
Happy reading guys π₯°
πΊπΊπΊ
"Apa penguasa pulau ini yang akan lewat Tuan?"
"Sepertinya bukan, Conan yang jalan-jalan."
"Conan? apanya sang penguasa?"
"Binatang peliharaannya."
"Binatang? apa keistimewaannya? sehingga orang menghormatinya?"
"Diam! menunduk saja."
"Apa istimewanya binatang tersebut? sehingga diperlakukan seperti dewa saja." batin pria tersebut.
Ketika langkah kuda semakin menjauh, masyarakat yang menunduk ditepi jalan kembali beraktivitas kembali.
"Tuan, apakah anda seorang turis?" tanya pria tua tersebut.
"Iya Tuan, saya mengunjungi pulau ini. Karena pulau ini termasuk pulau yang unik, dalam segi desain bangunannya."
"Iya, bangunan terbuat dari batu besar. Ini dilakukan untuk keamanan, pulau ini pernah terkena tsunami. Membuat hampir setengah dari penduduk pulau hilang."
"Kalau boleh saya tahu, anda dari mana?" tanya pria tersebut.
"Saya dari Asia Tuan, Asia bagian timur. Kenalkan, Saya Altan Batuhan."
"Saya Alfonso Ramarez, saya sudah tinggal di pulau ini seumur hidup saya," ucap Alfonso.
"Anda sudah mendapatkan penginapan, di sini tidak ada hotel. Turis datang, mereka menginap di rumah penduduk yang disewakan untuk para turis ," kata Alfonso.
"Apakah Tuan bisa beritahu, rumah penduduk mana bisa saya sewa?" tanya Altan.
"Kalau anda mau, rumah saya tidak jauh dari sini. Anda bisa tinggal di sana."
"Terima kasih Tuan Ramarez"
Akhirnya Altan mengikuti Alfonso pulang kerumahnya.
πππ
"Aaarrgghhh...!" teriakkan bergema, didalam mansion. Membuat mata yang masih terpejam terbuka lebar, para penjaga yang masih terkantuk-kantuk di posisinya masing-masing. Tersentak, dan berlari menuju asal suara.
"Ada apa?" teriak Ja'far yang terlebih dahulu tiba ditempat.
"Ada mayat...!" Vannesa menunjuk kearah pintu gerbang menuju dapur, matanya terpejam.
"Mayat? mayat siapa? siapa yang membunuhnya?" pertanyaan beruntun meluncur dari mulut Ja'far.
"Aku tidak tahu siapa yang membunuhnya!" teriak Vannesa dengan mata masih terpejam.
Ja'far berlari menuju tempat yang dikatakan oleh Vannesa, diikuti oleh beberapa penjaga.
"Ada apa? kenapa kau pagi-pagi sudah teriak sekeras mungkin? apa kau ingin membangunkan Tuan muda..?" Miss Lin melotot menatap Vannesa.
"Miss Lin, ada yang meninggal..!" seru Vannesa.
__ADS_1
"Meninggal! siapa?" Miss Lin kaget, mendengar apa yang dikatakan oleh Vannesa.
"Aku tidak tahu, dia tergeletak didepan gerbang menuju dapur," kata Vannesa, dengan mata masih terpejam.
"Buka matamu, kalau berbicara.." ujar Miss Lin.
"Apa mayatnya sudah dibuang?" tanya Vannesa.
"Mayatnya jauh dari sini," kata Miss Lin.
"Untuk apa kau pagi-pagi sudah mau masuk dapur?" tanya Miss Lin.
"Gara-gara Jovanka, dia meminta aku untuk memasak bubur gandum. Pagi ini..! dia mau makan bubur gandum jam 5 pagi..!" Vanness dengan geram.
"Sepertinya, bayi Jovanka ingin mengerjai aku Miss Lin. Belum lahir saja, dia sudah menyusahkan. Dia tidak mau makan masakan para maid, harus aku yang memasaknya." sambung Vannesa.
Miss Lin tertawa, saat pertama Vannesa datang dan selalu menempel dengan Ardan ataupun Erick. Misa Lin mengira, Vannesa akan menjadi benalu di rumah tangga Erick dan Jovanka. Ternyata, Vannesa menjadi maid Jovanka.
"Kenapa Miss Lin tertawa? apa ada yang lucu?" tanya Vannesa kesal.
"Tidak ada, aku hanya senam wajah saja. Pagi-pagi tertawa itu bagus, agar wajah tidak kaku," ucap Miss Lin.
Percakapan keduanya terhenti, saat Ja'far datang dengan membawa bungkusan.
"Bau..!" Miss Lin menutup hidungnya, begitu juga dengan Vannesa.
"Hoek..!" Vannesa menutup mulutnya, karena ingin muntah. Tidak tahan dengan bau menyengat dari bungkusan yang dibawanya.
"Siapa yang meninggal? apa maid yang bekerja di dapur?" tanya Miss Lin.
"Mayat musang Miss Lin," jawab Ja'far.
"Tidak Miss Lin, bangkai musang sudah membusuk," ucap Ja'far.
