
**Happy reading guys 🥰
🌟🌟🌟**
Arisa mondar mandir didalam kamar, dia berpikir. Bagaimana cara untuk keluar dari dalam kamar. Arisa mengigit kuku jemarinya, seraya berpikir mencari jalan untuk melarikan diri.
"Jendela" Arisa melihat kearah jendela yang terbuka, bergegas menuju kearah jendela.
"Sial! kenapa tinggi sekali?" Arisa melihat jarak dari jendela menuju bawah, sekitar tiga meter. Dan dibawah terlihat jurang, dengan bebatuan yang besar.
"Turun dari sini, bebatuan itu akan menyambut tubuhku. Tidak! sama saja aku akan mengantarkan nyawa, aku masih sayang nyawaku ini" ucap Arisa.
"Apa aku pasrah saja? ehh.. apakah mereka salah orang? sebenarnya, mereka ingin membawa Jovanka. Tapi mereka salah orang, Hem..kalau begitu, aku tidak akan dibunuh. Jovanka akan selamat, semoga Jovanka tidak mencari aku. Sebentar lagi, mereka akan tahu. Bahwa mereka salah bawa orang, hahaha.." Arisa menertawai orang-orang suruh Erick Godfrey yang salah menculik orang.
Di tempat berbeda, Erick Godfrey sedang menunggu kedatangan Marcio Black.
Tok...tok..
Pintu terbuka, Marcio Black masuk kedalam ruang kerja Tuanya.
"Bagaimana?" tanya Erick kepada Marcio Black.
"Miss Arisa sudah berada di mansion Tuan" beritahu Marcio Black.
"Jovanka?" tanya Erick.
"Miss Jovanka bersama dengan Eddie" jawab Marcio Black.
"Ingat, jangan ada yang menyakiti miss Arisa. Ingatkan kepada pelayan di mansion" titah Erick kepada Marcio.
"Baik Tuan" Marcio Black keluar dari ruang kerja Erick.
Sepeninggal Marcio, senyum terukir dibibir Erick.
"Misa Jovanka, mari kita bersandiwara" ujar Erick.
☘️☘️☘️
Jovanka masih terus berjalan, walaupun dia tidak tahu. Apakah jalan yang ditempuhnya sudah benar atau tidak.
Eddie Fred, orang yang dititahkan oleh Erick Godfrey untuk menjaga Jovanka terus mengikutinya.
"Miss Jo, istirahat kita sebentar" panggil Eddie Fred.
Eddie Fred merasa sangat letih, karena hampir satu jam mereka berjalan mengikuti jalan setapak menuju ke atas.
Jovanka menghentikan langkahnya, dan langsung meletakkan bokongnya diatas batu.
"Tuan, diatas sana ada apa ?" tanya Jovanka.
"Tidak ada yang spesial miss, hanya ada rumah. Oh..iya, diatas ada rumah tempat para biarawati miss" ucap Eddie Fred.
"Biarawati? apakah diatas ada tempat ibadah?" tanya Jovanka lagi.
"Tidak tahu miss, saya juga tidak pernah masuk kedalam Miss. Tempatnya sangat tertutup, hanya orang-orang yang ingin ketenangan yang berada disana" kata Eddie Fred.
__ADS_1
"Apa mungkin Arisa berada di sana? tapi tidak mungkin para biarawati melakukan penculikan atas perintah orang tua jelek itu" ujar Jovanka dengan kesal, dan mengejek penguasa pulau Saint Angel sebagai orang tua yang jelek.
Saat mereka sedang beristirahat, terdengar suara langkah kaki mendekati tempat mereka berdua duduk.
Jovanka dengan sigap berdiri, tangannya dengan cepat meraih sebatang kayu yang ada didekatnya. kemudian, Jovanka bersembunyi dibalik batu besar yang ada didekatnya.
"Tuan" Jovanka memanggil Eddie Fred, agar bersembunyi.
Eddie Fred mengikuti Jovanka, bersembunyi.
Ketika langkah kaki semakin dekat, dengan cepat Jovanka keluar dari persembunyiannya. Dan melayangkan kayu tersebut kearah orang tersebut.
"Wooii!" orang tersebut mengelak, dan dengan gerakan yang cepat. Tangannya menangkap kayu yang dipegang Jovanka untuk memukulnya, kemudian mengambil kayu dari tangan Jovanka. Lalu membuangnya.
Setelah membuang kayu, tangannya meraih pinggang Jovanka. Dan memeluknya dengan erat, sehingga tidak ada jarak diantara keduanya.
"Kau ingin membunuhku ?" tanya Dfrey dengan menatap wajah Jovanka.
"Kalau bisa!" seru Jovanka dengan ketus.
"Ada apa? kenapa wajahmu seperti ingin membunuh orang?" tanya Dfrey.
"Lepaskan!" Jovanka mendorong tubuh Dfrey yang menempel ditubuhnya.
"Jawab dulu, baru aku lepaskan" bisik Dfrey ditelinga Jovanka, napas Dfrey terasa ditelinga Jovanka. Membuat Jovanka gugup.
"Lepaskan Dfrey!" ujar Jovanka seraya melayangkan pukulan kedada Dfrey.
