The Tyrant'S Desire (Hasrat Cinta Sang Penguasa)

The Tyrant'S Desire (Hasrat Cinta Sang Penguasa)
Rencana


__ADS_3

Andre masih terus berada dalam ruang kerjanya, pikirannya berkecamuk dengan dendam dan kebencian karena cinta.


Gambar yang ada didalam genggaman tangannya, terus menjadi pusat perhatiannya.


Tok..tok.


"Masuk .." titahnya.


Pintu terbuka dengan kedatangan anak buahnya.


"Ada kabar apa?" tanya Andre dengan menampilkan mata yang mengintimidasi orang yang ada didepannya, hingga orang yang berdiri didepannya menundukkan kepalanya. Takut menatap wajah Andre.


"Mata-mata yang mengikuti Erick Godfrey mengirimkan gambar ini Tuan" ucap pria tersebut.


Anak buahnya memberikan ponselnya kepada Andre, begitu melihat gambar yang ada didalam ponsel tersebut. Mata Andre membesar, karena orang yang ada dalam gambar tersebut adalah orang yang selama ini dikiranya telah meninggal.


"Maria..!" seru Andre.


Andre bergegas bangkit, dengan setengah berlari. Andre keluar dari ruang kerjanya, kemudian menuju mobilnya terparkir. Andre masuk kedalam mobilnya, di ikuti oleh anak buahnya yang memberikannya gambar.


"Cepat..!" titah Andre kepada sopirnya.


"Kita kemana Tuan?" tanya sopirnya.


"Kerumah Axelo Godfrey." titah Andre dengan perasaan yang gembira, karena tidak sabar melihat Maria dari dekat.


Jarak rumah Axelo Godfrey dan Andre hanya memakan waktu setengah jam, akhirnya. Andre tiba di rumah besar.


"Parkir di sini" titah Andre pada sopirnya.


Seorang pria yang sudah satu hari ini terus berada di sekitar rumah besar, mendekati mobil andre. Andre membuka kaca mobilnya.


"Apa wanita itu masih berada dalam rumah?" tanya Andre pada anak buahnya.


"Tidak Tuan, mereka baru saja pergi. Menurut orang kita yang mengikutinya, keduanya kembali kerumah sakit" beritahu anak buahnya.


"Kau terus pantau di sini, Arm. Kita ke rumah sakit" titah Andre pada sopirnya yang bernama Arm.


**


Di rumah sakit, empat orang berada di sisi ranjang Axelo. Axelo baru sadar dari komanya.


"Axelo" jemari Maria menggenggam tangan Axelo yang masih terpasang jarum infus.


Mata Axelo terlihat gembira melihat Maria, matanya mengerjab berkali-kali. Dia khawatir, apa yang ada di hadapannya itu hanyalah ilusi.


"Aku ada dihapanmu, aku bukan bayangan" ucap Maria.


Agar Axelo pasti dengan keberadaannya, Maria memberikan kecupan di bibir Axelo.


Merasakan kecupan dibibirnya itu nyata, Axelo akhirnya yakin. Keberadaan Maria, benar-benar nyata didepan matanya. Axelo ingin berkata, tetapi Axelo merasa kaku untuk berkomunikasi.


"Dad" Erick juga memberikan pelukan, begitu juga dengan Ardan.


Welcome back uncle" ucap Ardan.


"Eee..." mulut Axelo terbuka ingin berkomunikasi.


"Sabar sayang, kau pasti bisa berkata-kata," ucap Maria.

__ADS_1


Mata Axelo mengitari sekeliling tempat dia berada, matanya mencari-cari.


"Ada apa Dad?" tanya Erick.


Mulutnya ingin berucap, tapi terasa kaku. Axelo berkomunikasi melalui jemarinya, dia menunjuk kearah Erick.


"Apa yang ingin kau katakan sayang?" tanya Maria.


Sekali lagi, jemarinya menunjuk kearah Erick.


"Mungkin uncle Axelo ingin menanyakan tentang istrimu Rick" kata Ardan.


Axelo menganggukkan kepalanya, apa yang dikatakan oleh Ardan itu yang ingin dikatakannya.


"Dia di hotel Dad, apa Daddy tahu aku sudah menikah?" tanya Erick.


Axelo menganggukkan kepalanya.


"Mommy juga tahu" ucap Maria.


"Maaf, aku menikah secara diam-diam" ucap Erick.


***


Rachel masih santai di salon, dia tidak tahu. Pihak polisi sudah mencari keberadaannya, karena bukti-bukti kecelakaan yang terjadi pada Axelo sudah di berikan Marcio kepada polisi.


Derrt... derrt... ponselnya bergetar, dengan kesal Rachel mengambil ponselnya.


"Menyebalkan..!" serunya yang merasa terganggu.


