The Tyrant'S Desire (Hasrat Cinta Sang Penguasa)

The Tyrant'S Desire (Hasrat Cinta Sang Penguasa)
Restu


__ADS_3

Happy reading guys πŸ₯°


πŸ€πŸ€πŸ€


Erick memberitahu hubungannya dengan Jovanka, tapi Bastian tertawa lebar mendengar perkataan Erick. Dia merasa apa yang baru saja dikatakan oleh Erick adalah tidak benar.


"Hahahaha...!" Bastian tertawa, sampa matanya berair.


Tawanya berhenti, saat melihat Erick dan Ardan menatapnya.


"Ini bukan April mop kan? tidak..! ini baru bulan Januari, tidak mungkin April mop dipercepat ," ucap Bastian.


Bastian menatap wajah Erick dengan lekat, tidak terlihat kebohongan terlihat dari wajah Erick.


"Apakah benar, apa yang yang Tuan katakan tadi?" tanya Bastian.


"Erick berkata benar Bastian, Erick adik iparmu sekarang ini. Erick sudah menikah dengan adikmu hampir mau dua bulan," ucap Ardan.


"Menikah..! dengan adik saya Jovanka?" ada rasa tidak percaya Bastian, dengan pernikahan Erick dengan Jovanka.


"Apa kau ada saudari perempuan yang lain, selain Jovanka?" tanya Erick.


"Tidak ada..! adikku hanya Jovanka," ucap Bastian.


"Dimana kalian saling kenal? Jovanka itu gadis rumahan?" tanya Bastian.


"Apa saat kau menyuruh Jovanka datang, disitu kalian saling kenal?" tanya.


"Aku mengetahui Jovanka dari ponselmu, aku melihat gambarnya," ucap Erick.


"Ponsel..!" Bastian ingat, ponselnya yang diambil oleh anak buahnya Erick Godfrey.


Kemudian...


Erick menceritakan semua, apa yang dilakukannya pada Jovanka. Dia tidak ingin ada yang disembunyikan lagi, tetapi Erick tidak mengatakan. Bahwa pernikahannya dilakukan untuk mendapatkan ahli waris kepada keluarga Godfrey.


"Kau sangat jahat..! tega membuat Jovanka khawatir dengan keadaanku, kau mengambil kesempatan ," ucap Bastian tanpa ada rasa takut pada Erick.


"Kau mempermainkan perasaan Jovanka..!" tuduh Bastian lagi.


"Tidak..! aku tidak mempermainkan perasaan Jovanka." tolak Erick dengan tuduhan Bastian.


"Kau menyukai Jovanka?" tanya Bastian.


Erick terdiam, mendapatkan pertanyaan yang membuat Erick bingung untuk menjawabnya.


"Kau tidak bisa menjawab, lepaskan Jovanka..!" titah Bastian.


"Tidak...! Jovanka istriku..!" balas Erick.


"Tidak ada yang bisa memisahkan kami, termasuk kau juga sebagai saudara satu-satunya." tegaskan Erick pada Bastian.


"Pernikahan kalian tidak sah..!" seru Bastian.

__ADS_1


"Pernikahan kami sah, menurut hukum negara dan juga agama. Dan kau tidak bisa memisahkan kami, karena Jovanka telah mengandung keturunan keluarga Godfrey..!"


"Apa..!" Bastian sangat terkejut, mendengar ucapan Erick mengenai hamilnya Jovanka.


"Kau..!" kesal Bastian menatap Erick.


"Kalian berdua jangan berdebat lagi, Bastian. Sekarang ini, Erick telah secara sah sebagai suami Jovanka. Kau tidak bisa memisahkan mereka," ucap Ardan menengahi pertengkaran keduanya.


"Awas kau jika menyakiti adikku Jovanka..! aku tidak perduli kau orang yang berkuasa..!" ancam Bastian seraya jari telunjuknya mengarah kearah Erick.


"Aku akan membawa Jovanka, jika kau sampai menyakitinya." ancam Bastian kembali.


Yang selama ini ada perasaan takut jika berhadapan dengan Erick Godfrey, kini. Perasaan takut itu sirna, karena ini menyangkut keselamatan saudarinya Jovanka.


"Aku..." ucapan Erick terhenti, saat seorang dokter dan perawat datang menghampiri kearah ranjang Bastian.


"Selamat siang." sapa dokter tersebut pada Bastian.


"Siang dokter." balas Bastian.


"Apa ada keluhan?" tanya dokter pada Bastian.


"Saat ini tidak ada dokter," jawab Bastian.


"Tadi kau katakan, punggungmu mati rasa," ucap Erick, saat mendengar Bastian tidak mempunyai keluhan. Saat ditanya oleh dokter.


"Oh..ya Dok, saya lupa. Punggung saya sepertinya tidak merasa," kata Bastian.


"Coba saya periksa."


