"Apa itu bisa berakibat fatal dokter?" tanya Ardan.
"Ya, bisa fatal. Jika tidak ditangani dengan serius, bisa berakibat lumpuh. Bisa juga kematian" jawab dokter yang berbicara dengan Erick dan Ardan.
"Aarrrrrgg..!" kesal Erick.
"Erick, tenanglah" ucap Jovanka, saat melihat Erick marah.
"Sial..! kenapa nggak mati saja orang tua itu" batin Rachel.
Erick melihat kearah Rachel yang keluar dari ruangan, kemudian Erick memberikan kode kepada Ardan.
"Ada apa?" tanya Ardan.
"Ikuti wanita itu, aku curiga. Kecelakaan ini ada hubungannya dengan dia" kata Erick.
"Biar aku dan Arisa yang mengikutinya" kata Jovanka.
Erick menatap wajah Jovanka dengan curiga.
"Hei.. Tuan muda, aku tidak akan lari. Mau lari kemana? aku tidak ada uang, ponsel juga tidak ada" kata Jovanka.
"Awas jika kau melarikan diri, Bastian Reuel masih ada dalam genggamanku" ancam Erick.
"Untuk apa aku lari, hidupku senang. Suamiku tajir, rugi meninggalkan suami setampan ini" ujar Jovanka sembari mengerlingkan matanya.
"Hoek.." dalam batin Jovanka, dia serasa mau muntah. Telah memuji-muji Erick.
"Awas kalau kau lari!" Erick kembali mengeluarkan ancamannya.
"Tenang, aku tidak akan lari. Ayo Ris, kita main detektif" ujar Jovanka.
Keduanya keluar, mencari keberadaan Rachel.
"Erick, apa tidak kita ikuti mereka?" tanya Ardan.
"Kau saja, aku tunggu sini" kata Erick.
"Ok" Ardan keluar dari ruangan, dan mencari keberadaan Jovanka dan Arisa.
π**Next....π
__ADS_1
Tekan tombol like like ya kakak-kakak reader π₯°π**