
**Cerita hanyalah hasil imajinasi penulis, tidak ada hubungan dengan tempat dan tokoh tertentu.
Happy reading guys π₯°π₯°**
πππ
"Arisa...!" teriak Jovanka seraya berlari mengejar Arisa yang dibawa seorang pria.
Karena Arisa meronta-ronta, satu pria mengangkat Arisa dengan sangat mudahnya. Tidak lama kemudian, Arisa lunglai. Sepertinya, Arisa pingsan.
"Tolong ....!" Jovanka meminta pertolongan dari orang yang ada didekatnya, tetapi tidak ada yang merespon. Seakan-akan, teriakan Jovanka tidak terdengar oleh telinga mereka.
"Tuan...Tuan..tolong! teman saya, pria itu membawanya!" seru Jovanka kepada orang yang berlalu-lalang.
Tetapi respon yang diterima Jovanka, hanya berupa kibasan tangan.
"Nyonya... please! tolong teman saya" Jovanka mengatupkan kedua tangannya, memohon kepada seorang wanita yang melintas didepannya.
Lagi-lagi penolakan yang diterima Jovanka.
"Kenapa tidak ada yang mau menolong! dimana hati nurani kalian semua!" seru Jovanka dengan suara yang keras, dan terdengar sangat marah.
"Miss Jo! ada apa?" terdengar suara Tuan Fred dari belakang Jovanka.
"Arisa Tuan..Arisa dibawa oleh beberapa pria!" seru Jovanka kepada tuan Fred.
"Miss Arisa! siapa yang membawanya? apakah Miss Arisa ada musuh ?" tanya Tuan Fred.
"Tidak Tuan, orang itu adalah suruhan Tuan Eric Godfrey" kata Jovanka.
"Siapa Erick Godfrey?" tanya Tuan Fred.
"Tuan Fred, saudara saya berada ditangan Erick Godfrey. Penguasa pulau ini" ucap Jovanka dengan suara yang pelan.
"Apa!? Eddie Fred pura-pura terkejut, mendengar perkataan Jovanka.
"Iya Tuan, tolonglah Tuan Fred. Sekarang Arisa juga mereka bawa !" seru Jovanka seraya menunjuk kearah jalan setapak menuju belakang rumah orang.
"Apa saudara Miss Jo punya salah dengan Tuan penguasa pulau ini?" tanya Eddie Fred.
"Saya tidak tahu! sekarang kita mengejar orang yang membawa Arisa dulu Tuan!" seru Jovanka kepada Eddie Fred.
Jovanka berlari menuju arah orang yang membawa Arisa, jalan kecil yang sedikit mendaki membuat Jovanka sulit untuk berlari kencang. Napasnya sudah semakin tidak teratur.
"Miss Jo, kita istirahat dulu!" seru Eddie Fred yang mengikuti Jovanka dari belakang.
"Tu...tuan saja yang beristirahat, a.a..aku akan mengejar orang-orang itu sendiri" ujar Jovanka dengan suara yang terputus-putus.
Dengan tenaga yang tersisa, Jovanka terus berjalan. Walaupun dengan langkah kaki yang pelan.
__ADS_1
"Seorang gadis yang kuat, cocok dengan Tuan muda Erick Godfrey" gumam Eddie Fred dan memandang punggung Jovanka.
"Ah.. pekerjaan yang sangat melelahkan, menjaga calon istri Tuan Erick. Lihatlah, tenaganya sepertinya tidak ada habisnya. Aku yang sudah terbiasa menyusuri jalanan ini saja, sudah ingin pingsan" ucap Eddie Fred sambil mengikuti Jovanka.
Skip Jovanka, kita beralih ke Axelo Godfrey. Yang merasa tidak membutuhkan orang untuk membantunya.
Axelo menggeliat, matanya terbuka sedikit demi sedikit.
"Sudah pagi" gumamnya, saat sinar mentari mengusik wajahnya. Cahaya keemasan matahari menimpa wajahnya, sehingga Axelo terbangun dari mimpi indahnya. Mungkin.
"****...!" umpat Axelo, begitu tersadar. Dia ketiduran diruang kerjanya.
"Gagal sudah!" niatnya ingin mengikuti Rachel gagal, setelah dirinya tertidur pulas tanpa sengaja.
"Kenapa aku tidur seperti orang mati? apa perempuan itu mengerjai aku lagi?" Axelo curiga, dia tidur tidak wajar.
Tok..tok..
Pintu terbuka, Mrs Cho datang membawa teh hijau.
"Selamat pagi Tuan" sapa Mrs Cho dan meletakkan nampan yang dibawanya.
"Mrs Cho, kenapa tidak bangunkan saya?" tanya Axelo pada Mrs Cho.
