
Happy reading guys 🥰🥰
🌟🌟🌟🌟
Erick masih duduk disisi ranjang, dia mengamati dan membelai pipi Jovanka.
"Bagaimana juga, kau harus aku miliki. Walaupun dengan cara pemaksaan!" gumam Erick, matanya menatap wajah Jovanka sangat dalam.
Erick melihat Jovanka bergerak, dengan cepat Erick bangkit dari ranjang. Karena dia takut, Jovanka melihat raut wajahnya saat ini. Karena Erick tidak memakai jenggot dan kumis palsunya, saat ini. Raut wajah Erick polos tanpa ditutupi penyamaran.
Tiba diluar kamar, Erick mentitahkan miss Lin yang berdiri menunggu Erick diluar kamar. Untuk mengunci pintu kamar, dan tidak ada yang boleh untuk masuk kedalam. Selain dirinya dan Miss Lin sendiri.
"Ingat, jangan ada yang masuk kedalam" pesan Erick, kemudian berlalu dari depan pintu kamar yang ditempati oleh Jovanka.
Erick tidak mau, kejadian kaburnya Jovanka terulang kembali.
***
Ditempat Arisa dikurung, gadis itu terus berada di atas ranjang. Makanan yang di antarkan oleh para pelayan tidak disentuh oleh Arisa.
"Miss, makanlah" titah pelayan kepada Arisa.
"Tidak! aku tidak akan menyentuh makanan itu, aku diet!" Arisa mendorong makanan yang diletakkan pelayan didekatnya, diatas ranjang.
Pelayan mengangkat nampan berisi makanan dari atas ranjang, ingin meletakkan makanan itu keatas nakas.
"Bawa keluar, aku tidak akan makan!" seru Arisa.
Arisa merebahkan tubuhnya, dan menarik selimut menutupi sekujur tubuhnya.
Pelayan meninggalkan makanan tersebut diatas nakas, baru keluar.
Arisa mendengar langkah kaki pelayan meninggalkan kamar, dan membuka selimut yang menutupi tubuhnya. Begitu selimut terbuka, Arisa kaget. Melihat sosok pria yang berdiri disisi ranjang.
"Kau..!" kaget Arisa, melihat keberadaan Ardan didalam kamar.
"Apa kabar Miss Maurer ?" tanya Ardan.
Arisa bangkit dan duduk di pinggir ranjang.
"Buruk..! aku bosan, aku ingin bertemu dengan temanku. Apa kau bisa menolong?" tanya Arisa.
"Menolong? apa yang bisa aku bantu miss Maurer?" tanya Ardan.
"Please! jangan panggil aku miss Maurer, panggil nama saja. Arisa" ucap Arisa kepada Ardan.
"Arisa, apa yang bisa aku bantu?" tanya Ardan.
"Duduklah, sakit leherku melihat keatas" ujar Arisa, karena dia mendongak menatap Ardan. Karena Ardan berdiri didepannya.
Ardan menarik kursi dan meletakkan bokongnya di kursi tersebut.
"Sekarang, katakan" kata Ardan.
Arisa melihat kearah pintu yang terbuka, dia takut ada yang akan mendengarkan. Apa yang ingin dikatakannya kepada Ardan.
"Tenang saja, tidak ada yang akan mendengarkan kita. Para penjaga sedang menikmati makan malam" kata Ardan.
"Makan malam?" Arisa melihat kearah keluar dari jendela kamar, dan terlihat. Matahari sudah mulai terbenam.
"Sudah mau satu hari aku disini, bagaimana dengan Jovanka? dimana dia sekarang?" terlihat kesedihan diraut wajah Arisa.
"Arisa, kenapa sedih?" tanya Ardan.
"Aku ingat Jovanka, temanku " jawab Arisa.
"Aku mau minta tolong, apa kau bisa membantuku untuk mencari keberadaan temanku itu. Kau tahu, aku tidak bisa keluar dari sini. Please..!" mohon Arisa kepada Ardan, kedua telapak tangannya menyatu didepan dadanya.(🙏)
__ADS_1
"Dimana harus aku cari? aku juga tidak mengetahui ciri-ciri dan raut wajah temanmu itu" kata Ardan.
"Ciri-cirinya, hemh.. Jovanka itu gadis yang sangat manis dan juga sangat cantik" kata Arisa.
