
Happy reading guys and jangan lupa untuk menekan tombol like ya kakak-kakak reader π₯°π.
βοΈβοΈβοΈβοΈ**
Sepeninggal William, Andre mengitari pandangannya ke sekeliling tempat dia terbaring.
"Di mana ini ?"
Andre melihat kearah jendela kecil yang ada di kamar, dia sedikit mengangkat badannya untuk melihat kearah luar jendela.
"Laut .!" Andre bangkit, sembari memegang area perutnya yang terasa sakit. Dia melangkah dengan tertatih-tatih menuju jendela.
"Di tengah laut..! ah...sial..! aku tidak mungkin bisa melarikan diri dari kapal ini" ucap Andre, saat menyadari. Kapal berada ditengah lautan, jauh dari daratan.
Andre kembali menuju ranjang, dan merebahkan tubuhnya.
"Sial anak Maria, dia ingin menghabisi ku.." gumam Andre, seraya melihat keseluruhan tubuhnya yang lebam bekas pukulan.
"Aku tidak akan menyerah, Maria akan aku miliki. Tidak perduli dengan ancaman uncle William, aku juga tidak perduli dengan hubungan persaudaraan dengannya. Karena dia punya kekuasaan dalam dunia bawah tanah, aku mengikutinya. Aku akan mengambil alih pimpinan dari tanganmu uncle William, Aku yang akan menjadi penguasa dunia bawah tanah. Dan kau, sudah seharusnya pensiun uncle. Merenungi nasibmu, sebagai anak yang terbuang. Hahahaha...!" ucap Andre sembari tertawa senang, membayangkan dirinya sebagai penguasa organisasi mafia. Yang diketuai oleh William Doe saat ini, seorang laki-laki yang mengharapkan pengakuan dari keluarga Godfrey. Tentang kehadirannya di dunia.
Mata Andre nyalang menatap langit-langit kamar yang didiaminya diatas kapal pesiar milik William Doe, seorang penguasa dunia hitam. Di China daratan.
"Aku harus merencanakan dengan matang, agar tidak sia-sia apa yang aku lakukan" gumam andre dengan tersenyum smirk disudut bibirnya, dia sudah menghayal dapat mengambil alih pucuk pimpinan dari William Doe.
**
Erick keluar dari dalam kamar, setelah membersihkan diri. Sedangkan Jovanka masih bergulung dibalik selimut, dalam keadaan masih polos. Erick tidak membangunkannya untuk membersihkan diri, karena melihat Jovanka yang letih.
Erick mendaratkan bibirnya dibibir Jovanka, sebelum berlalu dari dalam kamar.
Ceklek...
Erick kaget, begitu pintu kamarnya terbuka. Ardan berdiri didepan pintu kamar, dengan tangan terjulur ingin mengetuk kamarnya.
"Hei..kau memata-matai kamarku ?" tuduh Erick dengan memicingkan mata, menatap Ardan.
"Untuk apa aku memata-matai orang yang sedang kasmaran, kau membantai istrimu ?" Ardan melihat rambut Erick yang basah.
"Apalagi yang harus dilakukan pasangan suami istri, kalau tidak urusan ranjang? dan kau, menikahlah. Agar tahu, betapa nikmatnya berada di ranjang bergulat dengan wanita yang kau sukai," ucap Erick.
"Di sukai? bukan yang dicintai?" tanya Ardan sembari mengikuti Erick menuju ruang kerjanya.
"Untuk apa ada cinta, cinta itu bisa membuat kita terluka. Aku sudah menutup rapat hatiku untuk yang namanya cinta ." tegaskan Erick mengenai perasaannya.
"Baiklah, kita lihat. Apa kau bisa tidak jatuh cinta dengan Jovanka, dan jika kau ingin melepaskannya satu hari nanti. Aku bersedia menampungnya, tidak sulit untuk jatuh cinta dengannya. Dia wanita yang unik, tidak takut melawanmu.." ucap Ardan dengan tersenyum.
Mata Erick menatap wajah Ardan dengan dingin, dia tidak suka mendengar perkataan Ardan yang ingin menampung Jovanka. Jika dia melepaskannya.
"Hei... kenapa kau marah..? jika tidak ada cinta padanya." goda Ardan.
__ADS_1
"Kau...!" jemari telunjuk Erick menunjuk Ardan.
Tok...tok...
Pintu diketuk, membuat Erick surut untuk menumpahkan kekesalannya terhadap Ardan yang nyengir dihadapannya.
"Masuk..!" titah Erick.
Ceklek...
Marcio dan Danny Liu masuk kedalam ruangan kerja Erick.
"Ada perkembangan baru ?" tanya Erick.
"Untuk saat ini belum, orang yang menyelamatkan Andre Maurice sepertinya bukan orang sembarangan. Dia bisa mengecoh aparat kepolisian Saint Lucia" kata Danny.
"Siapa lagi musuh keluarga Godfrey? Ardan, besok kau berangkat ke kota Primwood. Temui Aunt Anne, tanyakan. Apa ada yang ingin berbuat jahat dengan keluarga Godfrey, Daddy belum bisa kita tanyai" kata Erick.
