
Cerita hanyalah rekaan, tidak ada hubungannya dengan nama seseorang dan tempat.
Happy reading guys π₯°
πππ
"Aku tahu, kau hanyalah pura-pura tidur Mrs Godfrey. Kau harus tanggung jawab, kakiku masih sakit ini" ucap Erick ditelinga Jovanka, membuat seluruh tubuh Jovanka berdesir tak karuan.
Kenapa aku terus yang disalahkan? tubuhnya besar, tapi kena tendang saja kakiku saja langsung cedera kakinya" gerutu Jovanka dalam batinnya.
Melihat Jovanka masih dengan pura-pura tidur, Erick melekatkan wajahnya dileher Jovanka. Erick mengendus-endus dan menjilat leher dan telinga Jovanka. Bibir Erick meluncur dari telinga pindah ke sudut mata Jovanka.
Kecupan-kecupan yang basah dari lidah Erick yang menyapu, membuat Jovanka merinding.
Bulu kuduk Jovanka meremang, saat merasakan lidah Erick yang basah menyapu telinga dan pipinya.
"Hihh.. kenapa Erick seperti kucing, menjilati anaknya. Ahhhrghhh.. Erick cukup..kau membuatku basah.." batin Jovanka yang mendesah dan melenguh.
Erick menampilkan senyum lebar dibibirnya, dia tahu. Jovanka sudah sangat terangsang, tapi Erick pura-pura tidak tahu.
"Pura-pura terus, sampai kapan pertahananmu bertahan Mrs Godfrey" batin Erick yang senang, merasakan Jovanka mulai terpengaruh dengan kecupan dan belalainya.
Erick menurunkan belalainya, tangannya masuk kebalik selimut. Kini tangannya beraksi di bokong Jovanka, jemari kokoh Erick meremas bulatan sedang Jovanka. Tangannya terus menggerayangi bagian bawah tubuh Jovanka, sedikit demi sedikit. Jemari Erick sudah berada di area depan segitiga Jovanka.
Jovanka mengigit bibirnya, agar lenguhannya tidak keluar. Dalam batin Jovanka, lenguhan dan desahannya terus menerus muncul didalam otaknya.
(Aduh...nulis ini buat author pusing π€£π€ memikirkan kalimatnya sehalus mungkin, biar tidak kena semprit tanda ****** )
"Baiklah, aku akan membiarkanmu mengobrak-abrik tubuhku Tuan muda. Setelahnya, kau harus memberikan aku ponsel. Kalau kau tidak memberikan aku ponsel, siap-siap. ular tanggamu aku kasih turun terus.." batin Jovanka yang mulai memikirkan kelicikannya.
"Aaahhh..!" lenguhan panjang dan erotis, keluar dari dalam mulut Jovanka.
"Akhirnya, aku menang" batin Erick bahagia, melihat reaksi Jovanka.
Erick membalikkan badan Jovanka, kini wajah keduanya saling berhadapan. Mata sayu Jovanka saling pandang dengan mata penuh napsu Erick memandang Jovanka.
"Mrs Godfrey, aku sangat menginginkanmu." bisik Erick seraya menatap wajah Jovanka yang sudah hanyut akibat belaian tangan Erick.
__ADS_1
Erick langsung melekatkan bibirnya ke bibir Jovanka, tautan kedua bibir saling memberikan kehangatan yang memabukkan.
Perang lidah dan ludah terjadi dalam rongga mulut Jovanka, setelah Erick berhasil menerobos bibir Jovanka yang terkatup.
Lenguhan panjang dan suara mengerang dari dalam kedua mulut anak manusia yang sedang menikmati hubungan yang di ridhoi oleh Tuhan terjadi di dalam kamar. Jovanka melupakan kesalnya pada Erick, dia tidak menyadari. Saat tubuh Erick sudah berada diantara kedua pahanya yang terbuka lebar, dan senjata pamungkas milik Erick sudah siap meluncur masuk kedalam sarang musuh yang sudah halal untuk dikuasainya.
Dan invasi terjadi..
"Aaarrgghhh..!" teriak Jovanka, saat merasakan senjata pamungkas Erick memasuki area kekuasaannya. Walaupun ini bukan yang pertama, tetapi Jovanka masih merasakan sakit. Karena senjata pamungkas Erick yang besarnya diatas rata-rata.
Cepat, lambat dilakukan oleh Erick. Dia bermain-main di atas tubuh Jovanka yang menggeliat, karena Erick melakukan gerakan cepat dan kemudian lambat. Seperti gerakan slow motion, membuat Jovanka merasa kehilangan Erick dalam tubuhnya. Saat gerakan Erick melambat, nyaris tak bertenaga.
