The Tyrant'S Desire (Hasrat Cinta Sang Penguasa)

The Tyrant'S Desire (Hasrat Cinta Sang Penguasa)
Ada yang cemburu


__ADS_3

Happy reading guys πŸ₯°πŸ™


☘️☘️☘️


Seorang gadis masuk dengan menarik koper, dan langsung berlari memeluk Maria.


"Aunt Maria..!" seru gadis tersebut, seraya memeluk erat Maria.


"Vannesa...!" Maria menyambut pelukan Vannesa.


"Aunt masih hidup," ucap Vannesa.


Maria mengurai pelukannya, dan mencium kedua pipi gadis yang bernama Vannesa.


"Ayo duduk." Maria membawa Vannesa untuk duduk disisinya.


"Van, kenalkan. Ini istri Erick," ucap Maria mengenalkan Vannesa pada Jovanka.


"Hai..aku Jovanka." Jovanka melambaikan tangannya.


"Jo, ini Vannesa" ucap Maria.


"Aku Vannesa, keponakan aunt Maria yang paling cantik dan hanya satu-satunya di dunia ini," ucap Vannesa dengan bergelayut manja pada Maria.


"Aa..h..pria kaku itu menikah juga.." ucap Vannesa mengejek Erick, yang disebutnya dengan pria kaku.


"Dan dia siapa aunt ? apakah istri kedua pria kaku itu?" tanya Vannesa menunjuk kearah Arisa.


Arisa spontan berdiri, dan berkacak pinggang melotot menatap Vannesa.


"Hei..kau kira aku perempuan tidak waras..!" Arisa marah, dikira istri kedua Erick.


"Van, mulutmu masih tidak di jaga," ujar Maria pada Vannesa.


"Sorry," ucap Vannesa menampilkan senyum kecil dibibirnya.


"Itu Arisa, sahabat Jovanka," ucap Maria.


"Aunt jahat, kenapa pura-pura meninggal ? aunt nggak sayang lagi dengan Vanessa ya," ucap Vannesa dengan bergelayut manja sembari memeluk lengan Maria.


"Maaf, waktu itu pikiran aunt pendek. Hingga melakukan tindakan bodoh, ucap Maria.


"Tahu darimana aunt di sini ?" tanya Maria pada Vannesa.


"Vannesa jumpa dengan aunt Helena."


"Jo, aku tidak suka dengan gadis itu," ucap Arisa dengan dengan suara yang setengah berbisik.


"Kenapa?" tanya Jovanka seraya menoleh kearah Arisa.


"Aku tidak tahu, tapi aku merasa ada yang aneh dengan gadis itu," ucap Arisa dengan tajam menatap Vannesa yang berbincang dengan Maria.


"Cenayang mu keluar lagi?"


"Jo, kau harus hati-hati dengannya." ingatkan Arisa untuk berhati-hati dengan Vannesa.


"Kau ini, jangan berburuk sangka dengan orang."


"Aunt, Erick sudah menikah. Sedangkan aunt berjanji, aku akan menjadi menantu aunt?"

__ADS_1


Maria tertawa kecil mendengar perkataan Vannesa.


"Itu janji masa lalu, bagaimana lagi. Jodoh Erick sudah ada," ucap Maria.


"Dan Jovanka sedang hamil, aunt akan punya cucu," ucap Maria dengan senang.


"Apa! hamil? anak si kaku?" terkejut Vannesa.


"Lihat Jo, sepertinya dia meragukan kau hamil. Apa dia mengira Erick tidak bisa membuat kau hamil..?"


"Apa maksudnya? apa dia menuduh Erick mandul? dan aku hamil anak orang lain? yeah...ingin main-main dengan aku dia." batin Jovanka yang sudah panas.


"Sabar Jo, kau sudah berjanji untuk bersifat manis. Jangan tunjukkan sifat bar-bar mu." batin Jovanka menyemangati diri sendiri.


Jovanka menarik napas dalam-dalam.


"Rileks." gumam Jovanka.


"Van, jangan sampai Erick mendengar apa yang kau katakan ini," ucap Maria yang sangat tidak suka dengan apa yang dikatakan oleh Vannesa.


"Maaf aunt, aku kira Erick belum bisa move on dari mantannya itu. Saat aunt disangkakan meninggal, aku melihat Erick tidak tentu arah. Dan dia juga sangat membenci wanita, banyak wanita yang mencoba menarik perhatiannya. Tetapi tidak ada yang berhasil menariknya sampai terikat pernikahan.


"Cukup kita membahas Erick" ucap Maria, saat melihat Jovanka terlihat kesal melihat Vannesa.


"Aunt, karena Erick sudah menikah. Bagaimana jika aunt menjodohkan Vannesa dengan Ardan, Ardan belum menikahkan?"


"Hei...enak saja kau minta di jodohkan denganku, aku bukan pria tidak laku.."


Terdengar suara Ardan dari depan pintu.


Keempatnya menoleh, dan melihat Erick dan Ardan berdiri dipintu ruang keluarga.


