The Tyrant'S Desire (Hasrat Cinta Sang Penguasa)

The Tyrant'S Desire (Hasrat Cinta Sang Penguasa)
Ada yang ??


__ADS_3

Happy reading guys πŸ₯°


πŸ€πŸ€πŸ€


Hari ini, Jovanka berjalan-jalan sendiri. Karena Bastian merasa, tiba-tiba kakinya yang cedera tiba-tiba terasa sangat sakit. Karena cuaca dingin menyerang pulau Saint Angel, Bastian merasa sekujur tubuhnya terasa ngilu. Hingga akhirnya, satu harian Bastian hanya berbaring di atas ranjang.


"Jo..!"


Jovanka menghentikan langkahnya, dan berbalik menghadap orang yang memanggilnya. Jovanka meletakkan jemarinya di kedua sisi pinggangnya, matanya memicing menatap Arisa yang berlari kecil mendekatinya.


"Wow..!" Arisa menggoyangkan jemarinya didepan wajah Jovanka, karena tatapan mata Jovanka yang bulat membuat Arisa merasa seperti sedang diteliti.


"Kemana saja kau, pergi pagi pulang malam?"


Arisa tertawa, mendengar pertanyaan Jovanka.


"Kau kencan dengan Ardan?" tanya Jovanka to the point langsung.


"Hei Mrs Godfrey, aku sibuk bekerja ya..! aku bukan sepertimu, yang tidak perlu untuk duduk berjam-jam didepan komputer. Lihat, mataku sudah seperti mata panda. Ada lingkaran hitam," Arisa menunjuk matanya.


"Aku juga bekerja, menghabiskan makanan," ucap Jovanka dengan tertawa kecil.


Arisa mendelikkan matanya.


"Kau sudah seperti babon Jo," ucap Arisa.


"Hei..mulutmu! aku membawa tiga babies, sudah seharusnya aku besar."


"Apa tidak capek Jo, membawa galon berisi tiga babies?" tanya Arisa.


"Capek, tapi membayangkan ada tiga babies didalam ini. Aku excited, menunggu kedatangan ketiganya."


"Kau sudah mencintai Erick?" tanya Arisa.


"Aku tidak tahu, apa ingin selalu dekat dengannya itu tanda cinta?" tanya Jovanka pada Arisa.


"Ingin dekat? mungkin saja itu bawaan hamil Jo."


"Kalau begitu, aku belum mencintainya."


"Apa jenis kelamin babies triplets?" tanya Arisa.


"Lima bulan, baru bisa diketahui."


Mobil mendekati tempat mereka berada, jendela kaca mobil terbuka. Terlihat Ardan dan terlihat seorang wanita ada didalam mobil.


"Hai kakak ipar" sapa Ardan.


"Hai adik ipar." balas Jovanka.


"Jalan-jalan kakak ipar?" tanya Ardan.


"Pertanyaan tidak penting." gumam Arisa dan membalingkan wajahnya.


"Iya, kau sendiri?" tanya Jovanka.


"Aku baru mau kembali ke Saint Lucia," jawab Ardan.


"Ris, kau mau kekantor? ayo. Biar sekalian," ucap Ardan.


"Tidak, terima kasih. Aku ikut bus karyawan," sahut Arisa.


"Baiklah, bye kakak ipar." Ardan menutup jendela mobilnya, dan mobil bergerak meninggalkan Jovanka dan Arisa.

__ADS_1


"Ada apa dengan kalian? apa kalian ribut? kalian tidak seperti biasanya, biasanya kalian lengket terkena lem," ucap Jovanka.


"Ribut? untuk apa, kami tidak ada hubungan. Sudahlah, aku berangkat dulu. Bus karyawan sudah datang." Arisa berlalu dari hadapan Jovanka, menuju gerbang utama.


"Siapa wanita yang bersama dengan Ardan tadi ? awas kau Ardan, jika menyakiti hati sahabatku.."


"Ja'far..!" panggil Jovanka, saat melihat Ja'far melintas tidak jauh dari tempat dia berdiri.


"Iya Mrs Godfrey," sahut Ja'far seraya berjalan mendekati Jovanka.


"Mrs Godfrey! mau aku potong lidahmu..!" ucap Jovanka kesal, karena Ja'far memanggilnya dengan sebutan Mrs Godfrey.


Ja'far tertawa kecil.


"Maaf Jo," ucap Ja'far.


"Ja'far.." ucap Jovanka dengan suara yang lembut, membuat Ja'far yang baru pertama sekali mendengar suara Jovanka yang lembut menjadi tertawa ngakak.


"Cukup Jo, jangan kau keluarkan suara lembutmu itu. Tidak cocok," ucap Ja'far sembari tertawa.


"Ih...!" Jovanka memanyunkan bibirnya.


"Ja'far, apa kau bisa membantuku?" suara Jovanka sudah seperti sedia kala, tidak ada nada lembut.


"Apa? untuk membelikan cemilan tidak sehat? tidak! aku tidak mau di gantung terbalik oleh Tuan muda." tolak Ja'far dengan tegas.


"Bukan itu, aku tidak ingin memakan itu lagi. Aku sekarang ini makan bluberi, bisa kau memetiknya. Sekarang sudah musim bluberi kan?"


