The Tyrant'S Desire (Hasrat Cinta Sang Penguasa)

The Tyrant'S Desire (Hasrat Cinta Sang Penguasa)
Terbalik


__ADS_3

Selamat membaca kakak-kakak reader dan tekan like like ya kakak-kakak reader. Terima kasih atas dukungannya πŸ₯°πŸ™.


🌹🌹🌹


Jovanka tertidur dengan dengan pikiran apa yang akan dikatakan kepada Erick besoknya, Rachel pulang kerumah mamanya dalam keadaan lepek. Dan hanya selimut yang menutupi bagian tubuh polosnya.


Keduanya, Mike dan Rachel terpaksa pulang kerumah orangtuanya. Karena Sandra telah mengunci pintu rumahnya, hingga Mike dan Rachel tidak bisa masuk kedalam rumah untuk mengganti baju basahnya.


Ting..tong..


"Siapa malam-malam begini? apa Andre" gumam Vanya, Mamanya Rachel.


Vanya turun dari ranjang, dan membenahi diri didepan cermin.


Ting..tong...


"Sabar..! tidak sabar sekali" kesal Vanya seraya berjalan menuju pintu apartemennya.


Ceklek...


"Rachel...!" Vanya kaget, melihat Rachel berdiri didepannya dalam keadaan berantakan. Kaki telanjang.


"Jangan tanya apa pun juga, aku kesal!" seru Rachel, saat melihat mamanya menatap dirinya dengan penuh pertanyaan terlihat dari mata mamanya.


Rachel langsung masuk kedalam kamar, kemudian masuk kedalam kamar mandi.


Setengah jam didalam kamar mandi, Rachel keluar. Sudah dalam keadaan harum sampo.


Rachel keluar dari dalam kamar, dan duduk di sofa.


"Minumlah" Mamanya menyerahkan minuman kepada Rachel, sekali teguk minuman yang pahit mengalir di tenggorokannya.


"Mau cerita?" tanya Vanya.


Rachel melirik kearah mamanya, matanya memicing. Melihat dandanan Mamanya, seperti orang yang bukan bangun tidur.


"Mama menunggu siapa?" tanya Rachel curiga.


"Kenapa?"


"Mama pakai lipstik, tidak biasanya mama berdandan saat tidur" kata Rachel.


"Mama baru pulang, belum sempat membersihkan wajah" alasan Vanya.


"Apa betul? apa ada yang mama sembunyikan dari Rachel?" Rachel setengah percaya dengan alasan yang dikatakan oleh Mamanya.


"Hei.. jangan ngalihkan pertanyaan, mama yang bertanya. Kenapa badan seperti baru masuk kedalam lumpur?" tanya Vanya kepada Rachel.


"Kesal..! Rachel kesal ma, Sandra yang melakukannya. Rachel akan membalas dia, dia kira dia siapa..!" ucap Rachel dengan marah.


"Sandra? apa yang kau lakukan padanya? pasti kau sudah menganggunya, Sandra anak yang manis. Dia tidak mungkin berbuat jahat pada orang, jika orang itu tidak menganggunya terlebih dahulu" kata Mama Rachel, Vanya.


"Mama membelanya? karena dia keponakan Mama, mama membelanya." Rachel kesal, karena Vanya membela Sandra.


"Rachel, kau harus ingat. Biaya hidup kita dulu, ditanggung oleh uncle Vino" ingatkan Vanya akan jasa keluarga Sandra padanya dan juga Rachel.


"Oh.. karena itu, aku harus dibawah Sandra?"


"Apa yang kau lakukan pada Sandra?" tanya Vanya curiga.


"Aku hanya bermain-main dengan tunangannya, dan Sandra melihat kami sedang bercinta" kata Rachel dengan biasa saja, tidak ada rasa malu. Ketika dia menceritakan kepada Mamanya, apa yang dilakukannya dengan tunangan Sandra.


"Kau..!"


Plak..


Jemari Mamanya, mendarat di pipi mulus Rachel.


"Mama!" Rachel memegang pipinya, dan kaget menatap wajah mamanya.

