The Tyrant'S Desire (Hasrat Cinta Sang Penguasa)

The Tyrant'S Desire (Hasrat Cinta Sang Penguasa)
Hilang


__ADS_3

Jangan lupa untuk selalu menekan tombol like like like like 🙏, biar author semangat untuk menulis.


Terima kasih..


🌟🌟🌟**


Tuan Fred, Jovanka dan Arisa duduk dibalik batu besar. Dibelakang batu besar. Terdengar suara orang yang berbicara dengan keras, memberikan perintah kepada para pekerja pertambangan.


"Ayo cepat, jangan malas!" teriak orang tersebut dengan suara yang menggelegar.


"Istirahat sebentar Tuan Exan, tidak kau lihat. Kami sudah bekerja sejak subuh" terdengar suara satu orang pekerja pertambangan yang protes.


"Sebentar lagi, apa kalian ingin kena marah Tuan besar..! lagi pula, ini baru jam berapa? makanya. Kalau kalian diberi waktu libur, jangan terus berada di pub malam. Istirahat!" teriak pria yang dipanggil dengan Tuan Exan.


"Baiklah Tuan Exan" pria yang melakukan protes, akhirnya melanjutkan pekerjaannya kembali. Dengan mulut yang masih ngedumel, tidak senang dengan perkataan Tuan Exan.


"Kalau tidak penghasilan yang besar, aku tidak mau bekerja disini" gerutu orang yang meminta istirahat kepada orang yang dipanggilnya dengan Tuan Exan.


"Kerja! jangan bicara saja, nanti malam. Tuan besar, akan mentraktir kita dengan menu sepesial!" seru mandor pertambangan dengan suara yang nyaring.


"Hore..!" terdengar suara orang yang gembira, mendengar ucapan mandor pertambangan.


"Daging hidup ya Tuan Exan, cairan kami sudah mengental ini. Butuh tempat untuk menampung" ucap seorang pekerja tambang dengan suara yang keras.


"Sorongkan saja kepada bokong herder Tuan Exan, jika kau tidak tahan lagi" ujar yang lain.


Tawa terdengar menyambut perkataan orang yang nyeleneh tadi.


"Diam! banyak bergerak tubuh kalian, jangan mulut yang bergerak saja!" sontak diam semua, yang tadinya ingin bicara. Diam, dan melanjutkan pekerjaannya kembali.


Tidak terdengar suara lagi, hanya terdengar suara kereta dan suara mesin yang keras.


"Apa yang mereka lakukan Tuan?" tanya Arisa.


"Mereka mencari emas, dan batu permata. Pulau ini surganya batu permata" jawab Tuan Fred.


"Emas? kita bisa ikut mencari emas Jo" pikiran nyeleneh Arisa muncul.


"Saya sering mencari miss, sisa pembuangan batu. Sering ada emas, lihatlah batu yang menumpuk itu, disitu kita bisa mengais-ngais rezeki" ucap Tuan Fred, senyum kecil terlihat dibibirnya.


"Makanya, Tuan tahu jalan tikus menuju pertambangan?" tanya Jovanka.


"Iya miss, tapi harus hati miss. Saat mereka membuang sisa batu, ada..." belum selesai Tuan Fred berkata.


Tiba-tiba, debu datang menyergap Tuan Fred. Dan Jovanka, juga Arisa.


Tuan Fred, dan Arisa dengan cepat menutup wajahnya. Tetapi tidak dengan Jovanka, dia kalah cepat dengan debu yang datang menyergap mereka.


"Hachimm...!" Jovanka bersin dengan keras, karena debu masuk kedalam hidungnya.


"Siapa!" terdengar suara menggelegar dari balik batu.


"Ada penyusup!" teriak mandor pertambangan.


Anjing yang tadinya tidur bermalas-malasan, bangkit. Matanya dan telinganya waspada.


"Max, kejar!" seru mandor pertambangan.


Anjing yang bernama Max langsung beraksi, lari secepat mungkin. Diikuti oleh mandor pertambangan dan anak buahnya.


"Ups...!" Jovanka menutup mulutnya, tetapi terlambat. Bersinnya sudah terdengar oleh mandor pertambangan.


"Lari!" seru Tuan Fred kepada Jovanka dan Arisa.

__ADS_1


Ketiganya berlari, disela-sela batu yang besar. Untuk mencari tempat persembunyian, agar tidak tertangkap.


Tuan Fred membawa Jovanka dan Arisa bersembunyi didalam gua yang lumayan besar.


Sebelum masuk kedalam goa, Tuan Fred menyebarkan semprotan kearea sekitar goa. Untuk menggelabui penciuman anjing, yang bernama Max.


"Tuan, tunggu!" seru Jovanka.


"Ada apa?" Tuan Fred menghentikan langkahnya.


"Ada apa Jo, cepat. Kita harus bersembunyi, apa kau mau ditangkap?" kata Arisa.


"Tuan, kenapa kita lari,?" tanya Jovanka kepada Tuan Fred.


"Pertambangan tempat yang tidak boleh dikunjungi oleh sembarang orang, kalau kita tertangkap. Bisa-bisa besok kita tidak ada di muka bumi ini lagi" kata Tuan Fred.


"Kenapa Tuan, kita tidak mau mencuri. Kita hanya mau mencari seseorang disana" kata Jovanka.


"Daerah sekitar pertambangan itu, daerah larangan. Tidak boleh orang luar mengunjungi tempat ini, apapun alasannya" kata Tuan Fred.


"Miss, ayo cepat. Kita harus kembali, tempat ini tidak aman. Mereka pasti tahu, kita bersembunyi disini" kata Tuan Fred, dan melanjutkan langkah kakinya kembali.


