The Tyrant'S Desire (Hasrat Cinta Sang Penguasa)

The Tyrant'S Desire (Hasrat Cinta Sang Penguasa)
Ketahuan


__ADS_3

**Jangan lupa untuk menekan tombol like like like like like like like πŸ™


Terima kasih atas dukungan pada cerita ini πŸ₯°πŸ₯°**


🌟🌟🌟


Rachel tersadar dari terpakunya, dia lari ke depan. Dia mengharapkan, Erick masih berada didepan. Begitu tiba didepan rumah, Erick sudah tidak terlihat lagi. Rachel tidak putus harapan, dia berlari menuju pagar. Dan bertanya kepada petugas keamanan.


"Apa Erick sudah keluar dari dalam?" tanya Rachel.


"Iya Miss, baru saja. Tuan naik taxi" jawab petugas keamanan yang ditanyai oleh Rachel.


"Sial!" geram Rachel, karena tidak berhasil berbicara dengan Erick.


Rachel kembali masuk kedalam rumah.


"Erick semakin hot saja" puji Rachel.


Dia tidak menyadari, ada sepasang mata yang menatapnya. Dari atas balkon dilantai dua.


Axelo, memperhatikan Rachel dari lantai atas. Terlihat smirk disudut bibirnya.


"Rachel.. Rachel! kau ingin bermain ganda" Axelo mematikan rokoknya, dan meremasnya penuh kemarahan.


Sejak hari itu, Erick tidak kembali kerumah itu. Sudah sepuluh tahun, Erick tinggal di pulau Saint Angel. Pulau yang di wariskan oleh keluarga mommynya, Maria Angelo kepada cucu satu-satunya dari pihak mommynya, Erick Godfrey.


🌟🌟Flash back end 🌟🌟


****


Selesai mandi, Arisa sudah menunggu Jovanka. Arisa berdiri didepan Jovanka yang sedang mengeringkan rambutnya dengan handuk.


"Ada apa?" tanya Jovanka, saat melihat Arisa menatap kearahnya terus-menerus.


Arisa berdiri, dan beranjak mendekati Jovanka. Kemudian Arisa berdiri didepan Jovanka sembari berkacak pinggang.


"Aku butuh penjelasan, katakan terus terang. Apa kita kesini untuk mencari kak Tian?" tanya Arisa.


"Ya" sahut Jovanka singkat.


"Kita tidak jalan-jalan, liburan di pantai?" tanya Arisa.


"Kita jalan-jalan, sekaligus mencari keberadaan kak Tian" kata Jovanka.


"Sial! percuma aku membawa bikini, aku kira. kita bisa berjemur di pantai, kau lihat tadi. Pasir putih itu memanggil aku" kata Arisa dengan kesal.


"Setelah ketemu dengan kak Tian, kita bisa berjemur di pantai. Tapi tidak disini, apa kau lupa? apa yang dikatakan oleh Tuan Fred, tempat sini banyak penjahat" kata Jovanka.


"Tahan dulu keinginan untuk berjemur" kata Jovanka.


"Sekarang kita tidur dulu, besok kita mencari keberadaan kak Tian" Jovanka merebahkan tubuhnya, meraih guling dan memeluknya.


"Jo, apa ada yang kau sembunyikan dariku?" tanya Arisa.


"Tidak ada, ayo tidur. Aku sudah mengantuk" kata Jovanka dengan mata yang terpejam.

__ADS_1


Arisa menarik napas, dan ikut merebahkan tubuhnya disamping Jovanka.


Jovanka sudah masuk kedalam mimpi, berbeda dengan Arisa. Sedikitpun matanya tidak bisa terpejam, matanya masih bulat sempurna menatap kearah jendela yang terletak didekat dia tidur.


"Apa itu?" Arisa melihat sekilas bayangan melintas di jendela kamar.


"Jo, bangun!" Arisa menggoyangkan lengan Jovanka, tetapi Jovanka tidak bergerak juga. Karena rasa letih, Jovanka sangat sulit untuk membuka matanya. Apalagi, Jovanka tipe orang yang sulit untuk bangun tidur.


"Ihhh...! Jo!" Arisa berteriak didekat telinga Jovanka, sehingga Jovanka kaget. Dan langsung terduduk diranjang, dan menatap kearah Arisa dengan waspada.


"Ada apa? ada maling, mana...mana?" tanya Jovanka terlihat sedikit panik.


"Huss..! jangan ribut, pelan. Ada bayangan tadi didekat jendela" ucap Arisa dengan suara setengah berbisik.


"Bayangan? bayangan apa? apa bayangan maling?" tanya Jovanka seraya turun dari atas ranjang.


"Mau kemana?" tanya Arisa.


"Mau lihat bayangan yang kau lihat" sahut Jovanka.


Jovanka berjalan dengan perlahan-lahan, Arisa juga mengikutinya. tangannya menarik baju Jovanka, sehingga Jovanka merasa terganggu.


"Ris, lepaskan tanganmu. Mana bisa aku bergerak, jika kau menarik ku seperti ini" ucap Jovanka.


"Sorry Jo" Arisa nyengir.


