
Happy reading guys π₯°
πππ
Jovanka menampilkan wajah yang cemberut, karena Erick tidak mengizinkannya untuk bangkit dari ranjang.
"Please, aku mau keluar" mohon Jovanka pada Erick.
"No..! tunggu dokter datang" ujar Erick.
"Aku tidak sakit..!" seru Jovanka, ketika mengetahui Erick memanggil dokter untuk memeriksanya.
"Kalau tidak sakit, kenapa pingsan?" tanya Erick.
"Karena aku tidak selera makan," jawab Jovanka.
"Dokter? apa dokter hewan, yang memeriksa Rachel?" Jovanka teringat dengan dokter yang memeriksa Rachel saat pingsan.
"Dokter hewan?" Erick yang tidak mengetahui ceritanya, heran dengan perkataan Jovanka.
Miss Lin tertawa, sembari menundukkan kepalanya.
"Perempuan itu diperiksa oleh dokter hewan?" tanya Erick pada Jovanka.
Jovanka menceritakan apa yang terjadi pada Rachel, saat Rachel pingsan terakhir kali dia mengunjungi saint Angel.
Erick mengalihkan pandangannya dari Jovanka, ke Miss Lin. Ingin mengetahui cerita versi Miss Lin.
Miss Lin menceritakan semua, kenapa Rachel diperiksa oleh seorang dokter hewan.
"Dia pantas mengalami itu semua," kata Erick.
"Aku tidak mau diperiksa oleh dokter hewan..!" seru Jovanka.
"Tidak akan.." kata Erick.
Tok...tok... pintu kamar Erick diketuk, Miss Lin berjalan menuju pintu dan membukanya.
"Tuan, dokter Amarta sudah datang." beritahu Marcio.
"Suruh masuk" titah Erick.
Dokter Amarta masuk kedalam kamar, kemudian Miss Lin Dan Marcio keluar. Meninggalkan Erick, Jovanka dan dokter didalam kamar.
Dokter Amarta masuk kedalam kamar dengan menundukkan kepalanya, seperti orang-orang berhadapan dengan Erick. Tidak ada yang berani beradu pandang dengan penguasa pulau Saint Angel.
"Periksa istri saya." titah Erick pada dokter Amarta dengan suara yang datar.
"Baik Tuan, permisi" ucap dokter Amarta, seraya mendekat kearah ranjang.
__ADS_1
Erick berdiri dari duduknya, dan mempersilakan untuk dokter Amarta untuk memeriksa Jovanka.
"Apa semenakutkan itu Erick di mata dokter ini? sehingga dia terus menunduk?" dalam benak Jovanka.
"Apa keluhan anda Mrs Godfrey?" tanya dokter Amarta seraya mengukur tekanan darah Jovanka.
"Saya tidak ada keluhan apapun juga dokter, saya sehat. Dia saja yang mengira saya sakit..!" Jovanka cemberut menatap Erick yang bersedekap melihat dengan serius apa yang dilakukan oleh dokter.
"Dia pingsan" ucap Erick.
"Tekanan darah anda rendah, apa napsu makan menurun akhir-akhir ini Mrs Godfrey?" tanya dokter Amarta setelah selesai memeriksa tekanan darah Jovanka.
"Iya, aku tidak suka makan roti. Aku ingin makan spaghetti yang kejunya lumer di atasnya, waktu itu aku makan di saint Lucia." ucap Jovanka seraya menyapukan lidahnya dibibirnya.
Erick yang mendengar perkataan Jovanka, bergegas menuju luar kamar. Erick membuka pintu kamar.
"Marcio, pergilah ke saint Lucia dan belilah sebanyak-banyaknya spaghetti dan diatasnya harus keju yang lumer." titah Erick.
"Spaghetti?" tanya Marcio yang heran mendapatkan titah yang aneh, sejak dia mengabdi pada Erick. Baru kali ini dia terbang hanya untuk membeli spaghetti.
"Iya spaghetti..! apa kau tidak tahu spaghetti, bawa dia bersamamu" titah Erick untuk membawa Miss Lin bersamanya.
Erick menutup pintu, tanpa sempat Marcio berkata apapun juga. Begitu juga dengan Miss Lin.
"Aku tahu spaghetti, aku bukan tidak pernah memakannya. Tapi untuk apa beli sebanyak-banyaknya" ujar Marcio seraya memandang Miss Lin yang masih terlihat bingung.
"Sudahlah, aku harus secepatnya membeli spaghetti. Jika tidak, aku rasa. Tuan muda akan murka" Marcio bergegas pergi meninggalkan Miss Lin.
"Tuan black..! panggil Miss Lin.
Marcio menghentikan langkahnya, dan memutar badannya menghadap Miss Lin yang berjalan setengah berlari mendekatinya.