"Mama..! untuk apa dia menghubungi aku, apa dia lupa. Aku marah padanya.." kesal Rachel, saat melihat nama siapa yang menghubunginya.


"Apa yang telah kau lakukan? kenapa polisi mencarimu?" tanya mamanya dengan kesal.


"Polisi..!" Rachel kemudian bangkit dari ranjang, tempat dia menyenangkan diri di salon.


Rachel mengibaskan tangannya, agar orang yang sedang memijatnya pergi meninggalkannya.


"Ya, polisi anak kurang ajar...!" pekik Vanya, Mama Rachel.


"Aku tidak melakukan apapun juga" kata Rachel.


"Di surat pemanggilan itu, dikatakan. Kau telah mencelakai Axelo Godfrey..!" teriak Vanya kesal pada putrinya yang selalu bermasalah.


"Mereka mengadukan ku" gumam Rachel.


Wajah Rachel panik, tanpa mengatakan apapun kepada Mamanya. Rachel memutuskan sambungan teleponnya.


"Aku harus kabur..!" serunya sembari mengenakan pakaiannya.


Di seberang telepon, Vanya. Mamanya. Berteriak dengan manggil-manggil nama Rachel.


"Rach...! Rachel...!" teriak Vanya.


"Dasar anak kurang ajar, bisa-bisanya dia memutuskan sambungan telpon. Saat aku masih berbicara" kata Mama Rachel dengan kesal.


"Aku harus menghubungi andre" ujar Vanya.


Vanya menghubungi Andre, tapi ponsel Andre juga tidak bisa di hubungi.

__ADS_1


"Aaarrgghhh..!" Vanya benar-benar sangat kesal.


"Kemana dia? awas kau Andre, jika kau mempunyai wanita lain" ucap Vanya.


Andre Maurice, tidak melihat ponselnya terus bergetar. Pandangan matanya terus terpusat pada lobby rumah sakit, dia menunggu pujaan hatinya keluar dari dalam rumah sakit.


"Mark, semua lakukan dengan hati-hati. Aku tidak ingin ada kesalahan, dan ingat. Jangan sampai wanitaku tersakiti" kata Andre pada Mark, tangan kanannya.


"Tuan, bagaimana dengan keberangkatan ke China?" tanya Mark.


"Undurkan" titah Andre.


"Apa Tuan besar tidak marah Tuan? karena sudah beberapa kali, kita mengundurkan kedatangan kita" kata Mark.


"Jangan banyak bicara, turuti saja apa yang aku katakan!" sergang Andre marah.


"Baik Tuan"


πŸ€πŸ€πŸ€


Jovanka dan Arisa tiba di rumah sakit, setelah dihubungi oleh Erick. Dengan masih marah pada Erick, akhirnya Jovanka dan Arisa tiba di rumah sakit.


"Silakan" seorang penjaga membuka pintu kamar tempat Axelo berada.


Jovanka dan Arisa masuk kedalam kamar, dan melihat banyak orang yang belum dia kenal. Hanya Erick dan Ardan yang sangat familiar baginya.


Erick menghampiri Jovanka, kemudian meraih jemarinya dan membawanya mendekat Axelo sedang tertidur dengan pulas.


Maria langsung memeluk Jovanka, membuat Jovanka kaget. Karena dia tidak mengenal wanita yang memeluknya.


"Aku mommy Erick" ucap Maria, saat memeluk Jovanka.


"Mommy Erick..!" gumam Jovanka.


Maria mengurai pelukannya, dia tahu Jovanka pasti kaget mendengar apa yang dikatakannya.


"Ternyata, mommy ku belum meninggal" kata Erick.


"Sungguh beruntung, andai apa yang terjadi pada Erick terjadi padaku. Alangkah gembiranya aku" batin Jovanka, yang membayangkan orang tuanya tidak meninggal.


"Dan kami, adalah Aunt Erick. Aku Anne" Anne mengenalkan dirinya.


"Dan aku Natasa, kami selama ini tinggal di luar negeri" kata Natasa.


"Hai...aku Jovanka, kebetulan aku di nikahi pria ini" ucap Jovanka dengan menunjuk kearah Erick.


Semua tertawa melihat kelucuan Jovanka mengenalkan dirinya.


"Sangat lucu, dan menggemaskan" ucap Anne seraya memeluk Jovanka.


"Dan gadis ini?" Maria bertanya mengenai Arisa yang berdiri di samping Ardan.


"Hemh... apakah gadis ini kekasihmu Ardan?" goda Natasa.


"Tidak..!" Ardan dan Arisa berbarengan menjawabnya.


"Saya teman Jovanka" beritahu Arisa.


"Oh...aunt kira, kalian berpasangan. Ingat Ardan, jangan salah pilih pasangan" ancam Natasa.

__ADS_1


🌜 NextπŸŒ›


__ADS_2