The Tyrant'S Desire (Hasrat Cinta Sang Penguasa)

The Tyrant'S Desire (Hasrat Cinta Sang Penguasa)
Mengulang


__ADS_3

Selamat membaca kakak-kakak reader, dan tetap tekan like like πŸ™πŸ₯°. Terima kasih atas dukungannya pada cerita ini.


🌺🌺🌺


"Kenapa jadi aku dituduhnya, dasar pemabuk" batin Jovanka ngedumel .


"Berani sekali ya, mengambil keuntungan dalam keadaan aku tidak sadar?"


"Siapa yang mengambil keuntungan?" kesal Jovanka, karena tuduhan Erick.


"Kau Mrs Godfrey, kau memperkosaku. Dalam keadaan aku tidak sadar!" ucap Erick, kedua tangannya bersedekap didada. Tubuh bagian atasnya polos, sedangkan bagian bawah. Hanya selimut yang melilit.


"Kau sudah tidak waras, itulah. Karena terlalu sering mengkonsumsi minuman beralkohol, hingga bicara yang tidak benar. Mana ada wanita yang memperkosa laki-laki, biasanya. Laki-laki yang memperkosa wanita Tuan...!" ucap Jovanka, matanya mendelik tajam menatap wajah Erick.


"Kali ini tidak biasanya, kau yang membuat berbeda. Wanita pertama yang telah memperkosa pria dalam keadaan tidak sadar, hemh.. bagaimana tanggapan masyarakat. Jika hal ini tersebar? pasti akan menjadi trending topik di dunia maya" kata Erick.


"Hih.. menyebalkan..!" ketus Jovanka.


Dalam keadaan kesal, Jovanka beranjak dari sofa. Kemudian berjalan melewati Erick.


"Pinggir" Jovanka mendorong Erick yang menghalanginya.


"Mau kemana?" tanya Erick seraya mencekal tangan Jovanka.


"Mau keluar, mau ketempat Arisa. Makin lama aku disini, satu ruangan denganmu. Semakin tidak waras otakku ini" jawab Jovanka.


"Tidak boleh, urusan kita belum selesai Mrs Godfrey. Kau harus mengingatkan aku mengenai apa kita lakukan tadi malam" kata Erick.


"Kita tidak ada urusan" Jovanka berusaha melepaskan cekalan tangan Erick.


"Kita ada urusan, kau tidak boleh keluar dari dalam kamar" kata Erick seraya menarik Jovanka, hingga tubuh Jovanka menempel di badan kekar Erick.


Wajah Jovanka menempel di dada Erick.


"Oh..." Jovanka menelan ludahnya, saat menatap badan kotak-kotak Erick tepat didepan matanya.


Tangan Erick menekan badan Jovanka kebadannya, tidak ada jarak diantara dua tubuh.


"Lepas..! aku tidak bisa bernapas" lirih terdengar suara Jovanka.


jemari Jovanka menempel didada Erick, saat jemarinya menyentuh dada Erick. Jantung Jovanka deg..deg..ser.


"Oh.. God, dadanya sangat kekar." batin Jovanka.


"Kenapa? kau menyukainya?" tanya Erick, saat merasakan jemari Jovanka bermain-main didadanya.


"Tidak!" Jovanka menarik jemarinya.

__ADS_1


"Lepas, aku mau ketemu dengan Arisa" ucap Jovanka.


"Sudah aku katakan, kau tidak bisa keluar. Urusan kita belum selesai" kata Erick.


"Kita tidak ada urusan" ucap Jovanka.


"Siapa bilang tidak ada, urusan apa yang kau lakukan tadi malam belum selesai. Kau telah mengambil kesempatan, dalam keadaan aku tidak sadar. Aku tidak menikmati apa yang terjadi tadi malam, kita akan mengulanginya. Saat aku dalam keadaan sadar" kata Erick.


Dan...


"Aw..!!" pekik Jovanka, tiba-tiba. Erick mengangkatnya. Dan membawanya keranjang, dan merebahkan Jovanka. Lalu Erick menindih tubuh Jovanka, Jovanka kaget. Saat tubuh kekar Erick mengungkung badannya, hingga dia tidak dapat bergerak.


"Kau mau apa?" Jovanka panik, dan berusaha untuk meloloskan diri dari Kungkungan badan kekar Erick.


"Aku ingin, kita mengulang kembali. Apa yang aku lewatkan tadi malam, aku tidak ingat. Apa yang kita lakukan tadi malam" ucap Erick sembari mengelus pipi Jovanka.


"Tidak! jangan diulangi lagi, disini. Benihmu sudah ada, nanti tidak jadi" kata Jovanka seraya mengelus perutnya.


Semoga dia percaya" batin Jovanka.


"Oh..ya, tapi mungkin saja. Benihku yang tadi malam tidak jadi, karena aku dalam keadaan tidak sadar akibat minuman beralkohol. Aku tidak ingin, anakku nanti begitu lahir sudah bisa minum-minuman keras," ucap Erick.


"Tidak mungkin, masih baby sudah bisa minum-minuman keras" Jovanka berusaha untuk menggagalkan niat Erick untuk bercinta.


