The Tyrant'S Desire (Hasrat Cinta Sang Penguasa)

The Tyrant'S Desire (Hasrat Cinta Sang Penguasa)
Masih marah


__ADS_3

Cerita hanyalah rekaan semata, tidak ada hubungan dengan tempat dan menyangkut tokoh tertentu.


Happy reading guys πŸ₯°.


πŸ€πŸ€πŸ€


Helikopter mendarat di bandara, baling-baling belum berhenti berputar dengan sempurna. Jovanka sudah ingin keluar saja.


"Jo, jangan gegabah begini. Jaga keselamatan, khawatir boleh Jo. Tapi jangan sampai membahayakan keselamatan juga, kak Tian melihatmu begini. Dia juga akan khawatir Jo." nasehat Arisa.


Tapi sifat keras kepala Jo, lebih menguasai pikirannya. Hingga dia tidak menanggapi apa yang dikatakan oleh Arisa.


Erick turun dan membuka pintu helikopter, Jovanka langsung bergegas ingin loncat saja. Tetapi Erick langsung memeluk pinggangnya dan menggendongnya turun dari atas helikopter.


"Hei...aku bisa turun sendiri...!" seru Jovanka dengan mata melotot.


"Kau mengandung anakku, harus menuruti apa yang aku katakan..!" ucap Erick dengan datar.


"Menyebalkan...!" Jovanka melengos.


"suamimu sudah begitu sabar menghadapimu, apalagi yang kau cari Jo" batin Arisa.


Dari kejauhan terlihat Ardan datang menjemput kedatangan Erick.


"Kenapa di gendong? apa ada masalah dengan kandungan Jovanka?" tanya Ardan.


"Tidak ada masalah dengan kandungan ku, yang bermasalah itu otak orang yang mengendong ku..!" ucap Jovanka dengan ketus.


Erick sendiri, tidak menjawab pertanyaan Ardan, dia berjalan lurus menuju mobil di luar bandara.


Ardan menoleh kearah Arisa yang berjalan sendiri, dengan menarik dua koper. Yaitu kopernya dan koper Jovanka.


"Ada apa dengan mereka?" tanya Ardan seraya mengambil kedua koper dari tangan Arisa.


"Biasa, perang dunia rumah tangga" jawab Arisa.


"Perang? perang apa ?" tanya Ardan.


Seraya berjalan menuju mobil, Arisa sedikit menceritakan apa yang diketahuinya kepada Ardan.


"Hormon wanita hamil begitu, kadang naik. Kadang stabil" ucap Arisa.


"Sepertinya kau pernah hamil saja." ledek Ardan seraya menelisik badan Arisa yang langsing.


"Tidak perlu hamil dulu, untuk mengetahui hal mengenai wanita hamil. Tinggal klik, semua informasi mengenai wanita hamil sudah bisa kita ketahui" ucap Arisa.


"Kau juga harus mengetahui itu semua, biar saat istrimu hamil. Kau bisa menghadapinya." sambung Arisa lagi.


"Untuk apa aku harus mengetahui itu semua, kau sudah tahu semua kan ?" ucap Ardan iseng menggoda Arisa.

__ADS_1


"Hei..aku bukan pembantumu..!" seru Arisa seraya melirik Ardan kesal.


"Siapa yang menganggap kau pembantu, aku menganggap kau itu calon istri " goda Ardan seraya nyengir, sebelah matanya kedap-kedip.


"Menyebabkan..!" gerutu Arisa seraya masuk kedalam mobil, duduk disamping Jovanka.


"Ris, kau duduk didalam mobilku. Aku sendirian." panggil Ardan, saat melihat Arisa naik kedalam mobil. Duduk bersama dengan Jovanka.


"Tidak..! aku bosan mendengar perkataan yang keluar dari mulut playboy cap kepiting πŸ¦€," kata Arisa seraya menutup pintu mobil.


"Kau bawa saja wanitamu, kau pasti memiliki koleksi yang banyak. Dari yang kurus sampai yang makmur" ejek Arisa.


"Dia mengejekku playboy cap kepiting? tanganku hanya dua, bukan seperti kepiting. Banyak capitnya," ucap Ardan seraya melihat kearah kedua tangannya.


"Kenapa dia menuduhku mempunyai koleksi wanita? kemarin, dia masih baik-baik saja. Dasar wanita, tidak bisa ditebak?" ndumel Ardan.


"Apa kita tidak mengikuti Tuan muda, Tuan Ardan?" tanya sopir pada Ardan yang masih termangu melihat tangannya, dan memikirkan apa yang di katakan oleh Arisa padanya.


"Aaa..." Ardan tersadar dari termangunya, dan melihat kearah sopirnya.


