The Tyrant'S Desire (Hasrat Cinta Sang Penguasa)

The Tyrant'S Desire (Hasrat Cinta Sang Penguasa)
Kaget


__ADS_3

**Selamat membaca kakak-kakak reader dan bantu Like setiap bab ya kakak-kakak, itu semua membantu penulis. Terima kasih atas dukungannya 🥰🙏


☘️☘️☘️☘️


Rachel menghentikan langkahnya, hatinya kecut. Saat melihat moncong senjata yang digenggam Erick terarah kearahnya.


Kedua tangannya naik terentang keatas, jantungnya seketika berdebar-debar.


"Apa Erick sudah tidak waras, sehingga ingin menembak mati aku" dalam benak Rachel.


"Rick, sayank.." Rachel memajukan kakinya, walaupun berat untuk dilakukannya. Karena dia benar-benar takut saat ini, Rachel takut. Erick benar-benar menghabisinya saat ini juga.


Tinggal tiga langkah lagi jaraknya dengan Erick, Dan..


Dor....


Suara letusan senjata api terdengar kembali.


"Awww...!" teriak Rachel dengan ekspresi wajah ketakutan, tubuhnya gemetar. Dan tanpa disadarinya, ada air yang membasahi bagian bawahnya. Ya.. Rachel mengeluarkan air seninya, karena rasa takut mendengar suara senjata api yang ditembakkan ke udara oleh Erick. Karena jaraknya dengan Erick semakin dekat, suara senjata api terdengar dekat.


"Sudah aku ingatkan, untuk berhenti!" ucap Erick dengan marah.


"Erick! ini Rachel mu Rick!" seru Rachel dengan suara yang gemetar.


"Aku tidak pernah mengenal dengan nama yang kau sebutkan tadi, perempuan!" seru Erick dengan dingin dan datar.


"Erick sepertinya sudah gila, sepuluh tahun aku tinggalkan. Dia ternyata sudah gila" dalam benaknya.


"Pergilah kau perempuan! ini bukan Mall, disini tidak ada yang bisa kau nikmati" ejek Erick.


Didalam mobil, Mike juga sudah kecut. Dia juga Takut, akan menjadi sasaran kemarahan Erick Godfrey.


"Gila pria itu, mampuss..kau Rachel. Sebentar lagi kau akan cuss.. keatas dijemput malaikat maut" ucap Mike dari dalam mobil, dia merunduk. Takut senjata Erick menerpa tubuhnya.


"Please Erick, aku ingin berbicara denganmu. Apa kau tidak ingin bertemu dengan aku Rick, kita bisa mengingat masa-masa indah kita dulu" rayu Rachel.


"Aku datang menemui mu, karena mendengar kau akan menikah. Apa benar itu Rick?" tanya Rachel.


"Masa indah yang bagaimana kau maksud? hemh..masa indah saat kau bergulat dengan orang tua dirumahnya keluarga ku?" sindiran Erick membuat wajah Rachel sontak memerah, karena banyak pasang mata yang melihatnya.


"Rick!" malu Rachel.


"Kenapa? malu? hahaha..kau masih punya malu juga, kenapa kau datang ke sini? apa kau sudah bosan dengan orang tua itu, apa orang yang berada dalam mobil itu. Pemuas napsu mu?" mata Erick memicing menatap kearah mobil.


Mike yang berada dalam mobil spontan menunduk, dia takut. Erick akan menandainya.


"Bukan Rick, dia sopir ku" kata Rachel.


Erick bersetegang dengan Rachel, Jovanka dan Arisa santai di spa. Keduanya melupakan sebentar masalah yang mereka alami.


"Jo, senangnya. Badanku terasa rileks, calonmu sangat memanjakan dirimu Jo. Terlepas dari tampangnya yang menakutkan, dia sangat royal" kata Arisa.


"Jo, aku rasa. pria itu, kalau mau memotong jenggot dan kumis lebatnya. Mungkin wajahnya lumayan" kata Arisa.


