The Tyrant'S Desire (Hasrat Cinta Sang Penguasa)

The Tyrant'S Desire (Hasrat Cinta Sang Penguasa)
Ulah Jo


__ADS_3

Happy reading guys πŸ₯°


☘️☘️☘️


USG bergerak diatas perut Jovanka yang terlihat sudah membuncit, walaupun usia kehamilannya baru mau memasuki tiga bulan.


Kening dokter Sonia mengeryit, saat menggerakkan USG diperut Jovanka.


"Ada apa Dok?" rasa penasaran melihat kening dokter Sonia mengeryit, membuat Erick bertanya.


"Kenapa? apa babies tidak baik-baik saja?" tanya Jovanka, karena mendengar pertanyaan Erick.


"Dok..!" panggil Erick, karena dokter Sonia belum menjawab pertanyaan mereka berdua.


"Sepertinya, babies terlalu besar Mrs Godfrey," jawab dokter Sonia.


"Babies terlihat besar," ucap dokter Sonia, setelah mengakhiri USG.


"Oh..aku kira, babies ada masalah." Jovanka menarik napas lega, begitu juga dengan Erick. Setelah mendengar perkataan dokter Sonia.


"Bukankah, jika babies besar itu sangat bagus Dok. Tandanya babies dalam keadaan sehat," ucap Jovanka.


"Iya Dok." Erick nimpali ucapan Jovanka.


"Tuan muda, jika ini berterusan. Babies semakin besar, tidak sesuai dengan bulan kehamilannya. Saya takutkan, Mrs Godfrey akan bedrest sampai melahirkan. Karena beban perut yang membuat Mrs Godfrey tidak nyaman dalam bergerak," ucap dokter Sonia.


"Dan lagi, baby besar belum tentu sehat. Baby kecil, belum pasti tidak sehat." terang dokter Sonia.


"Berat anda juga sangat berlebih Mrs Godfrey," ucap dokter Sonia, setelah melihat rekam medis yang diberikan suster padanya.


"Saya kira, bayi besar. Sudah tentu sehat," ucap Jovanka.


"Apa yang harus dilakukan Dok?" tanya Erick.


"Kurangi makanan berlemak dan bersoda, perbanyak konsumsi sayuran dan buah-buahan. Dan cemilan yang mengandung gula tinggi, harap dibatasi. Ini dapat membuat baby besar tidak sehat. Bisa membuat bayi mendapatkan penyakit.


"Jika baby terlalu besar, bisa berisiko mendapatkan gangguan kesehatan. Pada ibu hamil, persalinan yang sulit. Apalagi, pada kehamilan kembar. Pada bayi juga ada resikonya, bisa terjadi obesitas dan diabetes dikemudian hari. Alasan ini yang harus diperhatikan ibu hamil untuk perlu memperhatikan berat janin." dokter Sonia menjelaskan pada Erick day Jovanka.


Wajah Jovanka terlihat sedih, melihat raut wajah Jovanka yang sedih. Erick menggenggam tangan Jovanka.


"Tidak akan ada apa-apa dengan bayi kita," kata Erick.


"Apa yang harus kami lakukan dokter?" tanya Erick.


"Lakukan olahraga ringan, jalan selama 10 menit. Seperti saya katakan tadi, kurangi makanan yang manis dan makanan siap saji yang berlemak. Makanan yang mengandung gula tinggi," ucap dokter Sonia.

__ADS_1


"Apa saya tidak boleh mengkonsumsi makanan itu sama sekali?" tanya Jovanka yang sangat menyukai cemilan yang manis, pada saat hamil sekarang ini.


"Bukan sama sekali tidak boleh mengkonsumsi, boleh. Tapi dibatasi," jawab dokter Sonia.


"Dengar, apa yang dikatakan oleh dokter Sonia," kata Erick.


Jovanka hanya memanyunkan bibirnya, dalam benaknya. cemilan yang disimpan dalam kamarnya tidak bisa dinikmatinya lagi.


πŸ€πŸ€πŸ€


Setelah selesai konsultasi dengan dokter Sonia, Erick menuntun Jovanka kembali kedalam kamar.


"Saat kandungan 5 bulan, kemana-mana harus menggunakan kursi roda," kata Erick.


"Kursi roda? aku bisa jalan, untuk apa kursi roda." protes Jovanka.


"Bagaimana jika perutmu besar, seperti yang dikatakan oleh dokter Sonia," kata Erick.


"Tidak akan, aku akan memilah apa yang bisa aku makan."


"Betul ya, jangan hari ini berkata ini. Besok lupa apa yang di janjikan," kata Erick.


"Janji, aku tidak akan makan cemilan yang tidak sehat," kata Jovanka dengan mengacungkan dua jarinya.


"Bagus, good mom." puji Erick.


Dua hari, Jovanka mentaati perintah dokter Sonia. Hari ketiga, Jovanka secara diam-diam menyuruh Vannesa untuk membawakan dia coklat. Setelah melihat iklan di televisi.


