
Happy reading guys π₯°
πππ
Erick cukup kaget, ketika mendapatkan laporan mengenai penyelidikan terhadap makam Jonathan Reuel. Saudara kembar Jovanka Reuel.
"Apa mungkin Jonathan tidak meninggal?" tanya Erick sembari menatap wajah Marcio.
"Belum dapat dipastikan Tuan, mungkin saja Jonathan tidak di makamkan ditempat dia dilahirkan, saat Mrs Reuel melahirkan di bantu oleh suku pengembala. Suku itu tinggalnya berpindah-pindah," ucap Marcio.
"Sangat sulit untuk mencarinya, apalagi. Kejadiannya sudah bertahun-tahun yang lalu.
"Tambah orang untuk mencari keberadaan makam Jonathan." titah Erick.
"Baik Tuan," sahut Marcio.
πππ
Altan Batuhan, laki-laki yang terus melihat kearah Jovanka dan Bastian yang sedang berjalan-jalan.
"Aku telah melihat mereka berdua, walaupun aku tidak bisa berbincang dengan mereka. Tapi aku sudah senang, aku masih punya keluarga.
"Aku akan pergi, mencari tempat untuk aku tinggal. Aku tidak mungkin menunjukkan diri didepan mereka, siapa yang percaya dengan ceritaku ini ," ucap Altan Batuhan, bibirnya tersenyum. Tapi, hatinya terluka. Begitu mengetahui, bahwa dia bukan anak tidak jelas. Seperti yang dikatakan oleh anak-anak sukunya, karena perawakannya yang bule warna mata yang biru. Walaupun rambut hitam khas keturunan Asia tidak ada melekat dirinya.
ππFlash back ππ
Altan Batuhan, anak tetua suku Dukha. Anak laki-laki satu-satunya, dan satu-satunya anak yang di miliki oleh tetua suku. Suku Dukha, suku yang nomaden. Mereka tinggal berpindah-pindah, sampai satu ketika. Suku Dukha kembali ketempat Altan Batuhan lahir, di sini. Asal usul Altan Batuhan terkuak.
"Chinua..! apa kabar ?" sapa seorang pria yang sebaya dengan Chinua, seraya berjalan menghampiri Chinua yang sedang duduk didepan tenda tempat dia tinggal selama beberapa bulan kedepan.
"Aku sehat-sehat saja," jawab Chinua Batuhan.
"Sudah lama kau tidak kembali ke sini?" tanya pria tersebut, sembari mendudukkan diri di samping Batuhan.
"Istriku sakit, aku harus menetap di satu tempat dalam waktu lama," ucap Chinua Batuhan.
"Sekarang, bagaimana kondisi istrimu?"
"Sudah sehat, aku membawanya ke sini," ucap Chinua.
"Kau sendiri, bagaimana Ulagan ? Apa kau terbiasa tinggal menetap ?" tanya Chinua Batuhan.
"Aku sangat terbiasa, kau juga harus menetap Chinua. Kasihan istrimu," ucap Ulagan.
"Oh ya, di mana istrimu?" tanya Ulagan.
"Pergi mengambil air ke sungai, bersama dengan Altan," jawab Chinua Batuhan.
__ADS_1
Ulagan melihat kesekitarnya, tempat mereka berada. Setelah merasa tidak ada orang disekitar mereka, Ulagan bertanya.
"Bagaimana dengan anak itu? apa kau sudah mengatakan padanya, tentang asal usulnya?" tanya Ulagan.
"Dia tidak perlu tahu asal usulnya, dia putraku..!"
"Chinua, kau harus mengatakannya. Bagaimanapun, dia harus mengenal kedua orangtuanya," kata Ulagan.
"Dia bahagia, dia tidak perlu tahu asal usulnya. Aku memberi pendidikan padanya," kata Chinua Batuhan.
"Terserahlah, aku hanya tidak ingin. Satu hari nanti, dia tahu dari orang lain. Bahwa dia punya orang tua dan kau yang membantu dia lahir dan telah memisahkan dia dengan kedua orang tuanya dan saudara kembarnya."
"Aku hanya mengambil satu, dan dia masih mempunyai satu putri," Chinua Batuhan merasa tidak bersalah, telah memisahkan Altan dengan keluarganya.
Tanpa keduanya sadari, Altan yang sedang mereka bicarakan. Mendengar apa yang mereka bincangkan.
Altan keluar dari balik tenda, tempat dia mendengar semua apa yang dibicarakan oleh Papanya dan temannya.
"Papa memisahkan aku dari kedua orangtuaku!" seru Altan.
Chinua dan Ulagan kaget, tiba-tiba Altan sudah berdiri didepan mereka.