"Kau juga sangat manis dan cantik" ucap Ardan menggoda Arisa.
Arisa tersipu malu, mendengar ucapan Ardan.
"Ahhh..Arisa, baru dipuji begitu, kau sudah melayang" batin Arisa.
"Ahh..kau, jangan memujiku. Nanti aku lupa diri, kembali lagi. Apa kau bisa membantuku?" tanya Arisa kembali.
"Apa kau ada gambar temanmu itu, namanya?" tanya Ardan.
"Ada di ponsel, tapi ponselku hilang. Saat mereka menculik ku, Jovanka itu sangat cantik. Tingginya, seperti aku ini. Rambutnya hitam bergelombang, dan dia sering memakai topi" Arisa menerangkan ciri-ciri Jovanka pada Ardan.
"Namanya?" tanya Ardan.
"Jovanka Lovata Reuel, please..bantu aku ya!" mohon Arisa dan menyatukan dua telapak tangan didepan dada.
"Baiklah, aku akan membantumu. Tapi aku tidak berjanji, bisa menemukan temanmu itu. Pulau ini sangat luas" kata Ardan.
"Kau bisa membantu aku, coba cek kerumah. Mungkin saja Jovanka sudah berhasil meninggalkan pulau ini" kata Arisa.
"Kalau dia pulang, berarti dia meninggalkan temannya. Apa dia tidak khawatir, temannya dalam bahaya?" ucap Ardan.
"Aku merasa, Jovanka tidak akan pulang. Dia pasti sedang mencari keberadaan aku" ucap Arisa.
"Aku akan membantumu, tapi ada syaratnya" kata Ardan.
"Syarat? apa? aku tidak mau kalau syaratnya, aku harus melayani kau di atas ranjang!" seru Arisa dengan wajah yang jutek menatap Ardan.
"Hei..! kau kira aku laki-laki yang akan mencari keuntungan dari kesusahan seorang gadis, aku bukan laki-laki seperti itu. Syaratnya, ini.." Ardan mengambil nampan yang ditinggalkan pelayan diatas nakas, dan meletakkannya diatas pangkuan Arisa.
"Ini?" ujar Arisa.
"Makan!" titah Ardan.
"Tapi aku tidak lapar" Arisa menolak untuk makan.
"Baiklah, jika kau tidak ingin makan. Aku juga tidak akan membantu untuk mencari keberadaan temanmu itu" ancam Ardan.
"Ahh..kau mengancam ku!" seru Arisa dengan kesal.
"Aku tidak mengancam, ini demi kebaikan mu juga. Kau ingin keluar dari tempat ini kan? bagaimana kau bisa lari, jika badanmu lemah. Untuk berdiri saja kau mungkin tidak bisa, kau kau tidak mengisi bahan bakar untuk melarikan diri" Ardan mengingat Arisa, tentang keinginan Arisa untuk pergi dari tempatnya berada saat ini.
Arisa merenungkan perkataan Ardan, dia mencerna apa yang dikatakan oleh Ardan. Apa yang dikatakan Ardan benar, jika tubuhnya tidak sehat. Bagaimana dia bisa meninggalkan Mansion.
"Baiklah, aku akan memakan ini semua. Tapi kau juga harus berjanji, untuk membantuku" ucap Arisa.
"Iya, aku janji. Akan mencari keberadaan temanmu itu, makanlah" titah Ardan pada Arisa, untuk memakan makanannya.
"Kelihatannya enak!" seru Arisa, dan mengambil sepotong sandwich. Dan menggigitnya.
"Kau mau?" Arisa menawarkan sepotong sandwich pada Ardan, karena Ardan melihatnya makan dengan lahap.
"Tidak, terima kasih. Kau habiskan, biar kau ada tenaga untuk keluar dari pulau ini" kata Ardan, memberi semangat pada Arisa.
"Semangat..!" seru Arisa dengan mulut yang masih terisi penuh sandwich.
Huuk...uhukk..Arisa tersedak sandwich, karena berbicara dengan mulut yang masih terisi.
Dengan sigap, Ardan mengambil minuman. Dan memberikan kepada Arisa.
"Terima kasih" ucap Arisa, setelah meminum air putih hampir tandas.