Jovanka yang diajak bicara, tidak menanggapi ucapan Arisa.


Arisa yang telungkup, sedang di massage. Menoleh kearah Jovanka yang terbaring disebelah.


"Jo, hei.. Jo" panggil Arisa, tidak ada tanggapan dari Jovanka.


"Sepertinya, teman anda tidur miss" beritahu orang yang massage Jovanka.


"Tidur?" Arisa melihat napas Jovanka yang teratur, tidur Jovanka sudah pulas.


"Kasihan kau Jo" dalam batin Arisa.


Jovanka yang sedang rileks di massage, Erick sedang kondisi marah. Menghadapi wanita dari masa lalunya.


Rachel nekat, dia melangkahkan kakinya mendekati Erick. Karena dia merasa yakin, Erick tidak akan berani menembakkan senjatanya ke tubuh nya.

__ADS_1


"Berhenti perempuan!" seru Erick dengan suara yang keras.


"Tembaklah Rick, jika kau sangat membenciku. Aku rela Rick, aku lebih baik mati. Dari pada melihat kau menikah" ucap Rachel dengan sedih, air mata sudah mengalir di sudut kedua bola matanya.


"Kau yang minta ya, jangan salahkan aku"


Dor..dor..


Dua tembakan mendarat sempurna disisi kedua kaki Rachel, tanah yang terkena peluru senjata Erick berlubang.


Deg..


"Rachel..!" teriak mike dari dalam mobil, tapi dia tidak keluar. Matanya hanya melihat, Rachel jatuh ketanah yang keras.


Bruukk...


Rachel jatuh terjengkang, matanya terpejam.


"Buang..!" titah Erick pada Marcio, kemudian Erick masuk kedalam mansion. Tanpa perduli, apa yang terjadi pada Rachel.


Begitu Erick masuk ke dalam Mansion, para bodyguard menghampiri Rachel yang masih tergeletak di tanah.


"Apa dia mati Tuan?" tanya Andy.


"Tidak mungkin mati" kata Riko.


"Apa kau kira Tuan akan membunuh orang yang tidak memegang senjata?" tanya Marcio kepada Andy.


Andy menggelengkan kepalanya.


"Dia hanya pingsan, angkat dia. Masukkan kedalam mobilnya itu" titah Marcio.


Rachel di gotong, seperti menggotong hewan. satu orang memegang kedua kaki Rachel, dan satu lagi memegang kedua tangannya.


"Buka!" teriak Andy kepada Mike.


"Ingat, jangan kembali lagi. Jika terlihat kalian di pulau Saint Angel, kalian berdua akan pulang didalam peti" ancam Marcio Black.


"Ba..baik.. Tuan" jawab Mike dengan gemetar.


Mike langsung tancap gas, dia tidak perduli. Rachel tidak terbaring dengan sempurna di jok belakang mobil.


***


Tok..tok...


Pintu ruang kerja Axelo terbuka dengan kedatangan Danny Liu dengan tergesa-gesa.


"Tuan, menurut orang yang mengikuti miss Rachel. Miss Rachel sekarang ini sedang menuju pulau Saint Angel" kata Danny.


"Kurang ajar perempuan itu! berani-beraninya dia menggusik putraku!" geram Axelo.


"Apa yang dilakukannya disana?" tanya Axelo.


"Tidak tahu Tuan, karena Tuan Erick tidak mengizinkannya untuk masuk. Dia pingsan, karena Tuan muda menembaknya" beritahu Danny.


"Menembak?" kaget Axelo, karena dia tidak ingin. Erick menjadi pembunuh, kalau ingin melenyapkan perempuan itu. Biar tangannya saja yang kena darah Rachel.


"Tuan muda menembak, hanya untuk menakut-nakuti Tuan" kata Danny Liu.


"Dan ada satu informasi lagi Tuan, Miss Rachel. Sering bertemu dengan laki-laki yang bernama Andre Maurice" kata Danny Liu.


"Andre Maurice? siapa dia?" tanya Axelo.


