The Tyrant'S Desire (Hasrat Cinta Sang Penguasa)

The Tyrant'S Desire (Hasrat Cinta Sang Penguasa)
Ada senang ada yang kesal.


__ADS_3

"Gerahnya" Jovanka mengibas-ngibas jemarinya kearah wajahnya, keringat sudah mengalir dari area keningnya.


"Apa tidak ada pendingin udara disini?" Jovanka celingukan mencari pendingin udara di setiap sudut kamar, tidak terlihat ada pendingin udara didalam kamar.


"Dasar pelit..! pendingin udara saja tidak ada, orang kaya pelit..!" umpatan terus mengalir dari bibir Jovanka.


"Aku mandi saja, baju ini lagi. Membuat aku susah bernapas dan bergerak" ngedumel Jovanka.


"Aku harus mengunci kamar, bagaimana jika aku sedang mandi. Tiba-tiba orang itu masuk dan menerkam ku, awas kau Dfrey. Kau menipuku selama ini, jangan kau kira aku akan menyerahkan tubuhku ini dengan mudah. Jangan mimpi..!" Jovanka mengomel sembari mengunci pintu kamar.


"Beres.."


Jovanka masuk kedalam kamar mandi, saat ingin membuka baju pengantinnya. Tangannya sulit untuk meraih resleting pada punggungnya.


"Aaarrgghhh..sial..sial..! siapa yang membuat baju seperti ini, resletingnya di belakang begini. Kan menyulitkan untuk membukanya, membuat susah saja..!" omelan dari bibir Jovanka terus meluncur .


"Hemh.." Jovanka memikirkan cara untuk membuka resleting baju pengantinnya.


"Hehehe..!" seringai dibibirnya, begitu melihat ada gunting didalam kamar mandi.


Jovanka mengambil gunting tersebut, kemudian. Jemarinya dengan lincah menggunting bagian depan baju pengantinnya.


"Maafkan aku, telah merusak mu" ucap Jovanka saat selesai menggunting baju pengantinnya.


"Ahaii.. akhirnya aku terbebas dari baju ini" ujar Jovanka sembari membuang baju pengantinnya keatas wastafel.


Kemudian, Jovanka beranjak menuju shower.


"Segarnya.." Jovanka berdiri dibawah shower, air shower yang sejuk membasahi rambut hitamnya.


Selesai membersihkan badannya, Jovanka baru tersadar. Dia tidak memiliki baju untuk ganti.


"Dasar bodoh..! kenapa aku lupa, aku tidak punya baju ganti" Jovanka melihat ada handuk mandi tergantung, tangannya menyambar baju itu dan mengenakannya.


"Pakai ini dulu untuk darurat, semoga Dfrey yang menyebalkan itu. Tidak ada didalam kamar" gumam Jovanka.


Walaupun telah mengunci pintu kamar, tapi Jovanka khawatir. Erick bisa membuka pintu kamar.


Setelah selesai memakai handuk mandi, Jovanka membuka pintu kamar mandi. Dan mengintip keluar dari sela-sela pintu.


"Aman, sepertinya dia tidak ada didalam kamar. Kunci pintu kamar masih tergantung, walaupun dia ada kunci cadangan. Tidak mungkin dia bisa membukanya" ucap Jovanka.


Jovanka keluar dari dalam kamar mandi, dan berjalan menuju ruangan walk in closet.


Jovanka membuka pintu lemari pakaian di dalam walk in closet, dia melihat pakaian jeans Erick yang tergantung didalam sana.


"Tidak Mungkin aku memakai baju ini" Jovanka menutupnya.


Jovanka lanjut membuka pintu lemari satu persatu, untuk mencari pakaian yang bisa dikenakannya.


Mata Jovanka terbelalak, begitu membuka pintu lemari yang lain. Baju tidur kurang bahan dan transparan tergantung dengan berbagai macam warna dan model.


"Gila..! siapa yang ingin memakai baju seperti ini? baju siapa ini? apa baju milik wanita kekasih pria tidak waras itu?" Jovanka memeriksa baju tidur satu persatu, jemarinya melewatkan baju itu. Karena tidak ada yang ingin dipakainya.


