The Tyrant'S Desire (Hasrat Cinta Sang Penguasa)

The Tyrant'S Desire (Hasrat Cinta Sang Penguasa)
Welcome


__ADS_3

Happy reading guys 🥰


☘️☘️☘️


Erick berdiri didepan pintu, dia masih mendengar apa yang dibincangkan dua saudara dalam kamar. Hati Erick yang tadi sempat memanas karena ucapan Bastian, kini sudah dingin kembali. Setelah mendengar perkataan Bastian, untuk Jovanka membuka hati untuk Erick.


"Kak, apa aku bisa hidup dalam keluarga Godfrey. Hidup mereka yang mewah, sedangkan kita selalu hidup dalam kesederhanaan. Jo lebih lama tinggal didalam tenda ditengah hutan, bersama dengan Mama dan Papa. Jo takut tidak bisa menyesuaikan diri dengan kehidupan Erick yang serba ada." Jovanka meluapkan unek-uneknya yang tersimpan selama ini.


"Jo, hidup Erick tidak glamor. Aku mengetahui tentang kehidupan saat Erick Godfrey, saat aku masih menjadi tawanan Erick Godfrey di pulau Saint Angel. Orang-orang mengatakan yang tidak-tidak tentang Erick Godfrey, itu semua tidak benar. Kakak tinggal di sana, tidak pernah mendapatkan penganiayaan. Para anak buahnya juga juga mengatakan Erick itu hidup dengan teratur, tidak suka dengan dunia malam dan bermain wanita," ucap Bastian.


Bastian melanjutkan ceritanya, tentang kehidupan Erick Godfrey yang terkenal kejam dan tidak berprikemanusiaan hanyalah cerita saingan bisnis. Yang tidak bisa bekerja sama dengan Erick Godfrey, hingga menyebarkan berita bohong untuk menjatuhkan nama baik keluarga Godfrey.


"Kakak hanya kecewa, saat pernikahanmu itu kakak tidak ada." sambung Bastian.


"Maaf," ucap Jovanka.


"Sudah, tidak usah dibahas lagi. Sekarang, bagaimana kondisi keponakan kakak ini?" tanya Bastian.


"Jo belum tahu, belum pernah periksa. Hari ini Erick mau bawa Jo ke dokter," kata Jovanka.


"Semoga sehat selalu sampai dia lahir ke dunia ini," ucap Bastian.


Pintu terbuka, Erick masuk. Wajahnya masih terlihat datar, tidak ada senyum dibibirnya.


"Ayo, dokter sudah menunggu kita," ucap Erick.


"Kak, Jo ke dokter kandungan dulu ya. Nanti Jo akan kembali lagi, setelah dari dokter," kata Bastian.


"Iya, hati-hati. Jangan berlarian," ucap Bastian.


Sedangkan Erick keluar, tanpa mengucapkan sepatah kata pun. Dia hanya menganggukkan kepalanya kepada Bastian.n


Erick berjalan didepan, Jovanka lima langkah dibelakangnya. Erick berhenti didepan pintu, menunggu Jovanka yang jalan dengan perlahan dibelakangnya.


"Apa yang ada didalam otak kecilmu itu?" tanya Erick, setelah Jovanka tepat ada didepannya.


"Apa?" tanya Jovanka, yang tidak mengerti apa yang dimaksud oleh Erick.


"Aku lihat, kau terus melamun. Sejak keluar dari dalam kamar Bastian." Erick seolah-olah tidak mengetahui apa yang dibincangkan keduanya.


"Tidak ada, aku hanya berpikir. Pria mana yang mau aku cium," kata Jovanka.


"Apa yang aku katakan tidak main-main, jika kau berani melakukannya. Aku akan mengurungmu dikamar selamanya." ancam Erick.

__ADS_1


Erick memegang handle pintu, membukanya. Dan menyuruh Jovanka untuk masuk terlebih dahulu.


Seorang dokter wanita yang sudah lumayan tua berdiri, menyambut kedatangan Erick dan Jovanka.


"Selamat datang Tuan muda Godfrey," ucap dokter spesialis kandungan tersebut kepada Erick.


"Saya ingin memeriksa kandungan istri saya," ucap Erick langsung, tanpa berbasa-basi pada dokter.


"Silakan naik keatas ranjang Mrs Godfrey, surter. Tolong periksa tekanan darahnya." titah dokter.


Jovanka naik ke atas ranjang, dan berbaring.


"Mommy anda menghubungi saya tadi Tuan muda, sebenarnya. Hari ini, saya tidak ada buka praktek di rumah sakit ini," ucap dokter Sonia sigh, dokter yang sudah melayani keluarga Godfrey selama dia mengabdi sebagai seorang dokter.


"Maaf dokter, karena saya. Anda terpaksa bekerja," ucap Erick.