"Altan...!" seru Chinua dengan raut wajah panik, dia tidak mengira. Rahasianya, dia sendiri yang membongkarnya.
"Katakan! di mana orangtuaku..?"
"Cukup! jangan berbohong lagi, katakan. Jangan sampai aku membencimu seumur hidup..!" seru Altan dengan marah.
"Katakan..! sudah cukup kita berbohong," ucap istri Chinua yang berdiri dibelakang Altan.
"Maaf, aku akan katakan," ucap Chinua.
"Aku tidak tahu nama sebenar kedua orangtuamu, aku hanya tahu. Mereka seorang peneliti," ucap Chinua Batuhan.
"Kedua orangtuamu bernama Stephen Reuel dan Alisya Reuel" ucap Ulagan.
"Aku mengenalnya, aku juga punya gambar keduanya. Ikutlah kerumah, jika kau ingin tahu mengenai orangtuamu." Ulagan mengajak Altan ke rumahnya.
Setelah mengetahui, di mana dia bisa menemukan keluarganya. Altan menyewa penyelidik untuk mencari keberadaan orangtuanya.
ππ Flash back end ππ
"Apa yang kau lihat ?" suara dibelakangnya, membuat Altan mengalihkan pandangannya dari objek yang membuat dirinya sedih dan bahagia sekaligus.
"Tidak perlu kau tahu..!" ketus suara Altan menjawab pertanyaan Vannesa, dan berlalu meninggalkan Vannesa.
"Hei..! kau melihat Jovanka ya? awas kau, jika akan berniat jahat pada Jovanka. Aku akan menguliti tubuhmu..!" ancam Vannesa seraya mengikuti Altan.
__ADS_1
"*Aku akan mengawasi orang ini, aku tidak mau menjadi tertuduh terus menerus. Padahal aku tidak melakukan apapun juga." batin Vannesa.
πππ*
Hukuman yang diberikan hakim kepada Rachel lebih ringan dari tuntutan jaksa, Jaksa menuntut Rachel hukuman satu tahun dalam kurungan. Sedangkan hakim menjatuhkan hukuman 8 bulan penjara.
"Tidak ..! aku tidak mau di penjara, aku tidak bersalah..!" teriak Rachel tanpa perduli, di mana dia saat ini berada.
"Maa! bebaskan Rachel maa..!" teriak Rachel pada Vanya, saat Rachel ditarik untuk kembali kedalam penjara.
"Rach! tenanglah, hukumanmu hanya 8 bulan," ucap Vanya.
""Aku tidak mau kembali kesana...!" seru Rachel sembari meronta-ronta, tetapi cekalan tangan sipir membuat Rachel tidak bisa bergerak.
"Diam Miss..!" bentakan sipir wanita yang mencengkram lengannya, membuat Rachel diam seketika.
Tamat riwayat Rachel, apakah dia belum bertobat?
Nasib Mike lebih mengenaskan, kedudukan dan uang orangtuanya tidak bisa membebaskan Mike dari balik jeruji besi. Mike di jatuhi hukuman penjara lima belas tahun kurungan penjara, karena telah terbukti melakukan percobaan pembunuhan. Yang meringankan Mike, dia belum pernah melakukan kejahatan sebelumnya.
Diantara keduanya, siapa yang masih ada niat jahat??
βοΈβοΈβοΈ
Usia kehamilan Jovanka memasuki bulan keempat, bentuk perut Jovanka sudah semakin membuncit. Walaupun Jovanka masih sering melakukan curi-curi makan, tetapi karena Bastian masih berada di pulau Saint Angel. Kesempatan Jovanka untuk mencuri makanan yang dilarang semakin berkurang, karena Bastian selalu berada disekitarnya.
"Kak, kapan kembali ke kota?" tanya Jovanka.
"Kenapa? apa kau sudah bosan aku mengawasi mu?" tanya Bastian sembari memicingkan matanya, menatap Jovanka.
Jovanka hanya tertawa mendengar perkataan Bastian.
"Ingat Jo, jaga kandunganmu," ucap Bastian.
"Jo, beberapa hari ini. Aku merasa, sepertinya ada yang mengawasi kita. Kau harus hati-hati Jo," ucap Bastian.
"Siapa? apa ada orang jahat yang mengintai kita?"
"Kakak tidak tahu, katakan pada Erick Jo."
"Mungkin perasaan kak Tian sedang sensitif," ucap Jovanka.
"Yang penting, kau harus hati-hati."
π Nextπ
Cerita sudah mau mendekati ending, nggak mau panjang-panjang πβοΈ
__ADS_1