"Semua baju yang menyebalkan, pakai apa aku. Apa aku pinjam baju Miss Lin saja" gumamnya.


"Coba yang ini, semoga isinya tidak seperti yang itu" Jovanka membuka pintu lemari yang terakhir.


"Lumayan, tidak mengecewakan. Ini pasti baju Dfrey" Jovanka melihat baju kaos oblong dan celana olahraga.


"Ini saja, daripada baju kurang bahan itu. Bisa-bisa aku akan masuk angin" ucap Jovanka.


Jovanka membuka handuk mandinya dan terlihat tubuh polosnya, karena kedua pakaian dalamnya sedang dicucinya. Sehingga Jovanka tidak mengenakan pakaian dalam, dibalik kaos oblong kebesaran dan celana olahraga.

__ADS_1


"Lumayan, tidak terlalu terlihat aku tidak memakai pakaian dalam" gumam Jovanka.


"Hahaha..aku tenggelam" ngekeh Jovanka, saat melihat tubuhnya didalam cermin. Baju Erick yang besar, menenggelamkan tubuh mungilnya. Bila didekatnya dengan para pria yang bertubuh besar, Jovanka termasuk mungil.


"Nggak apa-apa, daripada tidak memakai apapun juga" ujarnya.


Jovanka keluar dari dalam walk in closet, bersamaan dengan pintu kamarnya diketuk.


"Siapa itu? apa Dfrey si menyebalkan datang?" Jovanka berjalan menuju pintu, dan menempelkan telinganya. Untuk mendengar siapa yang mengetuk pintu kamarnya.


Tok..tok...


"Jo.. Jo.." terdengar suara Arisa.


"Ternyata si penghianat" gerutu Jovanka.


Ceklek...


Jovanka membuka pintu kamar, bibirnya cemberut menatap wajah Arisa.


"Hai..!" Arisa melambaikan jemarinya didepan wajah Jovanka yang cemberut menatapnya.


"Singkirkan tanganmu, kau itu teman yang sangat-sangat menyebalkan! kau itu sama dengan si Dfrey itu. Sangat menyebalkan!" seru Jovanka, dan kemudian meninggalkan Arisa yang masih berdiri didepan pintu.


"Jo..! apa aku boleh masuk?" tanya Arisa dengan menunjukkan wajah yang cengengesan.


"Tidak usah cengengesan..! apa aku harus menggelar karpet merah untuk menyambut kedatanganmu ?" Jovanka jengkel.


Arisa masuk kedalam kamar Jovanka, dan melihat kamar yang sangat besar.


"Jo, besar sekali kamarmu. Kau bisa bermain bola disini" kata Arisa.


"Tidak usah berlebihan" ucap Jovanka.


"Oh.. Jo, kau sungguh beruntung..! suamimu tampan, kaya dan ternyata. Dia tidak jelek" kata Arisa.


"Kenapa sekarang kau memujinya, bukannya kau mengharapkan dia kena serangan jantung?" tanya Jovanka.


"Doaku itu, karena waktu itu dia menyamar menjadi pria kotor dan berjanggut panjang. Kalau yang ini, Doaku. Agar kau bahagia selamanya" kata Arisa.


"Aku curiga, apa kau dibayar olehnya?" Jovanka menatap Arisa dengan curiga.


"Hei Jo, aku ini teman setiamu. Aku tidak dibayar untuk memujinya, tapi. Bolehlah, jika aku diberi emas sekilo" nyengir Arisa.


"Dasar..!" Jovanka melempar Arisa dengan bantalan kursi yang dipeluknya.


"Jo, aku dulu curiga dengan Dfrey. Aku merasa dia bukan orang biasa, terbuktikan" kata Arisa.


"Kenapa tidak kau katakan, kecurigaan mu itu?" tanya Jovanka.


"Sepertinya sudah pernah aku katakan Jo, kau tidak mempercayai aku" kata Arisa.


"Jo, menurut aku. Erick itu pria yang baik, caranya saja yang salah. Dia mengancammu, agar mau menikah dengannya" kata Arisa.


"Bagaimana bisa dikatakan baik, dia menahan kak Tian. Untuk memaksakan kehendaknya" kata Jovanka kesal.