"Tidak apa-apa, itu sudah tugas saya sebagai seorang dokter. Harus siaga setiap waktu."


Dokter Sonia menanyakan kepada Jovanka, mengenai kapan terakhir kali Jovanka mendapatkan tamu bulanan. Jovanka hanya diam, Erick yang menjawab semua pertanyaan dokter Sonia. Membuat dokter Sonia dan suster tersenyum dalam hati.


Dokter Sonia sigh, berdiri dan berjalan menuju ranjang.


"Bagaimana tekanan darahnya suster?" tanya dokter Sonia sigh.


"Sekarang kita lihat perkembangan janin ya, ayo Tuan muda. Apa anda tidak ingin melihat kecambah kecil anda, yang mau mulai terbentuk," ucap dokter Sonia.


"Apakah boleh?" tanya Erick.


"Boleh Tuan muda, kalau anda tidak boleh melihatnya. Siapa yang boleh? anda kan Papa dari kecambah kecil," ujar dokter Sonia sigh.


Suster menaikkan kemeja yang dikenakan Jovanka, dan mengusapkan gel di perut Jovanka yang masih datar. Belum terlihat tanda-tanda Jovanka sedang mengandung.


"Apakah tidak ada keluhan Mrs Godfrey?" tanya dokter Sonia sembari tangannya menggerakkan alat USG di perut Jovanka.


"Tidak ada dokter," jawab Jovanka.


"Mual, merasa tidak nyaman di pagi hari?" tanya dokter Sonia.


"Tidak ada dokter, saya tidak merasa ada mual atau ingin muntah. Hanya saya ingin meninju wajah seseorang saja dokter," ucap Jovanka seraya melirik Erick yang serius menatap layar monitor yang berada disamping Jovanka.


"Aaa...! meninju?" heran dokter Sonia menatap Jovanka sesaat, karena baru sekali ini dia mendengar saat hamil ingin meninju wajah orang.


Jovanka menganggukkan kepalanya.

__ADS_1


Kening dokter Sonia mengeryit, menatap layar monitor. Dia membetulkan posisi kacamata untuk melihat lebih jelas pada layar monitor, terlihat senyum di bibirnya.


Erick serius menatap layar monitor, sedikitpun dia tidak mendengar apa yang dikatakan Jovanka. Yang ada dalam pikirannya saat ini, apa yang ada di layar monitor. Warna dan abu-abu, tidak ada bentuk bayi di sana.


Karena matanya tidak ada menangkap bentuk bayi dalam layar monitor, Erick bertanya pada dokter Sonia.


"Dok, di mana bayi saya? apakah istri saya tidak hamil?" tanya Erick dengan mata fokus menatap kearah layar monitor.


"Tidak hamil?" Jovanka memutar kepalanya kearah layar monitor, matanya memicing menatap layar monitor. Seperti Erick, Jovanka juga tidak tidak melihat bayi dalam monitor tersebut.


"Lihat Tuan muda, ini bayi-bayi anda. Masih sebesar kacang polong, sangat kecil. Bayi-bayi anda baru berusia 6 Minggu, masih sangat rapuh dan rawan," ucap dokter Sonia.


Jovanka dan Erick saling pandang, saat mendengar dokter mengatakan berulang kali kalimat bayi-bayi.


"Apa maksudnya Dok? dokter mengatakan bayi-bayi ? apakah ada dua bayi didalam sini?" tanya Jovanka dengan menunjuk kearah perutnya.


"Apakah Jovanka mengandung dua bayi dokter?" tanya Erick.


"Bukan dua bayi Tuan muda, tapi Mrs Godfrey mengandung tiga babies," ucap dokter Sonia dengan mengacungkan tiga jemarinya.


"Apa..!!"


"Apa .!!"


Ucap Jovanka dan Erick secara bersamaan, keduanya sangat kaget. Tidak mengira, keduanya akan dikaruniai tiga bayi sekaligus.


"Ada tiga babies," ucap dokter Sonia.


Dokter Sonia kembali duduk di kursinya, Jovanka dan Erick terdiam. Jovanka tak menyadari, saat perutnya dibersihkan oleh suster dari gel dan menurunkan bajunya menutupi perutnya.


"Ayo Mrs," ucap suster, mengajak Jovanka untuk bangun dari ranjang.


"Eehh..iya," Jovanka tersadar dari lamunannya.


"Tuan muda," panggil dokter Sonia.


"Iya" sahut Erick.


Erick tersadar, dan membantu Jovanka untuk turun dari ranjang. Dengan hati-hati Erick membawa Jovanka untuk duduk.


🌜 Next🌛


Atas permintaan kakak reader, Jovanka hamil kembar tiga. Welcome babies triplets.🥰

__ADS_1


__ADS_2