"Mobil Tuan muda sudah jauh." beritahu sopirnya, sembari menunjuk mobil Erick sudah mulai menjauh dari bandara.


Tanpa menangapi ucapan sopirnya, Ardan masuk kedalam mobil. Kemudian mobilnya melaju mengikuti mobil Erick yang meninggalkan bandara.


Didalam mobil, Erick sibuk dengan ponselnya. Sedangkan Jovanka sibuk dengan pikirannya menyangkut kondisi Bastian.


πŸ€πŸ€


Mike sesekali membuka tirai jendela kamar tempatnya menginap, yang berada dipinggiran kota Valle. Mike menyewa motel kecil yang jauh dari keramaian untuk tempatnya bersembunyi.


"Tidak ada yang mengejarku." gumam Mike saat mengintai dari balik tirai.


Mike membuka pintu kamar, dan keluar. Kemudian dia kembali masuk dengan cepat kedalam kamar dan mengunci pintu kamar, setelah melihat ada mobil patroli polisi yang terparkir tidak jauh dari depan motel.


"Polisi..! apa mereka sudah mengetahui, siapa yang menabrak pria itu? semoga tidak ada yang menaruh curiga pada diriku." Mike bergerak tak beraturan, dia panik. Saat melihat mobil polisi.


"Aku harus pergi..! aku tidak ingin berada didalam penjara," ucap Mike.


"Darimana aku harus keluar, dari depan. Tidak mungkin, mereka pasti akan menangkap ku." Mike memikirkan cara untuk melarikan diri.


Mike melihat kearah jendela kamar, bergegas mendekat kearah jendela.


"Dari sini mungkin aku bisa keluar." Mike mendapat ide, untuk keluar melalui jendela kamar.


Mike menggoyang-goyangkan teralis besi, dan teralis besi berpihak padanya. Dengan mudahnya dia berhasil melepaskan beberapa terali besi yang sudah tidak kuat lagi.


"Berhasil..!" bibir Mike tersenyum.


Dengan sangat hati-hati, Mike naik keatas jendela. Dan kemudian loncat, dan berlari menuju hutan dibelakang motel.

__ADS_1


"Sial..!" ucap Mike setelah berhasil kabur menuju hutan Pinus yang ada dibelakang motel.


"Kenapa aku bisa melupakan ponselku" gumamnya.


"Aku harus kembali." Mike berlari cepat menuju jendela kamar, dan masuk kedalam kamar kembali.


Dengan cepat Mike menyambar ponselnya yang ada diatas ranjang.


"Ini kamar tamu yang terakhir sir, dia seorang pemuda." Mike mendengar suara orang berbincang didepan kamarnya, dan terdengar suara ketukan dipintu kamar.


"Sial..!" Mike bergegas keluar dari jendela kamar, dia tidak menghiraukan. Bahunya terbentur teralis jendela yang sudah karatan.


Mike berlari menuju hutan, dan terus berlari. Tidak menghiraukan cabang-cabang ranting yang berduri mengenai sekujur tubuhnya, yang ada dalam pikirannya. Dia tidak tertangkap, dan bisa terus bebas


Mike berlari masuk kedalam hutan, didepan kamarnya. Polisi dan pemilik motel terus mengetuk.


Tok...tok..tok ..


"Tuan.. Tuan.." panggil pemilik motel.


"Siapa nama penghuni kamar ini?" tanya polisi.


"Saya tidak tahu sir," jawab sang pemilik motel dengan perasaan yang takut.


"Apa motel ini menerima tamu, tidak meminta identitas?" tanya polisi kembali.


"Tidak Tuan, karena ini motel pinggiran. Saya merasa tidak membutuhkan identitas untuk menginap, karena pengunjung motel ini biasanya orang tidak mempunyai identitas" ucap pemilik motel.


"Panggil lagi, kalau tidak ada sahutan. Kita dobrak saja." titah polisi.


Tok...tok..tok...


"Tuan..!" panggil sang pemilik motel.


"Dobrak...!" titah polisi.


Pemilik motel memberi ruang untuk polisi untuk mendobrak pintu.


Dengan sekali tendangan, pintu motel yang sudah sangat lapuk. Akhirnya terlepas dari engsel nya.


Kedua polisi masuk, diikuti oleh pemilik motel.


"Tidak ada."


"Lihat, sepertinya dia sudah melarikan diri dari jendela ini."


"Sepertinya, orang yang menginap dikamar ini orang yang kita cari."


🌜 NextπŸŒ›

__ADS_1


Selamat datang 2022 , Semoga di tahun depan, apa yang menjadi keinginan kakak-kakak reader dan author akan terwujud. AMIN πŸ€—πŸ™



__ADS_2