"Tidak! aku tidak mau Erick akan marah padaku," ucap Vannesa menolak keinginan Jovanka untuk membelikan dia coklat.


"Baiklah, jika kau tidak mau. Aku akan mengadu pada mommy, kau tidak mau menuruti apa kemauan babies triplets." ancam Jovanka.


"Kau selalu membawa nama aunt Maria, kau sangat menyebalkan..!" seru Vannesa.


"Adukan saja, aku tidak takut. Titah Erick yang harus aku patuhi, bye.." Vannesa pergi meninggalkan Jovanka yang duduk di halaman belakang.


"Aku tidak butuh bantuanmu, babies. Bagaimana, tidak ada yang mau memberikan kita coklat. Babies ingin coklat dan es krim ya," ucap Jovanka seraya mengelus perutnya.


"Mrs Godfrey, ini. Saya bawakan es krim dan coklat," ucap seorang maid, yang datang dengan mengendap-endap dengan membawa bungkusan. Yang berisi es krim dan coklat yang lumayan banyak.


"Dari mana kau tahu, aku ingin makan ini semua?" tanya Jovanka dengan mata berbinar, saat melihat isi bungkusan yang dibawa oleh maid.


"Saya mendengar, ada berbicara dengan Miss Angelo. Di dapur ada es krim dan coklat, Miss Lin baru mengisi lemari pendingin." beritahu maid tersebut.


"Terima kasih, tolong bawakan ini kedalam kamarku. Aku tidak ingin, ada yang melihat aku makan ini. Dan mengadukan pada Erick."

__ADS_1


Jovanka berdiri, dan berjalan menuju kamar. Yang tidak jauh dari tempat dia duduk.


"Ayo" ajak Jovanka pada maid, untuk mengikutinya menuju kamarnya.


"Terima kasih, sampai di sini saja," ucap Jovanka, setelah tiba didepan pintu kamar.


"Apa tidak saya antar kedalam Mrs Godfrey?" tanya maid tersebut.


"Tidak perlu, pergilah." titah Jovanka.


Karena Erick, tidak menginginkan. Ada maid yang tidak berkepentingan masuk kedalam kamar, hanya maid yang bertugas membersihkan dalam kamar yang di izinkan Erick untuk masuk kedalam kamar.


Jovanka mengambil bungkusan yang dipegang maid, dan membawanya masuk kedalam kamar.


Kepala maid sempat melihat kedalam kamar Jovanka, sebelum kamar kembali tertutup rapat.


"Sial..! padahal aku ingin melihat kamar Tuan muda Erick Godfrey.' maid tersebut kesal, karena Jovanka tidak mengizinkannya untuk masuk kedalam kamar.


Dalam kamar, Jovanka sangat gembira. Dapat menikmati es krim yang sangat diinginkannya.


Jovanka berjalan keluar dari kamar, dia duduk di teras kamar. Sambil menikmati es krim, Jovanka memandang kearah lautan luas.


"Sangat nikmat, kalian pasti suka babies," ucap Jovanka pada ketiga babies.


"Cukup ya babies, nanti kalian kedinginan didalam sini." Jovanka mengusap perutnya.


"Emmhh.. apa ? kalian ingin makan coklat juga ?" tanya Jovanka pada baby-nya.


"Oh..mau, baiklah. Mommy akan memberikan kalian makan coklat, tapi kalian harus janji. Jangan adukan mommy pada Daddy ya, awas kalau kalian akan mengkhianati mommy. Mommy tidak akan mau menuruti apa keinginan kalian lagi," ancam Jovanka pada sang babies yang masih sekepal nasi.


Jovanka menikmati coklat, sehingga bibir dan giginya berwarna coklat. Saking asik menikmati coklat, dia tidak menyadari ada orang yang berdiri dibelakang tempat dia duduk menikmati coklat.


"Apa yang kau makan itu?"


Deg...


Spontan Jovanka menoleh kearah asal suara, Jovanka nyengir. Terlihat bibir dan giginya yang berwarna coklat. Tangannya sibuk menyembunyikan coklat kedalam bajunya.


"Tidak ada, aku hanya menikmati keindahan alam. Lihatlah, laut sangat damai. Tadi aku melihat ada segerombolan lumba-lumba sedang bermain," ucap Jovanka.


"Oh, apa kau tidak sedang makan apa-apa?" selidik Erick, padahal. Dia sudah tahu, terlihat dari bibir dan gigi Jovanka yang belepotan oleh coklat.


"Tidak ada.." Jovanka menunjukkan tangannya.


Tiba-tiba, Erick menarik tengkuk Jovanka. Dan membungkam bibir Jovanka dengan bibirnya, bibir Erick mengemut bibir Jovanka. Kemudian melepaskannya.

__ADS_1


"Bibir rasa coklat," ucap Erick seraya menyentuh bibir Jovanka.


🌜 NextπŸŒ›


__ADS_2