The Tyrant'S Desire (Hasrat Cinta Sang Penguasa)

The Tyrant'S Desire (Hasrat Cinta Sang Penguasa)
Mimpi


__ADS_3

Happy reading guys πŸ₯°πŸ™


πŸ€πŸ€πŸ€


Semua orang yang berada ditempat, menatap Jovanka dengan heran. Karena emosi Jovanka yang meledak-ledak.


"Jo, tenang dulu," ucap Arisa, seraya menarik lengan Jovanka untuk duduk kembali.


Jovanka duduk, kemudian berdiri kembali.


"Aku tidak bisa tenang, aku ingin meraup mulutnya. Aku mau ubek-ubek mulutnya..!" seru Jovanka sambil meremas jemari tangannya, karena terlalu kesal.


"Jangan emosi Jo." Arisa menarik baju Jovanka untuk kembali duduk.


"Kalau dia tidak hamil, kenapa dia mengatakan dia hamil? apa dikiranya kita orang yang bodo.. ! mau saja mendengar perkataannya?"


"Saya prediksi, mungkin saja dia tidak mendapatkan menstruasi. Dan mengira dirinya hamil, saya sarankan bawa dia ke dokter kandungan" kata dokter pada Maria.


"Baik dokter" sahut Maria.


"Kalau tidak ada yang diperlukan lagi, saya ingin kembali memeriksa pasien-pasien saya. Banyak pasien saya melahirkan hari itu," ujar dokter tersebut dengan sumringah.


"Musim melahirkan bulan ini Dok?" tanya Arisa.


"Iya, Tuan muda sangat beruntung. Kuda pacuannya sangat serasi tinggal di pulau Saint Angel" beritahu dokter seraya berdiri dari duduknya.


"Kuda? dokter mengobati kuda juga?" tanya Jovanka heran, begitu juga dengan Arisa. Tapi tidak dengan Maria dan Axelo.


"Saya ini dokter hewan," jawab dokter tersebut.


"Aaa...!" seru Jovanka dan Arisa secara bersamaan.


"Mom..?" Jovanka menatap wajah Maria.


Maria menganggukkan kepalanya.


"Miss Lin tadi mengatakan, dokter yang merawat Daddy sudah pulang. Karena Daddy tidak perlu dipantau lagi. Sedangkan untuk memanggil dokter, membutuhkan waktu satu sampai dua jam. Akhirnya, Miss Lin mengatakan. Ada dokter hewan, dia juga sering mengobati pasien manusia. Mommy suruh saja Miss Lin memanggilnya" ucap Maria dengan menampilkan senyum kecil.


"Dokter hewan dan manusia saja, sama-sama periksa mahluk hidup" sambung Maria lagi.


Jovanka dan Arisa saling menatap, kemudian. Keduanya tertawa terbahak-bahak.


***

__ADS_1


Penerbangan Erick dan Ardan terkendala, karena cuaca buruk terjadi. Hingga sampai malam. Erick dan Ardan bermalam di bandara, karena Erick tidak ingin kembali kerumah untuk beristirahat. Sampai penerbangan kembali dibuka.


"Sial...sial..!" umpat Erick dengan perasaan yang kesal.


"Sabar Rick, Marcio juga sudah beri kabarkan. Jovanka tidak apa-apa, wanita itu yang sial bertemu dengan Jovanka. Hehehe..." ucap Ardan sembari tertawa, mendengar laporan Marcio. Rachel pingsan dan Jovanka segar bugar.


"Kenapa dia suka sekali berkelahi ?" tanya Erick pada Ardan.


"Mana aku tahu, dia istrimu," jawab Ardan yang bingung dengan pertanyaan yang diajukan Erick padanya.


"Saat aku lihat gambarnya di ponsel Bastian, dia terlihat gadis yang lemah lembut. Kenyataan, aku sudah beberapa kali menjadi korbannya." ucap Erick.


"Hahaha...!" Ardan tertawa lebar, sembari memegangi perutnya. Dia merasa sangat lucu, mendengar apa yang dikatakan oleh Erick mengenai Jovanka.


"Kenapa kau tertawa..?" tanya Erick dengan melotot melihat Ardan.


"Rick, sepertinya. Kau itu jatuh cinta pada pandangan pertama saat melihat gambar Jovanka di ponsel Bastian," ucap Ardan.


"Kau tahu, didalam hidupku. Tidak ada cinta untuk seorang wanita, kecuali mommyku, cinta itu hanya sementara Ardan. Begitu bosan, cinta itu akan meninggalkan kita ," ucap Erick.


"Rick, jangan samakan semua wanita dengan mantanmu itu."


"Diluar sana, masih banyak wanita yang benar-benar mencurahkan cinta dan hidupnya untuk satu pria saja. Dan aku rasa, istrimu. Jovanka, wanita seperti itu. Dia dibesarkan dalam keluarga yang harmonis, kedua orangtuanya saling mencintai," ucap Ardan.