__ADS_1


Karena Mamanya tidak pernah melayangkan tangan ketubuhnya.


"Kau sudah kelewat batas Rachel, mama tidak menyangka. Kau berani mengusik ketenangan keluarga uncle Vino!" seru Vanya dengan marah.


"I hate you..I hate you..!" ucap Rachel dengan suara yang keras, sembari menatap wajah Mamanya dengan ekspresi yang marah.


Rachel berlari masuk kedalam kamar, dan membanting pintu depan keras.


"Oh Tuhan, apa yang telah aku lakukan. Tangan ini telah..tangan ini.." Vanya menatap jemarinya yang telah mendarat di pipi Rachel.


"Dia pasti semakin tidak terkendali, aku telah salah mendidiknya" gumam Vanya.


πŸƒπŸƒπŸƒ


Ditempat berbeda, diwaktu yang sama. Maria Angelo masih berlutut dan berdoa, sejak pertemuannya pertama kali tadi dengan Axelo di pernikahan Erick. Maria terus mengurung diri dalam kamar.


Rasa benci dan marah didalam dadanya, membuat Maria Angelo yang tadinya sudah bisa memaafkan. Kini kemarahan dalam dirinya kembali , Sepulang dari pernikahan Erick. Maria menangis dan mencaci maki Axelo, sehingga suster Helena memberi Maria Angelo suntikan obat penenang.


Dulu, pertama kali Maria tersadar. Setelah koma hampir sebulan, akibat percobaan bunuh diri terjun ke sungai. Kalimat pertama yang keluar dari mulutnya, adalah kemarahan terhadap Axelo Godfrey. Kini, kemarahan Maria yang sudah padam. Kini membara kembali.


Ketika emosi Maria Angelo lebih tenang, Suster Helena menyuruh Maria untuk berdoa didalam kamar seharian penuh. Untuk merenungkan kembali apa yang terjadi padanya.


Ceklek..


Pintu kamar Maria terbuka, suster Abigail masuk kedalam kamar membawa nampan dan meletakkannya Keatas nakas.


"Maria, makan dulu" titah suster Abigail.


Maria menghentikan Doa Nya, dengan bertumpu pada sisi tempat tidur. Maria bangkit dari berlutut.


Melihat Maria sulit untuk berdiri, suster Abigail membantunya untuk berdiri. Dan menuntun Maria untuk duduk di kursi didekat nakas.


"Terima kasih suster" ucap Maria.


"Makanlah, jangan menyiksa diri lagi" kata suster Abigail.


"Terima kasih" ucap Maria sekali lagi, dengan wajah menunduk menatap nampan berisi makanan yang dibawa oleh suster Abigail.


Maria mengangkat kepalanya, dan memandang suster Abigail.


"Maria, lupakan. sudah sepuluh tahun, berdamailah dengan hatimu " kata suster Abigail.


"Suster Abigail, aku mau menjadi biarawati" ucap Maria tiba-tiba.


Suster Abigail tidak terkejut dengan perkataan Maria, kalimat itu sudah sering keluar dari mulutnya.


"Maria, kau ingin menjadi biarawati karena ada masalah dihatimu. Baju ini bukan untuk pelarian" kata suster Abigail.


"Kembalilah, temui keluargamu. Kau ini masih menjadi istri dan seorang ibu, Maria" kata suster Abigail seraya memberikan tepukan dibahu Maria, kemudian keluar dari dalam kamar Maria.


" kembali! apa aku bisa kembali, mengingat namanya saja aku sudah sangat emosi" gumam Maria.


🌺🌺🌺


Pagi tiba, satu mobil terus terparkir didepan rumah. Didalam mobil, dua orang penumpang tidur di jok belakang. Sedangkan dibangku pengemudi, sopir menatap kearah satu titik. Rumah yang tidak jauh dari tempat mobil terparkir.


"Tuan... Tuan..!" sopir yang bernama Ben membangunkan dua pria yang tidur.


"Ada apa?" Danny Liu membuka matanya.


"Ada mobil keluar dari rumah itu" kata Ben.


