The Tyrant'S Desire (Hasrat Cinta Sang Penguasa)

The Tyrant'S Desire (Hasrat Cinta Sang Penguasa)
Beraksi


__ADS_3

Seseorang kembali ke pondok dengan membawa sekantong makanan.


"Kenapa sunyi? apa dia belum sadar juga? mungkin dia sudah mati, sehingga aku tidak perlu susah-susah membawakan makanan untuknya. Rachel aneh, aku disuruhnya untuk menyekapnya. Tapi tidak boleh membunuhnya. Sangat menyusahkan saja." gerutu orang tersebut, sembari membuka pintu pondok.


Kreekk..


Suara pintu pondok yang dibuka oleh orang yang menyekap Jovanka.


"Sial..!" umpat orang tersebut, setelah tidak melihat keberadaan Jovanka dalam pondok.


"Dia lari..!"


"Joey...!" teriakkan menggelegar ditengah hutan.


"Joey...!" teriakkan kembali menggema, saat orang yang bernama Joey tidak menyahut panggilannya.


Terdengar suara orang berlari dari depan pondok, terlihat seorang pria tinggi datang dengan tergopoh-gopoh.


"Dia melarikan diri..!"


"Lari, apa kau tidak mengunci pintunya?"


"Dia melarikan diri dari dinding yang dibobolnya."


"Kau sungguh teledor Rebecca, kenapa kau tidak melihat kondisi pondok ini. Bagaimana jika dia kembali, kita akan celaka. Penguasa pulau ini sangat terkenal dengan kekejamannya, aaarrgghhh...!" pria yang bernama Joey berteriak kesal.


"Dari pada kita saling menyalahkan, lebih baik kita mencarinya," ucap Rebecca.


"Kemana kita harus mencarinya, kita tidak tahu. Dia pergi kearah mana, apa Utara atau selatan?" tanya Joey.


"Pasti dia pergi kearah mata angin, wanita itu tidak bodoh. Cepat, dia pasti belum jauh. Dia lagi hamil, tidak mungkin bisa berjalan cepat," ucap Rebecca.


Rebecca berjalan setengah berlari menuju hutan, kearah yang diyakininya dituju oleh Jovanka.


"Mata angin, apa dia tahu cara mencari arah mata angin? aku saja tidak tahu." gumam Joey, sembari mengikuti Rebecca yang berjalan cepat didepannya.


πŸ€πŸ€


Setelah merasa staminanya pulih, Jovanka berencana melanjutkan perjalanannya kembali.


"Aku harus melanjutkan perjalanan, saat malam. Aku tidak mungkin bisa berjalan." gumam Jovanka.


Jovanka melanjutkan langkahnya, baru beberapa menit melanjutkan langkahnya. Jovanka mendengar suara helikopter tidak jauh dari tempatnya berada.


"Erick! pasti Erick..!" seru Jovanka sembari mendongakkan kepalanya menatap ke udara.


"Hei...hei...!" seru Jovanka saat melihat helikopter terbang melintas di atas.


"Aku di sini..!" seru Jovanka dengan sekuat tenaga, tetapi helikopter terbang menjauh dari tempatnya berdiri.


"Ahh..sial..! tidak mungkin mereka melihat aku di sini, pepohonan ini membuat aku tidak terlihat. Aku harus menuju tempat yang tidak ada pepohonan." Jovanka mencari tempat yang bisa membuat dirinya terlihat dari udara.


Jovanka melanjutkan perjalanan, dengan langkah pelan. Karena Jovanka merasa sangat letih.


Dua orang yang mengejar Jovanka langsung berlindung, saat terdengar suara helikopter berada di atas mereka.


"Joey, berlindung!!" teriak Rebecca pada Joey.


Joey langsung berlindung dibalik pepohonan yang besar.

__ADS_1


"Apa mereka mencarinya?" tanya Joey.


"Sudah pasti," sahut Rebecca.


"Sial..! kenapa aku mau membantumu, bayarannya saja tidak seberapa," ucap Joey dengan kesal.


"Sudah terjadi, kita harus menyelesaikan pekerjaan ini. Kita harus membunuhnya, agar tidak ada yang mengetahui kita yang menculiknya," kata Rebecca.


"Siap-siap kau akan kembali masuk penjara, baru seminggu diluar. Kau akan kembali masuk jail," ucap joey.


"Ayo, lihat. Ada bekas orang berjalan," Joey melihat ada bekas orang melintas, dengan patahnya beberapa ranting pohon kecil.


"Aku kira dia pandai, ternyata dia cukup bodo. Dengan meninggalkan bekas jejak," ucap Rebecca.


Rebecca dan Joey berjalan cepat, mengejar Jovanka.


Jovanka yang dalam keadaan hamil, jalannya semakin melambat. Karena merasa sangat haus.


"Aku haus sekali, di mana aku temukan air. Tidak ada terdengar suara air sungai." Jovanka mendudukkan dirinya, dan menyandarkan tubuhnya. Matanya terpejam, karena merasa pusing tiba-tiba.


Krek...


Suara langkah kaki menginjak kayu kering membuat Jovanka membuka matanya.


Mata Jovanka terbuka sempurna, ketika melihat ada dua orang berdiri didepan dirinya. Keduanya tersenyum lebar, sehingga terlihat gigi-giginya yang coklat karena nikotin.


Huuk...!" Jovanka mual melihat kedua orang yang berdiri didepannya dengan menatap Jovanka dengan tatapan mata yang nyalang.