"ohh.. bluberi, baiklah. Kalau hanya untuk memetik bluberi, aku akan lakukan," ucap Ja'far.


Ja'far belum beranjak pergi, untuk memetik bluberi yang sangat diinginkan oleh Jovanka. Membuat Jovanka kesal.


"Apa yang kau tunggu? kenapa kau belum pergi untuk memetik bluberi?" tanya Jovanka.


"Masuk kedalam Jo, aku tidak enak meninggalkan mu di sini " ucap Ja'far, matanya awas menatap ke sekitar mansion.


"Jangan merasa aman, walaupun disekitar kita ada banyak orang yang menjaga. Otak orang itu tidak bisa kita prediksi," ucap Ja'far.


"Masuk Jo, jika kau masih di sini. Aku tidak akan mau mengambil bluberi yang kau inginkan." ancam Ja'far.


"Baiklah" dengan menggerutu, Jovanka masuk kedalam Mansion.


Setelah Jovanka masuk, Ja'far bergegas menuju hutan.


☘️☘️☘️


"Di sini lagi, bisa-bisa aku menjadi mati kesepian." gumam Jovanka.


Tok..tok...tok...


"Masuk ." titah Jovanka.


Ceklek...


Miss Lin masuk dengan membawa keranjang yang berisi bluberi, dan memberikan pada Jovanka.


Melihat bluberi dalam keranjang, air liur Jovanka seakan-akan ingin menetes. Membayangkan bluberi lumer dibibirnya.



"Bluberi...!" seru Jovanka mengambil keranjang yang diberikan Miss Lin padanya.


Jovanka langsung memasukkan kedalam mulutnya bluberi, sehingga bibir dan giginya berwarna keunguan.

__ADS_1


Miss Lin melotot, melihat Jovanka memakan bluberi dengan rakus.


"Mau." Jovanka menawarkan bluberi pada Miss Lin.


"Terima kasih Mrs Godfrey, untuk anda saja." tolak Miss Lin dengan halus.


"Mrs Godfrey, jangan terlalu banyak makan bluberi. Nanti perut anda sakit, anda belum makan siang," kata Miss Lin.


"Coklat tidak boleh, ini juga tidak boleh banyak-banyak. Aku harus makan apa? makan angin." suara hati Jovanka, yang tidak terima dilarang makan bluberi banyak.


"Iya, aku hanya makan sedikit. Setengah dari isi ini keranjang ini," ucap Jovanka


"Bluberi sekecil ini, tidak akan membuat aku sakit perut," ucap Jovanka seraya terus memasukkan bluberi kedalam mulutnya.


πŸ€πŸ€πŸ€


Erick berada dalam ruang kerjanya, sudah beberapa hari ini. Erick selalu bertemu dengan Jovanka, saat Jovanka sudah terlelap dalam tidurnya. Bukan tanpa alasan Erick melakukannya, tetapi karena Erick ingin menghindari dari pertanyaan Jovanka mengenai pencarian makam Jonathan.


Tok..tok..


"Masuk." titah Erick.


Pintu terbuka dengan masuknya Bastian.


"Rick, apa kau sibuk?" tanya Bastian.


"Tidak, ada apa?"


"Aku ingin kembali bekerja, sudah lama aku cuti," ucap Bastian.


"Apa kau sudah benar-benar sehat?"


"Sudah, hanya sedikit nyeri. Jika udara dingin," jawab Erick.


"Apa Jovanka sudah tahu rencana mu ini?"


"Belum," sahut Bastian.


"Bagaimana dengan pencarian makam Jonathan? Apa sudah ada titik terang?" tanya Bastian.


Erick menceritakan apa yang ditemukan oleh orang suruhan Marcio.


"Apa papamu tidak mengetahui saat Jonathan di makamkan ?" tanya Erick.


"Papa cerita, saat itu kondisi mama sangat mengkhawatirkan. Sehingga papa tidak tahu, Papa hanya diberitahu. Bahwa satu bayinya meninggal,." cerita Bastian.


"Apa mungkin Jonathan tidak di makamkan? Apa di kremasi?" Bastian berkata pada Erick.


"Kremasi? Apa mungkin?"


"Mungkin saja, karena mama dan papa berada diluar negeri, Jika di makamkan, akan sulit untuk menziarahinya," kata Bastian.


Erick mengambil ponselnya dan menghubungi Marcio dan mengatakan apa yang dikatakan oleh Bastian.


πŸ€πŸ€πŸ€


Dalam penjara, Rachel mendapatkan kunjungan dari teman yang dikenalnya didalam penjara.


"Apa yang akan aku dapatkan, jika aku membantumu?" tanya wanita yang badannya dipenuhi dengan gambar tatto kalajengking.


"Pergi ke rumahku" Rachel memberi alamat rumahnya.


"Ada perhiasan ku, kau ambil untuk bayaranmu. Tapi ingat, jangan kau bawa lari semua. Jika kau lakukan, aku akan mengejarmu." ancam Rachel.

__ADS_1


"Tenang, aku setia kawan. Aku akan ambil, sesuai dengan bayaranku."


🌜 NextπŸŒ›


__ADS_2