
Happy reading guys π₯°
πππ
Erick dan Vannesa bercerita dan tertawa mengenang masa-masa mereka kecil dahulu, walaupun Vannesa keponakan angkat Maria. Tetapi Maria menganggap bahwa Vannesa putri adiknya yang meninggal tanpa meninggalkan anak kandung.
"Rick, aku tidak mengira. Kau menikah juga, aku kira kau akan menangisi mantanmu itu selamanya." ledek Vannesa seraya menonjok lengan Erick.
"Untuk apa ditangisi, wanita bukan hanya dia saja. Sekali jentik, wanita mau naik keranjang ku tanpa butuh ikatan pernikahan," kata Erick seraya menjentikkan jemarinya.
"Sombong..! kalau wanita mau naik ke ranjang tanpa butuh ikatan resmi, kenapa kau menikah?"
"Aku mau punya anak dengan ikatan pernikahan yang resmi," jawab Erick.
"Kau menikah tanpa cinta?" tanya Vannesa dengan menoleh menatap wajah Erick yang memandang lurus kedepan.
"Apa ada cinta jaman sekarang ini? cinta itu ada, jika kita punya segalanya," ucap Erick dengan tersenyum menoleh kearah Vannesa.
"Aku punya cinta Rick, punya cinta yang besar padamu," ucap Vannesa.
"Padaku dan Ardan, iya kan?" tanya Erick.
"Hehehe...!" Vannesa tertawa kecil.
"Kau mau mempermainkan kami berdua miss Angelo?" Erick mengacak-acak rambut Vannesa.
"Rick..! kau membuat rambutku berantakan." gerutu Vannesa kesal.
"Urungkan niatmu pada Ardan," kata Erick.
"Kenapa? Ardan belum menikah, emh...apa kau cemburu ?" Vannesa berdiri dan beranjak kedepan Erick, Vannesa menekuk lututnya sedikit membungkuk. Sehingga dua gundukan kembar terlihat mata Erick, tangan Vannesa menangkup kedua pipi Erick.
"Kau cemburu Rick?" tanya Vannesa dengan suara yang menggoda terdengar, Vannesa menyapu bibir merahnya dengan lidahnya. Sehingga bibir Vannesa basah.
Gleg...
Erick menelan ludahnya, bagaimana juga dia pria normal. Di sungguhi dengan pemandangan indah di mata, siapa yang tidak bernafsu.
Bibir Vannesa sedikit demi sedikit mendekati bibir Erick, tinggal sejengkal lagi. Tangan Erick menepiskan tangan Vannesa, kemudian Erick berdiri.
Erick memutar badannya, sekilas dia melihat bayangan Jovanka dibalkon kamar.
"Rick..!" Vannesa meraih lengan Erick yang ingin meninggalkannya.
"Jaga tingkah laku, jika masih ingin tinggal di sini..!" ucap Erick tegas.
"Rick, aku akan menunggumu. Jika kau bosan dengan istrimu," kata Vannesa.
"Aku tidak akan pernah bosan," jawab Erick seraya membalikkan badannya menghadap Vannesa.
"Dan kau miss Angelo, aku katakan sekali lagi. Jangan dekati Ardan, dia sudah punya gadis yang disukainya," ucap Erick.
"Kau melarang ku mendekati Ardan, bagaimana jika aku mendekati mu. Kau tahu Rick, hubungan backstreet itu sangat membangkitkan andrenalin. Aku sangat suka, kita bertemu diam-diam dibelakang istrimu. Setiap malam kau datang ke kamarku dengan sembunyi-sembunyi." Vannesa menggerakkan jemarinya yang lentik didada Erick yang satu kancing bajunya terbuka, hingga bulu-bulu dada Erick menarik minat Vannesa untuk membelainya.
"Cukup Vannesa, jangan jadi jal@ng..!" seru Erick dengan menepiskan jemari Vannesa dari dadanya, kemudian Erick berlalu dari hadapan Vannesa.
"Tidak pernah berubah," batin Erick seraya melangkah kembali menuju kamarnya.
__ADS_1
"Tapi kau suka kan Rick, aku tidak akan menyerah Rick. Aku akan mendapatkan diantara kalian berdua..!" seru Vannesa.
"Tidak dapat Erick, Ardan juga tidak apa-apa. Keduanya pangeran keluarga Godfrey," ucap Vannesa sembari mengusap dagunya.
Dalam kamar, Jovanka ngedumel. Karena melihat Erick dan Vannesa yang berciuman dari balkon kamarnya.
"Aku dibuatnya hamil, dia enak-enakan berciuman dibawah sinar bulan." gerutu Jovanka dibawah selimut yang menutupi seluruh tubuhnya.
"Dasar bulan sialan..! gara-gara ingin melihat sinarnya, mataku melihat pasangan mesum."
Karena tidak bisa tidur, Jovanka bangkit dari ranjang. Dan melihat sinar bulan yang terang, membuat dia berjalan kearah balkon. Dari balkon, Jovanka melihat Vannesa yang menggoda Erick.
Cklek...
Pintu kamar terbuka, Jovanka tahu. Erick yang masuk kedalam kamar, Jovanka memejamkan matanya untuk berpura-pura tidur.
Erick masuk kedalam kamar mandi, terlebih dahulu melihat kearah Jovanka yang tidur dengan menutup seluruh tubuhnya. Dia tahu, Jovanka hanya berpura-pura tidur.