"Please.. faster..!" seru Jovanka dengan suara yang parau, saat merasakan. Erick mematung, tidak ada gerakan. Sedangkan senjata pamungkas Erick masih berada di dalam sarang yang halal untuk didiami.
"Mohonlah, biar aku lakukan lagi." bisik Erick, dengan menghentikan gerakannya. Erick berhenti bergerak, terlihat smirk dibibirnya.
Jovanka membuka matanya, dia melihat senyum kepuasan di wajah Erick. Jovanka tahu, Erick merasa senang. Karena Jovanka kembali takluk dalam permainannya.
"Bodo.." batin Jovanka yang berperang dengan keinginan napsu atau malu mengakui kekalahannya.
"Ulangi lagi " ucap Erick Erick dengan suara yang lembut.
"Apa?" Jovanka belum ngeh, apa yang diinginkan oleh Erick.
"Ulangi lagi permintaannya, bersemangat.." ucap Erick.
"Please...please... please..bodo...!" seru Jovanka kesal, karena Erick terus menundanya.
Bless...tubuh Erick menekan kuat, membuat Jovanka meringis. Karena merasakan ujung senjata pamungkas Erick menembus dinding rahimnya.
"Aww..!" mata Jovanka terpejam, merasakan sensasi yang berbeda setiap Erick menarik dan memasukkan senjata pamungkas.
Erick terus menekan, menahan dan menarik tubuhnya. Hingga keduanya saling melepaskan lenguhan, benih-benih Erick meluncur dan berenang masuk kedalam tempat yang sudah siap menampungnya. Untuk menjadi Erick Godfrey kecil, atau Jovanka kecil.
Setelah selesai bermain-main, Erick menarik senjata pamungkasnya keluar, tubuhnya tepar di samping Jovanka. Begitu juga dengan Jovanka. Tubuhnya seperti tidak ada tenaga untuk bangkit membersihkan dirinya, walaupun hanya satu kali. Tetapi, satu kali seperti beronde-ronde yang dialami Jovanka. Karena Erick sangat piawai dalam memuaskan Jovanka dan dirinya sendiri.
Setelah merasa staminanya kembali, Erick mengangkat tubuhnya sedikit melirik kearah Jovanka tertidur karena kelelahan. Tangannya terulur kearah perut Jovanka, dan memberikan usapan. Sembari berkata.
__ADS_1
"Semoga ada putri kecil disini, agar kau tidak bisa pergi selamanya" gumam Erick sembari menatap wajah Jovanka dengan intens.
Erick menarik selimut, untuk menutupi sekujur tubuh Jovanka. Baru Erick turun dari ranjang menuju kamar mandi.
***
Ditempat berbeda, di waktu yang sama. Andre Maurice baru saja siuman, setelah hampir enam jam terbaring. Akibat pukulan yang dilayangkan Erick Godfrey.
Andre membuka matanya, tangan memegang dadanya. Yang terasa sakit saat dia bernapas.
"Sakitnya.." gumam andre.
"Sudah tahu sudah tua, kau masih mau melawan anak muda." terdengar suara dari arah ujung ranjang tempat Andre terbaring.
Andre mengarahkan pandangan matanya, kearah asal suara.
"Uncle William.." ucap Andre dengan suara yang parau.
William bangkit, dan beranjak mendekati ranjang. Dengan tangan bersedekap didada, William berdiri tegak memandang Andre yang terbaring.
"Kau telah menghancurkan rencana ku..!" kata William pada Andre.
"Maaf uncle, aku bertemu dengan Maria. Ternyata dia belum meninggal, aku harus memilikinya.." kata Andre.
"Kau bisa memilikinya, jika semua laki-laki di keluarga Godfrey sudah tidak ada. Kau harus mempunyai rencana yang matang Andre..!" ujar William dengan suara yang emosional.
"Sekarang, kau jangan kembali ke kota Saint Lucia. Namamu menjadi target penangkapan, begitu juga dengan wanita suruhanmu" kata William.
"Tapi..." Andre keberatan dengan larangan William untuk kembali tinggal di Saint Lucia.
"Tidak ada tapi-tapian, keputusanku ini sudah final..!" seru William dengan tegas.
"Ingat, aku tidak perduli dengan hubungan persaudaraan kita. Jika kau melanggar titahku, aku tidak segan-segan menghabisi nyawamu !"
π Nextπ
Jangan lupa untuk menekan tombol like like ya kakak-kakak reader, terima kasih atas dukungannya π₯°π.
__ADS_1