
Setting cerita berada diluar negeri ya, orang luar itu manggil orang itu hanya dengan nama depan atau nama belakang. Terkadang ada juga manggil orang tuanya dengan nama juga, berbahagialah kita. Orang timur yang mempunyai adab.
Happy reading guys π₯°
πππ
Erick bergegas menuju hotel, setelah menghubungi Jovanka melalui telepon hotel. Dan tidak diangkat. Erick juga menghubungi Arisa, melalui telepon kamar. Sama, Arisa juga tidak mengangkatnya.
"Kemana keduanya..?" kesal dan khawatir, berseliweran dalam benaknya Erick.
Dia takut Jovanka menjadi korban penculikan, seperti yang dialami oleh Maria. Mommynya.
Dengan setengah berlari, Erick tiba didepan kamarnya. Saat ingin melekatkan kartu ke pintu kamar, pintu langsung terbuka.
Deg...
Jantung Erick berpacu dengan kencang, tangannya mendorong pintu. Hingga suara pintu terdengar terbentur dengan dinding.
Brakk..
"Jo..! Jovanka..!" teriak Erick seraya berlari mencari keberadaan Jovanka di dalam kamar.
"Jo...!" teriak Erick memanggil Jovanka, tetapi tidak ada yang menyahut panggilan Erick.
"Kamar sebelah" Erick berlari keluar dari kamarnya, tujuannya adalah kamar Arisa.
Ting..tong...Ting .tong...
Tangan Erick terus menekan bel kamar Arisa, sama. Pintu kamar Arisa tidak merespon bunyi bel, yang ditekan Erick berkali-kali.
Erick berlari turun kebawah, karena tidak sabar menunggu lift. Erick turun dengan menggunakan tangga, letak kamarnya di lantai sepuluh. Erick turun melalui tangga sampai lantai satu, tidak terlihat dari raut wajahnya yang terlihat letih. Karena ada rasa khawatir, Dia bersemangat untuk mencari keberadaan Jovanka.
Sampai didepan resepsionis, Erick langsung bertanya mengenai Jovanka dan Arisa.
"Apa kalian tahu, kemana penghuni kamar nomor 1012 dan 1013?" tanya Erick pada bagian resepsionis.
"1012 dan 1013, sebentar Tuan. Saya tanya pada rekan saya, karena baru ganti jam kerja" kata wanita tersebut, kemudian wanita itu menanyakan kepada rekannya.
Wanita itu kembali.
"Maaf Tuan, rekan yang lain juga tidak mengetahuinya. Penghuni kamar 1012 dan 1013 tidak ada mengatakan mau kemana pada bagian resepsionis" ucap wanita tersebut.
"Aaarrgghhh...!" kesal Erick.
"Apa dia kabur? awas kau Jovanka, jika kau berani melarikan diri" gumam Erick dengan perasaan kesal.
Erick mengeluarkan ponselnya, dan menghubungi Marcio untuk mencari keberadaan Jovanka dan Arisa.
"Marcio..." baru Erick ingin berbicara dengan Marcio melalui sambungan telepon, mata Erick melihat Jovanka dan Arisa baru masuk menuju lobby dengan tertawa gembira.
Erick memutuskan sambungan ponselnya dengan Marcio, setelah melihat Jovanka.
"Itu dia, sial..! aku kebingungan, keduanya tertawa gembira.." gumam Erick kesal.
"Cowok itu sangat macho Ris, otot-ototnya menonjol. Seperti otot Popeye.." ujar Jovanka seraya tertawa kecil.
Dia tidak menyadari, keberadaan Erick. Karena Erick bersembunyi di balik bunga yang ada di lobby.
"Iya, kita berdua pasti bisa diangkatnya " kata Arisa sembari tertawa, membicarakan cowok macho yang baru dikenalnya.
"Bagaimana rasanya didalam pelukan cowok yang otot-ototnya menonjol begitu ya..?" tanya Jovanka pada Arisa.
__ADS_1
"Begini rasanya.." tiba-tiba ada sepasang tangan dari balik rimbunan bunga menarik Jovanka dalam pelukannya.
Jovanka kaget, dan ingin memaki orang yang telah berani memeluknya.
"Jo.." Arisa ingin mengatakan, siapa yang telah memeluknya. Tetapi terlambat.
Dan .
"Kau...!" Jovanka meronta dan menendang kaki orang yang memeluknya .
"Aduh...!" Erick melepaskan pelukannya, tangannya memegang kakinya yang menjadi korban kaki Jovanka.
"Kau istri bar-bar Jovanka..!" seru Erick.
Melihat siapa yang memeluknya, mata Jovanka bulat sempurna. Dia tidak mengira, Erick yang memeluknya. Karena Jovanka mengira, Erick masih berada di rumah sakit.
"Maaf.." ucap Jovanka.
"Aku kira kau orang gila, ternyata memang iya.... hehehe" sambung Jovanka sembari ngekeh.
"Kau terus menganiaya aku Jovanka.." ujar Erick.
"Kapan aku menganiaya mu..?"
"Malam pengantin, kau telah memperkosa aku. Baru saja, kau telah menendang kakiku ini..!" seru Erick dengan suara yang keras, sehingga orang yang berada di sekitar mereka menatap kearah Jovanka. Dengan tatapan mata yang aneh memandang Jovanka.
"Jo..! kau memperkosanya..?" Arisa memandang Jovanka.