Arisa mendekati Jovanka, dan duduk disampingnya. Kemudian jemarinya menggenggam tangan Jovanka.


"Sudah aku katakan, kak Tian baik-baik saja. Sekarang ini, kau harus waspada. Pernikahanmu ini, pasti akan mendatangkan kerikil-kerikil dari luar. Tapi tenang saja, Erick tidak akan membiarkan energi jahat mendekatimu" kata Arisa.


"Kau mau menjadi cenayang lagi" kata Jovanka.


"Hehehe.. percayalah" ucap Arisa sembari tertawa kecil.

__ADS_1


Seperti yang dikatakan oleh Arisa, Bastian Reuel sekarang menjabat sebagai Direktur disain di perusahaan Erick Godfrey.


"Ah..letih sekali" Bastian merenggangkan otot-ototnya, dan berdiri dari duduknya.


"Sudah jam 5, aku pulang saja. Aku rindu dengan Jovanka, tetapi aku belum bisa pulang ke rumah" kata Bastian, walaupun dia sudah bisa keluar. Tetapi Erick hanya membatasi pergerakan Bastian diarea sekitar perusahaan. Dan sekarang, Bastian tidak berada di pulau Saint Angel. Erick menempatkan Bastian di kantor pusat.


Bastian keluar dari perusahaan, dengan naik sepeda. Dia pulang menuju mess karyawan.


Disepanjang jalan, hanya lautan luas yang dilewatinya.


"Kenapa gadis itu?" Bastian menghentikan Kayuhan sepeda, dan menyandarkan sepedanya dibatang pohon.


"Miss, jika ingin bunuh diri. Tidak perlu dipikirkan lagi, loncat saja" kata Bastian, saat melihat seorang gadis berdiri ditepi jurang yang berbatasan dengan lautan.


Gadis yang disapa okeh Bastian menoleh kearah Bastian.


"Aku tidak bodoh, untuk apa aku mengakhiri hidup." kata gadis tersebut.


"Baguslah, aku kira kau ingin mengakhiri hidup" kata Bastian.


"Aku Bastian Reuel" Bastian mengenalkan dirinya.


"Sandra Wilcox" balas Sandra.


"Untuk apa kau berdiri di sini? langit akan hujan, lihat. awan hitam" kata Bastian.


"Aku baru membuang masa lalu ketengah lautan" kata Sandra.


"Masa lalu?" Bastian tidak mengerti apa yang dikatakan gadis yang bernama Sandra.


"Masa lalu yang tidak ingin kita kenang, lebih bagus kita buang saja kan" kata Sandra.


"Betul, apa lagi. Jika masa lalu yang sangat menyakiti hati kita, lebih bagus kita buang" kata Bastian.


"Bye..bye masa lalu..!" teriak Sandra dengan suara yang keras kearah lautan luas.


"Terima kasih, kau telah menemani aku membuang masa lalu" kata Sandra, kemudian berjalan meninggalkan Bastian.


"Gadis yang aneh" gumamnya, seraya menatap punggung Sandra semakin jauh dari tempat Bastian berada.


**


"Ini malam pengantin ku..! istriku, di mana kau berada!" Erick mabuk, omongan meracau.


"Hus.. jangan ribut, nanti istrimu marah. Apa kau tidak takut, istrimu itu terlihat gadis yang sangat galak" kata Ardan, yang mengantarkan Erick untuk kembali ke kamarnya.


"Hus..dia gadis yang sangat galak.." bisik Erick pada Ardan.


"Iya.. hahaha, habis kau Erick. Istrimu sangat galak" kata Ardan yang mabuk seperti Erick.


"Hus.. pelan kan suaramu" ucap Erick.


"Hus.." Ardan menempelkan jari dibibirnya.


Keduanya berjalan sembari sempoyongan, dan saling berangkulan. Marcio mengikuti dari belakang.


"Baru lihat keduanya mabuk" ucap Marcio sembari tersenyum.


**Next...


🍀🍀


Apa yang akan dilakukan Jovanka kepada Erick yang mabuk??🤔😄** tunggu bab selanjutnya.

__ADS_1


Jangan lupa untuk menekan like like 🙏🥰


__ADS_2