Jovanka melanjutkan langkahnya, setelah sampai didekat jendela. Jovanka menarik tirai dan mengintai melalui tirai .


"Ada apa Jo?" tanya Arisa.


"Tidak ada apa-apa" sahut Jovanka.


"Oh..my God!" Jovanka menarik diri ke sisi jendela.


"Ada apa?" Arisa panik, dan mengikuti Jovanka bersembunyi disamping jendela.


"Anjing, bukan. Conan, ada Conan diluar sana" beritahu Jovanka dengan setengah berbisik.


"Conan? siapa Conan? detektif Conan? untuk apa dia kesini? apa dia menyelidiki kasus disini?" tanya Arisa, yang lupa dengan Conan yang dimaksudkan oleh Jovanka.


"Bukan detektif Conan dodong!" jengkel Jovanka dengan kelemotan otak Arisa.


"Oh..!" Arisa menutup mulutnya, matanya terbelalak. Begitu mengingat Conan yang dimaksudkan oleh Jovanka.


"Mau apa dia? apa dia mencariku?" Arisa panik.


"Untuk apa dia mencarimu?" tanya Jovanka heran dengan pemikiran Arisa.


"Kau lupa Jo, anjing itu. Bukan Conan, dia tadi lama mengendus-endus kakiku. Mungkin saja, kakiku ini ingin dijadikannya sebagai cemilan malamya" ucap Arisa.


"Kau gila!" jemari Jovanka menoyor kening Arisa, yang mempunyai pikiran yang aneh.


"Untuk apa dia didepan rumah ini, kalau tidak mencari santapan malamnya?"


"Kau kira, tuannya mengizinkan peliharaannya makan daging tidak higienis?" kata Jovanka.

__ADS_1


"Kau menghinaku Jo" gerutu Arisa.


"Lhah..kau marah, aku bilang dagingmu tidak higienis? apa kau benar-benar ingin menjadi cemilan si Conan itu?" tanya Jovanka.


"Oh..no! aku masih mau hidup!" Arisa langsung berlari menuju ranjang, dan naik keatas ranjang. Arisa menarik selimut untuk menutupi sekujur tubuhnya.


"Takut" ledek Jovanka.


Jovanka memberanikan diri untuk kembali mengintai, dan tidak melihat sosok Conan yang tadi dilihatnya diluar.


"Tidak ada lagi" Jovanka memeriksa jendela, apakah sudah terkunci dengan benar. Dia waspada, takut. Conan masuk kedalam kamar, dan melakukan apa yang dikatakan oleh Arisa tadi.


Jovanka meninggalkan jendela, dan merebahkan tubuhnya.


"Jo, tempat ini sungguh mengerikan. Kita pulang besok ya" ucap Arisa dari dalam selimut yang masih menutupi sekujur tubuhnya.


"Aku tidak bisa Ris, kalau kau mau. Kau saja kembali, besok aku akan mengantarmu kepelabuhanan" kata Jovanka.


"Kau sendiri mencari kak Tian?" tanya Arisa, dan menarik turun selimutnya sampai dibawah dagu.


"Aku harus mencarinya, dia saudaraku satu-satunya" kata Jovanka.


"Kalau begitu, aku akan tetap tinggal. Aku teman yang setia, tidak mungkin kau kutinggalkan ditempat yang aneh begini" kata Arisa.


Jovanka memiringkan kepalanya kearah Arisa, dan menatap sahabatnya tersebut.


"Sungguh! kau masih mau tinggal disini, bersamaku?" tanya Jovanka.


"Iya, tapi ingat. Begitu kak Tian sudah ketemu, kita harus berjemur ditepi pantai. Aku tidak ingin, bikini yang kubawa tidak terpakai" kata Arisa.


"Baiklah, kau akan berjemur. Memakai bikini, untuk menunjukkan betapa seksinya badan coklat mu itu" kata Jovanka.


"Sekarang, kita tidur. Besok kita harus keliling pulau, untuk mencari kak Tian" kata Jovanka.


***


Keesokan harinya, dengan ditemani oleh Tuan Fred. Jovanka dan Arisa mulai mencari keberadaan Bastian Reuel, saudara Jovanka.


"Kita mau kemana Tuan Fred?" tanya Jovanka, setelah hampir 15 menit. Berjalan menyusuri jalan setapak yang terjal.


"Kita ke lokasi pertambangan, mungkin saja. Saudaramu berada disana" kata Tuan Fred.


"Kita menuju lokasi pertambangan ini?" tanya Arisa.


"Iya, tapi kita dari jalan belakang. Dari depan banyak penjagaan" kata Tuan Fred.


Dengan secara bersembunyi, akhirnya Tuan Fred bersama dengan Jovanka dan Arisa sampai keatas.


"Aku sudah mau pingsan" ucap Arisa, seraya menyandarkan tubuhnya dibantu besar.


"Hachimm..!" Jovanka bersin, karena debu tiba-tiba datang dari balik batu besar.


"Siapa?"


Terdengar suara yang besar dari belakang batu, membuat Tuan Fred. Jovanka dan Arisa panik.

__ADS_1


Next...


Jangan lupa untuk menekan tombol like like like like like like πŸ™


__ADS_2