"Sakit Tuan?" tanya dokter pada Bastian, saat dokter mencubit punggungnya.


"Tidak ada rasa Tuan, saya merasa. Tulang belakang yang sering terasa nyeri, dan panas," ucap Bastian.


"Kita lihat besok, jika masih tidak merasa apapun juga. Kita akan foto ulang, mungkin ada yang terlewat dari penglihatan," ucap dokter.


"Dokter, apa ada kemungkinan saya tidak bisa bergerak. Mungkin ada kerusakan pada tulang belakang saya?" tanya Bastian.


"Besok kita akan periksa ulang," jawab dokter dengan jawaban yang sama.


Setelah dokter meninggalkan kamar inap Bastian.


Bastian ngedumel, karena jawaban dokter tidak memuaskan Bastian hatinya.


"Aku butuh jawaban yang pasti, dia hanya mengatakan akan periksa ulang terus..." kesal Bastian.


"Jangan khawatir, kau pasti bisa berjalan kembali. Mungkin saja itu efek dari obat penghilang rasa sakit yang kau konsumsi," kata Ardan.


"Jika aku tidak bisa berjalan, atau mungkin aku tidak bisa bertahan. Kau harus menjaga Jovanka," ucap Bastian pada Erick.


"Kau pesimis sekali..! kau tidak apa-apa, kau pasti masih bisa memaki aku. Jika aku mengkhianati saudarimu," ucap Erick.


"Aku pegang janjimu, jika aku memakimu. Kau jangan masukkan aku kedalam kandang buaya, seperti ancaman mu selama ini," ucap Bastian.

__ADS_1


"Iya," sahut Erick seraya menggaruk tengkuknya.


"Habis kau Erick, ketemu brother in law yang galak sama dengan istrimu.." ledek Ardan.


"Galak..! siapa yang galak? apa kau punya istri lain, selain Jovanka adikku..?" tanya Bastian dengan penuh curiga menatap wajah Erick.


"Istriku hanya adikmu, tidak ada yang lain."


"Kau tidak menipuku kan? jika kau menyimpan banyak istri di pulau Saint Angel, aku akan membawa pulang adikku..!" ancam Bastian.


"Bas, yang aku ceritakan istri yang galak itu adikmu Jovanka," kata Ardan.


"Hei..! adikku Jovanka itu gadis yang lembut, dia tidak galak. Kalau kalian tidak percaya, kalian tanya pada tetangga kami. Semua pasti mengatakan, Jovanka gadis yang sangat santun. Tidak pernah berkata kasar," kata Bastian.


Erick dan Ardan saling pandang, mereka heran. Bastian tidak mengenal sifat adiknya.


"Kalau dilihat dari penampilannya yang suka memakai pakaian ala-ala pria, orang pasti mengira dia tomboy. Tapi tidak, Jovanka gadis yang paling manis." terlihat wajah Bastian bahagia, saat menceritakan tentang sosok sang adik.


"Kau berapa lama tinggal dengan adikmu?" tanya Erick.


"Aku lebih lama tinggal di asrama, karena kedua orangtuaku lebih sering pergi. Dan Jovanka selalu ikut mereka pergi, orangtua kami meninggal saat usiaku 20 tahun. Dan Jovanka sekitar 12 tahunan, dan aku bekerja diluar kota. Jovanka tinggal dengan maid." cerita Bastian.


" Jadinya, kau tidak tahu bagaimana sifat adikmu itu," ucap Erick.


"Walaupun kami berjauhan, aku tahu. Jovanka gadis yang lembut dan jauh dari gadis yang bar-bar..!" seru Bastian dengan kesal seraya menatap Erick dan Ardan.


"Ya...ya.. Jovanka gadis yang lembut, kami percaya itu," ucap Erick, karena melihat Bastian yang kesal.


"Aku sudah sering menjadi korban adik lembutmu itu." batin Erick.


πŸ€πŸ€πŸ€


Dalam Mansion, Maria mentitahkan para maid untuk memasak banyak menu untuk Jovanka. Hingga membuat perut Jovanka serasa sesak, karena makanan selalu datang untuk di cicipi oleh Jovanka dan Arisa.


"Mom, sepertinya. Perut Jo akan besar, sebelum sembilan bulan," kata Jovanka sembari mengusap perutnya yang terasa sesak.


Maria tertawa mendengar perkataan Jovanka.


"Maaf, mommy senang. Karena sebentar lagi akan punya cucu," ucap Maria.


"Mrs Godfrey.." seorang maid masuk dan menyebut Mrs Godfrey.


Maria dan Jovanka sama-sama menoleh kearah maid.


"Ada apa?" tanya Maria.


"Ada tamu mencari anda Mrs Godfrey," ucap maid.


"Siapa?"


"Saya aunt Maria..!"


Seorang gadis masuk dengan membawa koper, dan langsung memeluk Maria.

__ADS_1


🌜 NextπŸŒ›


__ADS_2