"Mungkin saja, diamlah. Kau membangunkan yang masih tidur" bisik Erick ditelinga Jovanka, membuat bulu-bulu halus Jovanka meremang.


"Tidak bisa, kita harus mengulangi apa yang kita lakukan tadi malam. Aku tidak ingat, bagaimana kau memperkosaku. Kalau dilihat dari kissmark yang ada dileher ini, sepertinya. Pertarungan kita sangat dahsyat, aku ingin kau melakukannya dalam keadaan aku sadar sayang.." bibir Erick menempel disudut bibir Jovanka, dan lidah Erick juga menyapu bibir Jovanka. Membuat Jovanka tidak bisa melakukan apapun juga, tubuhnya kaku. Matanya bulat sempurna menatap wajah Erick.


"Senjata makan tuan, aku ingin mengerjainnya. Aku yang celaka.." batin Jovanka.


"Bagaimana, bisa kita memulainya..? Karena tadi malam, kau yang bermain. Sekarang, biar aku yang bermain. Sekarang aku dalam keadaan sadar, benihku akan bersemi didalam sini" jemari Erick bermain-main diperut Jovanka, yang ditutupi kaos oblong milik Erick.


"Hemh..kau sangat harum" bisik Erick sembari mengecup ceruk leher Jovanka.


Cup.. cup..cup..


Kecupan bertubi-tubi dilakukan Erick dileher dan pipi Jovanka.


"Jangan sekarang" ucap Jovanka dengan suara bergetar, akibat lidah Erick yang bermain dileher dan telinganya. Sensasi yang tidak bisa diungkapkan dengan kata-kata dialami Jovanka.


"Kapan lagi, hemh..aku sangat ingin mengingat apa yang kita lakukan tadi malam, mungkin saja. Dengan mengulangi apa yang terjadi tadi malam, aku berharap bisa mengingatnya. Sensasi apa yang kau lakukan" ucap Erick dengan menatap wajah Jovanka dengan intens.


"Tadi malam..tadi malam itu.." Jovanka gugup, tidak bisa berkata-kata. Karena jemari tangan Erick sudah masuk kedalam kaos oblong kebesaran yang dikenakannya.


"Ada apa tadi malam? apa kau juga lupa apa yang terjadi tadi malam..hemh..? kalau begitu, kita mengulang kembali. Biar kita bisa mengingatnya, pertama kali. Apa yang kau lakukan?"


"Apa ini " bibir Erick menempel dibibir Jovanka, gigitan kecil dilakukannya.

__ADS_1


"Tidak..tidak.." ucap Jovanka.


"Bukan, apa ini?" tangan Erick merambat naik kebagian dua gunung lembut Jovanka, tangan Erick menangkup dua gunung yang tidak ditutupi oleh apapun juga secara bergantian.


"Aku senang, ini tidak ada penghalangnya" bibir Erick menempel di gunung Jovanka, yang masih terhalang baju yang dikenakannya.


"Aku belum siap, please..! tolong hentikan" ucap Jovanka dengan suara yang sayu terdengar.


"Kapan lagi, cepat kau hamil. Dan melahirkan penerus untukku, dan jika kau ingin meninggalkan tempat ini. Aku mengizinkan" kata Erick.


"Tapi, tidak ada cinta diantara kita" kata Jovanka.


"Untuk bercinta, tidak perlu ada cinta. Hanya perlu napsu" ucap Erick dengan enteng.


"Tapi.. aku.."


"Cukup! tidak perlu lagi kita berkata-kata yang tidak perlu, ayo. kita ulang kembali apa yang terjadi tadi malam"


Erick kemudian menempelkan bibirnya ke bibir Jovanka, lidahnya beraksi dibibir Jovanka.


Jovanka berusaha untuk menghindar dari bibir Erick, dengan menggoyangkan kepalanya ke kiri dan kanan. Tetapi kekuatan tangan Erick memegang dagunya untuk tidak bergerak membuat Jovanka sulit untuk menghindar dari sergapan bibir Erick.


"Aw...!" wajah Erick menjauh dari wajah Jovanka, tangannya memegang bibirnya.


Dengan sekali dorong, tubuh Erick telentang disamping Jovanka. Begitu terlepas dari Kungkungan tubuh Erick, Jovanka secepatnya bangkit dari ranjang dan berlari menuju pintu.


"Jovanka! berani-beraninya kau mengigit bibirku!" seru Erick sembari memegang bibirnya yang di gigit Jovanka.


"Enak? tidak semudah itu kau mendapatkanku Tuan muda, week..!" ledek Jovanka, dan menjulurkan lidahnya. Sebelum kabur.


"Jangan kabur kau bocah nakal! kau harus bertanggung jawab, lihat. Bibirku berdarah!" panggil Erick, tetapi Jovanka sudah berlari menuju kamar Arisa.


"Sial..! awas kau Jovanka, aku tidak akan melepaskan mu" ucap Erick.


Erick bangkit dari ranjang, berjalan menuju kamar mandi. Didepan cermin, Erick melihat. Bibirnya bengkak.


"Sial, hari ini aku pertemuan dengan klien. Mereka pasti menatapku heran, melihat bibirku bengkak begini"


🌝🌝🌝


**Next...


Bantu...


Like


Vote

__ADS_1


Terima kasih**...


__ADS_2