The Tyrant'S Desire (Hasrat Cinta Sang Penguasa)

The Tyrant'S Desire (Hasrat Cinta Sang Penguasa)
Balas


__ADS_3

Happy reading guys ๐Ÿฅฐ


๐Ÿ€๐Ÿ€๐Ÿ€


Dengan bersungut-sungut, Jovanka berjalan dengan Arisa dibelakang Erick dan Ardan. Mereka hari ini kembali ke pulau Saint Angel, setelah konsultasi dengan dokter. Kandungan Jovanka sehat untuk dibawa terbang melintasi laut menuju pulau Saint Angel.


"Kenapa orang itu ikut ? lihatlah. Dia memegang kedua pria hidung belang itu, apa dia tidak bisa berjalan seperti kita. Tanpa memeluk kedua tangan pria itu." Jovanka kesal, saat mendengar Vannesa ingin ikut ke pulau Saint Angel.


"Ayolah Rick, boleh ya aku ikut. Aku sudah lama tidak kesana, aku bisa membantu istrimu Rick. Aku ini perawat, Aunt Maria..!" Vannesa menunjukkan wajah memelas menatap Maria.


"Iya Rick, Vannesa perawat. Dia bisa membantu Jovanka, ingat Rick. Jovanka mengandung babies triplets. Dia pasti sangat membutuhkan bantuan yang mengerti tentang medis disampingnya." Maria membujuk Erick untuk membawa Vannesa.


"Ardan, baby. Please, izinkan aku ikut ya." kini Vannesa beralih ke Ardan dan membujuknya dengan bergelayut manja di lengan Ardan.


"Kenapa kau memohon padaku, saint Angel rumah Erick. Aku hanya tamu," ucap Ardan dan mendorong agar Vannesa melepaskan belitan tangannya di lengan Ardan.


"Rick.." Vannesa berdiri didepan Erick duduk.


"Baiklah," jawab Erick.


"Terima kasih...!" vannesa langsung menghambur memeluk Erick, sehingga Erick terdorong jatuh Keatas sofa dan Vannesa berada diatas badan Erick.


Deg..


Jovanka yang masuk keruang keluarga, melihat apa yang terjadi. Dengan perasaan yang kesal, Jovanka duduk di samping Maria


Baiklah tuan muda, aku akan membalasmu." batin Jovanka.


"Hei...awas kau !" Erick mendorong tubuh Vanessa yang berada diatasnya.


"Awas kau Rick, singa betina sepertinya sudah lapar." batin Ardan, melihat Jovanka yang berwajah masam duduk didepannya.


"Mom, Jo mau kerumah sakit hari," ucap Jovanka pada Maria.


"Kerumah sakit, tapi semalam baru kerumah sakit?" tanya Maria.


"Semalam Jo lupa untuk meminta nomor telepon dokter Rashid mom, dokter Rashid itu asisten Papa Jo dulu. Jo sudah lama tidak bertemu dengannya," ucap Jovanka yang tidak perduli, mata Erick sudah ingin keluar dari sarangnya.


"Tidak boleh..!" seru Erick dengan tegas.


"Kenapa tidak boleh, dokter Rashid adalah asisten Papa dulu. Dia sudah seperti kakak bagiku, sama seperti kak Tian." Jovanka tetap ngeyel ingin bertemu dengan dokter Rashid yang baru pertama ditemuinya.


"Aku juga ingin bertanya mengenai makam Jonathan, mungkin saja dia tahu," kata Jovanka.


"Tidak mungkin dia tahu," kata Erick.


"Aku harus menjauhkan dokter berwajah timur tengah itu sejauh mungkin." batin Erick.


Dia mengingat, bagaimana Jovanka sangat senang bertemu dengan dokter Rashid Al Shabaab. Dalam mobil saat pulang, mulut Jovanka selalu mengatakan tentang Rashid Al Shabaab.


๐ŸŒŸFlash back ๐ŸŒŸ


Setelah keluar dari ruang praktek dokter Sonia, untuk mengkonsultasikan kandungan Jovanka. Karena Erick ingin sesegera mungkin membawa Jovanka kembali ke pulau Saint Angel.

__ADS_1


"Kenapa kita harus kembali kesana? kenapa kita tidak bisa disini dulu? aku ingin merawat kak Tian sampai sembuh," ucap Jovanka.


"Bukannya kau merawat Bastian, Bastian yang akan merawatmu. Ingat Jo, triplets dalam perutmu itu," kata Erick.


"Ih..sebal..!" gerutu Jovanka.


"Jovanka..!" suara orang memanggilnya dari pintu ruang praktek dokter yang terbuka.


Spontan Jovanka menoleh kearah orang yang memanggilnya, mata Jovanka bulat sempurna. Terlihat binar kebahagiaan dari sorot mata Jovanka.


Jovanka langsung menghamburkan diri memeluk pria yang memakai jas putih khas dokter.


"Kak Rashid..!" Jovanka memeluk pinggang Rashid, karena tubuh Rashid sangat tinggi. Khas wajah timur tengah, diatas bibirnya ditumbuhi bulu-bulu halus yang rapi. Rahang kekarnya ditumbuhi bulu-bulu halus, membuat Rashid terlihat gagah.


Erick kaget, melihat Jovanka memeluk pria yang memanggilnya dan memakai jubah putih khas dokter.


"Hei..kau tidak pernah berubah, langsung memeluk orang," kata Rashid sembari mengusap-usap punggung Jovanka dengan lembut.


"Aku masih seperti dulu kak Rashid, masih Jovanka kecilmu. Yang selalu mengikuti kemanapun kau pergi," ucap Jovanka.


