
Happy reading guys 🥰
Jovanka terus berbicara, menanyakan tentang sosok Erick Godfrey. Dfrey/Erick menjawabnya dengan hati-hati, takut dia salah menjawab. Sehingga penyamarannya terbongkar.
"Miss, nanti tiba di mansion . Aku menunggu diluar saja ya, aku tidak suka masuk kedalam mansion. Aura dalam sangat mengerikan, menurut informasi orang yang bekerja dahulu. Saat mansion dibangun, banyak sekali korban nyawa melayang." cerita Dfrey/Erick.
"Kenapa? apa ada wabah virus menyebar di pulau ini?" tanya Jovanka.
"Bukan virus miss, itu karena Penguasa pulau ini tidak suka dengan pekerja yang lambat. Hingga ada pekerja yang bermalas-malasan, Tuan Penguasa pulau ini, yaitu buyut dari penguasa sekarang. Membunuh pekerja itu, dengan cara memberikannya kepada buaya-buaya peliharaannya" kata Dfrey/Erick, senyum terlihat disudut bibir Erick. Saat menceritakan sosok kakek buyutnya.
"Sorry grandpa" batin Erick seraya mengatupkan kedua tangannya, wajahnya menatap langit.
"Sangat kejam! apa tidak ada yang berani melawannya!" seru Jovanka marah.
"Siapa yang berani melawan, penduduk pulau ini masih ingin hidup miss" ucap Dfrey/Erick.
"Kau tahu dari siapa cerita itu? apa kau sejak lahir tinggal di pulau ini?" tanya Jovanka.
"Aku lahir di kota miss, sepuluh tahun yang lalu. Aku meninggalkan kota, aku menetap disini " beritahu Dfrey/Erick.
"Kenapa kau betah tinggal disini? apa kau tidak was-was, tiba-tiba Tuan Penguasa pulau ini menginginkan kepalamu"
"Untuk apa dia menginginkan kepalaku? aku tidak mengusiknya" ujar Dfrey/Erick.
"Mungkin saja, nasibmu lagi sial! seperti yang aku alami, aku tidak tahu apa-apa. Tiba-tiba hidupku carut marut, saudaraku hilang. Sekarang, temanku Arisa juga ikut hilang" ucap Jovanka dengan perasaan yang kesal.
"Tunggu, aku sangat letih" Jovanka menghentikan langkahnya, dia menyandarkan tubuhnya di sebatang pohon.
"Haus, ini minum" Dfrey/Erick memberikan botol minum kepada Jovanka.
Jovanka menatap botol minum tersebut, Jovanka menelan liurnya. Membayangkan air dingin menyentuh tenggorokannya.
"Tidak, terima kasih" Jovanka menolak tawaran Dfrey/Erick.
"Kenapa? kau pasti haus kan, atau kau ingin pingsan. Biar bisa aku gendong, kalau itu yang kau harapkan. Tidak usah nunggu pingsan, aku akan mengendong mu sekarang juga" ujar Erick.
"Pria gila!" ketus Jovanka.
"Minumlah, tidak ada zat berbahaya didalam airnya. Jangan takut" ujar Erick.
"Ini" Erick memberikan botol minum ketangan Jovanka.
Jovanka menerima pemberian Erick, membuka tutupnya dan meneguknya. Karena merasa sangat haus, Jovanka meminum air minum yang diberikan oleh Erick sangat banyak.
"Terima kasih" Jovanka memberikan kembali botol minum kembali kepada Erick.
__ADS_1
"Sangat indah" ujar Jovanka, melihat pemandangan dari tempat mereka berada.
"Iya, sangat indah. Apalagi jika di waktu malam, kita bisa melihat bintang di langit. Bintang-bintang sepertinya sangat dekat, jika kita lihat dari sini" kata Erick.
"Apa tidak ada jalan menuju Mansion, selain dari sini ? Kelihatannya, jalan ini sangat sulit untuk dilalui dengan mengendarai mobil" kata Jovanka.
"Disini tidak ada mobil miss, jika orang mau pergi. Mereka bisa naik kuda" ucap Dfrey/Erick.
"Bagaimana, jika tidak bisa menunggang kuda. Apa mereka harus berjalan kaki, menempuh jarak tempuh berkilo-kilo. Untuk sampai ketempat tujuan, seperti Arisa. Apa harus naik keledai, ahhh..Arisa. Di mana kau? aku akan mencarimu sampai ketemu." Jovanka mengingat Arisa, saat mengatakan keledai.
Dfrey/Erick menghentikan langkahnya, dia berbalik.
Bruukk...
Jovanka yang tidak siaga, menubruk dada Erick yang kekar.
"Awww..! kenapa ada batu besar didepan!" seru Jovanka.
Jovanka mendongak, karena tinggi Dfrey diatas rata-rata. Membuat Jovanka harus mendongak, untuk melihat wajah Erick.