"Erick..! kau pria menyebalkan..!" teriak Jovanka sembari berlari meninggalkan Erick dan Arisa.
Erick senang, setelah membuat Jovanka malu.
"Kita harus kembali ke pulau Saint Angel hari ini juga, bersiap-siaplah " kata Erick pada Arisa.
"Apa kau ingin kembali ke Matera ?" tanya Erick.
"Apa boleh?" tanya Arisa.
"Boleh saja, tapi jika kau ingin tinggal di saint Angel. Aku menerima dengan tangan terbuka, kalau kau juga ingin bekerja di saint Angel. Aku akan mentitahkan Marcio untuk mencarikan posisi yang sesuai dengan kemampuan mu" kata Erick.
"Bekerja..? aku mau..!" seru Arisa senang, karena dia belum mendapatkan pekerjaan. Setelah hampir lima bulan menganggur.
"Baiklah, aku akan menyuruh Marcio mengurusnya. Ayo kita bersiap-siap, satu jam lagi kita berangkat" kata Erick.
"Tuan Godfrey, maafkan Jovanka. Dia suka sekali membuat anda kesal, dengan tingkah lakunya" ucap Arisa saat keduanya berada dalam lift.
Erick tertawa mendengar perkataan Arisa.
"Tidak apa-apa, aku suka dengan suka dengan tingkahnya" ucap Erick.
Arisa yang melihat Erick tertawa, menjadi terpana. Karena tidak pernah melihat Erick tertawa.
"Ciptaan Tuhan yang sempurna, sangat keren .Jovanka sungguh beruntung., jika aku seberuntung Jovanka." dalam batin Arisa, saat melihat senyum dibibir Erick.
"Gila.. Arisa ingat, dia suami temanmu. Sadarlah Arisa." dalam batinnya.
Arisa menepuk pipinya, agar tersadar dari pikiran jelek didalam otaknya. yang mengagumi orang yang ada didepannya.
***
Setelah mengantarkan Rachel ke Primwood, Mike secepatnya kembali ke kota Saint Lucia. Dia berhenti lama didepan perusahaan, di mana dia melihat Sandra.
__ADS_1
"Apa Sandra bekerja di sini? bukannya dia kerja di firma hukum." gumam Mike.
"Sial..! gara-gara Rachel, aku kehilangan gadis yang baik. Kenapa aku bisa main gila dengan Rachel, Mike.. Mike..kau sungguh malang. Telah kehilangan permata, gara-gara main gila dengan imitasi.." Mike menyesali perbuatannya, hingga Sandra memutuskan pertunangannya.
"Bagaimana pun, aku harus mendapatkan Sandra kembali. Jika Mama dan Papa tahu, Sandra telah memutuskan pertunangan kami. Mama dan Papa pasti akan habis-habisan memarahiku" ucap Mike.
Setelah menunggu selama dua jam, para karyawan sudah pulang semua. Dan sosok yang ditunggunya tidak kelihatan, Mike pergi.
"Besok aku akan kembali lagi" gumam Mike.
***
"Kembali lagi" gumam Jovanka, setelah tiba di pulau Saint Angel.
"Jo, aku akan bekerja di sini " kata Arisa.
"Kau bekerja di sini? koq bisa?" tanya Jovanka.
"Bisalah, Erick ternyata pria yang baik Jo. Apa yang orang katakan mengenai kekejamannya itu tidak benar Jo, contohnya. Dia mau mencarikan aku kerja" kata Arisa.
"Kenapa kau jadi baik padanya? jangan-jangan kau sudah menjadi sekutunya..!" seru Jovanka, matanya memicing menatap Arisa.
"Hei..aku baik, karena dia juga baik pada kita Jo" kata Arisa.
"Baik apanya.? kalau baik, Dia tidak mungkin memaksakan kehendaknya padaku. Kalau tidak karena kak Tian, aku tidak akan mau menikah dengannya.." ucap Jovanka.
"Jo, jika kau meninggalkannya. Pasti banyak gadis yang mau menjadi simpanannya.."
"Termasuk kau.." ujar Jovanka.
"Jika kau tinggalkan, kenapa tidak.." gurau Arisa.
"Tapi, aku tidak mau yang second. Aku mau yang mencari yang masih orisinil" sambung Arisa.
"Cari pria yang orisinil? nikahi baby.." ucap Jovanka.
Arisa tertawa, begitu juga Jovanka.
***
Jovanka merebahkan tubuhnya, setelah berbincang-bincang dengan mommy mertuanya. Maria.
Jovanka mendengar suara pintu kamar dibuka, Jovanka memiringkan badannya. Memunggungi pintu dan memejamkan matanya.
Erick masuk kedalam kamar, melihat kearah Jovanka sekilas. Kemudian masuk kedalam kamar mandi.
"Pura-pura tidur saja, pasti dia minta jatah lagi. Ini saja masih sakit, bisa-bisa besok aku akan terus berada ditempat tidur" batin Jovanka.
Erick keluar dari dalam kamar mandi, langsung merebahkan tubuhnya.
"Aku tahu, kau hanya pura-pura tidur" ucap Erick.
Jovanka tidak bergeming, dia meneruskan aksi pura-pura tidur.
Erick mengangkat tubuhnya sedikit, dan mendekatkan bibirnya ke pipi Jovanka.
Cup...
Erick mendaratkan kecupan di pipi Jovanka.
"Tuan mesum beraksi." batin Jovanka.
__ADS_1
π Nextπ