The Tyrant'S Desire (Hasrat Cinta Sang Penguasa)

The Tyrant'S Desire (Hasrat Cinta Sang Penguasa)
Jo vs Rach


__ADS_3

Happy reading guys 🥰


☘️☘️☘️


"Kita harus menyelesaikan ini semua sampai tuntas, biar tidak ada lagi dendam yang akan menyertai keturunan keluarga Godfrey" kata Natasa.


"Apa dulu tidak dilakukan tes DNA ," kata Ardan.


"Iya, kenapa dulu tidak dilakukan tes DNA," Erick menimpali perkataan Ardan.


"Apa 50 tahun lalu sudah ada tes DNA untuk umum?" tanya Natasa.


"Mungkin saja, dulu belum seperti sekarang ini" kata Anne.


"Sekarang saja dilakukan tes DNA, biar terang semua" Danny mengeluarkan pendapatnya.


"Apa orang itu mau?" tanya Natasa.


"Biar semua terang dan jelas, dan jika dia keturunan keluarga Godfrey. Kita keluarga Godfrey akan menerimanya dengan ikhlas" kata Anne.


"Kami serahkan semua padamu Dan.." ujar Anne pada Danny Liu.


"Baik." sahut Danny Liu.


☘️☘️☘️


Jovanka melamun di teras depan mansion, bibirnya manyun. Sudah dua hari Erick pergi, dan tidak ada sekalipun dia menghubungi Jovanka. Sehingga Jovanka merasa sangat kesal.


"Apa dia begitu sangat sibuk, sehingga dia tidak ada waktu untuk menghubungi aku." gerutu Jovanka seraya melempar batu-batu kecil.


"Permisi Mrs Godfrey.." ucap satu penjaga yang melintas dihadapannya.


Jovanka mengangkat kepalanya, memandang orang yang menyapanya. Jovanka memberikan senyuman kepada orang yang menyapa tersebut, membuat orang tersebut sedikit curiga. Karena pertemuan terakhirnya dengan Jovanka, dia menjadi sasaran kaki Jovanka.


"Hai... kenapa aku tidak pernah melihat keberadaanmu di mansion? apa kau sakit? maaf ya, aku tidak berniat menendangmu saat itu. Itu hanyalah gerakan refleks kakiku ini," kata Jovanka.


"Tidak apa Mrs Godfrey"


"Please..! jangan panggil Mrs Godfrey, aku merasa seperti orang tua," kata Jovanka.


"Tidak boleh Mrs Godfrey, nanti Tuan muda marah. Karena tidak sopan memanggil istri penguasa dengan nama saja"


"Aku akan menendangmu, jika kau tidak menuruti permintaanku..!" Keukeh Jovanka, tidak mau di panggil dengan sebutan Mrs Godfrey.


"Panggil aku Jo...!" tegaskan Jovanka.


"Siapa namamu?" tanya Jovanka pada pria itu.


"Saya Ja'far, Mrs...Jo.." Ja'far meralat panggilan terhadap Jovanka, setelah Jovanka melotot menatapnya.


"Bagus Ja'far, Jo..! ingat itu, jika kau memanggilku dengan Mrs Godfrey lagi. Aku akan....." Jovanka mengayunkan kakinya didepan Ja'far.


"Tapi, Jo. Di hadapan Tuan muda, izinkan aku memanggil dengan sebutan Mrs Godfrey.." kata Ja'far.


"Baiklah" sahut Jovanka.


"Kau mau kemana, membawa keranjang?" tanya Jovanka, saat melihat Ja'far menenteng keranjang.


"Ini lagi musim bluberi hutan, Miss Lin menyuruh aku untuk mengambilnya" kata Ja'far.


"Boleh aku ikut?"

__ADS_1


"Tidak..!" seru Ja'far tegas


"Ayolah, aku bosan didalam kamar terus. Apa kau tidak kasihan melihat aku yang akan menjadi patung berlumut, jika tidak kena sinar matahari" rayu Jovanka,agar diperbolehkan untuk ikut memetik bluberi.


"Aku mau ke hutan Jo, bagaimana jika Tuan muda tahu. Aku membawa istrinya kedalam hutan, bisa-bisa aku akan dikirim menjadi makanan buaya," kata Ja'far.


"Ja'far, Tuanmu tidak ada di sini. Kalau tidak ada yang memberitahukan kepada Tuan mu, dia tidak akan tahu. Ayo kita pergi.." Jovanka mengambil keranjang yang dipegang Ja'far, kemudian pergi meninggalkannya.


"Hei.. Jo..! kau mau kemana..!" Ja'far berlari mengejar Jovanka.


"Mencari bluberi" sahut Jovanka.


"Bluberi dibelakang Mansion, kenapa kau pergi kedepan mansion ?" tanya Ja'far.


"Ooh.." Jovanka memutar badannya, berjalan menuju belakang Mansion.


"Conan, ayo. Jangan bermalas-malasan.." ucap Jovanka pada Conan yang sedang bermalas-malasan dibawah sinar matahari pagi.


Ja'far mengikuti Jovanka seraya membacakan Doa, agar tidak ada apa-apa yang terjadi kepada istri bos-nya tersebut.


***


Sudah tiga hari Erick meninggalkan Jovanka di pulau Saint Angel, dan selama tiga hari. Erick tidak pernah menghubungi, dan Jovanka juga lupa dengan ketidakberadaan Erick. Karena Jovanka juga sibuk bersama dengan Maria, mengurus Axelo, yang sudah bisa duduk.