"Tapi.." Jovanka ingin melanjutkan ucapannya lagi, tetapi Arisa menyelanya.


Terdengar suara suara anjing menggonggong, dan suara orang yang berteriak.


"Tidak ada tapi-tapian, sekarang kita menyelamatkan nyawa dulu. Ayo, orang-orang mengejar kita " Arisa menarik tangan Jovanka, agar kembali melanjutkan langkahnya.


"Kau juga, kenapa bersin" gerutu Arisa sembari berlari dikegelapan goa, hanya naluri yang membawa kaki mereka melangkah.


Jovanka dan Arisa mengikuti Tuan Fred, makin masuk kedalam. Goa semakin gelap, karena tidak ada cahaya yang masuk.


"Bagaimana kita mau berjalan, ini gelap sekali" ujar Arisa.


"Ada Tuan" sahut Jovanka.


"Hidupkan lampunya" ujar Tuan Fred.


Jovanka dan Arisa menghidupkan ponselnya, untuk menerangi mereka melangkah.


"Lihat, ada cahaya!" seru Jovanka gembira.


"Itu cahaya dari lubang kecil dari atas goa, kita tidak bisa keluar dari situ" kata Tuan Fred.


"Kita harus hati-hati, disini banyak ular" ucap Tuan Fred.


"Oh my God, kenapa nasib kita begitu sial" ucap Arisa.


Ditempat berbeda, diwaktu yang sama. Seorang pria sedang menatap cctv. Didalam cctv terlihat semua apa yang terjadi pada Jovanka dan Arisa, bersama dengan Tuan Fred.


Ceklek..


Pintu ruang kerja Erick terbuka dengan masuknya, Ardan dengan wajah bantalnya.


"Kau sudah disini?" tanya Ardan seraya menatap kearah layar televisi yang berjajar, Yang ada didinding ruang kerja Erick.


"Kau baru bangun, pasti belum mandi" ucap Erick.


"Aku belum mandi, masih tetap ganteng" kata Ardan.


"Apa yang kau lihat?" tanya Ardan.


Erick tidak menjawab pertanyaan Ardan, pandangan matanya fokus menatap layar televisi.

__ADS_1


"Tidak ada yang menarik, apa kau melihat pria kekar yang ada di pertambangan itu. Apa kau sudah belok Rick?" Ardan menatap wajah Erick.


Tangan Erick meraih sesuatu diatas mejanya, dan melemparkannya kepada Ardan.


"Ishh..!" Ardan menggelak dari serangan Erick, sehingga lemparan Erick menimpa dinding.


"Selamat" ujar Ardan dengan mengelus dadanya.


"Siapa itu?" Ardan melihat layar yang menampilkan seorang pria dan dua gadis berlari kearah goa.


"Dia..?" Ardan melihat kearah Erick, setelah mengetahui satu gadis yang pernah dilihatnya.


"Gadis itu" sahut Erick.


"Kenapa dia sampai kesini? jangan bilang, kau ingin melakukan apa yang kau rencanakan itu?" tanya Ardan.


Erick diam, dia masih fokus menatap kelayar televisi.


"Gadis yang menarik" ucap Ardan dengan penuh rasa kagum, terdengar dari nada suaranya.


"Hei..! dia milikku!" tegaskan Erick.


"Aku bukan memuji gadismu, Bro! tapi yang satunya. Tubuhnya, sangat menggetarkan hatiku ini. Lihatlah, lekukan badannya. Sepertinya ingin minta disentuh, sungguh menggairahkan" ucap Ardan dengan penuh napsu.


"Jangan sekali-kali kau, berfantasi menghayalkan badan calon ibu anakku. Aku colok matamu!" seru Erick seraya bangkit dari duduknya, beranjak keluar dari dalam ruang kerjanya.


"Kalau kau sudah bosan! boleh kan !?" seru Ardan.


Erick berbalik, dan menatap wajah Ardan.


"Kau bosan hidup? kandang buaya sudah lama tidak bau darah manusia" untuk Erick, kemudian melanjutkan langkahnya.


"Gila orang itu, aku sepupunya juga mau ditumbalkannya. kepada binatang peliharaannya" ngedumel Ardan.


Kita kembali kepada Jovanka dan Arisa, yang terus menyusuri goa yang gelap. Hanya sinar ponsel yang menerangi dalam goa.


"Masih jauh Tuan?" tanya Jovanka.


"Tidak, didepan itu ada jalan keluar. Tapi, saya curiga disana ada orang yang sudah menunggu kita. Kita ambil jalan pintas saja, kita ambil jalan dari sungai" kata Tuan Fred.


"Tuan, kenapa anda tahu jalan dalam goa ini?" tanya Arisa.


"Saya suka mengais-ngais rezeki dari tumpukan batu yang terbuang, disana sering ada bongkahan emas " kata Tuan Fred.


"Sungguh!" seru Arisa.


"Aww...!" teriak Jovanka sebelum menghilang.


Tuan Fred dan Arisa melihat kearah belakang, dan tidak terlihat Jovanka.


"Jo!" Panggil Arisa.


Tidak ada sahutan dari Jovanka.


"Ayo miss, cepat!" seru Tuan Fred.


"Jovanka!?" seru Arisa.


"Kita menyelamatkan diri dulu, nanti saya akan mencari keberadaan temanmu" ucap Tuan Fred.


**Next....


Jangan lupa untuk menekan tombol like like like like 🙏

__ADS_1


Terima kasih atas dukungan**...


__ADS_2