"Tidak ada informasi yang jelas mengenai orang ini, dia baru kembali dari China" kata Danny.


"Apa yang dilakukannya? apa dia ada hubungan asmara dengan orang itu?" tanya Axelo.


"Andre Maurice, ada hubungan dengan Vanya Lauda." kata Danny Liu.

__ADS_1


"ibu Rachel? apa Andre Maurice Papa Rachel?" tanya Axelo.


"Bukan Tuan, Papa Rachel bernama Peter Ray. Peter Ray telah bercerai dengan Vanya Lauda" kata Danny Liu.


"Siapa orang itu? apa orang itu yang telah mengacaukan keluarga Godfrey?" gumam Axelo.


"Apa Tuan tidak mengingat orang yang bernama Andre Maurice, mungkin kenalan lama Tuan" kata Danny Liu.


"Tidak, aku tidak pernah mengenal orang yang bernama Andre Maurice. Apa dia klien kita?"


"Apa mungkin, klien. Saat saya tidak di perusahaan ?" kata Danny Liu.


"Ardan, urusan klien. Ardan yang mengurus" kata Axelo.


"Tunggu Ardan pulang, kita tanya padanya" kata Axelo.


"Apa Tuan tidak akan datang ke pernikahan Tuan muda ?" tanya Danny.


"Jika aku pergi, pasti Rachel akan ikut. Aku tidak ingin, di hari penting Erick. Kehadiran Rachel, membuat Erick terganggu" kata Axelo.


"Kenapa Tuan tidak pergi secara diam-diam saja, Miss Rachel tidak mungkin mau ikut Tuan. Apa yang dialaminya di pulau Saint Angel, pasti dia tidak akan pergi kesana dalam waktu dekat ini" kata Danny.


"Apa kau mau pergi bersamaku ?" tanya Axelo pada Danny.


"Baik Tuan, saya akan pergi bersama anda" kata Danny.


🍃🍃🍃


Jovanka sudah memakai baju pengantin, dia berdiri di depan cermin.


"Mama, Papa. Jo akan menikah hari ini" gumam Jovanka didepan cermin.


Pintu terbuka, Arisa masuk dengan membawa buket bunga.


"Kau sangat cantik Jo!" seru Arisa, melihat Jovanka memakai baju pengantin.


"Cantik.." ucap Jovanka tidak bersemangat.


"Hadapi semua dengan senyuman, mungkin saja. Ada keajaiban, kau terbebas dari pria itu" kata Arisa.


"Ini" Arisa menyerahkan buket bunga lili putih yang dibawanya kepada Jovanka.


"Indah" Jovanka memandang buket bunga lili putih yang dipegangnya.


"Ayo" kata Arisa.


"Ayo, kita hadapi semua dengan senyuman" ucap Jovanka.


Dengan bergandengan tangan dengan Arisa, Jovanka keluar dari dalam kamar. Dengan perasaan yang gugup, Jovanka berjalan menuju taman yang ada dibelakang Mansion.


"Tenang jo" Arisa menggenggam tangan Jovanka dengan erat.


Jovanka jalan menatap ke depan, wajahnya lurus. jemarinya menggenggam tangan Arisa.


Didepan ada seorang pria yang memakai jas putih membelakangi Jovanka, begitu Jovanka sudah semakin dekat tempat lokasi pernikahan. Pria tersebut memutar badannya, Jovanka menatap wajah pria yang menunggunya dengan ekspresi wajah yang heran.


"Kau...!" seru Jovanka kepada pria tersebut.


"Dia.." Arisa juga kaget, apalagi melihat Ardan.


"Mana Tuan Erick Godfrey?" tanya Jovanka.


"Jo, Doa kita terkabul. Tuan Erick Godfrey, mungkin terkena serangan jantung" bisik Arisa.


🍀🍀🍀


^^^Next...^^^


Penulis minta like...like..ya kakak-kakak reader 🥰🙏

__ADS_1


__ADS_2