
"Rick, istrimu sangat ganas. Kalau anakmu nanti laki-laki, gabungan kalian berdua. Pasti akan menjadi anak yang sangat mengerikan," ucap Natasa.
"Aunt, bagaimana jika perempuan? tidak bisa aku bayangkan, mungkin tidak akan ada pria yang mau menikahinya." ucapan Ardan mendapatkan tatapan mata horor.
"Kau mengutuk anakku, sebelum dia lahir...!" seru Erick kesal.
"Jangan marah Bro, hehehe..." ucap Ardan sembari ngekeh.
"Anak gadis bar-bar bagus, tidak akan pria yang berani menganggunya" ucap Natasa seraya melirik saudarinya Anne.
Anne yang tahu Natasa meliriknya, balas menatap wajah saudarinya tersebut.
"Ada apa? Kenapa gadis bar-bar, kau menatapku?" tanya Anne.
"Mengingat gadis bar-bar, aku mengingatmu Anne. Mommy dan Daddy dulu, hampir setiap hari datang ke sekolah. Karena kau berkelahi," ujar Natasa.
Erick dan Ardan terbelalak, mendengar rahasia aunt Anne mereka. Saat mudanya.
"Kenapa kalian menatap aunt terheran-heran begitu?" tanya Anne menatap wajah kedua ponakannya tersebut.
"Aunt nakal..?" tanya Ardan, dengan mata membola menatap raut wajah wanita masih terlihat cantik. Di usianya yang kepala 5.
"Bukannya, waktu muda semua orang ada sisi negatifnya sedikit." Aunt Anne membela diri.
"Aku nggak" celetuk Natasa.
"Cukup..! lihat, siapa yang datang.." Anne melihat pintu, William Doe datang bersama dengan dua pria.
"Selamat siang sister" ucap William Doe menyapa Anne dan Natasa.
Keduanya tidak membalas sapaan William Doe.
"Tidak sopan." ujar William Doe.
"Erick Godfrey dan Ardan Godfrey, penerus keluarga Godfrey. Mana si tua itu? apa dia sudah mati? ikut saudaranya menjadi penghuni neraka..." ucap William dengan mengejek Ardan.
Ardan berdiri dari tempat dia duduk, tangannya terkepal.
"Ardan, jaga emosi mu. Jangan lawan, dia sengaja membuat kita emosi," ucap Erick kepada Ardan yang sudah ingin memberikan tinjunya.
Ardan kembali duduk, matanya tidak lepas memandang wajah William Doe.
William Doe tertawa terbahak-bahak, seraya menarik kursi dan duduk bersama-sama dengan kedua orang yang datang bersamanya.
Tak lama kemudian Datang empat orang pria, kemudian disusul dengan kedatangan Danny Liu.
"Tuan-tuan semua, ini dari pemeriksaan Tim DNA rumah sakit Saint Lucia. Permintaan DNA, dilakukan oleh kedua belah pihak. Kami dari tim genetik rumah sakit Saint Lucia, tidak pernah berhubungan dengan kedua keluarga yang bertikai. Hasil DNA ini asli dan tidak ada rekayasa." ucap pihak dari rumah sakit.
"Nggak usah banyak cakap, berikan saja hasilnya.." ucap William Doe dengan tidak sabar.
__ADS_1
"Baiklah, ini hasilnya " Tim DNA rumah sakit Saint Lucia memberikan pada pengacara William, kemudian memberikan pada pengacara Erick Godfrey. Yang di wakilkan pada Danny Liu.
William Doe langsung merampas amplop putih yang berlogo rumah sakit Saint Lucia.
William Doe langsung merobek sampul surat, dan mengeluarkan isinya. William Doe langsung membacanya.
Sedangkan Erick hanya memegang surat tersebut, belum ada niatnya untuk membuka dan membacanya.
"Tidak...! ini tidak benar, aku putra Aslan Godfrey..!" teriak William Doe dengan suara yang melengking.
"Kami tidak perlu membacanya, reaksi mu sudah membuktikan. Pasti hasilnya sangat mengecewakan.." Erick melemparkan amplop yang dipegangnya keatas meja didepannya.
"Kami harapkan, kau tidak menyimpan dendam lagi. Kau bukan keturunan Aslan Godfrey, kalau kau mau tahu siapa ayah kandungmu. Tunggu sebentar, Danny. Bawa pria itu keluar." titah Anne pada Danny.