"Jawab dulu, oh ya. Dimana Miss Arisa, biasanya kalian selalu bersama. Ini kenapa hanya dengan Tuan Fred saja, jangan katakan. Kalian berdua punya hubungan spesial?" perkataan Dfrey membuat Jovanka kesal, tanpa mengatakan apapun juga. Kaki Jovanka menendang tulang kering kaki Dfrey, membuat Dfrey kesakitan.
"Aduh..!" Dfrey berteriak kesakitan, memegang kakinya yang menjadi korban tendangan kaki Jovanka.
"Kenapa kau kasar sekali? apa kau bukan wanita?" tanya Dfrey.
"Kenapa? apa seorang wanita harus lembut?" kata Jovanka.
"Kau menghambat perjalananku saja" gerutu Jovanka, kemudian melanjutkan perjalanan kembali.
"Tuan tidak apa-apa?" Eddie Fred mendekati Dfrey, setelah Jovanka pergi meninggalkan mereka.
"Pergilah, aku yang akan mengawasinya sendiri" kata Erick kepada Eddie Fred.
"Baik Tuan" kemudian Eddie Fred pergi meninggalkan Erick Godfrey/Dfrey.
"Sakit juga tendangannya" gumam Erick.
"Miss Jo!" panggil Erick seraya mengejar Jovanka dengan berjalan cepat, langkah kakinya yang lebar. Membuat Erick dapat menyamakan langkah dengan Jovanka.
Jovanka tidak menanggapi panggilan Erick/Dfrey, dia terus berjalan.
"Kau mau kemana?" tanya Erick/Dfrey setelah dekat dengan Jovanka.
"Naik keatas gunung" jawab Jovanka.
"Untuk apa?" tanya Dfrey/Erick.
__ADS_1
"Mau mengakhiri hidup, kau mau ikut?" ucap Jovanka.
"Miss Jo!" Erick menarik tangan Jovanka dengan tiba-tiba, hingga tubuh Jovanka terjatuh ke dada kekar Dfrey/ Erick.
"Kau..!" Jovanka kaget, tubuhnya sudah menempel ke dada Dfrey. Tidak menyia-nyiakan kesempatan, tangan Dfrey melingkar ke pinggang Jovanka.
Jovanka mendongak menatap wajah Erick, yang memeluknya erat dari belakang, mata keduanya saling menatap. Seperkian detik mereka saling menatap dengan intens, sampai Jovanka tersadar. Dengan cepat Jovanka menyikut perut Dfrey, pelukan Dfrey langsung terlepas.
"Kenapa kau tidak ada manis-manisnya Miss Jo" ujar Dfrey sembari memegang perutnya, yang telah menjadi korban siku tangan Jovanka.
Wajah Dfrey meringis sambil menatap wajah Jovanka, Jovanka. Dengan berkacak pinggang melotot melihat Dfrey.
"Kau kira aku permen!" ketus Jovanka.
"Kau itu permen miss, bagiku. Ingin aku mengemutmu dalam mulutku ini" goda Dfrey sambil memainkan matanya naik-turun.
"Menjijikkan! hei.. kenapa kau mengikuti aku? apa kau tidak takut, aku ini sudah membuat masalah dengan Tuan Penguasa pulau ini."
"Aku tidak takut, dia hanya penguasa pulau ini. Dia bukan Tuhan, untuk apa kita takut" ujar Dfrey/Erick.
Jovanka beranjak mendekati Dfrey, tetapi Dfrey mundur. Dia waspada, takut. Jovanka mendaratkan kaki atau tangannya kearahnya.
"Kenapa kau mundur?" tanya Jovanka heran, melihat Dfrey menjauhinya.
"Aku harus waspada, aku masih mau hidup miss Jo." ucap Dfrey.
"Aku tidak akan memukulmu, jika kau tidak berbuat yang aneh-aneh" kata Jovanka.
"Baiklah" ucap Dfrey.
"Apa kau tidak takut kepada penguasa pulau ini?" tanya Jovanka.
"Betul" sahut Dfrey.
"Apa kau mau mengantarkan aku ke tempat penguasa pulau ini?" tanya Jovanka.
"Aku?" Dfrey menunjuk kearah dirinya.
"Iya, aku mau mencari temanku Arisa" kata Jovanka.
"Aku akan membayar atas jasamu, membawa aku ketempat Erick si bedebah itu" geram Jovanka.
"Bedebah" batin Dfrey/Erick.
"Menarik kau Miss Jo, membuat aku semakin ingin memilikimu" sambung Erick, dalam batinnya.
"Baiklah, aku akan membantu. Tapi aku tidak bisa ikut menemani bertemu dengan penguasa pulau ini Miss, aku kan pernah bekerja dengannya. Dia pasti mengenali aku sebagai pelayan di mansion" kata Dfrey/Erick.
"Tidak apa-apa, cukup antarkan aku ke Mansion saja" kata Jovanka.
"Ayo kita berangkat miss, setengah jam lagi. Kita sampai di mansion" ucap Dfrey/Erick.
Dfrey/Erick memimpin perjalanan, didalam perjalanan. Jovanka berusaha untuk mencari informasi mengenai Penguasa pulau Saint Angel dari mulut Dfrey, tapi tidak banyak informasi yang bisa dikumpulkan dari Dfrey.
**Next....
__ADS_1
Apa rencana Erick terhadap Jovanka, kenapa dia menyamar menjadi Dfrey. Tunggu di episode akan datang..
Bantu Like like like dan vote terima kasih atas dukungannya 🙏🙏**