"Kalau makan jangan sambil berbicara, lihatlah.." jemari Ardan menggelap, sisa sandwich disudut bibir Arisa.
__ADS_1
Deg...
Jantung Arisa berdetak kencang, menerima perlakuan dari Ardan. Raut wajah Arisa memerah, Arisa menunduk. Dan melanjutkan makannya kembali.
"Habis" ujar Arisa, setelah menghabiskan dua potong sandwich.
"Cukup, apa masih ingin makan yang lain?" tanya Ardan.
"Cukup! apa kau ingin membuat aku bulat? sehingga untuk berjalan saja aku tidak mampu?" tanya Arisa pada Ardan.
"Gadis bulat? heemm... sangat menggairahkan, kau akan membuat aku tertarik kepadamu" kata Ardan.
"Aku tidak ingin membuatmu tertarik! kita baru bertemu selama 24 jam, sungguh tidak masuk akal. Jika aku sampai tertarik padamu" kata Arisa.
"Cinta pada pandangan pertama, mungkin saja itu terjadi pada kita" goda Ardan.
"Cukup! perkataan yang tidak masuk akal, aku mau mencari sahabatku. Tidak mau mendengar godaan yang tidak jelas" ucap Arisa, dan memanyunkan bibirnya.
"Baiklah, selamat beristirahat. Aku keluar dulu" pamit Ardan.
"Jangan lupa janjimu, untuk membantuku " kata Arisa.
"Malam ini juga, aku akan mencarinya" kata Ardan.
"Terima kasih" kata Arisa.
🌟🌟
Dikota, Rachel kelimpungan. Dia khawatir, melihat. Danny Liu kembali, orang kepercayaan Axelo Godfrey.
"Kemana orang itu?" Rachel terus menghubungi orang yang ditemuinya secara diam-diam.
"Pria berengsek, lagi apa pria itu? kenapa ponselnya tidak diangkat..!" umpat Rachel dengan perasaan kesal.
"Apa yang dilakukannya, kenapa dia tidak menjawab panggilan ku. Pasti dia lagi bersama dengan para wanita partner diatas ranjangnya" geram Rachel, karena orang yang dihubunginya tidak menerima panggilan teleponnya.
"Dasar...!" umpatan terus meluncur dari bibir merah Rachel.
Pria yang dihubungi oleh Rachel, sedang bergumul diranjang dengan wanita yang sangat mirip dengan Rachel. Dan lebih muda dari Rachel.
Vanya Lauda, nama wanita tersebut. Mama Rachel, tanpa diketahui oleh Rachel. Mamanya sendiri sebagai partner diatas ranjang, pria yang dihubunginya.
Dia hanya tahu, mamanya itu kenal dengan pria yang bernama Andre Maurice. Tetapi tidak mengetahui hubungan apa yang terjalin diantara keduanya.
"Darl..! ponselmu terus berbunyi" beritahu Vanya kepada pria yang berada diatas tubuhnya.
"Hemh.. biarkan saja, itu pasti Rachel" jawab pria tersebut.
Mendengar nama putrinya disebut, dengan tenaga yang keras. Vanya menendang tubuh pria tersebut dari atas tubuhnya.
"Aduh..! kenapa kau menendang aku? dasar wanita berengsek!" seru pria tersebut.
"Kau sangat jahat! kau sudah tidak mengakuinya sebagai putrimu! kau juga memperalatnya!" seru Vanya dengan kesal.
"Putri? apa benar dia putriku? hahaha..! tubuhmu ini sudah berapa orang laki-laki menikmatinya, tidak tahu benih siapa yang menghasilkan Rachel" ejek Pria tersebut.
"Andre..! kau sungguh keterlaluan!" Vanya turun dari ranjang, dan masuk kedalam kamar mandi.
"Ya, aku memang keterlaluan! apa ada yang salah?" ucap pria yang bernama Andre dengan marah.
"Aku akan menghancurkan keluarga Godfrey..!" ucapannya dengan tangan terkepal.
Matanya terlihat kejam, begitu menyebut nama Axelo Godfrey.
Gara-gara Axelo Godfrey, dia tidak bisa memiliki gadis yang di cintainya.
🌟🌟🌟
__ADS_1
Next....
Bantu Like like ya kakak-kakak reader, terima kasih atas dukungannya 🙏🥰