
Happy reading guys π₯°π
βοΈβοΈβοΈβοΈ
Arisa tertawa, melihat tingkah laku Jovanka yang mengerjai Rachel. Membuat Rachel mengeluarkan isi lambungnya.
Melihat Rachel memuntahkan isi perutnya, Jovanka duduk tenang di sofa. Tidak ada rasa bersalah dalam dirinya, karena ucapannya mengenai minuman yang diberikan Arisa.
"Kamu itu ya Jo, kenapa makin ke sini semakin nakal saja. Kamu seperti anak kecil, suka ngerjain orang," ucap Arisa.
"Aku tidak tahu, spontan saja ingin mengerjai dia," jawab Jovanka.
Rachel keluar dari dalam kamar mandi, dalam keadaan pucat.
"Kenapa kau sangat menyebalkan..!" seru Rachel pada Jovanka.
"Dan kau..! apa itu tadi?" tanya Rachel pada Arisa.
"Sudah aku katakan ekor kadal goreng dan ekor tikus, keduanya di gabung menjadi satu. Jadilah apa yang akan kau minum itu, apa kau tidak percaya dengan apa yang aku katakan tadi. Lihatlah, apa wajahku ini seperti wajah penipu," ucap Jovanka seraya memain-mainkan matanya naik turun.
"Aku heran, kenapa Erick mau menikah denganmu? apa yang dilihatnya darimu, kau itu perempuan yang sangat..sangat..menyebalkan...!" Rachel mengeluarkan kekesalannya terhadap Jovanka.
"Kalau tidak menikah denganku, apa kau mengharap Erick menikah denganmu..?"
"Kenapa tidak, kami sudah kenal baik," ucap Rachel.
"Kenal baik..!" cibir Jovanka.
"Tapi jangan khawatir, aku sudah tidak berminat menjadi istri Erick. Aku ingin menjadi ibu mertuamu saja, posisiku akan menjadi lebih tinggi darimu. Sehingga kau akan tunduk padaku...!"
Ucapan Rachel membangkitkan jiwa bar-bar Jovanka, sehingga tangannya terulur ingin mencekik Rachel.
"Kau jangan mengharap..! sebelum kau menjadi ibu mertuaku, kau terlebih dahulu akan menjadi hantu gentayangan...!" seru Jovanka seraya ingin mencekik leher Rachel.
Arisa yang sedari tadi menjadi pengamat, beraksi. Setelah melihat jiwa bar-bar Jovanka muncul kembali.
"Jo, ayo kita keluar..!" seru Arisa sembari menarik Jovanka meninggalkan kamar Rachel.
"Kenapa kau menarikku..! aku sangat ingin berkelahi ini, kalau tidak aku tarik bibir monyongnya itu. Belum puas aku..!" seru Jovanka dari luar kamar Rachel.
"Tarik kalau bisa..!" terdengar suara Rachel dari dalam kamar, menantang Jovanka.
"Lihat..! dia menantangku, aku harus menerima tantangannya..!" seru Jovanka, ingin kembali masuk kedalam kamar Rachel. Tetapi keinginannya untuk melakukan apa yang ada dalam pikirannya terhenti, dengan kedatangan Maria dan Marcio. Dan beberapa pria yang datang dengan membawa brankar.
"Ada apa ?" tanya Maria, saat melihat wajah Jovanka yang emosi.
"Wanita yang didalam itu tidak bisa berterima kasih mom, aku sudah satu harian membantunya. Bela-belain waktu tidurku terganggu, bukannya berterima kasih. Dia menantangku..!" ucap Jovanka dengan menggebu-gebu.
"Sudahlah, tidak usah ditanggapi. Dia berusaha untuk mengacaukan pikiran kita," kata Maria.
"Siapa mereka aunt?" tanya Arisa.
"Mereka akan membawa wanita itu ke kota " ucap Maria.
Maria dan Marcio masuk kedalam kamar, sedang Arisa dan Jovanka menunggu di luar.
Terjadi keributan, saat Rachel ingin dibawa pergi. Rachel menolak untuk dibawa.
__ADS_1
"Tidak..! aku tidak mau pergi...!" tolak Rachel, saat pria yang membawa brankar ingin mengangkatnya untuk naik keatas brankar.
"Kau harus pergi...!" seru Maria.
"Aku mengandung anak Axelo..!" Keukeh Rachel mengatakan kebohongan tentang kehamilannya.
"Axelo, suamiku. Tidak akan pernah bisa membuat wanita hamil, kecuali aku. Karena Axelo sudah vasektomi.." ucap Maria ke telinga Rachel.
Deg..
Rachel cukup terkejut, wajahnya terlihat panik menatap Maria dengan tidak percaya.
"Kau jangan khawatir, kau itu bukan hamil. Kau periksa tubuhmu, mungkin saja ada penyakit yang berbahaya yang bersarang didalam badanmu ini" kata Maria.
Dalam keadaan terpaku, seorang pria mengangkat Rachel keatas brankar. Rachel seperti tidak bernyawa, ketika terbaring diatas brankar.
Perkataan Maria mengenai kemungkinan ada penyakit didalam badannya, membuat Rachel syok.
"Bye..bye..." ucap Jovanka, saat brankar yang membawa Rachel lewat didepannya.
"Jo." Arisa menepuk pundak Jovanka.
"Kenapa? aku hanya mengucapkan selamat tinggal, semoga dia tidak kembali lagi," ucap Jovanka.
***
Jovanka keluar dari dalam Mansion, setelah meminta izin dari Maria. Akhirnya Maria mengizinkan Jovanka untuk jalan-jalan disekitar mansion.