Jovanka mengurai pelukannya dan mendongak menatap wajah Rashid yang tinggi.


"Yang tidak berubah, badanmu tetap kecil." ejek Rashid.


"Bagaimana bisa tinggi, Jo hanya makan dedaunan. Jika ikut Mama dan Papa penelitian," ucap Jovanka.


"Alasan, kakak tinggi" balas Rashid.


Keduanya asik mengenang masa-masa dulu, hingga lupa dengan keberadaan Erick yang diam dengan wajah yang bisa ditebak. Yaitu, kemarahan Erick sudah sampai di ubun-ubun, sebentar lagi. Sudah siap mengeluarkan lahar panas.


Erick berdehem, untuk menarik perhatian keduanya. Jovanka spontan menoleh kearah Erick.


"Aduh...macan gurun marah." batin Jovanka.


"Kak Rashid, kenalkan. Erick, suami (terpaksa) ku," ucap Jovanka dengan kalimat (terpaksa), hanya diucapkannya dalam hatinya.


Rashid ngakak tertawa, mendengar Jovanka mengenalkan Erick sebagai suaminya.


Erick melotot melihat Rashid tertawa lebar.


"Kenapa dia tertawa, apa dikiranya aku gembel. Yang tidak pantas menjadi suami Jovanka, awas kau.." batin Erick kesal, karena Rashid seperti menghinanya.


"Kak Rashid..!" Jovanka kesal, dia tahu. Mengapa Rashid tertawa.


"Maaf," ucap Rashid dan mengulurkan tangannya pada Erick.


Dengan berat hati, Erick menyambut uluran tangan Rashid.


"Rashid Al Shabaab, teman Jovanka," ucap Rashid.


"Erick Godfrey, SUAMI Jovanka.." ucap Erick dengan menekan kata suami agar lebih jelas.


"Kenapa kau mau menikah dengannya? apa kau terjebak? Jovanka tidak ada apa-apanya, dibandingkan dengan gadis-gadis diluar sana,"kata Rashid dan menelisik tubuh Jovanka dari bawah keatas, dan dari atas kebawah.

__ADS_1


"Kak Rashid..! apa kau kira aku tidak akan laku? aku cukup sexsi ya..!"


"Hei.. kenapa kau mau menikahi gadis bar-bar ini? apa dia mengejar-ngejar dirimu?" rasa penasaran Rashid membuat dia bertanya kepada Erick kembali.


"Iya, dia akan bunuh diri, jika aku tidak mau menikah dengannya," ucap Erick.


Jovanka melotot melihat Erick, karena jawaban Erick. Seolah-olah, Jovanka yang mengejar Erick.


"Aku percaya, karena. Dia juga pernah mengatakan cintanya padaku, waktu itu dia masih gadis belasan tahun," ucap Rashid meledek Jovanka.


Wajah Jovanka semburat merah, karena Rashid mengingatkan tingkah konyolnya masa remaja.


๐ŸŒŸFlash back end ๐ŸŒŸ


"Tidak boleh! tidak boleh bertemu dengan dokter itu, hari istirahat di rumah saja. Besok kita kembali ke pulau Saint Angel."


"Aku mau bertemu dengan kak Tian," ucap Jovanka.


"Bastian sudah keluar dari rumah sakit, sekarang dia berada di perumahan karyawan. Ada maid yang menjaganya," kata Erick.


"Aku tidak mau mendengar bantahan," ucap Erick, kemudian pergi meninggalkan ruang keluarga.


"Kenapa kau suka sekali membantah Erick," ucap Vannesa.


"Tidak ada urusan denganmu..!" ketus Jovanka.


"Van.." Maria menggelengkan kepalanya, agar Vannesa tidak memperpanjang masalah.


"Aunt jangan terlalu memanjakannya," ucap Vannesa, kemudian pergi meninggalkan ruang keluarga.


"Sudah, jangan marah. Vannesa gadis baik, hanya dia sedikit manja. Dia tidak ada hubungan dengan Erick, mereka hanya saudara sepupu," ucap Maria, yang takut Jovanka cemburu. Dan berakibat fatal pada kandungan Jovanka.


"Saudara sepupu yang genit, hei.. kenapa aku marah. Dia dekat-dekat dengan Erick, mungkin babies triplets yang marah. Daddy mereka genit dengan wanita lain." batin Jovanka.


โ˜˜๏ธโ˜˜๏ธโ˜˜๏ธ


Jovanka dan Arisa duduk menunggu keberangkatan menuju pulau Saint Angel, Erick dan Ardan duduk didepan kedua. Sedangkan Vannesa, masih dengan gaya genit. Duduk diantara keduanya.


"Rick, kenapa kau tidak menerbangkan sendiri pesawatmu?" tanya Vannesa yang mengetahui, Erick mampu untuk menerbangkan pesawat.


"Kau tahu Van, jika Erick menerbangkan pesawat saat kau menjadi penumpangnya. Bisa-bisa pesawat akan berakhir didasar laut," ucap Ardan.


"Kau sungguh pria yang menyebalkan," jengkel Vannesa.


Erick berdiri, disusul oleh Ardan.


"Ayo" ucap Erick pada Jovanka.


"Duluan" sahut Jovanka.


"Ayo Rick" Vannesa ingin memegang tangan Erick, tetapi Erick meraih jemari Jovanka dan membawanya menuju pesawat. Yang membawa mereka menuju pulau Saint Angel.


"Erick...!" seru Vannesa, saat Erick meninggalkannya.

__ADS_1


"Kau punya kaki kan? jalan sendiri," ucap Arisa dengan jutek.


๐ŸŒœ Bersambung๐ŸŒ›


__ADS_2