"Pasti dia tambah marah, aaahhh..wanita tidak bisa dimengerti," ucap Erick seraya berkaca.
Setelah membuka bajunya, hanya tinggal boxer menempel ditubuhnya. Erick keluar dari dalam kamar mandi, kemudian merebahkan tubuhnya.
Erick menarik selimut untuk menutupi tubuhnya, tapi selimut membungkus tubuh Jovanka.
Erick berusaha untuk menarik selimut dari tubuh Jovanka, tetapi Jovanka menahannya.
"Jo, aku tahu. Kau belum tidur," ucap Erick.
Jovanka tetap diam dibawah selimut.
Erick menarik nafas, dia tidak tahu lagi. Bagaimana membujuk Jovanka, agar keluar dari bawah selimut yang menutupi seluruh badannya.
"Baiklah, jika kau tidak mau keluar. Aku akan tidur di kamar sebelah," ujar Erick.
Erick bangkit dan berdiri dari ranjang.
"Pergilah...! tidur dengan perempuan yang baru kau cium itu..!" seru Jovanka sembari menurunkan selimut sampai lehernya.
Erick membalikkan badannya menghadap Jovanka, tangannya bersedekap didada.
"kalau tidak melihat dengan benar, jangan asal bicara. Aku tidak menciumnya, ingat itu," kata Erick.
"Aku tidak asal bicara, wajah kalian berdua saling berdekatan. Hih.. wanita nggak ada Akhlaq, bibir suami orang saja mau diembat. Kalau tidak ingat aku ini lagi hamil, aku sudah tarik rambutnya keliling mansion..!" seru Jovanka dengan ekspresi wajah yang kesal.
"Hih..! kenapa kau tidak pakai baju..!" seru Jovanka, saat tersadar. Melihat Erick hanya mengenakan boxer menutupi bagian bawah tubuhnya.
"Apa kau lupa, aku tidur tidak biasa memakai baju. Biasanya aku polos tidur, apa kau ingin lihat aku polos." Erick langsung membuka boxer yang dikenakannya.
"Kau gila Erick..!" Jovanka menarik selimut menutupi wajahnya kembali.
"Pakai bajumu..!"
"Nggak akan, kalau kau masih marah juga." Erick merebahkan tubuhnya tanpa selembar benang melilit tubuhnya.
"Bagi selimutnya, kalau tidak. Aku akan tidur di kamar sebelah." ancam Erick.
"Kau menyebalkan..!" seru Jovanka.
__ADS_1
Jovanka mengurai selimut yang melilitnya, dan membaginya pada Erick.
"Kau sudah pakai baju ?" tanya Jovanka.
"Sudah," sahut Erick berbohong, dibalik selimut. Tubuh Erick polos.
Jovanka menurunkan menarik selimut yang menutupi tubuhnya, Jovanka menggeser tubuhnya menjauhi tubuh Erick. Dia curiga, dibawah selimut, tubuh Erick polos.
"Kau bohong Erick..!"
"Kenapa? kau ingin lihat?" Erick ancang-ancang ingin membuka selimut, untuk menunjukkan tubuh polosnya.
"Bukalah, jika kau mau itu mu itu tinggal setengah." ancam Jovanka.
"Tidurlah, sini.." Erick menepuk kasur didekatnya, agar Jovanka tidur didekatnya.
"Tidak..! aku marah, kau itu penipu. Kau tega menipu aku untuk menikah denganmu, ternyata kak Tian tidak melakukan kejahatan apapun juga."
"Aku sudah mengatakan pada Bastian, bahwa kita sudah menikah," kata Erick.
"Apa..! kau pria menyebalkan, aku membencimu..!" seru Jovanka seraya memukul lengan dan dada Erick dengan gemas.
"Hei..!" Erick memegang kedua tangan Jovanka yang memukulnya.
"Lepas..!" Jovanka menghentakkan tangannya dari pegangan tangan Erick.
"Kenapa kau marah aku mengatakan tentang pernikahan kita pada Bastian, lebih baik kita mengatakannya. Daripada dia tahu dari orang lain," kata Erick.
"Tentang kehamilan ini, apa kak Tian tahu ?"
"Ya, dia tahu," jawab Erick.
"Aku ingin membunuhmu Erick Godfrey..!" seru Jovanka seraya mengulurkan tangannya kearah leher Erick ingin mencekik Erick.
Erick tertawa lepas, melihat Jovanka kesal kepadanya.
"Cekiklah aku, biar hantuku nanti bergentayangan menganggumu ," kata Erick.
Jovanka menggeser tubuhnya ke ujung tempat tidur, dan membalikkan tubuhnya memunggungi Erick.
"Dasar pria gila, tidak waras. Semoga anakku tidak mirip dengannya." gerutu Jovanka.
"Dia anakku, sudah tentu mirip denganku. Besok kita ke rumah sakit, untuk periksa," kata Erick.
"Tidak mau..! bawa saja wanitamu itu, yang baru saja kau cium," ucap Jovanka.
"Dia tidak hamil, jika dia hamil nanti. Aku akan menemaninya ke dokter."
Perkataan Erick membuat Jovanka meradang.
Dan ..
"Menyebalkan..!" Jovanka melempar guling yang dipeluknya pada Erick, dengan sigap Erick menangkap guling tersebut.
"Terima kasih." ujar Erick memeluk guling yang melayang kearahnya.
π Nextπ
__ADS_1