'Akhirnya kami menemukan mu ," ujar Rebecca.


"Kenapa kalian menculik aku? aku tidak mengenal kalian..!" seru Jovanka yang masih dalam kondisi duduk, karena merasa tubuhnya sangat lemah.


"Wanita iblis itu, sudah berada dalam penjara. Belum tobat juga..!" Jovanka sangat kesal mendengar siapa yang menjadi dalang dalam penculiknya.


"Kami hanya menerima orderan, untuk membuangmu kedalam hutan. Ternyata, kau melarikan diri. Terpaksa kami menghabisi mu Mrs ," ucap Rebecca.


"Kalian benar-benar manusia tidak punya hati, tega kalian menghabisi wanita yang tidak bisa melawan," ucap Jovanka.


"Asal ada uang, kami tega melakukan apapun juga," ucap Joey sembari tertawa ngekeh.


"Maaf mrs, selamat tinggal. Joey, lakukan." titah Rebecca pada temannya.


Joey mengeluarkan pistol dari balik punggungnya, dan mengarahkan pada Jovanka.


"Lakukanlah, begitu aku mati. Aku dan ketiga anak-anakku akan bergentayangan mengikutimu..!" seru Jovanka, tidak terlihat ketakutan dalam wajahnya.


"Tiga, kau hamil kembar?" tanya Joey.


"Iya, kami akan mengikuti kemana pun kalian pergi. Sehingga kalian tidak bisa akan hidup dengan tenang." ancam Jovanka.


Rebecca dan Joey saling pandang, kemudian tertawa terbahak-bahak.


"Kau kira kami takut, kau tahu. Aku ini keluar masuk kedalam penjara karena membunuh, membunuh empat orang lagi. Aku tidak takut," ujar Rebecca.


"Bagaimana dengan kau Joey, apa kau takut dengan hantu gentayangan?" tanya Rebecca pada Joey.


"Aku? kalau hantunya seperti dia, aku ingin cepat-cepat agar dia menjadi hantu. Biar aku bisa mengajaknya untuk berkencan," ucap Joey sambil memainkan matanya menggoda Jovanka.


"Dasar manusia sinting, walaupun aku jadi hantu. Aku juga tidak berminat denganmu..!" ucap Jovanka dengan ketus.

__ADS_1


"Bunuh Joey...!" titah Rebecca.


Joey kembali mengarahkan senjatanya pada Jovanka, dengan terlebih dahulu memasang alat peredam. Agar suara letusannya tidak terdengar.


Jovanka memejamkan matanya, tangan saling meremas diatas pahanya.


"Apa hari ini akhir hidupku ? maaf babies, kalian tidak bisa bertemu dengan Daddy. Erick, aku mencintaimu...!" teriak Jovanka sekeras mungkin.


"Bye.." ucap joey, dan kemudian mengambil ancang-ancang menarik pelatuk pistol.


Jovanka menunggu peluru menerpa tubuhnya, dengan mata terpejam.


Bruk...


"Aaarrgghhh...!" Joey tumbang jatuh kedepan Jovanka, hingga menimpa kaki Jovanka yang duduk selonjoran.


Rebecca kaget, melihat Joey jatuh dengan pisau menancap di sudut lehernya.


"Siapa..?" mata Rebecca awas menatap balik pohon besar yang tidak jauh dari tempat mereka berada.


Jovanka yang merasa tidak mengalami apapun juga membuka matanya, dan melihat Joey yang terbaring dengan darah membasahi lehernya.


Jovanka lemas seketika dan pingsan, karena tidak tahan melihat Joey gelepar dihadapannya dengan darah bersimbah darah.


Ternyata, bukan leher Joey saja yang menjadi sasaran pisau. Punggung Joey juga telah menjadi sasaran pisau.


Rebecca menjadi waspada, matanya terus menatap lurus kedepan. Kearah pohon besar, di mana pelempar pisau itu bersembunyi.


"Siapa kau? keluar..! jangan jadi pengecut..!" seru Rebecca.


Blus...


Pisau secepat angin datang, menancap di mata Rebecca. Tanpa ada waktu Rebecca untuk menggelak.


"Aduh...!" Rebecca roboh ketanah dengan mata yang tertancap pisau kecil.


Setelah kedua buruannya jatuh terkapar, Altan Batuhan keluar dari balik pohon.


Dengan cepat Altan menghampiri Jovanka, dan memeriksa tubuh Jovanka. Apakah ada yang terluka.


"Tidak ada yang terluka, hanya pingsan." gumam Altan.


"Aku harus pergi." sebelum pergi, Altan menembak senjata ke udara.


Cahaya tembakan peluru sos terlihat oleh pilot.


"Tuan, lihat. Sepertinya ada yang membutuhkan bantuan," ucap pilot.


"Mungkin Jovanka Rick," ucap Bastian.


Erick memerintahkan pilot untuk menerbangkan helikopter kearah asal senjata sos berada.


Helikopter mencari tempat untuk mendarat, begitu helikopter mendarat. Erick dengan cepat membuka pintu dan loncat turun dari dalam helikopter.


Altan juga memberi jejak langkah menuju tempat Jovanka terbaring, agar Jovanka mudah untuk ditemukan. Keahlian suku Dukha sebagai pencari jejak yang andal, sangat berguna bagi Altan untuk mencari keberadaan Jovanka.


🌜 NextπŸŒ›


Terima kasih atas dukungannya..πŸ₯°πŸ™

__ADS_1


__ADS_2