"Miss Jo, teman ada Miss Arisa baik-baik saja. Tuan Erick Godfrey tidak akan membunuhnya, Mungkin saja. Dia akan menjadi selir Tuan Erick Godfrey" kata Erick.
"Selir? apa Arisa akan menjadi penghuni Harem, di dalam Mansion ada Harem? apa Tuan Penguasa pulau ini, banyak menyimpan gadis-gadis cantik?" pertanyaan beruntun keluar dari mulut Jovanka.
"Miss Jo, jangan naif. Tuan penguasa itu seorang pemimpin, dia banyak di puja-puji para wanita. Sudah pasti hidupnya dikelilingi oleh gadis-gadis yang sangat cantik" ucap Erick.
"Pikiranmu Jangan yang aneh-aneh" ujar Erick dan memberikan sentilan dikeningnya Jovanka.
"Aduh..! kenapa pikiran aku aneh?" Jovanka tidak terima, dikatakan mempunyai pikiran yang aneh oleh Erick.
"Tuan Erick punya banyak wanita di dalam Mansion, namun. Bukan untuknya pribadi. Wanita-wanita itu untuk menghibur para pekerja, dan juga tamu -tamu kehormatan yang di undang oleh Tuan" kata Erick.
"Untuk menghibur? Tuan itu juga menjamu tamunya dengan memberikan wanita cantik, prostitusi terselubung. Sangat jahat!" seru Jovanka dengan suara yang lantang.
"Miss, Tuan tidaklah seburuk yang Miss Jo pikirkan. Dia pria yang baik" ujar Dfrey.
"Hei..mulutmu manis sekali, sudah berapa kali mulutmu itu memuji orang itu. Berapa banyak komisi yang kau terima, dengan menyanjungnya terus-menerus?" ejek Jovanka pada Dfrey, karena menyanjung Tuan penguasa pulau Saint Angel.
"Dia mantan majikan yang sangat aku hormati miss Jo" kata Dfrey.
"Sudah menjadi mantan saja, kau masih menghormatinya. Bagaimana jika tadi dia masih menjadi majikanmu, mungkin saja kau mau mengorbankan nyawamu itu" ucap Jovanka.
"Kalau untuk mengorbankan nyawa, heemm..aku masih pikir-pikir dulu. Aku belum menikah, miss. Apa miss Jo mau menikah dengan ku?" pertanyaan Dfrey membuat Jovanka mendelik tajam menatap wajah Dfrey.
"Kalau kau mau berada didasar jurang itu, terus katakan. Perkataan yang baru saja kau katakan" ancam Jovanka.
__ADS_1
"Hehehe..! usaha miss, mungkin saja miss Jo mau menjadi istri dari pria kesepian ini" ujar Dfrey/Erick dengan tertawa.
"Jangan mimpi! ayo cepat jalan lagi, aku ingin cepat bertemu dengan Arisa!" seru Jovanka.
"Baiklah"
***
Didalam Mansion, Arisa sedang merencanakan untuk melarikan diri dari dalam kamar.
"Kenapa belum ada orang yang datang?" Arisa menempelkan telinganya, untuk mendengar. Apakah ada orang yang masuk kedalam kamar yang ditempatinya.
"Arrrrrgg.." Arisa mengeram, karena kesal.
Arisa melihat keluar dari jendela, dan menatap dasar jurang yang terlihat dari jendela tempat dia berada.
"Turun dari jendela ini, dengan memakai sprei. Itu hanya berhasil didalam film saja, diluar film. Besok kita sudah berada didalam tanah, dengan tubuh yang patah beberapa bagian" ujar Arisa.
"Apa itu?" Arisa menajamkan pendengarannya, dia mendengar ada suara gemericik kunci didepan pintu kamarnya.
Dengan cepat Arisa menyambar pot bunga yang ada diatas nakas, kemudian Arisa bersembunyi dibalik pintu.
"Aku akan mengirim orang ini kedalam neraka?" Arisa mengangkat tangannya, yang memegang pot bunga. Siap-siap menunggu orang yang berada diluar pintu untuk masuk kedalam kamar.
Ceklek...
Pintu terbuka..
Prangg...
Pot bunga yang dipegang Arisa berakhir diatas kepala orang yang masuk kedalam kamarnya.
"Aduh..!" teriak orang yang dipukul oleh Arisa sebelum jatuh pingsan.
"Lari...lari...!" ucap Arisa sembari lari keluar dari dalam kamar.
Arisa berlari tidak tentu arah, karena dia tidak tahu. Jalan mana yang membawanya keluar dari dalam Mansion.
"Miss..miss..!" suara pelayan yang melihat Arisa keluar dari dalam kamar.
"Jangan ikuti aku! kalau kalian tidak mau berakhir seperti teman kalian didalam kamar" ancam Arisa kepada pelayan yang berdiri didepannya.
**Next....
Berhasilkah Arisa melarikan diri?"
__ADS_1
Jangan lupa untuk menekan like like ya kakak-kakak reader, terima kasih atas dukungannya 🙏🙏**