"Erick..!" Vanness berdiri dan berlari memeluk Erick.


"Hehehe..! aku rindu, kita sudah lama tidak bertemu," ucap Vannesa.


Vannesa melepaskan belitan tangannya di leher Erick, dan kini matanya beralih ke Ardan yang berada di sisi Erick. Vannesa bergerak mendekati Ardan.


"Hei tampan, kau semakin tampan saja ya..!" goda Vannesa seraya memberikan kecupan tiba-tiba dipipi Ardan.


Cup...


Kecupan tiba-tiba, membuat Ardan kaget. Spontan dia mundur dan memegang pipinya yang di cium oleh Vannesa.


"Kau tidak berubah, sejak kecil kau suka sekali mencium pria." gerutu Ardan seraya memegang pipinya dan mengusap pipinya yang di cium Vannesa.


Erick tertawa melihat Ardan mengusap pipinya, seolah-olah bekas bibir Vannesa mengandung virus.


"Awas..!" Ardan mendorong Vannesa yang berdiri didepannya, dan menghalangi jalannya.


"Hei Ardan, kau sangat kasar dengan calon istrimu," ucap Vanessa dengan mengekor Ardan.


Ardan meletakkan bokongnya disamping Arisa, Vannesa juga ikut duduk disamping Ardan.


"Kenapa kau duduk disini..?" Ardan menggeser duduknya, sampai merapat ke sisi Arisa.


"Aku ingin menikah denganmu, karena Erick sudah menikah. Kau, yang harus menikah denganku..!" seru Vannesa.


"Dasar perempuan gila..!" seru Ardan dengan kesal.

__ADS_1


Erick yang duduk disisi Jovanka hanya diam, begitu juga dengan Jovanka. Tidak sedikitpun melihat kearah Erick, hatinya kesal karena telah ditipu oleh Erick mengenai Bastian.


Arisa berdiri.


"Mau kemana?" tanya Ardan, saat melihat Arisa berdiri dari duduk disampingnya.


"Aku capek, ingin melempangkan badan. Aunt, Risa masuk kamar ya," ucap Arisa.


"Ris, tunggu..!" Ardan ingin bangkit, tetapi Vannesa menahannya untuk berdiri.


"Jangan pergi, aku masih rindu denganmu," ucap Vannesa dengan tersenyum.


Ardan melepaskan belitan tangan Vannesa, dan berlari meninggalkan ruang keluarga.


"Ardan...!" panggil Vannesa.


"Van, kau jangan krasak-krusuk mengejarnya. Bukannya makin dekat, dia semakin menjauhimu ," kata Maria mengingatkan keponakannya tersebut.


"Aunt harus membantu Vannesa...!"


"Ya," sahut Maria.


πŸ€πŸ€πŸ€


Jovanka keluar dari dalam kamar mandi, setelah selesai melakukan ritual mandinya. Jovanka melirik sekilas kearah Erick yang sibuk dengan laptop didepannya.


"Besok kita periksa kandungan," ucap Erick tanpa memindahkan pandangan matanya dari laptopnya.


Jovanka tidak menanggapi ucapan Erick, dia naik kepembaringan.


"Jo, kau dengar apa yang aku katakan?" Erick menutup laptopnya, dan beranjak mendekati ranjang.


Jovanka membalikkan tubuhnya memunggungi Erick yang berdiri dibelakangnya, dan menarik selimut menutupi sekujur tubuhnya.


Erick kesal melihat Jovanka tidak menanggapi ucapannya, dengan raut wajah yang kesal menahan marah. Erick keluar dari dalam kamar, Erick berjalan menuju halaman belakang.


"Apa ada yang perlu saya bantu Tuan muda?" Mrs Cho yang datang dari dapur, menyapa Erick.


"Tidak ada Mrs Cho, saya tidak bisa tidur. Apa Daddy sudah tidur?" tanya Erick.


"Sudah Tuan muda, selama melakukan terapi. Tuan besar selalu tidur awal."


"Apa Tuan muda ingin minum kopi?"


"Tidak, saya hanya ingin jalan-jalan. Menghirup udara segar diluar," kata Erick.


Erick berjalan menuju halaman belakang Mansion, Erick duduk di kursi yang menghadap taman bunga.


Tiba-tiba ada tangan memeluknya dari belakang, membuat Erick kaget.


"Aku lihat dari kamar, kau duduk disini. Apa kau ada masalah?" tanya Vannesa.


"Tidak selalu, orang duduk sendiri ada masalah. Aku tidak bisa tidur saja, dan kau. Kenapa belum tidur juga, apa kau ada masalah?" tanya Erick.


"Masalah ku, satu pangeran tampan ku sudah menikah. Aku sangat menyukainya sejak aku kecil, aku terpaksa mengalihkan hati ini," ucap Vannesa memegang dadanya.


"Pangeran mu masih banyak diluar sana," ucap Erick.


"Semua pangeran itu kalah dengan kalian berdua."

__ADS_1


"Terima kasih atas pujianmu," ujar Vannesa.


🌜 NextπŸŒ›


__ADS_2