"Apa kau bisa membelinya, Tuan tadi menyuruh aku untuk ikut bersamamu?" tanya Miss Lin.
"Aku tidak sebodoh itu miss Lin, hingga tidak tahu mengenai spaghetti dan di mana harus aku dapatkan spaghetti pesanan Tuan muda" kata Marcio, dan kemudian memutar badannya dan melanjutkan langkahnya kembali.
"Semoga benar, apa yang kau beli. Jika tidak, kau harus ulang-alik untuk kembali membeli spaghetti" gumam miss Lin.
Dalam kamar, Jovanka berkeluh-kesah pada dokter Amarta. Dia menceritakan, keadaannya yang tidak bisa bergerak bebas.
"Dokter, aku tidak napsu makan. Karena aku selalu dikurung di sini, siapa yang bisa menikmati makanan seenak apa juga. Jika kita makan dikelilingi oleh itu-itu saja" Jovanka meluapkan unek-uneknya, dengan bibir manyun menatap Erick.
"Boleh saya periksa perut anda Mrs Godfrey?" tanya dokter Amarta.
"Tidak ada dalam perut saya dokter..! yang salah itu, pria yang berdiri di sana itu.." Jovanka mengerucutkan bibirnya menunjuk kearah Erick.
"Apa ini ada yang sakit mrs Godfrey?" dokter Amarta menekan perut Jovanka.
"Tidak ada..!" ketus Jovanka, karena dokter tidak mendengarkan perkataannya.
__ADS_1
"Pinggir...!" Jovanka mendorong tubuh dokter Amarta, kemudian Jovanka turun dari ranjang dengan menutup mulutnya. Jovanka berlari menuju kamar mandi, dan memuntahkan isi perutnya yang berupa air saja.
"Jo..!" Erick memegang punggung Jovanka dengan perasaan yang khawatir, terlihat jelas dari raut wajahnya.
"Dokter..! kenapa dengan istriku? kau harus memeriksanya dengan teliti, jika tidak kau temukan penyakitnya. Aku akan membuangmu dari pulau Saint Angel, kau tidak akan bisa mencari uang di sini lagi...!" sergang Erick dengan suara yang keras dari dalam kamar mandi.
"Maaf Tuan.." dokter Amarta berdiri dengan badan gemetar.
Erick mengangkat tubuh Jovanka dari dalam kamar mandi, dan kembali merebahkannya keatas ranjang.
"Aku tidak apa-apa, apa kau tidak bisa bicara dengan suara yang pelan-pelan saja? apa kau suka membuat orang takut denganmu ?" Jovanka melihat sekilas kearah dokter yang menunduk.
"Periksa istriku dengan benar...!" titah Erick.
"Dokter, tidak usah takut dengannya. Suaranya saja yang menggelegar, aku sudah sering menendangnya" gurau Jovanka, agar dokter Amarta menjadi rileks memeriksanya.
"Permisi Tuan" dokter Amarta mendekati Jovanka.
"Mrs Godfrey, apa aku boleh tahu. Kapan terakhir kali Anda mendapatkan menstruasi?" tanya dokter Amarta.
"Menstruasi, oh.. Tuhan..!" Jovanka menatap Erick, kemudian dokter Amarta.
"Ada apa?" Erick naik keatas ranjang dan duduk di sisi kanan Jovanka.
"Saya curiga, Mrs Godfrey hamil Tuan muda" ucap dokter Amarta dengan kepala menunduk.
"Hamil..!" seru Jovanka dan Erick secara bersamaan.
"Iya, tapi biar lebih jelas. Periksa ke dokter kandungan Tuan"
"Apa di sini ada dokter kandungan?" tanya Erick.
"Tidak ada Tuan, di pulau ini hanya ada dokter umum seperti saya," jawab dokter Amarta.
"Kenapa tidak ada dokter kandungan...!" Erick kembali marah.
"Karena tingkat ibu melahirkan sangat kecil Tuan, sehingga. Tidak ada dokter kandungan yang mau membuka praktek di pulau Saint Angel" ucap dokter Amarta.
"Begini saja Tuan, saya ada membawa test fack. Coba periksa dulu melalui ini, jika benar hamil. Mrs Godfrey bisa dibawa ke kota terdekat dari pulau Saint Angel" ucap dokter Amarta.
Dokter Amarta mengeluarkan alat tes kehamilan dari dalam tasnya, dan memberikannya pada Jovanka.
Jovanka menerimanya dengan perasaan yang campur aduk, ada perasaan takut. Jika dia benar-benar hamil.
"Ayo, aku temani" ucap Erick seraya menuntun Jovanka menuju kamar mandi.
"Sampai di sini saja, aku bisa sendiri" Jovanka menolak untuk di temani oleh Erick untuk masuk kedalam kamar mandi.
π Nextπ
__ADS_1