Danny berjalan keluar dari gedung tempat pertemuan, tidak lama kemudian masuk kembali. Diikuti oleh seorang wanita, yang menuntun pria yang sudah sangat tua.
"Silakan duduk Tuan Evans" ucap Erick.
"Tuan Evans, kau mengenal pria itu?" tanya Anne seraya menunjuk kearah William Doe yang berdiri tidak jauh darinya.
Andi Evans hanya menatap wajah Anne, tidak ada respon mengenai pertanyaan yang diajukan oleh Anne.
"Maaf semua, Papa saya mengalami sakit demensia hampir satu tahun ini. Sehingga, daya ingat Papa saya mengalami penurunan. Dia tidak ingat peristiwa masa lampau" beritahu putri Andi Evans.
"Kalian membawa orang yang sudah mau mati..!" sinis William menatap wajah Andi Evans.
"Ayah kandungmu kau hina, ayah orang kau akui sebagai ayahmu..!" sindir Natasa.
"Ayahku? Dia ?"
"Kau itu anak Andi Evans, ibumu menikah dengan Andi Evans secara diam-diam. Andi Evans ini adalah sekuriti di mansion, tapi karena ibumu ingin menjadi istri orang kaya. Dia tidak mengakui pernikahannya dengan Andi Evans, dan dia ingin menjebak Aslan Godfrey." cerita Anne.
"Tidak benar, Dia bukan ayahku..!" William tidak terima, Andi Evans sebagai ayahnya.
"Aku ada bukti, kau itu putra ayahku " kata putri Andi Evans.
Dia membuka tas yang dibawanya, dan mengeluarkan gambar.
"Lihatlah, ini gambar kau dengan Papa dan ibumu!" putri Andi Evans yang bernama Eva, memberikan gambar tersebut pada William.
William menerimanya, dan melihat gambar Sarah Megane bersama dengan Andi Evans. Dipangkuan Sarah, ada balita berumur dua tahunan.
"Bukan..!" itu bukan aku..!" tolak William mengenai fakta yang sebenarnya, bahwa dia hanyalah putra seorang sekuriti.
"Kalian berbohong..! kalian ingin menipuku..!" seru William seraya lari keluar.
Sepeninggal William Doe, Anne mendekati Eva.
"Terima kasih, kau mau hadir. Kami sudah bosan menghadapi orang tidak waras itu," ujar Anne pada Eva.
__ADS_1
"Kami permisi, saya ingin ke rumah sakit. Hari ini jadwal Papa cek up" kata Eva.
Natasa mendekati Eva, dan memberikan amplop kepadanya.
"Apa ini ?" tanya Eva.
"Itu untuk berobat," sahut Natasa.
"Tidak usah Mrs.." Eva menolak pemberian tersebut.
"Kami tidak menerima penolakan..!" seru Erick dengan tegas.
Eva memandang wajah Andi Evans, Papanya. Yang sebenarnya, sangat membutuhkan biaya berobat yang besar.
"Terima kasih" ucap Eva, setelah mempertimbangkan dengan matang. Akhirnya, dia menerimanya.
Setelah Eva dan Andi Evans pergi.
"Aku harus kembali ke Saint Angel," ucap Erick.
"Aku ikut.." Ardan ikut berdiri.
"Rick, Minggu depan kami kesana," ujar Anne.
"Baik aunt," sahut Erick.
Erick bersama dengan Ardan bergegas keluar, sembari berjalan. Erick berbicara dengan Marcio yang masih diatas helikopter, belum sampai di pulau Saint Angel.
"Erick...!" Ardan dengan cepat menarik tangan Erick, saat ada mobil dengan kencang datang dari belakang mereka.
Erick dan Ardan jatuh kesamping, dan mobil yang melaju kencang tersebut hilang kendali. Hingga menabrak beton pembatas jalan.
Brak...
Asap mengepul keluar dari bagian depan mobil yang ringsek, orang berlarian mendekati mobil yang terbakar.
"Gila..! siapa itu?"
"Dia ingin membunuh kita Rick, aku syak. Pasti William Doe," ucap Ardan.
"Cepat tarik keluar..! mobil akan meledak..!" seru orang yang menarik sang sopir.
Erick dan Ardan berlari melihat orang yang ingin menabraknya, yang kini terbaring di aspal. Dengan keadaan yang sangat memperihatinkan, sekujur tubuhnya penuh dengan darah segar.
"Betul, apa yang aku katakan.." ucap Ardan.
"Meninggal" ucap orang yang memeriksa keadaan William Doe.
🌜 Next🌛
__ADS_1