"Ada apa Danny?" Axelo membuka matanya juga.


"Ada orang yang keluar dari dalam rumah Tuan" kata Danny.


Derrt...


"Pesan dari orang dalam Tuan, dia belum mendapatkan video itu Tuan. Tapi orang itu berkata, ada satu tempat yang belum di carinya. Malam nanti dia akan mencarinya" Danny Liu membacakan pesan dari anak buahnya, yang menjadi pelayan di rumah Andre.

__ADS_1


"Kenapa sulit sekali mencarinya" kesal Axelo.


"Sabar Tuan, kita pasti berhasil menyingkirkan mereka" kata Danny Liu.


πŸ’žπŸ’žπŸ’ž


Erick terbangun, jemarinya memegang keningnya.


"Kenapa pusing sekali" gumamnya.


Dia tidak menyadari, ada sepasang mata yang menatapnya. Dan sebentar lagi akan mulai berakting.


Hik..hik..hi..


"Siapa yang menangis..!" Erick kaget.


Erick langsung membuka matanya dan bangkit. Erick duduk di ranjang, dan mencari asal suara tangisan tersebut.


Hiks...hik.hik..


Erick mendengar asal tangisan dari sofa, dan melihat orang yang meringkuk di sofa.


"Hei..kau siapa? kenapa menangis dikamar ku?" tanya Erick dengan marah.


"Hua..a.a..kau sudah merenggut kesucianku, dan kau melupakan aku..dasar pria berengsek!" umpat Jovanka.


"Hei.. jangan asal tuduh ya..! siapa kau ?" Erick menyibakkan selimut yang menutupi tubuhnya.


"Mana bajuku..?" Erick kaget, begitu selimut terbuka. Tubuhnya polosnya terlihat.


Erick mengambil selimut, dan melilitkannya ketubuhnya. Kemudian turun dari ranjang.


"Hei.. siapa kau? siapa yang mengizinkan kau masuk kedalam kamarku ini?" tanya Erick dengan ekspresi wajah yang marah menatap Jovanka yang masih meringkuk.


Jovanka mengangkat kepalanya, dan menatap kearah Erick.


"Kau jahat! setelah menikahiku, memaksaku melayani napsumu. Kini kau melupakan aku sebagai istrimu, kau tidak mau bertanggung jawab !" seru Jovanka, air mata mengalir dikedua pipinya.


"Jovanka..! aduh.. kenapa aku lupa sudah menikahinya" Erick menepuk jidatnya.


"Kau bilang tadi, aku memaksamu?" tanya Erick bingung.


"Ya, kau memperkosaku saat kau mabuk!" seru Jovanka.


"Memperkosa? aku?" tanya Erick yang masih dalam keadaan bingung.


"Iya, lihatlah. Kau membuat tanda ini ditubuhku" Jovanka menunjukkan tanda kissmark yang ada di lehernya.


"Kenapa aku tidak ingat?" gumam Erick.


"Kau mabuk, mana kau ingat" kata Jovanka.


"Aku memperkosamu?" tanya Erick yang belum percaya dengan apa yang dikatakan oleh Jovanka.


"Iya, kau yang memperkosaku. Tidak mungkin aku yang memperkosamu..!" seru Jovanka kesal.


"Kenapa aku tidak pakai baju, sedangkan kau pakai baju lengkap. Dan itu baju aku kan?" tanya Erick, melihat baju yang dikenakan Jovanka.


"Aku tidak ada baju, dengan terpaksa memakai bajumu" sahut Jovanka.


"Sepertinya, kau yang telah memperkosaku. Karena disini, aku yang tidak pakai baju" kata Erick.


"Apa..! kau menuduhku yang memperkosamu? dasar gila..!" seru Jovanka, karena Erick menuduhnya telah memperkosanya.


"Kenapa jadi terbalik, kenapa jadi aku yang menjadi tersangka" dalam benak Jovanka.


🌺🌺🌺


Next....

__ADS_1


Terima kasih atas dukungannya πŸ™ and tetap tekan tombol like like like ya kakak-kakak reader πŸ₯°.


__ADS_2