
Happy reading guys π₯°
βοΈβοΈ
Dalam pesawat, Jovanka ingin duduk bersama dengan Arisa. Tetapi Erick mendudukkan Jovanka didekatnya.
"Aku mau duduk dekat Arisa," ucap Jovanka.
"Tidak boleh!" tolak Erick.
"Aku mau dekat Arisa, kau duduk dengan wanita genit itu saja!" seru Jovanka dengan bibir manyun.
"Apa kau cemburu?" tanya Erick.
"Cemburu? jangan mimpi.!" ucap Jovanka sembari memainkan matanya.
"Baguslah, karena Vannesa pasti akan menempel terus padaku dan Ardan," kata Erick.
"Menyebalkan," batin Jovanka.
Jovanka ingin berdiri, tangan Erick menahannya. Dan memasangkan seat belt.
"Hei..!"
"Duduk, jangan kemana-mana," ucap Erick.
"Menyebalkan" gumam Jovanka.
"Siapa yang menyebalkan? sepertinya, bibirmu ini sering kali menyebutkan kalimat satu itu," ucap Erick.
"Ada tadi, orang yang menyebalkan lewat didepan" sahut Jovanka.
"Tidak usah pedulikan orang yang menyebalkan itu, duduk saja," ucap Erick dan menggenggam jemari tangan Jovanka.
Erick melepaskan genggamannya dan berpindah ke perut Jovanka, dan mengelusnya.
"Tenang my triplets, kita akan pulang," ucap Erick.
"Erick, aku duduk di mana ?" tanya Vannesa yang masuk belakangan, dan berdiri disamping Erick duduk.
"Terserah, tinggal pilih. Jika kau mau duduk di sayap pesawat juga boleh," jawab Erick.
"Erick..! Kau sangat jahat."
"Miss, bagian belakang masih kosong," ucap pramugari pada Vannesa.
"Ih...!" dengan menggerutu, Vannesa berjalan menuju bagian belakang.
Untuk tempatnya duduk.
"Tempatmu dibelakang" ledek Arisa.
"Kau..! harusnya aku duduk disampingnya..!" Vannesa menunjuk Ardan yang duduk disebelahnya Arisa.
"Miss, kita sudah mau berangkat," ucap pramugari yang berdiri dibelakangnya.
"Iya, cerewet sekali.." Vannesa melanjutkan langkahnya.
"Sial..! aku duduk dibelakang." Vannesa menghempaskan bokongnya kekursi dengan kesal.
"Pasang seat belt anda Miss, kita akan berangkat," ucap orang yang duduk didekatnya.
"Tidak perlu kau beritahu, aku juga tahu," jawab Vannesa ketus.
"Anda jangan marah-marah miss, nanti keriput di wajah anda bertambah," ucap pria tersebut.
"Keriput? Apa wajahku sudah ada keriputnya?" Vannesa mengambil kaca dari tas kecil yang ada di pangkuannya, dan mengeluarkan bedak.
Pria yang duduk didekatnya, tersenyum. Melihat Vannesa melihat wajahnya dari kaca
"Tidak ada keriputnya?" sadar, jika dirinya telah ditipu oleh pria yang didekatnya. Vannesa melirik pria tersebut dengan kesal.didekatnya.
__ADS_1
"Pria berengsek!"
Pria tersebut memejamkan matanya, tidak perduli dengan amukan Vannesa.
"Kenapa aku duduk didekat orang yang menjijikkan, lihatlah rambutnya. Panjang seperti tidak pernah disisir. Pasti banyak binatang di rambutnya itu, bajunya? oh God..! aku sungguh sial, ingin dekat dengan Erick dan Ardan. Kenapa aku berakhir didekat gembel ini." Vannesa bergidik, melihat orang yang duduk disebelahnya. Rambut panjang, wajahnya ditutupi kumis dan jenggot.
"Ih..!"
Pria yang duduk disebelahnya sudah masuk kedalam mimpi, dengkuran kecil terdengar dari mulutnya yang terbuka. Topi, menutupi sebagian wajahnya.
βοΈβοΈβοΈ
Walaupun usia kehamilan Jovanka baru 6 Minggu, tapi perut Jovanka sudah terlihat.
"Baru 6 Minggu, kenapa sudah terlihat seperti 3 bulan," ucap Jovanka seraya mengelus perutnya.
"Apakah normal?" gumam Jovanka.
"Aku cari di mesin pencarian saja, mengenai hamil kembar tiga."
Sejak Erick memberi Jovanka ponsel, Jovanka selalu browser tentang kehamilan di internet.
"Ini dia, emh.. mungkin karena nafsu makan ku yang meningkat, sehingga baby cepat besar. Kenapa aku tidak seperti wanita hamil kebanyakan, muntah. Tidak ingin makan apapun, aku sebaliknya. Semua bisa aku makan," Jovanka bicara sendiri.
Di waktu dan jam yang sama, Erick sedang kedatangan tamu. Yaitu klien yang baru saja menjalin kerjasama dengan perusahaan Erick.
"Marcio, temani Tuan Yama. Aku ingin ke toilet," ucap Erick.
"Permisi Tuan Yama, saya keluar sebentar," ucap Erick.
"Silakan Tuan Godfrey" sahut Tansi Yama.
Erick bergegas meninggalkan tempat dia menjamu kliennya, begitu tiba di luar. Erick tidak sanggup lagi menahan gejolak didalam perutnya.
"Hoek..!" tiba-tiba, Erick memuntahkan isi perutnya.
Marcio yang melihat raut wajah Erick yang pucat, mengikutinya.
"Tuan...!" Marcio kaget, melihat Erick muntah.