"Maaf Tuan, saya melihat Tuan tidur dengan pulas tadi malam" kata Mrs Cho.
"Saya merasa ngantuk, setelah meminum kopi yang pelayan itu antarkan" kata Axelo sembari melakukan perenggangan otot-ototnya yang terasa sangat kaku, karena tidurnya dalam posisi duduk.
"Siapa orang itu? sial..! orang itu pasti.." Axelo menghentikan ucapannya.
"Suruhan wanita rubah itu" Mrs Cho yang melanjutkan, apa yang ingin dikatakan oleh Axelo tadi.
Axelo menatap wajah wanita tua yang telah mengabdi di keluarga Godfrey hampir seumur hidupnya itu.
"Maaf Tuan, bukan saya ingin ikut campur. Tapi sudah waktunya Tuan harus bertindak, jangan menghindar. Wanita itu semakin sewenang-wenang, panggil kembali orang kepercayaan Tuan" kata Mrs Cho pada Axelo, tidak ada rasa gentar. Saat dia mengatakan apa yang ingin dikatakannya kepada majikannya tersebut.
Axelo Godfrey memandang wajah Mrs Cho.
"Apa Mrs Cho mengetahui apa yang saya alami?" tanya Axelo Godfrey.
Mrs Cho tertawa kecil, dan menatap wajah Axelo yang heran. Melihat Mrs Cho tertawa.
"Jangan kira wanita tua ini sudah pikun Tuan, saya tahu semua. Apa yang terjadi dalam rumah ini, ada orang yang mengancam Tuan kan?" tebak Mrs Cho.
Mata Axelo membesar, mendengar perkataan Mrs Cho. Dia tidak mengira pelayan tua yang sudah berusia tujuh puluh tahun tersebut, masih peka dengan apa yang terjadi padanya.
"Bawa Tuan Liu kembali, dia tidak bersalah. Wanita itu yang menjebaknya" ujar Mrs Cho.
"Danny" ujar Axelo.
__ADS_1
"Iya" sahut Mrs Cho.
"Bawa kembali orang-orang yang setia dengan keluarga Godfrey, Tuan Ardan tidak bisa menghadapi para penjilat di sekitarnya itu sendirian" ucap Mrs Cho.
"Aku tahu, Danny tidak bersalah. Dia hanya di jebak, untuk menyingkirkan Danny dari sisiku" kata Axelo.
"Kenapa Tuan menyuruhnya pergi!" ujar Mrs Cho.
"Kalau dia masih disisiku, aku takut. Dia mengalami nasib seperti Maria, bunuh diri" kata Axelo dengan perasaan sedih, setiap diingatkan tentang sang istri.
"Tuan tenang saja, aku yang akan menemui Tuan Liu" kata Mrs Cho.
"Mrs Cho tahu keberadaan Danny?" tanya Axelo.
"Tahu Tuan, dia sudah kembali ke negaranya. Tapi saya tahu cara menghubungnya, sebelum dia pergi. Danny sudah meninggalkan alamat rumah, jika suatu waktu. Tuan memanggilnya kembali" kata Mrs Cho.
Axelo Godfrey bangkit dari duduknya, dengan spontan dia merengkuh tubuh mungil Mrs Cho.
"Terima kasih Mrs Cho" ucap Axelo seraya memeluk Mrs Cho.
"Aku ingin keluarga ini seperti dulu lagi, saat Mrs Maria masih ada" ucap Mrs Cho, air bening menetes disudut bola matanya.
Axelo melerai pelukannya, dan memandang wajah Mrs Cho.
"Aku mengharapkan, Maria masih hidup Mrs Cho. Dia berada di satu tempat dalam keadaan sehat" ucap Axelo.
"Semoga" ucap Mrs Cho.
***
Arisa terbangun di atas ranjang yang bagus, dan kamar yang bernuansa putih.
"Aaahhh...!" Arisa memijat keningnya.
"Dimana ini?" pandangan matanya menyapu seluruh ruangan tempat dia berada.
Arisa sontak turun dari atas ranjang, dan berlari kearah pintu kamar.
Tangannya memegang handel pintu, Arisa berusaha untuk membuka pintu kamar. Tetapi Arisa tidak bisa membukanya.
"Sial...!" teriaknya, seraya memberikan tendangan beruntun kearah pintu kamar.
"Wooii...! buka..!" teriak Arisa.
Arisa melekatkan telinganya ke daun pintu, untuk mendengar. Apakah ada suara langkah kaki diluar kamar.
"Sial..sial..!" umpatan terus meluncur dari mulut Arisa, karena tidak mendengar ada pergerakan dari luar kamar.
"Awas... kalian semua, akan aku kutuk jadi keledai. Akan aku jadikan kalian istri Kele !" seru Arisa dengan suara yang keras.
__ADS_1
Next....
ππNext...πππ