Jovanka merasa seperti memiliki orangtua kembali.


"Mom, kenapa Daddy tidak kita bawa keluar. Biar Daddy kena sinar matahari" kata Jovanka.


"Boleh" sahut Maria.


"Axelo, bagaimana kalau kita berjemur matahari?" tanya Maria.


Axelo yang masih sulit untuk berkata-kata, karena lehernya memakai penyangga leher. Hanya menganggukkan kepalanya.


Jovanka mendorong kursi roda Axelo menuju kearah samping mansion, Maria mengikutinya dari belakang dengan membawa minuman khusus untuk Axelo.


"Lihatlah Daddy, indahkan" Jovanka menunjuk pemandangan tempat mereka berada yang langsung menghadap ke laut lepas.


Axelo menganggukkan kepalanya, sembari memandang Jovanka yang berdiri membelakanginya.


"Erick sangat beruntung, mendapatkanmu sebagai istri." gumam Axelo.


"Kenapa? apa kau merasa, menantumu itu sangat menggemaskan?" tanya Maria yang berdiri di sampingnya.


Axelo mendongak menatap wajah Maria, bibir Axelo memberikan senyumnya kepada Maria. Istrinya yang sempat dikabarkan telah meninggal dunia.


Axelo meraih jemari Maria, dan melekatnya kebibirnya. Dan mencium jemari Maria.


Jovanka membalikkan badannya, dan melihat keromantisan yang ditunjukkan oleh Axelo dan Maria.


"Oh... betapa so sweet..!" seru Jovanka sembari menangkup kedua tangannya ke pipinya.


Maria menarik tangannya dari bibir Axelo, wajahnya merona merah. Dia merasa malu.


"Mommy seperti remaja yang tertangkap sedang pacaran saja ." goda Jovanka.


"Kau ini." malu Maria dengan godaan Jovanka.


Tiba-tiba, kegembiraan ketiga terhenti. Dengan keributan yang terjadi di depan pintu gerbang utama.


"Ada apa itu ?" tanya Maria.

__ADS_1


"Tidak tahu mom, biar Jo lihat. Mommy dan Daddy di sini saja" kata Jovanka seraya melangkah menuju gerbang utama.


"Hati-hati Jo" ucap Maria.


Jovanka melangkah cepat menuju tempat keributan terjadi, dia mendengar suara wanita yang berteriak memanggil nama Erick dan nama Axelo dengan keras.


"Ja'far..! ada apa ?" tanya Jovanka, saat dia melihat Ja'far masuk kedalam halaman mansion dengan tergesa-gesa.


"Ada wanita gila.." sahut Ja'far.


"Siapa?" tanya Jovanka.


"Istri muda Tuan besar," ucap Ja'far dengan suara yang pelan.


"Rachel..!?" tanya Jovanka.


Ja'far menganggukkan kepalanya.


"Kau mau kemana?" tanya Jovanka, melihat Ja'far masuk kedalam mansion.


"Memanggil Miss Lin, hanya Miss Lin yang bisa menangani wanita itu" ucap Ja'far.


"Pergilah, aku ingin melihat wanita itu"


Ja'far masuk kedalam mansion, sedangkan Jovanka keluar melalui pintu kecil di samping pintu utama.


"Axelo...! Erick..!" panggil Rachel dengan suara melengking.


"Wow... siapa yang datang, dan berteriak didepan rumah orang?" Jovanka melangkah mendekati Rachel.


"Aku tidak ada urusan denganmu..!" ucap Rachel ketus pada Jovanka.


"Aku juga malas berurusan denganmu, pergilah." usir Jovanka.


"Mrs Godfrey, hati-hati. Wanita ini sepertinya sudah tidak waras" ucap penjaga yang berdiri didekat Jovanka.


"Iya" sahut Jovanka.


"Aku ada urusan dengan Axelo, kau tidak bisa melarang ku ," ujar Rachel.


"Kau tidak takut, kau itu sedang di cari-cari oleh polisi," kata Jovanka.


"Polisi tidak akan bisa menangkap ku.." ucap Rachel dengan sombong.


"Oh..ya, hebat sekali kau "


Rachel berjalan mendekati Jovanka, satu langkah dari Jovanka dia berhenti.


"Mana Axelo, aku ingin bertemu?"


"Kau tidak bisa bertemu dengannya" jawab Jovanka.


"Siapa kau..! berani sekali melarang ku untuk bertemu dengan Axelo..!" marah Rachel.


"Aku menantunya, jika kau lupa" kata Jovanka.


Karena emosi, Rachel mengangkat tangannya dan ingin menampar Jovanka. Tetapi dengan cepat, Jovanka menangkap tangan Rachel. Tetapi Rachel tidak mau kalah, tangan satunya meraih rambut Jovanka dan menariknya.


Hingga terjadi perkelahian antara Jovanka dan Rachel, Jovanka mendorong Rachel. Dan Rachel terjatuh ke tanah, dengan cepat Jovanka mendudukinya dan menjambak rambut Rachel. Begitu juga dengan Rachel, menarik apa yang bisa ditariknya.


"Jangan ikut campur...!" teriak Jovanka kepada para bodyguard yang ingin membantunya.

__ADS_1


🌜 Next🌛


__ADS_2