"Apa anda tidak sehat Tuan?" tanya Marcio.
"Aku tidak tahu, aku tidak menyukai bau ikan itu. Apa ikan itu sudah busuk?"
"Tidak mungkin Tuan, Tuan Yama sangat menikmati hidangan ikan itu," ucap Marcio.
"Lalu kenapa aku mual, dan ingin muntah. Aku tidak bisa berada didalam ruangan itu, aku bisa muntah," ucap Erick.
"Bagaimana anda bisa meninggalkan Tuan Yama, didalam sana Tuan?"
"Kau pikirkan saja alasannya, atau bilang saja. Jovanka membutuhkan aku."
"Apa anda bisa tidak bisa menahan sebentar saja Tuan?" Marcio berusaha agar Erick tidak pulang, bagaimanapun. Tuan Yama, klien besar dari Jepang. Yang menjalin kerjasama dengan perusahaan Erick.
"Tidak..! aku nggak tahan dengan bau amis ikan didalam sana, kenapa harus menu ikan yang di sajikan," ucap Erick.
"Aku pulang, kau urus Tuan Yama." Erick meninggalkan Marcio.
"Ada apa dengan Tuan muda, dia tidak seperti biasanya. Biasanya dia sangat suka dengan menu serba ikan." gumam Marcio.
βοΈβοΈβοΈ
Erick bergegas meninggalkan tempat pertemuan dengan kliennya Tuan Yama, dia tidak perduli. Jika Tuan Yama mungkin akan tersinggung, karena dia meninggalkannya.
"Erick..!"
"Ada apa?" Erick menghentikan langkahnya.
"Aku menyerah mengurus Jovanka, dia mengerjai aku terus. Perutnya terus minta diisi, tapi dia tidak ingin masakan para pelayan. Dia menyuruh aku untuk memasak..!"
"Kalau itu maunya, kau masaklah!" kata Erick.
__ADS_1
"Masak! aku masak?"
"Iya, kau masak. Apa ada masalah?" tanya Erick.
"Aku itu suster, kerjaku merawat pasien. Bukan memasak di dapur!"
"Van, apa kau benar-benar tamatan perawat? aku curiga, sebenarnya kau itu bukan tamatan perawat. Menyuntikkan vitamin ke tubuh Miss Lin saja kau tidak bisa ," ucap Erick.
"Apa Erick sudah tahu, aku tidak menamatkan sekolah perawat ku." batin Vannesa.
"Aku bukan tidak bisa menyuntik, tapi karena mata Miss Lin itu membuat aku gugup."
"Terserahlah, apa alasanmu. Apa yang diminta Jovanka, harus kau laksanakan. Itu kan tugasmu ikut ke sini."
"Jangan ganggu aku, aku ingin istirahat." Erick meninggalkan Vannesa.
"Aaarrgghhh..!" teriak Vannesa kesal.
Niat awal ingin dekat dengan Ardan dan Erick kandas, Ardan sibuk di area pertambangan. Erick, sibuk dengan Jovanka.
βοΈβοΈβοΈ
Jovanka keluar dari dalam kamar mandi, ini sudah untuk kedua kalinya. Jovanka mandi, karena Jovanka merasa sangat gerah. Sejak hamil, Jovanka tidak bisa menahan gerah. Apalagi, kamar tidur tidak ada pendingin udara.
"Kenapa dia sudah pulang?" keluar dari dalam kamar mandi, Jovanka melihat Erick berada di atas ranjang dengan masih berpakaian lengkap. Dengan memakai jas dan sepatunya.
Jovanka membiarkan Erick tidur, dia berjalan menuju teras kamarnya yang langsung menghadap lautan. Jovanka duduk dan mengambil toples berisi cemilan.
"Kenapa perutku lapar terus? apa ketiga babies ini ingin membuat tubuhku menjadi besar?"
"Apa yang kau makan?"
"Hei! kau sudah bangun, kenapa kau cepat pulang?" tanya Jovanka sambil mengunyah cemilan coklat.
"Kenapa kau memakan itu? itu tidak bagus untuk bayi kita," kata Erick.
"Siapa bilang tidak sehat? semua makanan bagus, yang tidak bagus itu jika memakannya terlalu berlebihan," ucap Jovanka.
"Apa sudah ada kabar mengenai makam Jonathan?" tanya Jovanka.
"Belum, apa sudah pasti makamnya di alamat itu?" tanya Erick.
"Menurut kak Rashid, itu alamatnya."
Mendengar nama Rashid disebutkan oleh Jovanka, Erick mendengus kasar.Dia tidak suka, Jovanka masih berhubungan dengan Rashid.
"Kapan kau berhubungan dengan orang itu?" tanya Erick dengan dingin.
"Kak Tian mendapatkan nomor ponsel kak Rashid, ternyata. Kak Rashid adalah dokter bedah, Keren kan!"
"Keren apanya? hanya dokter bedah," ucap Erick, lalu berdiri meninggalkan Jovanka.
πππ
Seorang pemuda sedang berjalan-jalan di jalan, matanya fokus memandang aksitektur rumah di pulau Saint Angel yang sangat unik menurutnya.
Tiba-tiba, orang yang tadi lalu lalang menepi dan menundukkan kepalanya.
"Anak muda, menepi" ujar seorang pria, dengan menarik pria tersebut.
"Ada apa?"
"Tuan penguasa pulau Saint Angel, sebentar lagi akan lewat. Menunduklah."
"Menunduk?"
"Ya, jangan melihat?"
"*Apa pria ini suaminya, menurut informasi. Dia menikah dengan Penguasa pulau Saint Angel." gumam pria tersebut.
π Nextπ*
__ADS_1