"Kenapa tidak kita tanyakan pada aunt Maria? mungkin saja dia tahu" kata Ardan.
"Ini semua pasti tidak berhubungan dengan mom saja" ucap Erick.
"Besok saya akan kembali ke kota Saint Lucia, karena perusahaan tidak ada yang menghandle" kata Danny.
"Maaf, aku belum bisa kembali. Aku harus memecahkan masalah ini semua" kata Ardan.
"Marcio, perketat penjagaan di pelabuhan. Jangan beri masuk orang yang mencurigakan" titah Erick pada Marcio.
Bain Tuan" sahut Marcio.
Marcio dan Danny mengundurkan diri dari ruang kerja Erick, kini tinggal Erick dan Ardan.
"Rick, siapa kira-kira yang melakukan ini semua? aku rasa, ini bukan kerja Andre Maurice dan wanita itu" kata Ardan.
"Apa ini ada hubungannya dengan uncle Abra..?" tanya Erick pada Ardan.
"Kalau berhubungan dengan Daddyku, pada siapa yang harus kita tanyakan. Aku tidak tahu tentang kehidupan masa lalunya?" Ardan menatap intens Erick.
"Aunt Natasa dan aunt Anne, mereka pasti tahu sesuatu" kata Erick.
"Aunt Maria, kenapa tidak kita tanyakan padanya?" usul Ardan.
"Untuk saat ini, jangan kita tanyakan dulu. Trauma penculikan masih membekas, aku lihat. Mommy terlihat sering diam, seperti berpikir," kata Erick.
"Apa aunt Maria akan kembali ke Biara ?" tanya Ardan.
"Aku tidak mengizinkan, sudah cukup dia mengasingkan diri selama ini" kata Erick.
Erick bangkit dari tempatnya duduk, berjalan keluar dari ruang kerjanya.
__ADS_1
"Kau mau kemana Rick? apa ingin kembali bergulat diatas ranjang?" tanya Ardan dengan bergurau.
"Isi otakmu hanya itu saja, aku ingin melihat keadaan Daddy. Tadi dokter mengatakan, Daddy kurang nyaman pada tulang lehernya. Mungkin karena perjalanan menuju pulau Saint Angel" beritahu Erick seraya menuju keruangan tempat Axelo di rawat.
"Hehehe..! aku kira, kau belum puas. Ingin kembali terbang menuju surgawi." ledek Ardan.
Erick membuka kamar, yang sudah disulap seperti kamar di rumah sakit. Dengan peralatan lengkap, yang dibutuhkan untuk kesembuhan Axelo Godfrey.
Melihat kedatangan Erick, dokter dan perawat yang ada didalam ruangan berdiri. Menyambut kedatangan Erick dan Ardan.
"Bagaimana? apa ada yang serius?" tanya Erick.
"Tidak ada yang patut dikhawatirkan Tuan, setelah diberi suntikan penghilang rasa nyeri. Tuan Godfrey sudah bisa tidur dengan tenang" kata dokter yang khusus ditugaskan untuk merawat Axelo Godfrey.
***
Hari kedua di pulau Saint Angel, Jovanka mulai merasa bosan. Karena Arisa mulai bekerja, dan Erick begitu juga dengan Erick.
Jovanka berjalan mengitari mansion, di belakangnya. Conan mengikutinya dengan setia.
"Kenapa kau mengikuti aku terus ? apa kau tidak ada kegiatan lain, misalnya mencari kekasih ?" tanya Jovanka pada Conan.
Conan hanya mengibas-ngibas ekornya, dengan lidah terjulur keluar. Menatap Jovanka, seakan-akan. Conan mengerti apa yang dikatakan oleh Jovanka.
"Sepertinya, aku menjadi orang tidak waras. Selama tinggal di sini" gumam Jovanka seraya melanjutkan langkahnya.
"Permisi Mrs Godfrey, anda ingin kemana?" seorang penjaga menyapa Jovanka, saat melihat Jovanka menyusuri tangga kecil menurun dan sedikit curam.
"Ini tangga menuju kemana?" tanya Jovanka.
"Itu menuju pantai Mrs Godfrey" jawab penjaga tersebut.
"Pantai? apa aku bisa ke sana..?" tanya Jovanka.
"Boleh, karena itu pantai private. Hanya Tuan muda yang boleh kesana, termasuk anda. Boleh ke sana ," ucap penjaga.
"Aku akan ke sana " kata Jovanka.
"Apa perlu saya beritahu pada Tuan muda Mrs Godfrey?"
"Tidak usah, biar aku sendiri saja. Erick sedang sibuk dengan asistennya tadi ," kata Jovanka.
Jovanka berjalan menuju tangga dengan hati-hati, karena begitu curam. Jika tergelincir sedikit saja. Batu terjal menyambut dibawah.
"Hati-hati Mrs Godfrey..!" teriak penjaga, tetapi Jovanka tidak menyahut.
"Joe, kau laporkan pada Tuan muda. Jangan kita disalahkan, jika ada apa-apa pada Mrs Godfrey" titah temannya pada pria yang bernama Joe.
π Nextπ
__ADS_1