Erick tidak merespon ucapan Ardan, kepalanya tersandar di sandaran kursi. Matanya terpejam.


****


Keesokan harinya, jam 9 tepat. Erick dan Ardan baru bisa terbang. Setelah cuaca cukup memungkinkan untuk helikopter terbang melintasi lautan.


"Akhirnya, kita bisa pulang," ucap Erick lega. setelah 3 hari meninggalkan Jovanka.


"Ehemm..!" dehem Ardan, seraya melirik Erick yang kali ini hanya sebagai penumpang. Tidak seperti biasa, Erick menerbangkan sendiri helikopternya.


"Ada apa dengan tenggorokanmu? apa perlu kita putar balik, agar kau bisa kerumah sakit?"


"Oh... tidak perlu, lanjut saja. Kalau kita putar balik. Kau semakin lama tidak bertemu dengan orang yang kau sebut namanya dalam mimpimu tadi malam.." ledek Ardan.


"Siapa yang bermimpi? jangan sembarang mengatakan yang tidak benar..!" ketus Erick.


"Hei..! aku mengatakan yang sebenarnya, tadi malam kau mengigau. Kau mengatakan, Jo...Jo.. jangan tinggalkan aku. Aku sangat mencintaimu Jo, itu yang kau katakan. Kalau kau tidak percaya, kau suruh Danny untuk melihat cctv di bandara," ucap Ardan.


Erick tidak merespon ucapan Ardan, dia mengalihkan pandangannya kearah sampingnya.

__ADS_1


"Apa benar mimpiku tadi malam didengar Ardan, Aku sudah tidak waras dibuat wanita itu, kenapa aku memimpikan dia meninggalkan pulau Saint Angel ." dalam batin Erick.


Ternyata apa yang dikatakan oleh Ardan benar, Erick memimpikan Jovanka pergi meninggalkan pulau Saint Angel.


***


Di pelabuhan saint Lucia, beberapa polisi sedang menunggu malam tiba. Setelah mendapatkan laporan dari intelijen, bahwa Andre. Yang telah masuk daftar DPO, bersembunyi didalam kapal pesiar yang berlabuh ditengah laut.


"Tuan Danny, menurut orang kita. Wanita itu tidak berada didalam kapal itu," kata polisi yang bertugas untuk menangkap Andre dan Rachel.


"Wanita tidak akan kemana-mana, pria yang bernama Andre itu yang patut di waspadai. Dia anak buah William Doe, Mafia yang menguasai China daratan," kata Danny Liu.


"Di sana dia bisa berkuasa, di sini.Kami yang berkuasa," ujar kepala polisi yang terkenal dengan kekejamannya, dan tidak bisa di suap.


"Dan dia sudah mengakhiri kejahatannya" sambung polisi.


"Tuan Alfonso, saya kembali ke kantor dulu. Sore, saya akan kembali," ucap Danny.


"Baik Tuan Liu, saya juga akan kembali ke markas."


***


Keadaan Rachel sangat memperihatinkan, setelah tersadar. Rachel terus mengeluh, bahwa perutnya terasa sakit. Walaupun Jovanka kesal setiap melihat Rachel, tapi dia tidak tinggal diam. Jovanka berusaha membantu dengan memberikan air hangat untuk mengompres perutnya yang sakit, tapi tidak ada perubahan. Sakitnya semakin meningkat, Rachel mengalami buang air besar terus-menerus.


"Kau sakit apa sebenarnya?" tanya Jovanka dengan kesal.


"Aku tidak tahu..! mungkin ini karena kau telah menduduki perutku tadi..!" jawab Rachel ketus.


"Kalau kau tidak membuat kekacauan dengan mengatakan hamil anak mertuaku, aku tidak akan marah..!" balas Jovanka.


Keduanya saling bersilat lidah, tidak ada yang mau mengalah. Walaupun perutnya sakit, Rachel masih berani membantah perkataan Jovanka. Membuat Jovanka berulang kali mengepalkan tangannya.


"Jo, sabar.." ujar Arisa yang masuk kedalam kamar Rachel dengan membawa minuman untuk diberikan kepada Rachel.


"Minum ini!" titah Arisa pada Rachel.


"Apa ini?" tanya Rachel, saat melihat minuman dalam gelas itu berwarna hitam dan bau menyengat.


Rachel melekatkan bibirnya, di gelas.


"Ekor kadal goreng dan ekor tikus.." jawab Jovanka.


"Hoek....!" sontak Rachel ingin muntah, begitu mendengar minuman yang di berikan Arisa padanya. Rachel bergegas turun dari ranjang. Masuk kedalam kamar mandi. Sampai kamar mandi, isi perutnya berlomba ingin keluar.

__ADS_1


Arisa tertawa dan menggelengkan kepalanya, seraya menatap Jovanka.


🌜 NextπŸŒ›


__ADS_2