"Tidak pernah sejarahnya, ada musang masuk kedalam mansion," kata Miss Lin.
"Miss..." Ja'far memberikan tanda melalui matanya, Miss Lin melihat mata Ja'far. Dan mengetahui ada yang tidak boleh dikatakan saat ini.
"Bawa keluar Ja'far" titah Miss Lin.
Ja'far membawa bangkai musang keluar.
"Kau! telah membuat keributan di pagi hari, itu bangkai musang..! bukan mayat!"
"Bukankah hewan mati menjadi mayat?" tanya Vannesa, tanpa ada merasa salah dengan apa yang dikatakannya.
"Ahh..! sesuka hatimu saja, sekarang. Masak, apa yang diminta oleh Mrs Godfrey," ucap Miss Lin.
"Aku sendiri? Miss Lin, bisa kau temani aku ke dapur?"
"Itu pekerjaanmu, lakukan sendiri." Miss Lin meninggalkan Vannesa, kembali menuju kamarnya.
"Aaahhh! Jovanka gila..!" kesal Vannesa.
"Kenapa dapur harus terpisah dari rumah utama, buat orang takut masuk dapur diwaktu masih gelap begini." gerutu Vannesa.
"Miss, apa yang anda lakukan?" seorang menyapa Vannesa dari belakang.
"Oh God..! kau membuat aku jantungan saja!" seru Vannesa memutar badannya, menatap orang yang menyapanya. Vannesa memegang dadanya yang berdetak kencang
__ADS_1
"Maafkan saya miss."
"Kau mau ke dapur?" tanya Vannesa pada maid tersebut.
"Iya Miss, hari ini jadwal saya untuk membersihkan dapur, sebelum digunakan."
"Terima kasih God..!" Vannesa senang, karena dia tidak sendiri didapur.
"Anda ingin apa Miss, biar saya bantu." maid tersebut menawarkan diri untuk membantu Vannesa.
Vannesa senang, karena maid tersebut mau membantunya.
"Aku ingin memasak bubur gandum, di campur dengan buah strawberry diatasnya." Vannesa menyebutkan, bubur apa yang diinginkan oleh Jovanka.
"Baik Miss, biar saya yang memasaknya. Miss kembali kedalam kamar saja, selesai nanti. Akan saya antarkan kekamar Miss."
"Biar saya tunggu di sini saja," kata Vannesa.
"Baiklah miss, buburnya akan masak dalam waktu setengah jam," ucap maid tersebut.
Vannesa duduk, mengamati maid memulai masak bubur gandum. Sedangkan Vannesa duduk menunggu dengan terkantuk-kantuk.
πππ
Bug...
"Aduh...!" pekikan terdengar dari dalam kamar Jovanka, tapi bukan suara Jovanka yang berteriak.
Erick bangkit dari ranjang, dengan memegang asetnya yang telah menghasilkan babies triplets.
"Sakit..!" terdengar lirih suara Erick, seraya mengintip kedalam celana boxer yang dipakainya.
"Kenapa selama hamil, tidurnya tidak bisa tenang. Apa itu bawaan hamil? apa babies triplets nanti akan menjadi mafia, ingin menguasai dunia? masih dalam kandungan saja, mereka sudah menguasai tempat tidur." gumam Erick.
Jovanka, tersangka utama. Yang menendang aset berharganya Erick, tidur tanpa mengetahui. Sudah membuat Erick tidak dapat tidur dengan nyenyak , karena ini sudah ketiga kalinya. Erick menjadi korban kaki Jovanka.
"Aku tidur di sofa saja, walaupun aku sudah menghasilkan tiga babies triplets. Tapi aku tidak ingin mandul," ucap Erick sembari merebahkan tubuhnya di sofa, dengan berbantalkan tangannya. Erick kembali melanjutkan tidurnya yang sempat terganggu.
Sedangkan Jovanka, tidur dalam keadaan senyum dibibirnya. Entah apa mimpi Jovanka saat ini.
Marcio bergegas bangkit dari ranjang, setelah mendapatkan laporan dari anak buahnya. Mengenai bangkai musang yang ditemukan dipintu dapur.
"Tuan, ini bangkai musang itu," ucap Ja'far dengan menunjukkan bangkai musang dalam plastik.
"Sudah busuk?" tanya Marcio.
"Iya Tuan, sepertinya. Musang ini sudah mati lama, karena tubuhnya sudah penuh dengan belatung," ucap Ja'far.
"Siapa yang membawanya?" gumam Marcio.
"Tuan, sepertinya. Ada orang yang meneror, untuk membuat ketakutan di dalam Mansion," ucap steel.
"Buang, jangan ada yang membicarakan tentang ini semua. Ingat itu." titah Marcio pada anak buahnya.
"Baik Tuan." anak buah Marcio membubarkan diri, sedangkan Marcio menelpon seseorang.
"Selidik kedua orang itu, apa masih dalam penjara." titah Marcio pada orang yang dihubunginya.
π Nextπ
__ADS_1