Saat Jovanka mendekati pintu gerbang utama, beberapa bodyguard langsung menundukkan kepalanya. Awalnya Jovanka biasa saja, tetapi setelah bertemu dengan para pekerja di mansion yang selalu menundukkan kepalanya dan tidak berani melihatnya. Jovanka merasa heran.
Ja'far menghentikan langkahnya.
"Kau mau kemana?" tanya Jovanka.
"Saya mau ke mesjid" jawab Ja'far.
"Boleh aku ikut?" tanya Jovanka dengan ekspresi wajah yang penuh harap.
"Saya mau sembahyang Jo, bukan jalan-jalan.." ucap Ja'far.
"Kau sembahyang, aku menunggu di luar. Jangan khawatir, aku tidak akan menganggumu. Aku akan menjagamu, selagi kau sembahyang" ucap Jovanka.
"Aa.. untuk apa aku dijaga, aku yang seharusnya menjagamu. Bukan sebaliknya." Ja'far heran menatap Jovanka.
"Sudahlah, ayo kita berangkat.." Jovanka berjalan mendahului Ja'far.
Ja'far menggelengkan kepalanya, pusing. Melihat tingkah Jovanka, yang membuat dirinya jantungan. Takut kena marah majikannya. Erick Godfrey.
Ja'far berjalan dibelakang Jovanka, dia menolak. Saat Jovanka menginginkan dia berjalan disampingnya.
"Ja'far, kau tahu. Kenapa orang-orang setiap melihatku menundukkan kepalanya, aku ingin tersenyum pada mereka. Tapi mereka seolah takut menatapku?" tanya Jovanka.
Dari Mansion, sampai mereka sudah mendekati mesjid yang ada di pulau Saint Angel. Orang-orang yang berpapasan dengannya, selalu minggir kesisi jalan dengan menundukkan kepalanya.
"Kabar mengenai perkelahian mu dengan wanita itu sudah menyebar ke seluruh pulau Saint Angel, sehingga mereka merasa kau itu sama kejamnya seperti Tuan muda Jo. Tidak ada yang berani memandang wajahmu, seperti mereka lakukan pada Tuan muda" kata Ja'far.
"Apa..!" Jovanka berhenti melangkah, badannya berbalik menghadap Ja'far.
__ADS_1
"Apa aku sangat menakutkan? apa mereka tidak pernah melihat orang berkelahi? dan Erick, kenapa mereka sangat takut pada Erick? Erick bukan monster..!"
"Ada kisahnya, kenapa penduduk pulau Saint Angel takut pada Tuan muda" kata Ja'far.
Ja'far menceritakan asal usul kenapa tidak ada yang berani menatap wajah Erick.
"Aaa.. hanya gara-gara ada orang jatuh pingsan didepan Erick, dan orang itu meninggal..?"
" Penduduk pulau ini masih percaya dengan mistis, nenek moyang keluarga Angelo penghuni pertama pulau ini dulu. Sangat terkenal dengan ilmu hitam, tetapi lama-kelamaan. Mereka menghilangkan ilmu hitam dalam keluarga Angelo, tetapi. Kedatangan Tuan muda, dan meninggalnya orang didepannya. Membuat penduduk percaya, Tuan muda mempunyai ilmu hitam. Padahal yang sebenarnya, orang yang meninggal karena mempunyai penyakit jantung." Ja'far mengakhiri ceritanya, ketika sudah tiba di depan mesjid.
"Tunggu disini, jangan kemana-mana..!" titah Ja'far pada Jovanka.
"Iya, aku tidak akan kemana-mana. Pergilah.." usir Jovanka, saat dilihatnya. Ja'far ingin memberikan pesan padanya lagi.
Jovanka duduk di tangga menuju mesjid yang berada diatas bukit, sesekali orang menatapnya. Orang yang tidak tahu siapa dia, karena mesjid di kunjungi oleh kalangan pedagang yang singgah ke pulau Saint Angel. Sehingga tidak tahu, orang yang duduk di tangga seorang istri dari penguasa pulau saint Angel.
"Ayo" ucap Ja'far.
"Sudah selesai?" tanya Jovanka.
"Iya" sahut Ja'far.
"Kita pulang?" tanya Jovanka.
"Iya, kalau tidak pulang. Kita mau kemana?"
"Mungkin kita bisa jalan-jalan, ayolah. Aku bosan terkurung terus didalam mansion." rengek Jovanka.
"Tidak mau..! Tuan muda akan pulang hari ini, nanti dia marah. Ayo Jo, kita pulang, aku masih mau hidup," kata Ja'far.
"Kalau kau tidak mau, aku sendiri saja." Jovanka meninggalkan Ja'far.
"Jo..!" Ja'far berjalan setengah berlari, melihat Jovanka berjalan meninggalkannya.
"Ayo kita pulang.." bujuk Ja'far.
"Tidak mau.." tolak Jovanka.
"Jo." Ja'far menghentikan langkahnya, matanya fokus kepada orang yang berada di ujung jalan depan mereka.
"Apa?" sahut Jovanka.
"Depan."
Jovanka melihat kedepan, bibirnya langsung tersenyum. Jovanka langsung berlari, begitu dekat. Jovanka langsung loncat ketubuh Erick, tangannya melingkar di leher Erick. Kedua kakinya mencengkram pinggul Erick. Sehingga Erick seperti menggendong bayi koala.
"Erick..!" seru Jovanka.
Cup..
Jovanka memberikan kecupan ke bibir Erick, membuat Erick terperangah. Dia tidak mengira, Jovanka menciumnya.
Tiba-tiba, Jovanka tersadar dengan tingkahnya. Jovanka turun dari tubuh Erick, raut wajahnya memerah.
"Aku sudah tidak waras, kenapa aku seperti wanita murahan" batin Jovanka.
π Nextπ
__ADS_1